Kamis, 30 Juni 2011

Mengingat Mati & Hakikat Mati

Kesembilan maqam ruhani yang telah kami sebutkan terdahulu bukanlah satu kategori yang berdiri sendiri-sendiri. Justru sebagian diantaranya menunjukkan esensi maqam lainnya, seperti prinsip atau maqam cinta (mahabbah) dan prinsip atau maqam ridha (rela terhadap ketetapan Allah); keduanya merupakan maqam tertinggi. Di antara maqam tersebut saling berkait dengan maqam lainnya, seperti maqam tobat dan zuhud; maqam takut (khauf) dan sabar. Sebab, tobat itu merupakan tindakan kembali dari jalan yang menjauhkan (diri dari Allah) menuju jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya. Sedangkan zuhud merupakan tindakan meninggalkan ragam kesibukan yang menghalangi pendekatan diri kepada-Nya; rasa takut (al-khauf) merupakan cambuk yang menggiring perilaku untuk meninggalkan kesibukan-kesibukan tersebut. Sabar adalah perjuangan ruhani melawan ragam nafsu yang menghalangi jalan pendekatan diri kepada-Nya.

Jadi, masing-masing maqam tersebut tidak berdiri sendiri, akan tetapi saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya, melalui ma’rifat dan mahabbah, yang berdiri sendiri. Hanya saja, ma’rifat dan mahabbah tidak dapat berwujud sempurna, kecuali dengan cara menafikan rasa cinta kepada selain Allah dalam kalbu. Untuk kepentingan tersebut memerlukan al-khauf, sabar dan zuhud. Di antara hal yang besar manfaat dan fungsinya dalam hal ini adalah mengingat akan mati. Inilah pembahasan yang kami maksudkan.
/www.sufinews.com

Syariat memberikan imbalan pahala yang besar terhadap orang yang suka mengingat mati. Sebab dengan mengingat mati, akan menyulitkan dirinya dalam mencintai dunia, selain memutus hubungan hati dengan dunia itu sendiri.
Allah Swt. berfirman:
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya kematian yang kamu Iari dari padanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu.” (Q.s. Al-Jumu’ah: 8).

Rasulullah Saw. bersabda:
“Perbanyaklah mengingat penghancur kelezatan-kelezatan!” (Al-Hadis).

Beliau juga bersabda, “Barangsiapa tidak menyukai pertemuan dengan Allah, Allah pun tidak suka bertemu dengannya.”

Aisyah r.a. bertanya kepada Rasulullah Saw, “Wahai Rasulullah, adakah seseorang yang dikumpulkan bersama para syuhada’ (orang yang mati syahid)?” tanya Aisyah r.a.
“Benar,” jawab Rasulullah, “yaitu, orang yang mengingat mati duapuluh kali dalam sehari semalam.”

Rasulullah Saw. melintasi sebuah majelis yang penuh dengan gelak tawa, lalu beliau bersabda, “Campurilah majelis kalian dengan pengaruh kelezatan-kelezatan!”
“Apakah itu?” di antara mereka mengajukan pertanyaan.
“Maut,“ jawab beliau singkat.

Rasulullah Saw. bersabda, “Andaikata binatang-binatang itu tahu akan kematian sebagaimana manusia (mengetahuinya), tentu kalian tidak akan makan daging yang gemuk darinya.”
Sabda beliau pula, “Cukup maut sebagai pemberi peringatan.”
Sabdanya:
“Aku tinggalkan dua pemberi peringatan di tengah-tengah kalian, yang diam dan dapat berbicara. Yang diam adalah maut, sedangkan yang berbicara adalah Al-Qur’an.” (Al-Hadis).

Ada seorang laki-laki yang disebut-sebut di sisi Rasulullah Saw, orang itu selalu dipuji dengan baik. Lalu Rasulullah Saw bertanya, “Bagaimana teman kalian itu men yebut mati?”
“Kami hampir tidak pernah mendengar dia mengingat mati,” jawab mereka.
“(Jika demikian), maka sesungguhnya teman kalian itu bukanlah di situ,” jawab beliau.

Seorang sahabat dan kaum Anshar bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling cerdas dan mulia?” tanya seorang laki-laki dan (kaurn) Anshar.
“Yang paling banyak mengingat mati di antara mereka, dan yang paling banyak (tekun) mempersiapkan diri menghadapi kematian. Mereka itulah orang-orang yang paling cerdas, mereka pergi dengan kelegaan dunia dan kemuliaan akhirat,” sabda beliau.

Manfaat Ingat Kematian
Mati merupakan persoalan besar, sekaligus masalah yang luar biasa. Tiada sesuatu pun yang luar biasa melebihi kematian ini. Mengingat mati besar manfaatnya. Kematian dapat mempersempit kehidupan dunia dan menjadikan hati benci pada dunia.
Membenci duniawi merupakan pangkal segala kebaikan, sebagaimana cinta dunia merupakan pangkal dari segala kesalahan.

Bagi orang ‘arif (ahli ma’rifat) mengingat Allah itu memiliki dua fungsi dan kegunaan: Pertama, benci pada dunia, dan kedua, rindu akhirat.
Orang yang mencintai —tidak mustahil— pasti merasakan rindu. Rindu pada hal-hal yang bisa diraba, pengertiannya adalah, penyempurnaan fantasi untuk mencapai pada penyaksian langsung.

Rasa rindu kepada-Nya pasti bisa dicapai melalui fantasi, tanpa penglihatan dengan mata.
Hal-ihwal akhirat dan kenikmatannya berikut keindahan hadirat ketuhanan, bagi orang ‘arif diketahui dalam bentuk seakan-akan dia melihat dari balik tirai tipis pada waktu mendung dan cahaya remang. Dia merindukan kesempunaan itu melalui tajalli dan musyahadah. Dia tahu bahwa hal tersebut tidak akan terjadi, kecuali dengan maut; karenanya dia tidak benci mati, sebab dia tidak membenci pertemuan dengan Allah Swt, bahkan dia menyukai pertemuan dengan-Nya.

Orientasi duniawi muncul disebabkan oleh kurangnya mengingat mati. Cara untuk bertafakur pada kematian ialah, hendaklah seseorang mengosongkan pikiran dan ingatannya selain kematian. Lalu duduk berkhalwat dan mengendalikan ingatan tentang mati dengan lubuk kalbunya. Mula-mula ia mengingat tentang sahabat-sahabatnya yang telah lalu (meninggal dunia), mengingat mereka satu persatu, lalu mengingat sifat rakus, ambisi, angan-angan dan kecintaan mereka terhadap kedudukan dan harta. Kemudian mengingat pergulatan mereka menjelang direnggut maut dan penyesalannya menyia-nyiakan waktu dan umur.

