Minggu, 24 April 2011

KEKAWIN ARJUNAWIWAHA

Bagian Pertama: Penulisan Kakawin

Ini adalah Arjunawiwaha, yaitu kakawin yang suci dan indah, hasil karya Pujangga Kawi Empu Kanwa, yang telah mengikat cerita (sampun keketan ing katha), bagaikan menguntai permata, dan merangkai sajak (angiket bhasa rudita), seperti merangkai ikatan bunga (angiket sekar taji). Semuanya dituliskan pada papan, rapi, berupa goresan (rinekaken munggw ing wiletanan aradin warna cacahan), sebagai hasil karya pujangga agung yang telah menyusun, dan menghasilkan kidung bersyair (tumatametu-metu kakawin), yang keluar dari puncak budi (tungtung ing hidep), dan keluar dari batu-tulis (tungtung ing tanah). Maka kakawin ini adalah karya-sastra agung yang dipersembahkan bagi Sri Paduka Raja, yaitu sebagaimana disebutkan … “Sembah kehadapan Sri Airlangga. Dia yang dipuja sampai patah batu-tulis, memberi restu” (Sri Airlanggha namastu sang panikelanya tanah anumata).

Sang Pujangga Kawi menggalang keindahan dengan kiasaan kata yang mengungkapan kiasan (alamkara), dan hiasan permainan kata dengan bunyi yang rumit (sabdalamkara), serta hiasan permainan arti yang menyarankan makna berganda (arthalamkara). Ia membukanya dengan pujaan (asir, manggala), diikuti rangkaian satuan kisah yang terdiri dari perundingan (mantra), utusan (duta), keberangkatan pasukan (prayana), pertempuran (aji), dan kemenangan Sang Pahlawan (nayaka bhyudaya). Dibubuhkannya lukisan alam pegunungan (saila), laut (arnawa), dan kota (nagara), berikut gambaran musim (rtu), dan terbitnya bulan (candrodaya), ketika berlangsung permainan di taman (udyanakrida) dan di air (salilakrida). Diungkapkannya pula ajaran tentang kewajiban hidup (dharmasastra) dan kesejahteraan hidup (arthasastra). Kemudian diutarakannya adegan percintaan, yang dipenuhi dengan rasa asmara (srngararasa), ulah cinta penuh kesenangan (sambhogasrngara), dan kesedihan karena perpisahan atau penolakan (vipralambha), yang diakhiri dengan keadaan yang menyenangkan (rdhimat). Adapun di dalam menulis diramunya pembukaan (mukha), yang mengandung benih cerita (bija), diikuti dengan pembukaan kembali (pratimukha), perkembangan yang menjadi kandungan cerita (garbha), pertimbangan (vimarsa), untuk menyingkirkan halangan (avamarsa), dan kesimpulan cerita (nirvahana). Maka itulah yang disebut kelima sendi (panca-sandhi) dalam wiracarita berbentuk kakawin.

Dibangunnya pula jalinan cita-rasa (rasa) dan perasaan (sthayibhava), yaitu asmara (srngara) dan cinta (rati), kelucuan (hasya), dan kejenakaan (hasa), belas-kasihan (karuna) dan kesedihan (soka), keganasan (raudra), dan kemarahan (krodha), kepahlawanan (vira) dan keteguhan (utsaha), kekuatiran (bhayanaka ) dan ketakutan (bhaya), kengerian (bibhatsa) dan kemuakan (jugupsa), serta ketakjuban (adbhuta) dan keheranan (vismaya). Sehingga akhirnya tercapailah kedamaian (santa) dan ketenangan (sama), yang bergaya semesta, mengatasi ruang (desa), waktu (kala), dan keadaan (patra), serta menjangkau kepada tingkat kesadaran tertinggi. Itulah rasa damai-bahagia (santosa), yaitu kebahagiaan yang tertinggi (paramasukha), karena merupakan kebahagiaan yang tak mungkin kembali menjadi duka (sukha tan pabalik dukha).

Demikan pula Sang Pujangga Kawi kemudian memuja cahaya keindahan yang asali (istadewata), dalam rangka memohon pertolongan dan menyatu dengannya (dewasraya). Karena ia ingin menjadi tunas keindahan (alung-lango), yang akan menciptakan keindahan (kalangwan), sebagai tempat persemayaman, yaitu tempat yang dipuja (candi). Maka karyanya itulah pula yang akan menjadi bekal kematiannya (silunglung), dalam rangka mencapai kelepasan (moksa). Sumber keindahan itupun turunlah, dari alam niskala memasuki alam sakala-niskala, bersemayam di atas padma (munggw ing sarasiya) di dalam hati dan jiwa Sang Pujangga Kawi (twas, jnana, hidep, tutur). Melalui kawi-yoga menyatulah sumber keindahan di alam niskala dengan kekaguman di lubuk-hati Sang Pujangga Kawi yang memancarkan keindahan. Di dalam keanekaan-ragaman kini ia melihat hakekat yang satu. Iapun mengembara untuk menyaksikan keindahan pada alam kehidupan seraya menjalankan tapa-brata (abrata). Maka terbayanglah keindahan di mana-mana, yaitu keindahan yang akan dituangkan dalam karya sastra kakawin. Sang Pujangga Kawi pun tenggelam dalam keindahan alam, dan sekaligus menyatu dengan keindahan yang mutlak, di kala ia telah mampu untuk mengatasi berbagai godaan dan cobaan. Ditemukannya sumber kidung bersyair yang berada di dalam dirinya, yaitu pada ujung pemusatan pikiran (dhyana), yang menuju kepada tataran keheningan (samadhi). Maka ditulisnyalah Kakawin Arjunawiwaha, yang memuja kebajikan (yasa), sebagai buah-usaha pujangga yang berbuat jasa (yasa), dan menjadi sebuah tanda peringatan (yasa). Bagaikan sebuah candi dengan prasasti yang mengabadikan baik kebajikan dari yang dipuja maupun ke-bakti-an dari yang memuja.

Demikianlah Kakawin Arjunawiwaha kemudian menjadi jalan perenungan (sadhana), yang dapat dibaca (amaca) maupun dilagukan (angidung). Ketiga-puluh enam pupuh dalam kakawin menjadi tingkat-tingkat kesadaran yang sarat dengan gelombang rasa rokhani. Maka ketiga rasa yang utama, yaitu yang dijumpai dalam suasana pertapaan (santa), pertempuran (vira), dan percintaan (srngara), muncul secara bergantian untuk akhirnya bertemu dalam kesatuan rasa. Kesemuanya itu membawa pembaca dan pendengar kakawin, untuk beralih dari alam sakala kepada alam sakala-niskala. Maka haruslah semua yang membacanya menghadapi dan mengatasi tabir yang menyelubungi kesejatian makna (maya). Karena di dalam keindahan itupun terdapat godaan dan cobaan, yang membangkitkan gelora perasaan raga-jasmani, yaitu keadaan yang harus dilepaskan dalam rangka tercapainya hakekat rasa sejati. Selanjutnya dengan melakukan pembacaan berulang-kali akan terjadilah penggandaan buah-pikiran, yang bergerak menuju kepada satu pengertian. Sehingga pada saat alunan suara kidung berhenti terdengar, dan keheninganpun turun, tibalah jiwa pada keadaan yang mutlak. Sesungguhnya daya-cipta dalam diri Sang Pujangga Kawi menggambarkan kekuatan (sakti) yang berasal dari Hyang Batara Agung. Sedangkan kakawinnya melambangkan dunia yang telah tercipta (maya), yang penggubahannya itu menunjuk kepada kejadian penciptaan (lila). Karena itulah pembacanyapun diharapkan ikut bermain (lila), dengan menggumuli kakawin (maya), dalam rangka menemukan makna dan daya yang sejati (sakti).

Maka barang siapa membaca Arjunawiwaha sebagai kakawin yang suci, ia akan dapat merasakan kebesaran Arjuna. Seperti Ksatria Pandawa itu ia akan dapat menghayati hukum semesta yang menjadi kewajiban hidupnya (dharma). Begitu pula ia akan terpanggil untuk ikut memulihkan ketertiban dunia dalam rangka memperjuangkan kesejahteraan hidup (artha). Sehingga iapun akan menerima pahala, yaitu kemuliaan dan kenikmatan hidup (kama). Maka didalam segala-sesuatu yang diperbuatnya itu ia akan tetap berada pada jalan kelepasan hidup (moksa), karena itulah tujuan jangka-panjang kehidupannya. Sebagaimana tertulis … “Perihal dharma ksatria, jasa dan kebajikanlah yang dipentingkan. Namun demikian, dalam keyakinan berkesimpulan pula mencapai moksa …” (kunang yan dharma ksatria yasa wa lawan wirya linewih, yaya wwat ring gegwan makaputusa sanghyang kelepasan). Maka iapun akan menjadi seperti Arjuna yang memperoleh kejayaan di mana-mana.

Bagian kedua: Pembacaan Kakawin

(Mukha)/(1.4-1.5): Sebagai sebuah wiracarita yang telah disusun di atas pemahaman rasa dan yoga, Kakawin Arjunawiwaha adalah sebuah kidung bersyair tentang ke-jaya-an Arjuna di Kahyangan (kawijayan partha ring kahyangan). Pada permulaan kakawin ia ditampilkan sebagai calon pahlawan (nayaka), yang akan menghadapi lawannya pahlawan (pratinayaka). Maka Arjuna itu adalah seorang ksatria yang perkasa dan seorang yogi yang berbudi. Ia adalah seorang pahlawan (sang nayaka), yang telah mencapai hakekat yang tertinggi (sang paramarthapandita). Di dalam berbagai penampilan watak, sikap, dan tindakannya sebagai seorang ksatria, dapat ditemukan rasa keperwiraan (virarasa), yang sempurna dan utuh. Akan tetapi melalui yoga dan tapa yang dijalankan secara bertahap, munculah pula rasa kedamaian (santarasa), yang memancar dari seorang yogi. Keadaan itu sangatlah berbeda dengan pembawaan Sang Niwatakawaca, raksasa sakti, yang justru masih sangat terjajah oleh hawa napsu keangkara-murkaan. Dalam keangkuhan dan kesombongan dirinya Sang Pratinayaka berniat untuk menghancurkan kahyangan Dewa Indra dan menundukkan para dewa.

(Pratimukha)/(1.6-VI.9): Karena kesulitan yang dihadapinya Indra membutuhkan pertolongan Arjuna. Akan tetapi kemampuan dan niat ksatria penengah Pandawa itu masih diragukannya. Maka diutuslah ketujuh bidadari (widyadhari), yang kecantikannya tak tertandingi, untuk menggoda Arjuna yang sedang bertapa di gunung Indrakila. Namun demikian oleh karena di dalam tapanya Arjuna telah berhasil mencapai keteguhan-hati (dhira), maka tidaklah ia terganggu oleh godaan para apsari yang jelita itu. Bahkan akhirnya mereka terpaksa kembali ke kahyangan dewata dalam kesedihan dan kerinduan yang mendalam, meninggalkan Arjuna yang berdiam dalam keheningan batin yang sempurna. etika itulah para dewa di kahyangan bersuka-cita, bahkan ada yang menghaturkan sembah penghormatan kearah Indrakila. Kini telah ditemukan seorang ksatria pahlawan yang akan membela kelestarian kahyangan dewata. Akan tetapi Arjuna masih harus diuji, apakah ia seorang ksatria yang menjalankan tapa, ataukah ia seorang resi yang ingin menanggalkan keduniawian. Maka datanglah Indra dengan menyamar sebagai seorang resi tua untuk memperolok-olokkan dan menggugah rasa ke-ksatria-an Arjuna. Menghadapi ujian Indra nampaklah keteguhan dan ketetapan hatinya untuk memegang dharma ksatria, yang mementingkan jasa dan kebajikan (yasa lawan wirya). Karena kebaktian dan cinta-kasihnya (bakti lawan asih), kepada kakanda Sang Dharmaputra (Yudhistira Shri Dharmaatmaja), Arjunapun bertapa dengan tekun. Karena cita-citanya adalah untuk menjadi jaya dan berkuasa di dunia (digjaya wijaya). Serta hendak berbuat jasa memelihara seluruh dunia dan berbuat baik kepada sesama (mahaywang rat lawan kaparahitan). Demi cita-citanya itu ia berani menghadapi apa saja, bahkan hingga mati sekalipun. Kini keraguan Indra menjadi sirna, karena telah ditemukannya seorang ksatria berbudi-luhur yang akan mampu untuk menghadapi Sang Niwatakawaca. Dipujinya Arjuna sebagai ksatria yang berjalan mantap dan teguh dalam membina kehormatan (manadhana) dirinya dengan tepat. Akan tetapi Arjuna masih harus bertapa dalam rangka meneruskan usahanya untuk memperoleh anugerah Hyang Batara Agung. Karena tidak lama lagi keindahan Tuhan (Sang Hyang Hayu) akan datang kepadanya. Maka Arjunapun meningkatkan usahanya (prih), dengan tidak berlengah-lengah (tan upir-upir).

(Garbha)/(VII.1-XII.14): Kini tanda-tanda keberhasilan mulai terlihat. Arjuna yang selalu bersikap waspada, tampak penuh kesiap – siagaan (yatna), ketika menghadapi cobaan Sang Mamangmurka. Ditewaskannya raksasa utusan Niwatakawaca, yang telah menjelma sebagai babi-hutan yang ganas, dengan bidikan panahnya. Bersama dengan itu panah Ksatria Kirata juga menghujam tubuh babi hutan itu. Karena ingin menunjukkan keperwiraannya Arjuna bersikap tak hendak mengalah kepada Sang Kirata. Dengan berani ia melayani tantangan ksatria asing yang merendahkannya dengan kata-kata yang menghina. Karena merasa kehormatan dirinya diganggu Arjunapun menjadi marah (krodha). Kata-kata Ksatria Pandawa itu tandas, tetapi tidak tergesa-gesa (sahuriratereh tar agya). Serangan Sang Kirata dan pengiringnya ditangkis dengan teguh (khadhiran), dengan dahsyat (katara) Arjuna melakukan perang-tanding, dan dengan penuh kewaspadaan (saprayatna) ia membalas serangan senjata Sang Kirata.Arjuna bergulat dengan Sang Kirata dengan amat tangguh, hingga ketopongnya pecah dengan disertai berhamburannya ratna. Ia berkelahi dengan penuh siasat (cidra), erat dipeluknya kaki Ksatria Sang Kirata itu, yang telah memukulnya hingga tersungkur ketanah. Tiba-tiba sirnalah Sang Kirata, berganti rupa menjadi Sang Hyang Siwarudra. Maka Arjuna bersujud menyembah dan memuja Hakekat Tertinggi dalam penampakkanNya itu. Karena ketulusannya kemudian diterimanya anugerah keempat kesaktian (cadusakti). Juga busur, ketopong, dan baju zirah (laras makuta lawan kawaca). Diterimanya ajaran suci berupa ilmu keakhlian memanah (aji dhanurdharasastra). Setelah Sang Hyang Batara Agung berlalu, Arjuna Sang Dhananjaya merasa amat berbahagia, atas anugerah yang telah diterimanya. Disambutnya utusan Indra yang kemudian datang untuk mengundangnya ke kahyangan, supaya segera memberi pertolongan dalam rangka menghadapi ancaman Sang Niwatakawaca. Akan tetapi karena kerendahan hatinya Arjuna hanya terdiam ketika dianggap berkeunggulan dan berkemampuan tinggi (mawirya lawan maguna).

(Vimarsa)/(XIII.1 – XXI.7): Sesungguhnya Indra memandang Arjuna sebagai penolong orang yang tak berpelindung (kshatriya), yang jaya di mana-mana (sarananing anatha digjaya). Maka dalam persidangan para dewa ditetapkanlah tugas bagi Arjuna dan Suprabha. Dalam rangka itulah Arjuna menerima latihan dari Sang Wrehaspati untuk menambah kemahirannya dalam mengambil kebijakan yang cermat dan melakukan daya upaya yang tepat. Kemudian berangkatlah Arjuna didampingi Suprabha sebagai penasihat dan pelindungnya menuju ke negeri Ima-Imantaka. Di sanalah Suprabha berpura-pura menyerahkan diri kepada Sang Niwatakawaca, dengan alasan ingin menghindari nasib buruk bilamana Kahyangan ditundukkan kelak. Dengan tipu muslihat (upaya) yang telah dirancangnya bersama Arjuna, penuh kelemah-lembutan yang manja Suprabha melancarkan bujuk-rayunya terhadap raksasa sakti yang sedang kegirangan itu. Sehingga akhirnya diketahuilah rahasia kesaktian dan jalan kematiannya, yaitu yang berada pada bagian dalam mulutnya. Ketika itulah Arjuna menghancurkan gapura kota dan membuat keonaran di Ima-Imantaka. Sungguh Sang Niwatakawaca terkecoh (kasalib), karena Suprabha lalu melarikan diri bersama Arjuna di tengah kekacauan yang sedang berlangsung. Dalam kemarahan yang menggelora Sang Niwatakawaca segera menyiapkan pasukannya dan berangkat untuk menyerbu Kahyangan Indra. Menyadari hal itu dalam persidangan para dewa, Indrapun memutuskan untuk melawan serangan bala-tentara Ima-Imantaka.

(Nirvahana)/(XXIII.1-XXXVI.2): Indra berangkat bersama pasukan para dewa dan bertempur melawan bala raksasa di lereng gunung Semeru. Ketika barisan para dewa dikalahkan oleh golongan raksasa, Arjuna datang menyerang sebagai penopang- belakang (tulak balakang) bagi mereka yang mundur minta dikasihani. Pada puncak pertempuran itu Arjuna memasang rahasia siasat (rahasya ning upaya), yaitu kutuk balik yang mengakhiri kesaktian Prabu Niwatakawaca. Arjuna sengaja ikut lari dengan berpura-pura kebingungan, hingga membuat raja raksasa yang sakti itu tertawa terbahak-bahak oleh karena kesenangan. Ketika dibidik dengan tomaranya Arjuna sengaja menjepitnya dan berpura-pura terjatuh di keretanya. Niwatakawaca datang berteriak menantang perang sambil tertawa kegirangan. Saat itulah ia terkecoh, terjerat tipu-muslihat (kasalib kabancana), karena tampaklah lidah pada mulut yang terbuka lebar. Maka binasalah raja raksasa yang sakti itu terkena bidikan panah manusia yang sakti pula. Arjuna dan para dewapun kembali ke kahyangan untuk merayakan kemenangan mereka. Akan tetapi ketika para dewa sedang sibuk mempercakapkan tentang perang yang telah mereka menangkan, Arjuna yang unggul jasanya (sang agunakaya) tidak banyak berbicara (tan jewah) dan tidak pula menunjukkan sikap kegirangan (tan wijah). Kemudian daripada itu Arjunapun menerima pahala kemuliaannya, yaitu ketika ia menjalani upacara penobatannya (abhiseka) sebagai Raja di Kahyangan Indraloka, dan melaksanakan pernikahannya (wiwaha) dengan ketujuh bidadari (widyadhari) yang utama. Arjuna, yang telah menang perang (amenang ing rananggana), dan dahulu telah mengatasi godaan para apsari jelita, kini mengalah untuk melayani mereka, karena ingin membahagiakan sesamanya (parartha). Maka setelah berada di kahyangan dewata selama tujuh purnama, yaitu sesuai dengan batasan waktu yang telah ditetapkan baginya, kembalilah Arjuna ke alam marcapada untuk berkumpul dengan saudara-saudaranya. Kemudian daripada itu Arjunapun mengalami kemenangan di mana-mana (digwijaya).