Selanjutnya bertafakur tentang tubuh-tubuh mereka: Bagaimana tubuh-tubuh tersebut terobek-robek dalam tanah dan menjadi bangkai yang dimakan ulat. Lalu, mengembalikan kepada dirinya, bahwa dirinya seperti salah seorang di antara mereka: Angan-angannya seperti angan-angan mereka dan pergulatannya (nanti menjelang kematian) seperti pergulatan mereka. Kemudian perhatiannya dialihkan pada anggota-anggota tubuhnya, bagaimana nanti ia menjadi remuk; selanjutnya dialihkan pada biji matanya, ketika nanti ia dimakan ulat; pada lidahnya ketika lidah itu menjadi usang kemudian menjadi bangkai di dalam mulutnya.

Apabila Anda melakukan hal itu, maka bagi Anda dunia atau harta-benda itu kecil dan hina, dan Anda menjadi bahagia. Sebab, orang yang bahagia itu adalah orang yang dapat mengambil pelajaran dari orang lain. Karena itulah Rasulullah Saw bersabda:

“Hai manusia, seakan-akan maut itu telah ditetapkan kepada selain kita, seakan-akan kebenaran itu telah diwajibkan kepada selain kita, dan seakan-akan orang-orang mati yang kita antarkan baru saja pergi, mereka kembali kepada kita, kita tempatkan mereka di makam-makamnya dan kita makan harta-harta peninggalan (warisan)nya, seakan-akan kita (hidup) kekal setelah mereka. Kita melupakan setiap peringatan dan aman (terbebas) dari bencana.” (Al-Ha dis).
Lamunan Panjang

Lamunan panjang merupakan akar dari kelalaian mengingat mati. Lamunan itu merupakan kebodohan yang sebenarnya. Karena itulah Rasulullah Saw. bersabda kepada Abdullah bin Umar r.a.:
“Jika masuk waktu pagi, jangan kamu bicarai dirimu tentang sore har. Bila masuk waktu sore, jangan kamu bicarai dirimu tentang pagi. Ambil (kesempatan) dari hidupmu untuk matimu, dari sehatmu untuk sakitmu, sebab kamu hai Abdullah, tidak tahu apa namamu esok hari.” (Al-Hadis).

Rasulullah Saw juga bersabda, “Ada dua kebiasaan (perangai) yang paling aku takutkan pada ummatku, yaitu: menuruti hawa nafsu dan lamunan panjang.”

Usamah membeli budak wanita sampai dua bulan dengan harga seratus, lalu Rasulullah Saw. berkata:
“Apakah kalian tidak merasa heran kepada Usamah, orang yang membeli (budak wanita) sampai dua bulan? Sungguh Usamah itu panjang lamunannya. Demi jiwaku yang ada pada kekuasaan-Nya, aku tidak akan mengejapkan kedua mataku, kecuali aku telah mengira bahwa tempat tumbuhnya bulu pelupuk mata tidak dapat mengatup hingga Allah mencabut ruhku. Aku tidak akan mengangkat kedua mataku, sedangkan aku mengira bahwa dirikulah sebenarnya yang menaruhnya hingga aku dimatikan, dan aku tidak akan menelan sesuap (makanan), kecuali aku mengira bahwa aku tidak akan memasukkannya ke tenggorokan hingga aku tersekat dengannya karena menjelang kematian.”

Kemudian beliau bersabda, “Hai anak Adam, jika kalian berakal, maka hendaklah kalian perhitungkan diri kalian dengan kematian. Demi jiwaku yang ada pada kekuasaan-Nya, sesungguhnya apa yang dijanjikan kepada kalian pasti tiba, dan kalian bukan tidak mampu.”

Rasulullah Saw. bersabda, “Generasi pertama dan ummat ini selamat dengan keyakinan dan kezuhudan, dan akhir ummat ini menjadi binasa karena sifat kikir dan panjang angan-angan.”
Dan Rasulullah Saw. bersabda, “Apakah kalian semua ingin masuk surga?”
“Benar,” jawab mereka.
“Pendekkanlah angan-angan kalian, jadikan ajal kalian ada di hadapan mata kalian, dan malulah kepada Allah dengan sebenar-benarnya,” sabda beliau.

Kematian Dimata Orang Arif
Orang ‘arif yang paripurna tidak putus-putus menyebut dan mengingat Allah, tidak lagi mengingat mati, bahkan dia itu fana’ dalam tauhid. Dia tidak pernah menoleh ke masa lalu dan masa depan, tidak pula keadaan dari sisi bahwa itu sekadar keadaan. Dia adalah anak waktunya, patuh kepada sang waktu. Maksudnya, dia seperti orang yang menyatu dengan yang diingat atau disebutkannya. Kami tidak menyatakan bahwa dia menyatu dengan Dzat Allah Swt. Hal ini jangan Anda rasionalisasikan, nanti Anda tergelincir dan salah, kemudian buruk sangka.

Orang ‘arif tidak lagi merasakan rasa takut/cemas (khauf) dan rasa berharap (raja’), karena khauf dan raja’ itu adalah cambuk yang menggiring seorang hamba kepada suatu kondisi yang penuh dengan rasa. Lalu bagaimana ia akan mengingat mati, padahal tujuan mengingat mati itu adalah agar hubungan ikatan kalbunya dengan apa yang bisa ditinggalkan setelah kematian itu terputus. Sedangkan seorang ‘arif telah mengalami mati, dalam kaitannya dengan hak dunia dan apa saja yang akan ia tinggalkan dengan terjadinya kematian itu. Dia juga bebas dari orientasi kepada akhirat, apalagi pada dunia. Selain Allah Swt, baginya rendah dan hina. Maut baginya merupakan penyingkapan tirai agar tambah jelas dan yakin. Inilah makna ucapan Sayyidina Ali r.a, “Jika tirai itu telah dibuka, maka belum bisa menambah keyakinan bagiku.”
Orang yang melihat orang lain dari balik tirai, keyakinannya belum bertambah dengan tersingkapnya tirai, hanya saja, bertambah jelas.

Maka mengingat mati itu dibutuhkan oleh orang yang kalbunya masih menoleh pada dunia, agar dia tahu bahwa dia akan berpisah dan meninggalkannya, sehingga dia tidak selalu cinta dunia. Karena itulah, Rasulullah Saw. bersabda: “Sesungguhnya Ruhul Quds (Jibril) membisik dalam hatiku, ‘Cintailah apa yang kamu cintai, sesungguhnya kamu akan berpisah dan meninggalkannya. Puaskanlah hidupmu, sebab sesungguhnya kamu itu adalah mayit. Dan beramallah sesukamu, karena sesungguhnya kamu mendapat imbalan dengannya’.”

Hakikat Dan Esensi Mati
Barangkali Anda ingin tahu hal-ihwal dan hakikat mati. Anda tidak akan pernah mengetahui hal itu sebelum Anda tahu tentang hakikat hidup. Anda tidak akan pernah mengetahui hakikat hidup sebelum Anda tahu tentang ruh; itu adalah diri Anda, esensi dan jatidiri Anda. Ruh adalah hal yang tersembunyi dalam diri Anda. Anda jangan terlalu giat untuk mengenal Tuhan sebelum Anda kenal diri Anda. Maksud kami dengan diri Anda adalah ruh Anda, sesuatu yang dinisbatkan kepada Allah Swt. dalam firman-Nya yang berbunyi, “Katakanlah, ‘Ruh itu termasuk urusan Tuhanku’.” (Q.s. Al-Isra’: 85).
Dan dalam firman-Nya yang berbunyi, “Dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku.” (Q.s. Al-Hijr: 29).

Dimaksud ayat tersebut bukan ruh jasad yang halus, yang merupakan pembawa energi indera dan gerak, yang bersumber dari hati dan menyebar ke seluruh tubuh; menyebar ke seluruh rongga urat-urat yang berdenyut. Dari Situ mengalir cahaya indera penglihatan pada mata, cahaya indera pendengaran pada telinga, dan pada seluruh kekuatan dan indera-indera lainnya; sebagaimana cahaya pelita mengalir ke seluruh sisi rumah. Ruh Ini sama dengan ruh binatang, ia bisa menjadi binasa dengan maut, sebab itu adalah uap yang kematangannya terus stabil ketika minyaknya masih stabil. Bila minyak itu telah labil, ia jadi rusak sebagaimana cahaya yang mengalir dari pelita itu punah ketika pelita itu padam, karena minyaknya telah habis, atau karena dipadamkan.

Ruh semacam ini menjadi binasa (rusak) dengan terputusnya makanan (bagi manusia atau binatang), karena makanan bagi ruh tersebut minyak bagi pelita. Pembunuhan terhadapnya seperti tiupan pada pelita. Ruh semacam ini, kesehatan dan stabilitasnya menjadi garapan ilmu kedokteran. Ruh ini tidak memikul ma’rifat dan amanat./www.sufinews.com
Baca Selengkapnya >>

Kamis, 23 Juni 2011

biografi habib luthfi bin ali bin yahya





Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya dilahirkan di Pekalongan Jawa Tengah pada hari Senin, pagi tanggal 27 Rajab tahun 1367 H. Bertepatan tanggal 10 November, tahun 1947 M. Dilahirkan dari seorang syarifah, yang memiliki nama dan nasab: sayidah al Karimah as Syarifah Nur binti Sayid Muhsin bin Sayid Salim bin Sayid al Imam Shalih bin Sayid Muhsin bin Sayid Hasan bin Sasyid Imam ‘Alawi bin Sayid al Imam Muhammad bin al Imam ‘Alawi bin Imam al Kabir Sayid Abdullah bin Imam Salim bin Imam Muhammad bin Sayid Sahal bin Imam Abd Rahman Maula Dawileh bin Imam ‘Ali bin Imam ‘Alawi bin Sayidina Imam al Faqih al Muqadam bin ‘Ali Bâ Alawi.

NASAB BELIAU :

Al Habib Muhammad Luthfi bin Sayid Ali al Ghalib bin Sayid Hasyim bin Sayid Umar Bin Sayid Thaha sahibur ratib (yang menyusun ratib Kubro) bin Sayid Muhammad bin Sayid Thaha bin Sayid Hasan bin Sayid Syekh bin Sayid Ahmad bin Sayid Yahya bin Sayid Hasan bin Sayid ‘Ali bin Sayid Muhammad Faqih Muqadam bin Sayid ‘Alawi bin Sayid ‘Ali bin Sayid Muhammad Sahib Marbath bin Sayid Khala ‘Ali Qasam bin Sayid ‘Alawi bin Sayid Muhammad bin Sayid Muhammad an Naqib bin Sayid ‘Isa an Naqib bin Sayid Ahmad al Muhajir bin Sayid Abdullah bin Sayid ‘Alawi bin Sayid ‘Ali al ‘Uraidhi bin Sayid Ja’far Shadiq bin Sayid Muhammad al Baqir bin Sayid ‘Ali Zainal Abidin bin Sayid Imam Husain as Sibthi bin Sayidatina Fathimah az Zahra binti Sayidina Muhammad Saw.

Masa Pendidikan

Pendidikan pertama Maulana Habib Luthfi diterima dari ayahanda al Habib al Hafidz ‘Ali al Ghalib. Selanjutnya beliau belajar di Madrasah Salafiah. Guru-guru beliau di Madrasah itu diantaranya:

• Al Alim al ‘Alamah Sayid Ahmad bin ‘Ali bin Al Alamah al Qutb As Sayid ‘Ahmad bin Abdullah bin Thalib al Athas

• Sayid al Habib al ‘Alim Husain bin Sayid Hasyim bin Sayid Umar bin Sayid Thaha bin Yahya (paman beliau sendiri)

• Sayid al ‘Alim Abu Bakar bin Abdullah bin ‘Alawi bin Abdullah bin Muhammad al ‘Athas Bâ ‘Alawi

• Sayid ‘Al Alim Muhammad bin Husain bin Ahmad bin Abdullah bin Thalib al ‘Athas Bâ ‘Alawi.

Beliau belajar di madrasah tersebut selama tiga tahun.

Perjalanan Ilmiah

Selanjutnya pada tahun 1959 M, beliau melanjutkan studinya ke pondok pesantren Benda Kerep, Cirebon. Kemudian Indramayu, Purwokerto dan Tegal. Setelah itu melanjutkan ke Mekah, Madinah dan dinegara lainnya. Beliau menerima ilmu syari’ah, thariqah dan tasawuf dari para ulama-ulama besar, wali-wali Allah yang utama, guru-guru yang penguasaan ilmunya tidak diragukan lagi.

Dari Guru-guru tersebut beliau mendapat ijazah Khas (khusus), dan juga ‘Am (umum) dalam Da’wah dan nasyru syari’ah (menyebarkan syari’ah), thariqah, tashawuf, kitab-kitab hadits, tafsir, sanad, riwayat, dirayat, nahwu, kitab-kitab tauhid, tashwuf, bacaan-bacaan aurad, hizib-hizib, kitab-kitab shalawat, kitab thariqah, sanad-sanadnya, nasab, kitab-kitab kedokteran. Dan beliau juga mendapat ijazah untuk membai’at.