Bagian Ketiga: Pemahaman Kakawin

Adapun tujuan penulisan Kakawin Arjunawiwaha itu adalah dalam rangka menghadapi karya perang (angharep samarakarya), yaitu persiapan perang Sri Airlangga yang sedang berusaha mempersatukan Nusantara-Jawadwipa (1028-1035). Karena itu bukanlah dewata pilihan (istadewata) yang dipuja di dalam karya agung ini, melainkan Ksatria Arjuna sebagai gambaran Sang Prabu sendiri. Persatuannya dengan Sang Hyang Sakti diharapkan untuk dapat menjadi terwujud melalui gambaran Arjunawiwaha, yaitu pernikahan Sang Panduputra dengan ketujuh bidadari. Supaya diperolehnya kemenangan sebagaimana dilukiskan dalam kejayaan Arjuna di Kahyangan (kawijayan sang partha ring kahyangan). Maka dengan kakawin yang ditulisnya itulah Sang Pujangga Kawi mengiringkan Sang Raja (mangiring i haji), yaitu mengiringkannya dengan ilmu dan mantra (mangiring ing aji), agar berjayalah ia di dalam perjuangannya yang luhur itu.

Adapun Arjuna itu adalah seorang ksatria pahlawan (sang nayaka), dan seorang yogi yang tahu akan Hakekat Tertinggi (sang paramarthapandita), karena ia telah menghayati kesuwungan (sunyata). Sebagai seorang ksatria ia mengusahakan sempurnanya jasa dan kebajikan (yasa lawan wirya), dan mengusahakan kebahagiaan seluruh dunia (sukhaningrat), dalam keunggulan dan kepahlawanannya. Sedangkan sebagai seorang yogi ia tidak dicemari oleh napsu kelima indera (tan sangkeng wisaya). Namun demikian sebagai seorang ksatria yang harus membina kesejahteraan dunia, seolah-olah saja ia menyambut yang duniawi (lwir sanggraheng lokika). Maka oleh karena kewajiban hidupnya (dharma), walaupun ia mengalami rasa damai dan bahagia dalam persatuan dengan Tuhan yang disembahnya (santosa), ia rela tetap tersekat tabir kemayaan (aheletan kelir), yang memisahkannya dari Sang Pencipta Dunia (sanghyang jagatkarana). Itulah sikap, pembawaan, dan tindakan (ambek) tokoh pahlawan (sang nayaka), yang telah memperoleh kejayaan di kahyangan (kawijayan ring kahyangan). Kemenangan ini berhubungan dengan pertolongan yang telah ia berikan kepada kahyangan dewata, yang sedang terancam oleh kejahatan Sang Niwatakawaca. Maka pada benih cerita (bija) inilah tersirat semangat keperwiraan (virarasa) dan sekaligus suasana kedamaian (santarasa), yang memancar dari dalam kehidupannya.

Maka sebagai lawan dari sang pahlawan (pratinayaka) adalah Sang Prabu Niwatakawaca. Seorang raksasa (daitya) sakti yang berkuasa, bermegah, dan berjaya di mana-mana di seluruh dunia (akhyating jagad digjaya). Seorang pertapa (atapa) yang dianugerahi kesaktian dan keunggulan (warawirya). Berkat yoga dan tapanya iapun mencapai maksudnya (krta-krtya), yaitu tidak akan mati di tangan dewa, yaksa, asura, dan denawa. Karena pembatasnya hanyalah seorang manusia sakti (manusa sakti). Maka dari Sanghyang Siwarudra sendirilah Sang Niwatakawaca telah memperoleh anugerah berupa kekuasaan atas ketiga dunia (bhuh swargadi, jagad raya). Karena memuja Bhatara Bhirawa iapun mendapat kesaktian batin (siddhi), kebal tak dapat dicincang (achedya), tak apat dibunuh (amarana), dan memiliki delapan kemampuan (astaguna). Akan tetapi itu semua merupakan kesia-siaan (wiyartha), karena ia terbelenggu oleh napsu (raga), yang membawa kehancuran (hala ). Maka seperti utusannya, Sang Mamangmurka, yang menjelma menjadi babi hutan (wok, wraha), demikian pula Sang Niwatakawaca adalah makhluk (pasu) yang terikat (pasa) oleh kesemuan dunia (maya). Dalam keangkaraannya ia ingin menghancurkan kahyangan (swargaloka), menundukan Bhatara Indra (dewaraya), dan merebut Suprabha (sri sakti). Maka kegagalannya untuk memperoleh Suprabha itu diakibatkan oleh keangkaraan napsu (rajah) dan kegelapan batin (tamas) yang menyelimuti jiwanya. Karena gelora asmara yang membara ia tidak tahan terhadap bujuk rayu Suprabha, sehingga terpancinglah keluar (kahuwan) rahasia ke-sakti-annya, yaitu kelemahan yang terdapat di ujung lidahnya (jihwagra). Karena tidak waspada (yatna), terhadap manusia sakti, sehingga terkecoh dan tertipu (kasalib kabancana) oleh muslihat (upaya) Arjuna. Maka Sang Niwatakawaca, yang telah memojokkan Indra dalam kesulitan bahaya (durniti lawan bhaya), akhirnya mengalami kehancuran.

Kepada manusia sakti, yang akan dapat mengalahkan Sang Niwatakawaca, Indrapun berpaling. Ingin menjadikannya sekutu, teman, dan pembantu (sahaya), dalam rangka menghadapi musuh (satru). Dialah Arjuna, seorang yogi yang bertapa (atapa), dan ksatria yang bercita-cita untuk menang dalam perang (asadhyajaya ring rana). Akan tetapi hanyalah tapa seorang raja yogi (yogiswara) yang dapat memberikan karunia (wara) dan anugerah (krtanugraha). Bilamana tapanya masih dipengaruhi oleh keinginan rendah (rajah) dan kebutaan akal (tamas), kesaktian yang diperolehnya hanya akan menjadi sumber kehancuran bagi dirinya dan penderitaan bagi orang lain. Sesungguhnya manusia sakti yang dicari Indra adalah seorang ksatria yang tekun memuja Sang Hakekat Tertinggi (siwasmrti), sampai memperoleh anugerah (sraddha) daripadaNya. Seorang ksatria yang batinnya terbebas dari jaringan napsu kelima indera (nirwisaya), sehingga berada dalam keadaan hening-jernih (alilang), bebas-lepas (huwa-huwa), dan bahagia-baka (sukha-dhyatmika). Maka Arjuna itulah manusia sakti (manusa sakti, wwang sakti), yang diminta bantuannya oleh Indra untuk membela kahyangan dewata dari ancaman bahaya.

Karena sesungguhnya Arjuna telah mencapai keheningan batin yang sempurna (anasrayasamadhi), hingga mengalami keterlelapan diri (lina), yaitu memasuki suasana terlenyap dan terserap kedalam kekosongan (sunyata), yang kenikmatannya tak terlukiskan. Ketika itulah ia mengenakan keadaan yang bertubuh halus (ng sukmarira), berwujud baka (apinda niskala), dan berhakikat baka (asari niskala). Ia mengalami pencerahan rokhani (jnanawisesa), yang memberi kebahagiaan jauh melebihi kenikmatan bersenggama (sukhaning samagama). Sesungguhnya itulah kebahagiaan tertinggi yang mustahil untuk dibayangkan (ng paramasukha luput linaksana). Maka ketika berhadapan dengan para bidadari iapun tidak tergoda (niskalangka), tidak tergoyahkan (tan wikalpa), tidak terkeruh kejernihannya (hening), karena telah mencapai tingkat keheningan batin yang cenderung tidak lagi memilah-milah di antara berbagai keadaan (nirwikalpa). Demikian pula ketika menghadapi cobaan jerat Sang Indra (bancana indrajala), yang membawa kegelapan batin (tamas), menimbulkan kebingungan akal (moha), dan melahirkan ketidak-tahuan (ajnana). Godaan ke-maya-an itupun dihadapi dan diatasinya dengan berhasil. Maka luluslah Arjuna dalam ujian dewata, karena dalam keteguhannya untuk menemukan hakekat yang sejati, ia tidaklah ragu untuk menjalankan kewajiban hidup (dharma)nya sebagai ksatria. Dijangkaunya keadaan yang mutlak tanpa melepaskan kejadian dunia yang semu (maya), yaitu permainan (lila) para dewata. Bahkan di dalam ke-maya-an hidup itulah Arjuna menemukan kehidupan sejati. Maka bersabdalah Indra bahwa akan datang penampakan suci yang indah itu (sanghyang hayu).

Setelah masak yoganya (atasak yoganira), Arjunapun menjadi manusia berwatak dewata (manusa dibya). Ia telah mematahkan belenggu ke-maya-an, yaitu godaan bidadari, cobaan Indra, gangguan Mamangmurka, dan kemudian tantangan Sang Kirata. Melalui pergulatannya dengan Ksatria Kirata pahlawan Arjuna memasuki pergumulan batin di alam keheningan. Dalam keteguhan hatinya Arjuna memuja Siwamurti sebagai Rudra, dan Aditya (suryasewana), serta Sang Hyang Hayu. Ia diliputi api yang menghanguskan (gumeseng), tetapi telah ditawarkan (kunda nisprabha), maka membawa keselamatan bagi dirinya. Api yang suci meresapi dirinya, sehingga iapun mengenakan cahaya (prabha) dan kecermerlangan (teja), bagaikan bulan purnama (sasangka purnama, sasiwimba). Ketujuh bidadari, yaitu daya-sakti yang bersemayam dalam ketujuh lidah api, menyatu dengan dirinya. Di antaranya adalah dua yang utama (rwekang adi), yaitu Sang Kecermerlangan (Suprabha) berupa api, yang bernyala bersama Sang Biji-bijian utama (Tilottama), yang ditaburkan ke dalam api. Maka dalam samadhi-yoga, Suprabha itu adalah api yang naik di dalam tubuh untuk membakar semua racun (wisa) dan menghasilkan air kehidupan (tirta amrta), seperti halnya Sri Maha Nilakantha (siwamurti) mereguk racun yang menyertai keluarnya air kehidupan pada pengadukan laut susu (udadhimanthana). Api sakti (suprabha) itu naik bersama naiknya daya biji-bijian utama (tilottama), dari ucapan mantra (bijaksara), hingga tembus di ujung kepala. Maka pecahnya ketopong Arjuna (rukuh ira remuk), yang disertai berhamburannya bunga permata (ratna), menunjukkan terjadinya pencerahan rokhani. Arjuna memeluk kaki Ksatria Kirata (jong sang hyang) melambangkan upacara untuk menurunkan dewata (dewapratistha), yang disertai dengan penerapan mantra pada setiap bagian tubuh (nyasa). Maka Sang Pencipta Dunia berkenan untuk hadir dalam rupa pria-wanita (ardhanariswara), yaitu kesatuan Siwa-Sakti, yang bersemayam di atas singgasana teratai manikam (padmasana mani).