Silsilah Thariqah dan Baiat:

Al Habib Muhammad Luthfi Bin Ali Yahya mengambil thariqah dan hirqah Muhammadiah dari para tokoh ulama. Dari guru-gurunya beliau mendapat ijazah untuk membaiat dan menjadi mursyid. Diantara guru-gurunya itu adalah:

Thariqah Naqsyabandiah Khalidiyah dan Syadziliah al ‘Aliah

Dari Al Hafidz al Muhadits al Mufasir al Musnid al Alim al Alamah Ghauts az Zaman Sayidi Syekh Muhammad Ash’ad Abd Malik bin Qutb al Kabir al Imam al Alamah Sayidi Syekh Muhammad Ilyas bin Ali bi Hamid

• Sanad Naqsyabandiayah al Khalidiyah:

Sayidi Syekh ash’ad Abd Malik dari bapaknya Sayidi Syekh Muhammad Ilyas bin Ali bi Hamid dari Quth al Kabir Sayid Salaman Zuhdi dari Qutb al Arif Sulaiman al Quraimi dari Qutb al Arif Sayid Abdullah Afandi dari Qutb al Ghauts al Jami’ al Mujadid Maulana Muhammad Khalid sampai pada Qutb al Ghauts al Jami’ Sayidi Syah Muhammad Baha’udin an Naqsyabandi al Hasni.

• Syadziliyah :

Dari Sayidi Syekh Muhammad Ash’Ad Abd Malik dari al Alim al al Alamah Ahmad an Nahrawi al Maki dari Mufti Mekah-Madinah al Kabir Sayid Shalih al Hanafi ra.

Thariqah al ‘Alawiya al ‘Idrusyiah al ‘Atha’iyah al Hadadiah dan Yahyawiyah:

• Dari al Alim al Alamah Qutb al Kabir al Habib ‘Ali bin Husain al ‘Athas.

• Afrad Zamanihi Akabir Aulia al Alamah al habib Hasan bin Qutb al Ghauts Mufti al kabir al habib al Iamam ‘Utsman bin Abdullah bin ‘Aqil bin Yahya Bâ ‘Alawi.

• Al Ustadz al kabir al Muhadits al Musnid Sayidi al Al Alamah al Habib Abdullah bin Abd Qadir bin Ahmad Bilfaqih Bâ ‘Alawi.

• Al Alim al Alamah al Arif billah al Habib Ali bin Sayid Al Qutb Al Al Alamah Ahmad bin Abdullah bin Thalib al ‘Athas Bâ ‘Alawi.

• Al Alim al Arif billah al Habib Hasan bin Salim al ‘Athas Singapura.

• Al Alim al Alamah al Arif billah al Habib Umar bin Hafidz bin Syekh Abu Bakar bin Salim Bâ ‘Alawi.

Dari guru-guru tersebut beliau mendapat ijazah menjadi mursyid, hirqah dan ijazah untuk baiat, talqin dzikir khas dan ‘Am.

Thariqah Al Qadiriyah an Naqsyabandiyah:

• Dari Al Alim al Alamah tabahur dalam Ilmu syaria’at, thariqah, hakikat dan tashawuf Sayidi al Imam ‘Ali bin Umar bin Idrus bin Zain bin Qutb al Ghauts al Habib ‘Alawi Bâfaqih Bâ ‘Alawi Negara Bali. Sayid Ali bin Umar dari Al Alim al Alamah Auhad Akabir Ulama Sayidi Syekh Ahmad Khalil bin Abd Lathif Bangkalan. ra.

Dari kedua gurunya itu, al Habib Muhammad Luthfi mendapat ijazah menjadi mursyid, hirqah, talqin dzikir dan ijazah untuk bai’at talqin.

Jami’uthuruq (semua thariqat) dengan sanad dan silsilahnya:

Al Imam al Alim al Alamah al Muhadits al Musnid al Mufasir Qutb al Haramain Syekh Muhammad al Maliki bin Imam Sayid Mufti al Haramain ‘Alawi bin Abas al Maliki al Hasni al Husaini Mekah.

Dari beliau, Maulana Habib Luthfi mendapat ijazah mursyid, hirqah, talqin dzikir, bai’at khas, dan ‘Am, kitab-kitab karangan syekh Maliki, wirid-wirid, hizib-hizib, kitab-kitab hadis dan sanadnya.

Thariqah Tijaniah:

• Al Alim al Alamah Akabir Aulia al Kiram ra’su al Muhibin Ahli bait Sayidi Sa’id bin Armiya Giren Tegal. Kiyai Sa’id menerima dari dua gurunya; pertama Syekh’Ali bin Abu Bakar Bâsalamah. Syekh Ali bin Abu Bakar Bâsalamah menerima dari Sayid ‘Alawi al Maliki. Kedua Syekh Sa’id menerima langsung dari Sayid ‘Alawi al Maliki.

Dari Syekh Sa’id bin Armiya itu Maulana Habib Luthfi mendapat ijazah, talqin dzikir, dan menjadi mursyid dan ijazah bai’at untuk khas dan ‘am.

Kegiatan-kegiatan Maulana Habib:

• Pengajian Thariqah tiap jum’at Kliwon pagi (Jami’ul Usul thariq al Aulia).

• Pengajian Ihya Ulumidin tiap Selasa malam.

• Pengajian Fath Qarib tiap Rabu pagi(husus untuk ibu-ibu)

• Pengajian Ahad pagi, pengajian thariqah husus ibu-ibu.

• Pengajian tiap bulan Ramadhan (untuk santri tingkat Aliyah).

• Da’wah ilallah berupa umum di berbagai daerah di Nusantara.

• Rangakain Maulid Kanzus (lebih dari 60 tempat) di kota Pekalongan dan daerah sekitarnya. Dan kegiatan lainnya.

Jabatan Organisasi:

• Ra’is ‘Am jam’iyah Ahlu Thariqah al Mu’tabarah an Nahdiyah.

• Ketua Umum MUI Jawa Tengah.

• Anggota Syuriyah PBNU.dll.

pondokpesantrenalhidayah.wordpress.com
Baca Selengkapnya >>

Biografi KH Idham Chalid


Idham Chalid lahir pada tanggal 27 Agustus 1922 di Setui, dekat Kecamatan Kotabaru, bagian tenggara Kalimantan Selatan, dan merupakan anak sulung dari lima bersaudara. Ayahnya H Muhammad Chalid, penghulu asal Amuntai, Hulu Sungai Tengah, sekitar 200 kilometer dari Banjarmasin. Saat usia Idham enam tahun, keluarganya hijrah ke Amuntai dan tinggal di daerah Tangga Ulin, kampung halaman leluhur ayahnya. Selain tercatat sebagai salah satu tokoh besar bangsa ini pada zaman Orde Lama maupun Orde Baru, sebagian besar kiprah Idham dihabiskan di lingkungan Nahdlatul Ulama. Idham tercatat sebagai tokoh paling muda sekaligus paling lama memimpin ormas Islam yang didirikan para ulama pada tahun 1926 tersebut. Dalam ormas berlogo bola dunia dan bintang sembilan itu, Idham menapaki karier yang sangat cemerlang hingga menjadi pucuk pimpinan. Dalam usia 34 tahun, Idham dipercaya menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Jabatan tersebut diembannya selama 28 tahun, yaitu hingga tahun 1984. Pada tahun 1984, posisi Idham di PBNU digantikan oleh KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang ditandai dengan fase Khittah 1926 atau NU kembali menegaskan diri sebagai ormas yang tidak terlibat politik praktis serta tidak berafiliasi terhadap partai mana pun. Selain itu, Idham juga tercatat sebagai "Bapak" pendiri Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Setelah tidak berkiprah di panggung politik praktis yang telah membesarkan namanya, waktu Idham dihabiskan bersama keluarga dengan mengelola Pesantren Daarul Maarif di bilangan Cipete. Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya dengan wafatnya Ketua DPR/MPR periode 1972-1977, Doktor Kiai Haji Idham Chalid, pada Minggu (11/7/2010) pukul 08.00 WIB di rumah almarhum di Pesantren Daarul Maarif, Cipete, Jakarta Selatan.

Saiful Hadi, salah seorang putra almarhum, mengemukakan, "Ayah meninggal dunia tadi pagi pukul 08.00 WIB di Cipete dan pemakamannya pada Senin besok di Pesantren Darul Quran, Cisarua, Bogor."

Kiai Haji Idham Chalid meninggal dunia setelah sebelumnya selama sembilan tahun berjuang melawan penyakit stroke. Sejak sembilan tahun silam, Ketua DPR/MPR 1972-1977 itu terkena serangan jantung yang dahsyat pada 1999.

"Pada serangan jantung itu terjadi, Bapak terkena lumpuh total dan tak bisa bicara," kata Saiful. Selain tak bisa berbicara, kata dia, untuk makan pun sang ayah harus dibantu dengan selang yang dimasukkan ke saluran pencernaannya di perut (sounde).

"Makanan pun harus dihaluskan dan disaring sebelum masuk ke selang tersebut," ujar Saiful.
nasional.kompas.com/read/2010/07/11/10331174/Kiai.Haji.Idham.Chalid.Wafat
Baca Selengkapnya >>

biografi Hidup Abu Bakar Ba’asyir


Abu Bakar Ba’asyir bin Abu Bakar Abud, biasa juga dipanggil Ustadz Abu dan Abdus Somad (lahir di Jombang, Jawa Timur, 17 Agustus 1938; umur 71 tahun), merupakan seorang tokoh Islam di Indonesia keturunan Arab. Ba’asyir juga merupakan pemimpin Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) serta salah seorang pendiri Pondok Pesantren Islam Al Mu’min. Berbagai badan intelijen menuduh Ba’asyir sebagai kepala spiritual Jemaah Islamiyah (JI), sebuah grup separatis militan Islam yang mempunyai kaitan dengan al-Qaeda. Walaupun Ba’asyir membantah menjalin hubungan dengan JI atau terorisme.

Ba’asyir pernah menjalani pendidikan sebagai siswa Pondok Pesantren Gontor, Ponorogo, Jawa Timur (1959) dan alumni Fakultas Dakwah Universitas Al-Irsyad, Solo, Jawa Tengah (1963). Perjalanan kariernya dimulai dengan menjadi aktivis Himpunan Mahasiswa Islam Solo. Selanjutnya adalah menjabat Sekretaris Pemuda Al-Irsyad Solo, kemudian terpilih menjadi Ketua Gerakan Pemuda Islam Indonesia (1961), Ketua Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam, memimpin Pondok Pesantren Al Mu’min (1972) dan Ketua Organisasi Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), 2002.

Ba’asyir mendirikan Pesantren Al-Mu’min di Ngruki, Sukoharjo, Jawa Tengah, bersama dengan Abdullah Sungkar pada 10 Maret 1972. Pada masa Orde Baru, Ba’asyir melarikan diri dan tinggal di Malaysia selama 17 tahun atas penolakannya terhadap asas tunggal Pancasila
/zicoe.com
Baca Selengkapnya >>