Sungguh mahir Arjuna dalam memuja dewata (nipuna ring dewopacarana) dan benar ia tahu akan pujaan singkat untuk kemanunggalan rasa (sang siptapuja). Arjuna menyembah Sang Hyang Rudra dengan sikap tangan yang sempurna, mantra puncak yang selaras, dan pengheningan cipta tanpa bernoda (mudramwang kutamantra smrti wimala), yaitu mantra pemujaan (pujamantra), yang diucapkan dalam upacara penyembahan bunga (Puspanjali). Adapun ucapan sembahnya (uccarana) itu bermula dengan mantra suci triaksara (AUM), dan memuncak pada persatuan dengan Siwa Hakekat Tertinggi, yang kini tak berkelir tabir pemisah lagi (paramarthasiwatmanirawarana). Sesuai dengan paham Tantrayana dalam penyembahan itu disatukanlah ketiga sisi dari pengucapan mantra, yaitu suara keheningan (sabda), hembusan kehidupan (bayu), dan semangat kesadaran (hidep). Maka naiklah mantra yang suci (AUM), melalui kedua-belas tingkat keheningan diri (samadhi), yaitu kedua-belas tingkat kesadaran jiwa (ang, ung, mang, bindu, ardhacandra, nirodhika, nada, nadanta, sakti, vyapini, samana, unmana). Pada tingkat kesepuluh tercapailah daya yang meresapi (wyapi-wyapaka). Lalu pada tingkat kesebelas tercapailah keseimbangan sempurna dari segala daya (samana), di mana sang yogi mencapai ketenangan sempurna (sama). Akhirnya pada tingkat kedua-belas tercapailah keadaan yang mengatasi pikiran (unmana), di mana sang yogi menghayati ke-suwung-an (sunyata), dan masuk kealam yang mutlak (niskala). Maka pada peristiwa inilah Arjuna menerima anugerah berupa panah Pasupati (pasupatisastraka), yaitu keempat kesaktian (cadu sakti), yang keluar dari tangan Tuhan (sang iswara) dalam bentuk api. Setelah Hyang Batara sirna dari pemandangan (suksma), Arjuna merasa seolah-olah ia bukan dari dunia ini (rasa tan irat), karena seakan-seakan ia berganti tubuh, bahagia tak mungkin kembali duka (kadi maslin sarira, sukha tan pabalik prihati … sukha tan pabalik dukha).

Demikianlah Arjuna kemudian berlaga melawan Sang Niwatakawaca. Dalam suatu pertempuran ke-sakti-an di mana kekuatan kebajikan (dharma) berperang melawan kekuatan kejahatan (adharma). Arjuna berjuang untuk mengatasi kesaktian dan kekuatan gaib (siddhi). Digunakannya senjata-senjata Astramantra, yaitu Sanghyang Pasupatastramantra, Sanghyang Tripuranta Kagnisara, dan Sanghyang Naracasastra Sarirabandhana. Maka itulah mantra (astramantra), yang dilepaskan dengan gerakan mudra (naracamudra), untuk membunuh musuh, sambil melindungi tubuh (sarira), dan mengikat kekuatan beragam pada alam-semesta (digbandhana). Arjuna berhasil membunuh Sang Niwatakawaca, setelah memasang rahasia siasat (rahasya ning upaya), dan mengenakan ilmu gaib perihal kutuk balik (suksmajnananing antasapa). Maka karena terjerat dan terkecoh oleh tipu-muslihat (kasalib kabancana), Prabu Niwatakawaca akhirnya mati (pejah) oleh panah-api (agnisara). Dengan turunnya kutuk akhir, yaitu kutukan balik (antasapa pralina), melalui Arjuna, Bhatara Siwa bertindak untuk mengakhiri anugerah (wekas ingkang anugraha), berupa kesaktian yang telah diberi kepada Sang Niwatakawaca, dan menyerapnya kembali kedalam diriNya.

Dahulu Arjuna telah memenangkan Dewi Drupadi (Sri Drupadaatmaja), yang mejadi sakti bagi kerajaan Amarta, yaitu penjelmaan Sri Laksmi, melalui pernikahannya dengan Pandawa (panca rajya). Kini ia juga telah memenangkan Suprabha, yaitu sakti kerajaan Indra, sebagai kekuatan yang menyatu dengan dirinya. Maka dia yang masih terhitung sebagai putra Indra (sang masih atanaya) pun menjadi layak untuk menjadi raja kehormatan di Kahyangan Indraloka. Adapun Dewi Suprabha (sri sakti) itu adalah kekuatan (dayaguna), yang diperebutkan oleh Arjuna (manusa sakti) dan Niwatakawaca (daitya sakti). Arjuna adalah ksatria yang berhak untuk mempersunting Suprabha karena ia telah berhasil menyelamatkan kerajaan indra dan memulihkan kebenaran (dharma), sebagai sumber ketertiban alam-semesta. Maka dalam rangka samadhi-yoga penobatan (abhiseka) Arjuna adalah pentahbisan suci (diksa), yang mempersatukan dirinya dengan Hakekat Tertinggi (Paramarthasiwatwa), dan pernikahan (wiwaha) Arjuna adalah persekutuan cinta (kama), yang mempersatukan dirinya dengan ketujuh daya kehidupan semesta (sri sapta apsari sakti). Karena itulah Arjuna memperoleh kemenangan di mana-mana (digwijaya).

Demikianlah perjuangan Arjuna, Ksatria Pandawa, yang menjadi sumber keteladanan yang sempurna. Dengan penghayatan akan pencerahan rokhani, kejernihan pikiran, dan kebahagian batin itulah Arjuna mengemban kewajiban hidupnya (dharma) sebagai seorang ksatria. Dalam keyakinannya, walaupun ia tidak menanggalkan tanggung-jawab keduniawian, pada akhirnya ia juga bertujuan untuk mencapai moksa (sanghyang kalepasan), yaitu nirwana yang suwung (nirbanacintya). Sesungguhnya melaksanakan amanat ksatria-yogi itu adalah dengan memasuki alam kesemuan hidup (maya), yang merupakan sulapan permainan (lila) belaka, sebagai keadaan yang menyelubungi kesejatian yang hakiki. Bermain di dalammya tanpa terbawa hanyut dan sekaligus mengatasi segala sesuatu dalam ke-suwung-an. Dengan teguh menjalankan yoga seorang ksatria, yaitu membina kesejahteraan dunia (mahaywang rat). Maka disebutkan pula mengenai Arjuna dalam kakawinnya … “Pantaslah ditiru keberhasilannya mencapai tujuan berkat keteguhan” (satirun-tirun krtartha sira de ni kadhiran ira) … “Segala yang dikehendaki terlaksana dengan meneladani Sang Panduputra” (sakaharepen kasrada makadarsana pandusuta).

Sang Pujangga Kawi menggubah kakawin tentang Arjuna, yang unggul dalam yoga, dan di dalamnya Arjuna sendiripun menulis kakawin, yaitu seperti dikatakan oleh bidadari Tilottama … “Itulah kesetiaan namanya bagi orang seperti engkau, mengabdi seorang kawi, yang merupakan puncak kesetiaan suami” (yeka satya ngaranya ring kadi kitaniwi kawi wekas ing pati brata). Karena memang sesungguhnya mengabdi Sang Pujangga Kawi adalah sebuah jalan tapa brata, karena dia sendiri adalah puncak tapa-brata. Adalah tokoh Ksatria Arjuna, sebagai gambaran Sri Airlangga, yang kejayaannya layak untuk dituliskan. Dalam keheningan batinnya Sang Pujangga Kawi telah menerima petunjuk suci, yang kemudian diteguhnya di dalam kakawin melalui kata-kata Indra. Ketika Arjuna berpamitan akan kembali kedunia, Indrapun memahami betapa besarnya rasa ke-bakti-an Arjuna kepada kakak dan ibunya, akan tetapi ia telah menahan Arjuna beberapa lama oleh karena adanya sebuah keinginan yang luhur. Dalam sabdanya Bhatara Indra menetapkan … “Agar indah dilukiskan kejayaanmu oleh Sang Pujangga Kawi di kemudian hari, itulah tujuanku” (rapwan ramya winarnana nikang anagatakawi wijayanta don mami). Demikianlah Arjunawiwaha kemudian digubah untuk menceritakan kebesaran Arjuna sebagai seorang ksatria yang mahir dalam yoga. Dialah Arjuna, Ksatria Pandawa, yang diagungkan oleh dewata dan manusia. (1996)

Catatan Pribadi – diambil dari ARJUNAWIWAHA – transformasi teks jawa kuna lewat tanggapan dan penciptaan di lingkungan sastra jawa – oleh I. Kuntara Wiryamartana – Duta Wacana University Press, 1990
alang-alang kumiter
Baca Selengkapnya >>