KH Hamam Ja’far



Kiai Hamam Ja’far sangat berjasa dalam pendidikan islam di Indonesia , khususnya di pulau Jawa. Kini , 17 tahun sudah kiai karismatik kelahiran 15 Desember 1938 di Muntilan , Jawa Tengah , itu telah meninggalkan kita semua. Ia putra sulung dari dua putra pasangan kiai Dja’far dan nyai Hadijah , berasal dari keluarga terpandang di desanya. Dalam keluarganya mengalir darah kiai yang diturunkan oleh kakeknya kiai mohammad bin kertotaruno,pendiri pondok pabelan (1920).Kiai mohammad adalah pengikut setia pangeran Diponegoro.sedangkan kiai Kartotaruno diyakini masyarakat setempat sebagai keturunan Sunan Giri. Setelah meanamatkan sekolah rakyat didesanya.Hamam melanjutkan pendidikanya kesekolah menengah islam pertama di Muntilan.Kemudian masuk pondok Pesantren Tebuireng dan melanjutkan kepondok pesantren Gontor,jawa timur,selama kurang lebih 11 tahun.Hamam berguru langsung kepada pendiri pondok pesantren modern Darussalam Gontor :KH Ahmad Sahal,KH Zainuddin Fanani,dan KH Imam Zarkasyi. Bahkan ia menjadi penggurus badan wakaf pondok pesantren ponorogo tersebut dan mendapat restu dari KH Imam Zarkasyi untuk mendirikan pondok pesantren.Hamam yang ketika itu sudah dipanggal ustadz bertekad redup kareana ketaiadaan pengasuhnya antara tahuan 1950 samapai 1965.Pilihan untuk membangun kembali pondok pabelan adalah hasil dari bacaannya yang mendalam terhadap sejarah umat islam dan kondisi riil umat dan bangsa Indonesia saat itu termasuk kondisi riil masyarakat desa pabelan, juga hasil interaksinya berbagai tokoh agama,social,politik.pada saat itu,kehidupan umat isalam di Indonesia pada umumnya bisa dikatakan dalam keadaan terancam bahayanya komunisme. Tepat tanggal 28 Agustus 1965 ,secara resmi kiai Hamam Ja’far menjadi pemimpin pondok pesantren pabelan .Ketika itu santrinya hanya 35 orang.mereka tidak dipungut bayaran.Untuk biaya pesantren ia dan santrinya mengerjakan sawah milik seorang warga desa pabelam dengancara bagi hasil.”kami juga meanam jeruk,pisang dan buah-buahan “,kata Kiai Hamam. Pendidikan dipesantrennya tidak hanya diruang kelas.para santri diajarkan berbagai ketrampilan.Misalnya ketrampilan ,keterampilan mengolah batu.Dalam mendidik santrinya kiai Hamam banyak bertolak dari lingkungan .Bukan berati ia menolak ilmu dari luar , tetapi ia harus mengambil yang cocok dengan lingkungannya.uztadz Hamam ,menikah dengan Djuhanah Rofi’ah,putri kiai Bakir,pada tahun 1964,memiliki dua anak :Ahmad Najib Amin (1966),Dan Ahmad Amin (1971).Lima belas telah berlalu ,Pondok pesantren pun tumbuh pesat.Mufti besar dari Kuwait,Syalakh Abdullah Annuri,beberapa kali mealakuakan kunjungan kepesantren pabelan .Pondok pesantren ini sangat aktif dalam usaha kesehatan masyarakat (UKM),khususnya kesehatan ibu dan anak. Bahkan seorang dirjen UNICEF Dr James Grant ,ketika mengunjungi ponpes pabelan ,memberikan pujian dan dukungannya.Kiai Hamam dengan pondok pabelan-nya juga memasuki ilayah seni,budaya,termasuk arsitektur.Seorang novelis kelas dunia ,menerima nobel dibidang sastra ,yang berasal dari Trinidad,VS Naipaul,penulis novel Among the Believers: an islam Journey, pada tahun 1980 menyempatkan diri berkunjung dan berdialog di pondok pabelan.pengalamannya tersebut sempat dimasukkan di dalam novelnya,yang diterbitkan oleh Vintage Books,New York ,1982.Dalam berbagai kesempatan ,Kiai Hamam sering mempertanyakan bagaimana sebenarnya perngertian Inna shsshalata tanha’anil fakhsyaai al munkar (sesungguhnyasholat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar).Di antara kesimpulanya ,shalat itu tidak terlepas dari keseluruhan penghayatan hubungan antara –sesama manusia ,alam semesta ,dan illahi rabbi.Sehingga sholat akan mencegah al-fakhsyaa wal munkar,termasuk yang bersifat sosial,budaya,maupun lingkungan hidup.Kiai hamam ,yang begitu taawdhu’, juga selalu menjaga silaturahim,terutama kepada guru-gurunya.Bila mendapatkan masalah ,ia selalu menandatangi kediaman ketiga gurunya : KH Ahmad Sahal,KH Imam Zainuddin Fanani dan KH Imam Zarkasyi.Demikian juga pada saat mengambil keputusan penting.Kiai Hamam juga sangat taat kepada guru-gurunya, termasuk tantu saja para gurunya di Pondok Pesantren Modern Gontor.Ketataan tidak hanya terlihat dalam sikap pribadinya ,tapi juga pada sikapnya mengambil semua jiwa,cita-cita,kurikulum,metode pengajaran pondok Gontor.Bahakan semua buku pelajarannya diambil dari Gontor sepenuhnya. Seperti biasa,setiap ba’da subuh . Kiai Hamam memberikan kuliah subuh di serambi masjid.Namun menjelang bulan Romadhon ,kala Kiai Hamam akan meninggalkan podium,air matanya menetes.Ia menangis lantaran rehabilitas gedung belum rampung,karena kekurangan dana.Ketika itu jama’ahnya ia meminta doa agar allah melancarkan urusan demi keberlangsungan rehabilitas.lalu ia pun neninggalkan jama’ahnya.Tak beberapa lama setelah itu tepatnya hari ke-17 bulan suci romadhon,Kiai hamam tidak bisa memberikan kuliah subuh ,karena sakit.Iakemudian dirawat dirumah sakit umum Yogyakarta. Elesai melaksanakan shalat tarawih,tepatnya di malam tanggal 23 romadhon tahun 1993,kiai hamam dipanggail kehadirat allah.Jenazah KH Hamam dari mobil ambulance dan digotong memasuki ruang tamu,dibaringkan di atas lantai yang beralaskan karpet.tubuhnya memang besar ,namun terasa ringan sekali digotong.Wajahnya juga terlihat cerah ,seperti tersenyum.senyum keikhlasan.keesokan harinya ,selesai shalat Zhuhur,Jenazah dishalati oleh para santri dan sebagian alumnus serta masyarakat sekitar pondok.hadir pula kala itu,KH Abdullah Syukri Zarkasyi,yang memberikan sambutan terakhirpelepasan jenazah sebrlum dimakamkan .Dalam sambutanya ia menggatakan,”KH Hamam memangsudah meninggalkan kita semua dan pondok pabelan ,tapi pondok ini tidak boleh mati.Kiai Hamam telah meninggalkan kita semua.Tetapi arisan sepiritual,soial,dan budayanya masih terus hidup dan menjadi sumber inspirasi.Para alumnus dan santrinya tersebar dipenjuru tanah air.bahkan juga mancanegara .Jeajah-jejah langkahnya yang fenomenal,sebagaimana langkah yang tegas,pasti,dan meyakinkan ,member dorongan semangat yang kuat kepada semua santri dan sahabatnya .Kiai Hamam Menjadi teladan hidup dalam integritas,ketulusan dan kesungguhan .semoga amal ibadahnya diterima disisi-nya.

(Majalah AL-kisah,2010:130-133)
Baca Selengkapnya >>

Rabu, 15 Juni 2011

Sekilas tentang Biografi KH. R. Z. Fananie





KH. R. Zainuddin Fananie lahir di Gontor Ponorogo Jawa Timur pada tanggal 23 Desember 1905. Putera keenam Kiyai Santoso Anom Besari. Silsilah KH. R. Zainuddin Fananie terhubung dengan Kiyai Tegalsari, Khalifah Hasan Besari. Kiyai Khalifah Tegalsari mengambil menantu Kiyai R.M. Sulaiman Djamaluddin, keturunan ke-IV Keraton Cirebon. Kiyai R.M. Sulaiman Djamaluddin mempunyai putera Kiyai Archam Anom Besari. Kiyai Archam Anom Basari mempunyai putera Kiyai R. Santosa Anom Besari yang bertempat tinggal di Ponorogo, Gontor, Jawa Timur. Istri Kiyai R. Santosa Anom Besari, Bu Nyai Santosa Anom Besari, merupakan keturunan Kanjeng Bupati SurodiningratPasangan inilah yang melahirkan KH. R. Zainuddin Fananie.
Riwayat pendidikan KH. R. Z. Fananie, panggilan KH. R. Zainuddin Fananie, mula-mula masuk Sekolah Dasar Ongko Loro Jetis Ponorogo, dan sementara itu mondok di pondok pesantren Josari Ponorogo, kemudian ke Termas Pacitan, lalu ke Siwalan Panji Sidoarjo. Dari sekolah Ongko Loro beliau pindah ke Sekolah Dasar Hollandshe Inlander School (HIS), kemudian melanjutkan ke Kweekschool (Sekalah Guru) di Padang. Sesudah tamat sekolah guru beliau masuk Leider School (Sekolah Pemimpin) di Palembang. Selain itu, beliau pernah belajar pada Pendidikan Jurnalistik dan Tabligh School (Madrasah Muballighin III) di Yogyakarta, dan selesai pada tahun 1930
KH. R. Z. Fananie mempunyai segudang pengalaman. Beliau pernah menjadi guru di HIS sejak 1926 sampai 1932, dan mengajar di School Opziener di Bengkulen sampai tahun 1934. Pada tahun 1929, KH. R. Z. Fananie mengemban amanah sebagai konsul pertama Pengurus Besar Ormas Islam Muhammadiyahse-Sumatra Selatan. Sementara dua sahabatnya, Buya Hamka dan Mahfudz Siddik, masing-masing bertugas di Sumatra Utara dan Sumatra Barat. KH. R. Z. Fananie, yang disebut-sebut sebagai tokoh Islam modernis, memilih 4 Ulu Kota Palembang sebagai pusat kegiatan.[3]Selain aktifitas di Ormas, KH. R. Z. Fananie, yang juga kerap disebut sebagai tokoh muda reformis, bergabung dengan Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII).
Mestika Zed seorang peneliti LP3ES menegaskan, KH. R. Z. Fananie merupakan salah satu tokoh PSII yang memiliki pengaruh sampai dengan periode Proklamasi Kemerdekaan.