BABAD KADHIRI




Naskah Babad Kadhiri karyane MNg Poerbawidjaja lan dirampungake dening MNg Mangoenwidjaja ing Wonogiri lan dibabar dening Boekhandel Tan Khoen Swie Kediri taun 1932 mujudake naskah kang ngandhut sujarah lan uga ngandhut crita kang asipat fiksi.
Taun 2008 kapungkur, naskah Babad Kadhiri dibabar maneh dening Boekhandel Tan Khoen Swie. Ing buku weton anyar iki perangan ngarep tinulis ing aksara Latin nganggo basa Indonesia, dene ing mburi sinartan naskah sing tinulis ing aksara Jawa.
Buku weton taun 2008 iki tetep tinulis minangka anggitane MNg Poerbawidjaja lan MNg Mangoenwidjaja. Ing buku iki diriwayatake, MNg Poerbawidjaja nampa prentah saka panguwasa pamarentah kolonial Walanda supaya nglacak sujarah hadege Kutha Kediri utawa Nagari Kadhiri.
Kanthi pambiyantune Ki Dermakandha, sawijining dhalang wayang klithik, lan panabuh gamelan sing jenenge Sondhong, MNg Poerbawidjaja kasil nyathet wawangunem antarane Ki Dermakandha lan Ki Buta Locaya (Kyai Daha) sing mrasuk ing ragane Sondhong.
Asil wawangunem antarane Ki Dermakandha lan Ki Buta Locaya sing mujudake titah alus kuwi mau sabanjure disampurnakake dening MNg Mangoenwidjaja lan dianggit dadi naskah Babad Kadhiri.
Yen njingglengi kawitan panganggite naskah Babad Kadhiri sing nggunakake sumber andharan saka sawijining titah alus sing jenenge Ki Buta Locaya, tumrap nalar jaman modheren pancen bakal nuwuhake pambiji yen naskah Babad Kadhiri iki kapetung naskah sing ora tinemu nalar.
Prof Dr Edi Sedyawati, guru besar Fakultas Sastra Universitas Indonesia, ing purwakaning buku Babad Kadhiri weton Boekhandel Tan Khoen Swie taun 2008 nelakake yen naskah sing dianggep minangka “sujarah” hadege Kutha Kadhiri iki pancen ngemot bab sing wor suh, kepara cengkah karo nalar.
Naskah iki bisa dianggep minangka karya sujarah sing kudu didunungake minangka karya fiksi. Nanging bisa uga didunungake minangka cathetan kedadeyan lan pangeling-eling jaman kawuri sing temen-temen kedadeyan.
Kanthi mangkono tumrap saperangan paramaos, naskah Babad Kadhiri bisa dianggep minangka crita fiksi, asil karangan. Ananging tumrap saperangan pamaos liyane bisa dianggep minangka kronik sujarah. Panganggep iki bisa wae tuwuh saka tembung “babad” ing irah-irahane naskah.
Nanging ing kolofon teks naskah iki nyebut minangka crita pedhalangan. Iki nuduhake yen apa sing dicritakake pancen mung wates rekan utawa karangan. Dene sumber critane uga bisa dianggep minangka wates rekan utawa karangan.
Ngemot crita kang wus kababar ing naskah sing luwih tuwa
Yen ditliti kanthi permati naskah Babad Kadhiri cetha yen asumber budaya lisan. Nanging ing isine naskah uga katon yen njupuk sumber saka naskah utawa teks liya.
Ana sesambungan antarane teks siji lan sijine ing Babad Kadhiri.
Ing antarane naskah utawa teks sing sinebut minangka sumber yakuwi Serat Aji Pamasa, Serat Jangka Jayabaya lan Babad Tanah Jawi. Uga ana liyane sing kasebut, yakuwi Serat Jayakusuma. Serat Sastramiruda uga sinebut ing Babad Kadhiri kanthi paraga sing duwe gelar Panji.
Ing pungkasan karyane, Mangoenwidjaja nelakake yen Babad Kadhiri lan buku sambungane, Kalam Wadi, minangka “cariyos pedhalangan”. Saengga ing kana kene bisa ora cocog kalawan naskah sing wus luwih dhisik dimangerteni bebrayan agung, yakuwi Pustaka Raja, Babad Tanah Jawi lan Babad Demak.
Maca Babad Kadhiri kudu tanpa sinartan karep kanggo ngudi bebener asal usule papan kadidene pangerten ing ilmu sujarah. Babad Kadhiri mung bisa ditegesi minangka perkara wewangunan budaya. Utawa bisa uga kanggo ndhudhah perkara ing wewengkon budaya.
Ing perangan liya ana panganggep yen Babad Kadhiri tetep bisa didunungake minangka tilasing sujarah sing ditinggalake dening bebrayan agung Jawa kanthi basa lan cara mikir sing mligi, kebak cangkriman lan kadhangkala cengkah kalawan nalar wong sing urip ing jaman modheren.
Kanthi mangkono, naskah Babad Kadhiri pancen karyane MNg Poerbawidjaja lan MNg Mangoenwidjaja, nanging intine crita sing dibabar wus ana lan lestari ing crita pedhalangan sing wus dudu barang aneh tumrap para “kawula”.
MNg Poerbawidjaja bisa ditegesi mung wates ngimpun lan nulis tilasing sujarah hadege Kadhiri sing wus direkam ing kalangan “kawula” ing wujud crita asal-usule sawijining desa (aetiologi), dhudhahan sawijining aran utawa jeneng (hermeneutika), legenda, mitos, crita rakyat lan crita babad sing sabanjure diracik dadi Serat Babad Kadhiri.
Paraga Buta Locaya sing sinebut minangka sing njaga lan ngreksa tlatah Kediri kanyata ora mung kasebut ing Babad Kadhiri. Jeneng Buta Locaya uga sinebut ing naskah kuna Kidung Purwajati sing ngemot jeneng-jenenge ratu jin panguwasa Pulo Jawa.
Kanthi mangkono ana dudutan yen jeneng Buta Locaya kuwi dudu karangane MNg Poerbawidjaja, amarga wus dikenal ing naskah sing luwih tuwa. Crita babagan Krajan Medhangkamulan sing dikuwasani dening Prabu Sindhula kang nurunake Dewata Cengkar uga ora mung kaemot ing Babad Kadhiri.
Lelakon uripe Sri Jentayu memper lelakon uripe Airlangga
Crita babagan Krajan Medhangkamulan sadurunge wus kaemot ing Serat Kandha, Babad Tanah Jawi, Babad Sangkala lan naskah-naskah kuna Cirebonan.
Mangkono uga babagan critane leluhuring para raja kang lair saka limang sedulur Prabu Among Tani, Sandhang Garba, Karung Kala, Petung Malaras lan Sri Sendayu mujudake jeneng-jeneng kuna sing cinathet ing tradhisi naskah raja-raja Jawa lan Sunda, kayadene kang bisa diprangguli ing naskah kuna Carita Parahyangan, Babad Tanah Jawi, Sejarah Dalem, Serat Kandha lan sapiturute.
Sing kapetung narik kawigaten ing Serat Babad Kadhiri yakuwi gegayutan Prabu Sri Jentayu sing duwe anak cacah lima. Yakuwi Rara Suciwanungsanya, Raden Lembu Amiluhur, Raden Lembu Amerdadu, Raden Lembu Pangarang lan Raden Lembu Amerjaya.
Rara Suciwaningsanya ngucap sumpah ora gelem urip bebrayan karo priya lan luwih seneng mertapa. Raden Lembu Amiluhur jumeneng nata ing Jenggala jejuluk Prabu Dewakusuma.Raden Lembu Amerdadu jumeneng nata ing Daha jejuluk Prabu Pujaningrat. Raden Lembu Pangarang jumeneng nata ing Ngurawan jejuluk Prabu Pujadewa lan Raden Lembu Amerjaya jumeneng nata ing Panaraga jejuluk Prabu Pujakusuma.
Perangan iki narik kawigaten jalaran Sri Jentayu kuwi jeneng enome Airlangga nalika mundur saka dhampar keprabon lan madeg pandhita. Anak wadon pambarepe Sri Jentayu sing jenenge Rara Suciwanungsanya, sing uga madeg pandhita lan ora urip bebrayan kalawan priya, padha karo anak wadon pambarepe Airlangga sing dadi Biksuni Kilisuci, yakuwi Sanggramawijaya Dharmaprasada Utunggadewi.
Dene anak nomer lorone Sri Jentayu sing jenenge Raden Lembu Amiluhur lan jumeneng nata ing Jenggala jejuluk Prabu Dewakusuma, memper karo anak nomer lorone Airlangga sing jumeneng nata ing Jenggala, yakuwi Sri Samarakarma Mapanji Garasakan.
Dene anak nomer telune Sri Jentayu sing jumeneng nata ing Daha jejuluk Prabu Pujaningrat, memper karo anak nomer telune Airlangga sing jumeneng nata ing Daha, yakuwi Sri Samarawijaya Dharmasuparnawahana Tguh Uttunggadewa. Anak nomer papate Sri Jentayu sing jumeneng nata ing Ngurawan jejuluk Prabu Pujadewa memper anak nomer papate Airlangga sing jumeneng nata ing Gelang-gelang, yakuwi Sri Maharaja Alanjung Ayes sing sabanjure dadi raja ing Jenggala.
Lan anak nomer limane Sri Jentayu sing jumeneng nata ing Panaraga jejuluk Prabu Pujakusuma, memper anak nomer limane Airlangga sing dadi raja ing Wengker, yakuwi Sri Jayawarsa Digjayasashtraprabhu. Mempere jeneng lan kedadeyan kang tinulis ing Babad Kadhiri ora mung wates mbeneri, ananging bisa dipindeng minangka perangane ”tilas sujarah” sing bisa dilacak saka adate kawula sing kerep nyampur antarane kedadeyan sujarah, legenda, dongeng asal-usule papan, mitos, gugon tuhon sing adhakan lelandhesan othak-athik gathuk.
Ana telung jinis Serat Jayabaya utawa Jangka Jayabaya
Ing andharan bab legenda Kediri sing dadi perangan kawitan ing Babad Kadhiri dicritakake menawa Buta Locaya mbabar andharan babagan dumadine tlatah Kediri.
Miturut Bota Locaya sing micara lumantar ragane Sondhong lan banjur wawangunem kalawan Ki Dermakandha sing memba-memba dadi MNg Poerbawidjaja, ya dheweke kuwi sing ngawiti mbabat alas mbukak tlatah Kediri.
Sadurunge dadi titah alus sing nguwasani tlatah Kediri nganti saiki, Buta Locaya kuwi manungsa lumrah sing jenenge Kyai Daha. Kyai Daha duwe sedulur sing jenenge Kyai Daka. Wong loro iki bebarengan mbabat alas ing cedhake Kali Kediri utawa Kali Brantas kanthi tujuwan arep didadekake papan dunung.