Pada tahun 1942 KH. R. Z. Fananie pernah menjadi Kepala Penasehat Kepolisian Palembang hingga tahun 1943. Setahun kemudian menjabat pimpinan Kantor Keselamatan Rakyat di Palembang. Setelah itu dipilih menjadi Kepala Kantor Tata Usaha Kantor Sju Tjokan.[6]Pada masa detik-detik revolusi, KH. R. Z. Fananie ikut terlibat menentukan formasi kepemimpinan Hookokai di Palembang dalam “Badan Pemerintahan Bangsa Indonesia” (BPBI). Menurut Mestika Zed, tokoh pergerakan KH. R. Z. Fananie merupakan salah satu pemain utama yang mengisi cikal-bakal aparatur pemerintahan Karesidenan Palembang.[7]Pada awal revolusi 1945, KH. R. Z. Fananie sendiri menempati posisi Kepala Bagian Sosial, sedangkan Ny. R. Z. Fananie memegang posisi Bidang Wanita.[8]Di sini, KH. R. Z. Fananie menempati posisi sebagai wakil atau refresentasi tokoh nasionalis moderat dari kelompok Islam.[9]

KH. R. Z. Fananie ikut andil dalam revolusi Palembang. Masalah transportasi dan komunikasi menjadi kendala utama dalam mensosialisasikan revolusi di pedalaman. Tidak banyak orang kota yang mampu berbicara di depan masa petani. Mereka sulit membangkitkan gairah revolusi apalagi menerangkan soal-soal rumit berkaitan dengan politik kenegaraan. Badan pemerintahan hanya dapat mengandalkan segelitir tokoh nasionalis Islam semisal KH. R. Z. Fananie, yang pada masa sebelumnya banyak terlibat dalam badan propaganda Jepang.[10]H.M. Hasyim R., sekretaris Komite Nasional Indonesia (KNI), dan Kemas Usman Adil, ketua Barisan Pelopor Republik Indonesia, atau Barisan Pemuda Republik Indonesia (BPRI) Pagar Alam, menyebut KH. R. Z. Fananie sebagai salah seorang yang aktif melakukan perjalanan keliling ke daerah pedalaman. KH. R. Z. Fananie menyampaikan pesan dari Palembang di setiap kota kecil yang disinggahi –Prabumulih, Lahat, Tebing Tinggi, dan Lubuk Linggau. Pesan yang disampaikan menyangkut bagaimana mengumpulkan pimpinan-pimpinan BKR (bekas anggota Hookokai),[11]mendirikan BPRI, dan mengibarkan bendera Merah Putih.

Pada Januari 1946 digelar sidang pertama Komite Nasional Indonesia (KNI), yang telah menyandang nama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Keputusan sidang menetapkan KH. R. Z. Fananie sebagai Badan Pekerja Harian (BPH) DPR.[12]Disebutkan pula bahwa sejak tanggal 8 April 1953 KH. R. Z. Fananiediangkat oleh presiden menjadi anggota "Panitia Negara Perbaikan Makanan". Empat bulan setelah itu tepatnya pada tanggal 1 Agustus 1953 menduduki Kepala Jawatan Bimbingan dan Perbaikan Sosial pada Kementerian Sosial. Masih pada tahun yang sama beliau menjabat Inspektur Kepala, Kepala Inspeksi Sosial Jawa Baratdan Sumatra Selatan. Sejak tanggal 19 Januari 1956 mendapat kepercayaan menjadi Kepala Bagian Pendidikan Umum Kementerian Sosial. Pada pertengahan bulan Januari 1959 menjabat Kepala Kabinet Menteri Sosial. Setahun kemudian yaitu pada tanggal 12 Agustus 1957 menjadi Kepala Jawatan Pekerjaan Sosial. Dalam pada itu, KH. R. Z. Fananie tercatat mengikuti Rapat Paripurna III Musyawarah Pembantu Perencanaan Pembangunan Nasional (MUPPENAS), tanggal 29 Juni 1965 di Gedung MPRS Bandung. Terakhir adalah sebagai anggota BPP-MPRS sampai tahun 1967.[13]

Semasa kerja di pulau Andalas (Sumatra), KH. R. Z. Fananie bertemu dengan pasangan hidup beliau, Hj. Rabiah M. (1915-2007). Pada tanggal 21 Juli 1967, KH. R. Z. Fananie meninggal dunia di kediaman beliau di Jakarta, meninggalkan seorang istri dan seorang putera semata wayang, KH. Drs. Rusdi Bey Fananie (Anggota Badan Wakaf Pondok Modern Gontor).

KH. R. Zainuddin Fananie, bersama kakak dan adik kandung beliau, yakni KH. Ahmad Sahal dan KH. Imam Zarkasyi, yang tergabung dalam TRIMURTI (Tiga Serangkai), merintis pendirian Kuliyatul Mu’alimin al-Islamiyah (KMI) Pondok Modern Darussalam Gontor, Jawa Timur, pada tahun 1936. Program yang mula pertama diselenggarakan adalah Tarbiyatul Athfal (TA), pendidikan anak-anak bagi masyarakat Gontor, yang ditangani langsung oleh Pak Sahal (sapaan akrab KH. Ahmad Sahal). Setelah jumlah alumni TA sudah banyak, untuk memenuhi jenjang pendidikan selanjutnya, dibukalah Sullamul Muta’allimin (Tangga Bagi Para Siswa) pada tahun 1932.