Sabanjure wong loro iki ditekani Sang Hyang Wisnu kang medhar sabda arep ngejawabtah dadi manungsa lan arep jumeneng nata ing papan ding digawe dening Kyai Daha lan Kyai Daka kuwi. Wusana Sang Hyang Wisnu ngejawantah lan jumeneng nata ing Kediri jejuluk Prabu Sri Aji Jayabaya.
Nalika kuwi Sang Hyang Wisnu paring jejibahan marang Kyai Daha supaya ngreksa tlatah Kediri saklawase. Yen Kyai Daha wus tumekaning janji, dheweke bakal moksa lan malih wujud dadi titah alus sing bakal njaga tlatah Kediri saklawase lan salin jeneng dadi Buta Locaya. Dene sedulure, Kyai Daka, sinengkakake ngaluhur dadi senapati kanthi jejuluk Kyai Tunggul Wulung. Jeneng Kyai Daka wusana didadekake arane desa, yakuwi desa Daka.
Miturut katrangan ing Kitab Ajipamasa sing sepisanan dadi raja ing Mamenang (Kediri) yakuwi Prabu Gendrayana. Raja Kediri sepisanan iki duwe anak Prabu Aji Jayabaya, panjilmane Bathara Wisnu, dadi dudu Wisnu sing ngejawantah.
Dununga Krajan Kediri kuwi ing sawetane Bengawan lan sinebut Mamenang utawa Daha. Mamemang kuwi arane sawijining krajan. Dene Daha kuwi arane sawijining tlatah, dhaerah utawa nagari. Sinebut Mamenang jalaran nalika kuwi pancen mujudake negara sing tansah menangan. Prabu Jayabaya kondhang ing tanah Jawa lan gedhe perbawane tumrap raja-raja ing Jawa.
Prabu Aji Jayabaya duwe anak wadon sing jenenge Mas Ratu Pagedhongan. Sang Prabu lan anake wadon kerep nglelipir dhiri ing pesanggrahan Wanacatur. Saben tumeka ing Wanacatur, Sang Prabu Jayabaya ora tau mangan sega, nanging mung wates mangan bubur pathi kunir lan temu lawak. Dene para abdi dalem mangan sega jagung. Sang Prabu uga ora tau mangan daging kewan lan iwak loh apadene iwak laut.
Hamula kuwi ing kidul wetan Kutha Mamenang ana desa sing arane Desa Kunir lan Desa Lawak jalaran desa kuwi ngasilake pametu sing dadi kekaremane Sang Prabu Jayabaya, yakuwi kunir lan temu lawak. Miturut Ki Buta Locaya, Sang Prabu Jayabaya iki sing nganggit Jangka Jayabaya utawa Serat Jayabaya.
Tilas Krajan Mamenang musna jalaran kurugan lahar
Serat Jayabaya ana telung jinis. Sepisan, anggitane Syeh Sebaki utawa Syekh Subakir, utusane Sang Prabu Ngerum utawa Hadramaut kang menehi tumbal tanah Jawa lan dipasang ing Gunung Tidar, Magelang.
Kaloro, Serat Jayabaya anggitane Prabu Jayabaya sing uga kondhang kanthi sebutan Serat Jayabaya utawa Jangka Jayabaya.
Lan sing katelu, anggitane Pangeran Banjaransari, ratu Jenggala sing sabanjure pindhah ing Krajan Galuh. Anggitane Pangeran Banjaransari iki sinebut Surat Jayabaya, jalaran antarane Prabu Jayabaya lan Pangeran Banjaransari kuwi sejatine padha. Pangeran Banjaransari kuwi titisane Prabu Jayabaya.
Sawise ganti ratu kaping pitu, sing jumeneng nata yakuwi Raja Sindhula. Raja iku moksa lan diganti Prabu Dewata Cengkar. Sabanjure digenteni dening Ajisaka, raja sing ora ana sesambungan trah kalawan raja-raja sadurunge.
Ajisaka nguwasani Krajan Mendang Kamulan sasuwene telung taun. Krajan iki banjur dikuwasani dening Raden Daniswara, anake Dewata Cengkar, sing sabanjure jejuluk Prabu Kaskaya utawa Prabu Maha Punggung.
Sabanjure digenteni dening anake, Prbau Kalapa Gadhing. Sing nggenteni Prabu Kalapa Gadhing yakuwi Prabu Mundingwangi, digenteni maneh dening paneruse, Prabu Mundingsari. Nalika umure krajan Mendang Kamulan 120 taun, ditelukake dening Prabu Prawatasari, raja negara Prambanan sing isih ana sesambungan trah kalawan Prabu Mundingwangi.
Krajan banjur dipindhah menyang Prambanan. Ing Mamenang (Kediri) mung ana adipati sing dedunung ing Panjer. Krajan Mamenang ora ninggalake tilas jalaran, miturut Ki Buta Lacaya, nalika wawangunem kalawan Ki Dermakandha, wus kurugan lahar sing asale saka Gunung Kelud.
Tilas Krajan Mamemang sing bisa kawruhan hamung candhi cacah papat asil karyane Prabu Jayabaya. Candhi cacah papat kuwi yaiku candhi ing Desa Prundung, candhi ing Desa Tegowangi, candhi ing Desa Surawana lan candhi Arcakuda ing Desa Bogem. Candhi Arcakuda ing Desa Bogem iki ngemot pralambang tinamtu.
Prabu Jayabaya nggawe candhi arupa patung jaran sing endhase loro minangka pralambang negara Jawa. Bogem ateges papane mas-masan lan inten barlean. Patung jarane diwenehi plangkan under kang ateges larangan, pepacuh. Jaran tanpa dlamakan sikil ateges tanpa wewaton. Endhas loro ateges ora jumbuh, karepe ing dina tembe wong-wong wadon ing papan kono ora setya marang priya sisihane. Mangkono uga para priyane.
Saka lelakone Dewi Sekartaji nganti madege krajan Islam Demak
Babagan kadipaten Panjer dicritakake nalika adipati Panjer sepisanan mrentah ing Panjer, duwe kekareman adu pitik. Sawijining dina nalika rame-ramene kalangan adu pitik ing pendhapa kadipaten, ana salah sijine pasarta sing jenenge Gendam Asmarandana, asale saka Desa Jalas.
Gendam Asmarandana sing pancen bagus rupane kuwi wusana ndadekake para wanita kayungyun, kalebu Nyai Adipati Panjer. Nyai Adipati sing weruh baguse Gendam Asmarandana uga melu-melu kayungyun. Kuwi ndadekake nesunya Adipati Panjer. Nalika Adipati Panjer sing nesu kuwi arep merjaya Gendam Asmarandana kanthi kerise, Gendam Asmarandana kasil endha lan suwalike kasil nyabetake pedhange ngenani bangkekane Adipati Panjer.
Adipati Panjer sing kelaran banjur mlayu tumuju Sendhang Kalasan sing duwe kasiyat bisa nambani kabeh lelara. Nanging durung nganti tekan sendhang kasil disusul dening Gendam Asmarandana lan wusana mati. Gendam Asmarandana sing weruh Adipati Panjer mati banjur mlayu tumuju omahe nanging dioyak dening wong akeh. Gendam Asmarandana sing keweden banjur njegur ing Sendhang Kalasan.
Wong-wong sing padha melu njegur ing sendhang, kepara ana sing nyilem barang, tetep ora kasil nyekel Gendam Asmarandana. Wong-wong ngira yen Gendam Asmarandana wus malih dadi danyang sing manggon ing sendhang kuwi. Sabanjure kanggo ngeling-eling kedadeyan kuwi digawe pepethan saka watu sing ditengeri kanthi aran Smaradana, mapan ing Desa Panjer.
Negara Daha sing dumunung ing sisih kulone Kali Brantas, ing wetane Desa Klotok lan Geneng banjur salin aran dadi negara Kediri. Miturut andharane Ki Buta Locaya, nalika kuwi sing dianggep dadi sesepuhe tlatah Pulo Jawa yakuwi Pandhita Rara Suciwanungsaya utawa Dewi Kilisuci.
Dewi Kilisuci mujudake wanita sing ora ngalami nggarapsari utawa sinebut kedhi. Lan Dewi Kilisuci uga mujudake wanita sing mandhireng lan kuwawa ngrampungake jejibahan lan gaweyan apa wae tanpa pitulungane liyan. Ing budaya Jawa pawongan sing mangkene iki sinebut dhiri.
Wanita ing tlatah Kediri, miturut gotheking wong akeh, padha niru pribadine Dewi Kilisuci. Akeh wanita Kediri sing rumangsa dhiri, rumangsa kuwawa ngrampungi jejibahan lan gaweyan apa wae. Kalebu gaweyan lan jejibahane priya. Nanging sing ditiru mung wates sikep dhiri-ne, yakuwi sikep angkuh, adigang, adigung lan adiguna.
Sing ditiru dudu pribadine Dewi Kilisuci sing luhur, lila legawa ngorbanake kadonyan lan dadi pandhita kang suci lair batin. Sabanjure sing seneng niru tumindak lan pribadine Dewi Kilisuci kuwi ora mung para wanitane, nanging ora sithik priya Kediri sing uga tiru-tiru dadi umuk, angkuh dan dhiri, nanging dhiri-ne wanita.
Hamula, saben ana paprangan, yen sing nantang perang kuwi wong Kediri, wong Kediri mesthi menang. Nanging yen wong njaban Kediri sing ngrabasa utawa nantang luwih dhisik, wong Kediri lumrahe bakal kalah.
Sabanjure dicritakake lelakon antarane Dewi Kilisuci, Dewi Sekartaji, Raden Panji Inu Kertapati lan kaanan Krajan Kediri lan Jenggala. Crita roman iki wus menjila dadi crita klasik ing budaya Jawa. Kepara nganti saiki isih lestari ing wujud wayang beber, kacihna wayang bebere dhewe prasasat wus nyedhaki musna.
Ing perangan pungkasan Babad Kadhiri dicritakake surute Krajan Majapahit nalika dirabasa dening Raden Patah sing sabanjure jumeneng nata ing Demak. Miturut andharan ing Babad Kadhiri, wiwit madege Krajan Demak engga Pajang, panguwasaning krajan ora gelem nampa wulang agama Budha. Kabeh buku kang isi wulang agama Budha mesthi diobong nganti musna.
Nalika madeg Krajan Mataram, wulang agama Budha bisa urip maneh ing madyaning bebrayan agung Jawa. Lan ing jaman kuwi, ana kupiya nglumpukake naskah-naskah kuna kang banjur dipasrahake marang para pujangga. Sabanjure para pujangga kuwi sing nganggit naskah-naskah anyar lelandhesan naskah-naskah kuna sing banjur dadi pakem utawa babad sing kawruhan dening generasi wong Jawa jaman saiki.
Alang Alang Kumitir
Baca Selengkapnya >>

Sabtu, 23 April 2011

38 Hikmah Sufi

Sayyid Ali Shah

Berikut adalah ringkasan tiga puluh delapan (38) kata-kata bijak dari Sufi besar dari abad 20, Sayyid Ali Shah (1840 -1951) dari Alipur Sharif, Sialkot, Pakistan. Syaikh adalah salah satu orang sufi besar dari Punjab dan masih keturunan Nabi dari kedua belah pihak ayah dan ibunya. Hadrat Ali Sahib terkenal karena kesucian-Nya bahkan sebagai anak muda setelah menyelesaikan studi agama (dia ahli dalam semua cabang fiqh, namun sangat mahir dalam ilmu hadis). Beliau keliling dunia tanpa lelah untuk Islam dan umat Islam.

Dia memiliki kepribadian indah, mengagumkan dan lembut, penuh kasih terhadap sesama. Syaikh memimpin oposisi terhadap rencana para penguasa Inggris di Lahore serta penolakannya untuk berdoa di belakang Imam Wahabi yang secara resmi sebagai Imam Haramain oleh Raja Saud. Ia pun menolak mengunjungi Raja ketika ia diperintahkan untuk melakukannya. Lalu menolaknya dengan kata-kata bijak, “Saya fakir, sedangkan dia adalah raja”.

Selain belajar pengetahuan yang luas, hingga menjadi syekh sufi yang suci, ia sangat dicintai oleh rakyat dan diperkirakan lebih dari 1 juta muridnya dari Afghanistan hingga ke ujung selatan India. Ia menerima [khirqah atau jubah sufi] dari Syaikhnya dengan sangat cepat setelah berbaiat, dan sekaligus menjadi wakilnya yang utama.

Dia adalah tokoh besar, dan dikagumi tokoh gerakan Pakistan, salah satunya Muhammad Iqbal, penyair besar itu.
Sebagai pengecap, berikut adalah contoh dari 38 perkataan Syaikh (malfuzat) yang saya terjemahkan. Sebagai pengecap, Dari contoh berikut adalah 38 perkataan Syaikh (malfuzat) Saya terjemahkan yang. Masing-masing adalah lautan kebijaksanaan dan semoga Allah membantu kita untuk mendapatkan keuntungan dari mereka dan untuk bertindak atas saran. Masing-masing adalah Lautan dan kebijaksanaan Semoga Allah membantu Kita untuk mendapatkan keuntungan Dari mereka dan untuk bertindak Atas saran. Ameen. Ameen.

Tiga puluh delapan ucapan-ucapan [Malfuzat] dari Syaikh Mulia, Sayid Ali Jamaat Shah Naqsybandi-Mujaddidi (Semoga Allah mensucikan rahasia batinnya).

1. Jika Asma Allah diucapkan sekali saja dengan lisan, itu disebut dzikir (mengingat) lisan, namun jika Nama Allah diingat dengan hati, maka itu akan sebanding dengan dengan tiga puluh lima juta ucapan-ucapan (dzikir) lisan. Itulah dzikir hati.
Ada 35 juta pembuluh darah dalam tubuh, dan semua yang terhubung ke jantung. Jika Nama Allah diucapkan bahkan sekali saja (dengan hati) maka semua yang mengalir mengucapkan juga.
2. Dalam sungai, perahu perjalanan di atas air dan semakin besar jumlah air, perahu akan lebih nyaman. Namun jika air masuk perahu, maka perahu akan terbalik. Jantung hati laksana perahu dan duka serta sakit hati air adalah dunia; kapal semua orang telah tenggelam kecuali bahwa Ahlullah -mereka yang melakukan dzikir- yang selalu tetap mengapung.
3. Allah Swt. telah menciptakan neraka untuk musuh-musuh Rasulullah Saw, dan surga diciptakan bagi mereka yang mencintainya. Orang-orang yang khawatir tentang apakah mereka akan pergi ke Surga atau Neraka setelah mati, harus bertanya pada diri sendiri apakah mereka pecinta Sang Kekasih Rasul Saw, atau justru jadi musuh-musuhnya.
4. “Kullu jadiidin ladzeezun”; Anda mungkin ingin meraih setiap hal baru dari dunia ini, tetapi, dalam hal Iman Anda, maka Anda harus tetap dengan Islam yang sama, yang asli, seperti yang dilakukan oleh pendahulu Anda.
5. Jika seseorang berbuat buruk (berdosa), maka Allah melarangnya dan karena itu imannya buruk. Dalam sebuah hadis ada tertulis, “Larilah dari penderita kusta seperti Anda lari dari singa; Nah, anda harus melindungi diri dari orang yang hatinya terkena keburukan “kusta”, jangan bermajlis dengan mereka.
6. Pikirkan sholat anda, seperti seseorang yang sedang sibuk melakukan pekerjaan. Orang yang sibuk bekerja namun hatinya selalu berpikir tentang sholat, sehingga kadang-kadang dia bertanya tentang waktu, kadang-kadang ia melihat jam tangannya, pada waktu lain ia melihat matahari (posisi), untuk memastikan bahwa dia tidak melewatkan waktu sholat (yang benar). Sampai fikiran tersebut tercapai, hingga sholat adalah ibadah dan kebiasaan yang sedang dilakukan. Semoga Allah Swt. memberikan kita tafakkur seperti itu!
7. Bila petani menggunakan bajak sepanjang hidupnya tetapi tidak menanam bibit, bisakah tanamannya tumbuh? Tentu saja tidak! Menggunakan bajak adalah puasa, salat, haji, dan menabur benih amal adalah zakat. Jika tidak memberikan zakat, semua ibadahnya, sia-sia.
8. Bila dua tugas harus dilakukan, satu untuk agama, yang lain untuk dunia, maka prioritaskan yang untuk kepentingan agama, maka akan memberi barokah pada kepentingan tugas dunia.
9. Setiap doa memiliki dua sayap: Keuntungan yang sah, dan lidah yang jujur. Barangsiapa mendapatkan melalui yang halal ia akan bicara denganbenar, doa-nya pasti akan diterima.
10. Siapa yang meminta dari Anda, sebenarnya Allah memberi Anda untuk (memberikannya) itu tujuh ratus kali lipat.
11. Ucapan, ‘La ilaha illa Allah’ membuat seseorang menjadi muwwahid (bertauhid), bukan orang yang perrcaya (mukmin). Jadi, kapan akan Anda menjadi seorang yang percaya (mukmin)? Ketika Anda mengatakan ‘La ilaha illallah Muhammadur Rasul Allah’. Bagi kami berkat terbesar (ni’mat) adalah Iman. Syetan pun melafalkan “La ilaha illa Allah ‘, tapi mengapa dia masih dikenal sebagai yang terkutuk? Dia (bahkan) mengatakan, ‘Inni akhafullaha Rabbal aalamin’ (Sesungguhnya, aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam)