KH. R. Z. Fananie memiliki berbagai gagasan tentang pendidikan modern. Gagasan-gagasan itu ditulis sendiri oleh KH. R. Z. Fananie dan dibantu oleh KH. Imam Zarkasyi dalam bentuk buku yang diberi judul “Pedoman Pendidikan Modern”. Buku ini terbit pada tahun 1934 sebelum KMI didirikan pada tahun 1936. Semua orang tentu mafhum yang disebut modern pada saat itu adalah Barat. Dengan kata lain, pendidikan modern berarti pendidikan mengikuti model Barat, yang dalam konteks Indonesia diperkenalkan oleh pemerintah kolonial Belanda.Sedangkan pesantren-pesantren yang ada umumnya dikenal sebagai sebagai lembaga pendidikan tradisional.]KH. R. Z. Fananie memiliki peran besar dalam perubahan model pendidikan dari tradisional (klasik) ke modern. Sebab, beliau langsung merasakan dan mengalami pendidikan model Barat. Perlu ditegaskan di sini bahwa, dalam proses modernisasi di Gontor, peran KH. R. Z. Fananie secara konseptual sangat menonjol setelah penulisan buku yang ada di tangan pembaca ini.

Buku Pedoman Pendidikan Modern ditulis ketika pengarangnya sedang bertugas di Sumatra. KH. R. Fananie mempunyai relasi dengan berbagai golongan, tak terkecuali para ahli pendidikan. Beliau mempunyai hubungan yang sangat baik dengan Mahmud Yunus, yang dapat dipandang sebagai salah seorang pelopor pendidikan Islam modern di Indonesia. Pertemuan ini yang bisa jadi mendorong beliau untuk membekali sang adik, KH. Imam Zarkasyi, dengan pendidikan modern, yaitu dengan menganjurkan sang adik ini belajar di Normal School Padang, di bawah bimbingan Mahmud Yunus. Mengingat buku ini terbit sebelum adanya program KMI, dipastikan ia merupakan kerangka konseptual dari program modernisasi pendidikan di Gontor. Dengan kata lain, KMI merupakan ramuan antara pengalaman dan konsep yang terkandung dalam buku ini.

KH. R. Z. Fananie merupakan ulama produktif yang melahirkan sejumlah karya. Selain “Pedoman Pendidikan Modern” (1934), KH. R. Z. Fananie menerbitkan buku-buku lain, seperti: “Pedoman Penangkis Crisis” (1935); “Sendjata Pengandjoer dan Pemimpin Islam” (1937); “Pengetahuan tentang Karang Mengarang dan Jurnalistik”; “Kesadaran dan Pedoman Suami Istri, Suluh Rakyat Indonesia”; “Ilmu Guru dan Soal Perguruan”; “Kursus Agama Islam”; “Ketinggian Martabat Islam”; “Islam Berhadapan dengan Dunia”; dan “Permenungan antara Islam dan Kristen”.
fananie-center.org
Baca Selengkapnya >>

Pondok Modern Darussalam Gontor





Pondok Gontor didirikan pada 10 April 1926 di Ponorogo, Jawa Timur oleh tiga bersaudara putra Kiai Santoso Anom Besari. Tiga bersaudara ini adalah KH Ahmad Sahal, KH Zainudin Fananie, dan KH Imam Imam Zarkasy dan yang kemudian dikenal dengan istilah Trimurti.

Pada masa itu pesantren ditempatkan di luar garis modernisasi, dimana para santri pesantren oleh masyarakat dianggap pintar soal agama tetapi buta akan pengetahuan umum. Trimurti kemudian menerapkan format baru dan mendirikan Pondok Gontor dengan mempertahankan sebagian tradisi pesantren salaf dan mengubah metode pengajaran pesantren yang menggunakan sistem watonan (massal) dan sorogan (individu) diganti dengan sistem klasik seperti sekolah umum. Pada awalnya Pondok Gontor hanya memiliki Tarbiyatul Atfhfal (setingkat taman kanak-kanak) lalu meningkat dengan didirikannya Kulliyatul Mu'alimin Al-Islamiah (KMI) yang setara dengan lulusan sekolah menengah. Pada tahun 1963 Pondok Gontor mendirikan Institut Studi Islam Darussalam (ISID).

Pesantren Gontor dikelola oleh Badan Wakaf yang beranggotakan tokoh-tokoh alumni pesantren dan tokoh yang peduli Islam sebagai penentu Kebijakan Pesantren dan untuk pelaksanaannya dijalankan oleh tiga orang Pimpinan Pondok(Kyai) yaitu KH Hasan Abdullah Sahal (Putra KH Ahmad Sahal). Dr. KH Abdullah Syukri Zarkasy (putra KH Imam Zarkasy)dan KH Syamsul Hadi Abdan,S.Ag. Tradisi pengelolaan oleh tiga pengasuh ini, melanjutkan pola Trimurti (Pendiri).

Pada saat peristiwa Madiun tahun 1948 saat Muso telah menguasai daerah Karesidenan Madiun (Madiun, Ponorogo, Magetan, Pacitan dan Ngawi) dan membunuhi banyak tokoh agama, dimana pada saat itu TNI sudah dilumpuhkan oleh PKI, Pesantren Gontor diliburkan dan santri serta ustadnya hijrah guna menghindar dari kejaran pasukan Muso. KH Ahmad Sahal(alm) selamat dalam persembunyian di sebuah Gua di pegunungan daerah Mlarak. Gua tersebut kini disebut dengan Gua Ahmad Sahal. Kegiatan Pendidikan Pesantren dilanjutkan kembali setelah kondisi normal.

Pandangan Modern KH Ahmad Sahal, sebagai Pendiri tertua dari Trimurti dan kedua adiknya yaitu KH Zainudin Fanani dan KH Imam Zarkasy diwujudkan pula dalam menyekolahkan putra-putrinya selain di sekolah agama (pesantren) juga di sekolah umum. Drs. H. Ali Syaifullah Sahal (alm) alumni Filsafat UGM dan sebuah Universitas di Australia, dosen di IKIP Malang; Dra. Hj. Rukayah Sahal dosen IKIP (UMJ) Jakarta dll.

Dan tentu menjadi bahan pemikiran anggota Badan Wakaf saat ini, untuk mewujudkan Pesantren Gontor menjadi semacam Universitas Al Azhar di Mesir, sebuah universitas yang memiliki berbagai bidang kajian (Agama serta Ilmu dan Teknologi) yang berbasiskan Islam.

Pada tahun 1994 didirikan pondok khusus putri untuk tingkat KMI dan pendidikan tinggi yang khusus menerima alumni KMI. Pondok khusus putri ini menempati tanah wakaf seluas 187 hektar. Terletak di Desa Sambirejo, Kecamatan Mantingan, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Kini, pondok khusus putri memiliki lima cabang, tiga cabang berlokasi di Ngawi, satu cabang di Sulawesi Tenggara dan satu di Kediri.

Hingga kini gontor telah memiliki 10 cabang yang terdiri dari 13 kampus di seluruh Indonesia dan santri/ santriwatinya mencapai 14.273 orang. Tidak seperti pesantren pada umumnya, para pengajarnya pun berdasi dan bercelana panjang pantalon.

/id.wikipedia.org/wiki/Pondok_Modern_Darussalam_Gontor
Baca Selengkapnya >>