# Semua manusia yang berbeda-beda di dunia ini sebenarnya percaya pada Keesaan Tuhan [tauhid], apakah mereka seorang bhangis, pemabuk, Nashrani, atau golongan agama lainnya, tetapi mengapa mereka terlaknat? Karena mereka hanya mengatakan, ‘Tidak ada tuhan selain Allah’ tetapi menghilangkan ‘Muhammad adalah utusan Allah’. Apabila nama yang berkah bagi dunia akhirat, Kanjeng Nabi Muhammad saw, datang pada salah satu lidah seseorang, yang semua orang itu kafir, sinkretis, orang yang muysrik, terhapuslah semua dosa orang itu.
# Dewasa ini dan di abad ini, sudah tidak banyak orang yang memuji dan bersholawat kepada Nabi Muhammad Saw, dibalik keterbatasannya. Tetapi mereka yang tahu akan ketakberdayaannya, justru ia akan meraihnya.Jika seseorang tidak tahu keterbatasannya, bagaimana ia melampauinya? Selain Allah Swt. tidak ada yang tahu rahasia Nabi Saw. Bahkan membaca Syahadat mulia sekali saja sudah cukup untuk menghapus dosa seumur hidup! Hal ini saja yang kita tahu yang terbatas ini.
Muhammad Mustafa, betapa telah dipuji oleh Allah Swt, bagaimana bisa dilupakan? Sungguh tak ada yang benar-benar memujinya.
Muhammad adalah Rahasia Ilahi, siapa yang tahu rahasianya?
Secara syariat, Nabi Muhammad Saw, adalah sosok manusia, tetapi hakikatnya, siapa yang tahu? Hanya Allah Yang Tahu.
# Pada diri Muhammad Rasulullah, ada sifat terpuji dari seorang Nabi saw, orang-orang yang tidak suka atas karakter mulianya, juga harus menahan diri dari mengatakan, “Muhammad adalah utusan Allah.”
# Bumi tidak memakan tubuh para Nabi, juga tidak menyentuh mereka. Para Nabi senantiasa sholat di kuburan mereka. Gunakan analogi itu, dan berpikir, bagaimana keagungan Nabi seperti (dalam kuburnya).
# Rasulullah Saw, menyabdakan, siapa pun yang mengirim salam kepada saya, saya akan menjawab salamnya.
# Kanjeng Nabi Muhammad, Saw, menyabdakan, bahwa siapa pun yang mengirimkan berkat mutiara mulia (sholawat) pada saya dengan cinta, aku mendengar dengan telingaku sendiri.
# Kanjeng Nabi Saw, setelah menyelubungkan dirinya dirinya dari dunia ini, -- tanpa diragukan lagi,-- senantiasa hidup dan masih dengan Kenabiannya (walau dalam kuburnya yang penuh barokah) dan bahagia dengan ibadah dan membimbing ummatnya, agar senantiasa berbuat baik. Beliau sedih atas ummatnya karena dosa-dosa dan ketidaktaatan mereka pada Allah swt.
# Unta yang liar dan tak terkendali itu tidak pernah mencapai tujuan dan dimanapun ia pergi itu dipukul dan terpukul. Unta yang patuh pada aturannya, dimana pun, walau lapar dan lelah, pasti akan mencapai tujuan itu.
# Tubuh haruslah dimanfaatkanah, bukan untuk makan dan gemuk. Anda harus sadar, bangkitlah sekarang, walau di bawah bayangan langit. Anda harus memiliki kesadaran bahwa sampai hari kiamat nanti anda akan pulas tidur dalam bumi.
# Dengan menempatkan kepala pada debu (dalam sujud), seseorang menjadi bersih suci. Apa hak kita harus meletakkan kaki kami di tanah? Ketika, dalam sujud, kita tidak pernah meletakkan kepala kita di atas tanah?
# Jangan bermajlis dengan sekumpulan orang yang tidak benar akidahnya, Do tidak tinggal di perusahaan orang dengan keyakinan yang tidak benar, lakukan dengan nyata, anda tidak bermajlis dengan mereka.
# Manakala air mengalir dalam wudhu’ selama itu pula neraka tidak akan membakarnya.
# Sang fakir setelah bebas dari kemiskinannya, si fakir menjadi anjing dunia lagi. Sebagaimana orang bodoh setelah disucikan, ia pasti terlibat dalam kotoran lagi!
# Pada ayat Al-Fatihah, ‘Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus. Yaitu jalannya orang-orang yang Engkau beri nikmat’ itulah sesungguhnya yang menjadi kebutuhan kita dan anutan kita.
# “Fattabi ‘u millata Ibrahima hanifa” Ada 124, 000 Nabi dengan patuh pada perintah ini, “Oleh karena itu orang yang mengikuti agama Ibrahim akan terpisah dari dosa-dosanya.” “ membuktikan bahwa itu adalah wajib untuk melakukan taqlid pada Imam.
# Setiap orang berada dalam kegelapan kuburnya, kecuali orang yang tahajjud akan dipenuhi limpahan cahaya. Membaca Ayat Kursi di setiap sholatnya, dan surat yang dimulai dengan “Tabaarokalladzi…” akan memebaskan siksa kubur.
# Sebagaimana keharusan bersholawat dan berdoa kepada Nabi saw sepanjang sholatnya, juga harus dikirmkan doa itu kepada keluarganya.
# Tak satu pun yang ada kecuali sudah ditakdirkan. Bahkan sebelum adanya waktu.
# Allah Ta’ala telah menciptakan hati untuk mengingat-Nya [dzikir], dan tidak diciptakan untuk khawatir.
# Bila orang berdosa karena bangsa-bangsa sebelumnya, maka ada wajah yang digunakan untuk metamorfosa. Maka yang mulia Nabi kita saw, bersabda “Allah Yang Suci tidak akan mengubah wajah mereka yang beriman kepadaku.”
# Hari Kiamat akan tiba, apa bila tak satu pun hamba Allah yang nama Allah.
# Bacalah Al Qur’an hanya untuk Allah. Membaca untuk alasan duniawi, adalah seperti memberikan berlian ditukar dengan beberapa sen tak berharga. Sebenarnya jika, setelah membaca karena Allah, Allah sendiri memberikan manfaat duniawi karena anda membaca (untuk-Nya).
# Orang yang tidak punya rasa malu tidak memiliki iman.
# Mendatangi undangan (untuk makan) adalah Sunnah. Nabi Saw, bersabda, “Bahwa jika seseorang mengundang Anda masih berada pada jarak tiga mil jauhnya, dan mengundang untuk sesuatu yang sederhana pun, Anda harus hadir.”
# Apabila memasuki kota Madinah Al-Munawwarah yang mulia, anda harus memiliki adab (etika). Paling tidak, penampilan wajah seseorang harus menujukkan bahwa ia seorang muslim: mode fashion terbaru, dan gaya rambut dll, harus dihindari.
# Bila seseorang memberikan sesuatu di jalan menuju Allah, orang harus melakukannya dalam hidupnya sendiri. Setelah kita mati, baik istri kita atau anak-anak kita akan memberikan apa pun untuk nama kita, kenyataannya sulit bahkan bagi mereka untuk datang membaca Fatihah di makam kita!
# Bila ada sepuluh orang yang melakukan dzikir dan satu orang yang lalai [ghafil], yang berdzikir akan membuat pencahayaan bagi yang lalai. Bergabunglah dengan majlis dzikir, karena disana ada kebahagiaan.
Baca Selengkapnya >>

Sayyidah Nafisah Yang Dicintai Warga Mesir

Sayyidah Nafisah ialah salah satu keturunan Rasulullah s.a.w.. Beliau puteri Imam Hasan al-Anwar bin Zaid al-Ablaj bin Imam Hasan bin Imam Ali r.a.. Beliau lahir di Makkah, pada 11 Rabiulawal 145H, hidup dan besar di Madinah, meninggal di Mesir.

Hijrah Ke Mesir
Demi keamanan dan ketenangan hidup Sayyidah Nafisah berhijrah ke Mesir bersama suami beliau, Ishaq al-Mu’tasim bin Ja’far as-Siddiq, pada tahun 193H, setelah sebelumnya ziarah ke makam Nabi Ibrahim a.s.. Di Mesir beliau tinggal di rumah Ummi Hani’.

Sayyidah Nafisah menetap di Mesir selama 7 tahun. Penduduk Mesir sangat menyayangi beliau dan percaya akan karamah beliau. Mereka selalu berduyun-duyun mendatangi Sayyidah Nafisah, berdesakan mendengarkan mauizah dan memohon doa beliau. Hal ini membuat suami beliau berfikir untuk mengajaknya pindah ke tanah Hijaz, namun beliau menolak dan menjawab: “Aku tidak bisa pergi ke Hijaz karena aku bermimpi bertemu Rasulullah s.a.w.. Beliau berkata kepadaku: “Janganlah kamu pergi dari Mesir karena nanti Allah akan mewafatkanmu di sana (di Mesir).”
Pribadinya

Sayyidah Nafisah adalah seorang yang sangat kuat beribadah kepada Allah. Siang hari beliau berpuasa sunat sedangkan pada malamnya beliau bertahajjud menghidupkan malam dengan berzikir dan membaca Al Quran. Sayyidah Nafisah sungguh zuhud dengan kehidupannya. Hatinya langsung tidak terpaut dengan kehidupan dunia yang menipu daya. Jiwa beliau rindu dengan syurga Allah dan sangat takut dengan neraka Allah. Disamping itu Sayyidah Nafisah adalah sosok sangat taat kepada suami. Beliau sangat mematuhi perintah suami dan melayan suami beliau dengan sebaik-baiknya.

Sayyidah Nafisah adalah seorang yang terkenal zuhud dan mengasihi manusia yang lain. Pernah satu ketika, beliau menerima uang sebanyak 1000 dirham dari raja untuk keperluan dirinya. Beliau telah membagikan uang tersebut kepada fakir miskin sebelum sempat memasuki rumahnya. Uang hadiah dari raja itu sedikit pun tidak beliau ambil untuk kepentingan dirinya. Semuanya disedekahkan kepada fakir dan miskin. Demikianlah dermawannya Sayyidah Nafisah terhadap fakir miskin.
Keutamaannya

Sayyidah yang mulia ini sudah mendapatkan keutamaan sejak kecil. Suatu ketika, demikian al-Hafiz Abu Muhammad dalam kitabnya Tuhfatul Asyraf bercerita: Al-Hasan, ayahanda Sayyidah Nafisah membawa Nafisah semasa kecil ke makam Rasulullah s.a.w.. Di sini sang ayah berkata : “Tuanku, Bagindaku Rasulullah, ini puteriku. Aku ridha dengannya. Kemudian keduanya pulang. Di malam hari sang ayah bertemu Rasulullah bersabda: “Wahai Hasan Aku ridha dengan puterimu Nafisah kerana keridhaanmu itu. Dan Allah SWT juga ridha kerana ridhaku itu.”

Salah satu keutamaan Sayyidah Nafisah adalah selama hidupnya beliau telah mengkhatamkan al-Quran sebanyak 4000 kali. Selain itu, meskipun tinggal jauh dari tanah suci, beliau melakukan ibadah haji sebanyak 17 kali.

Sayyidah Nafisah dan Imam Syafie
Sejarah sepakat mengatakan bahawa Sayyidah Nafisah semasa dengan Imam Syafie. Keduanya saling menghormati. Di ceritakan bahawa Imam Syafie meriwayatkan hadis dari Sayyidah Nafisah. Setiap berkunjung ke kediaman Sayyidah Nafisah Imam Syafie dan pengikutnya sangat menjunjung tinggi adab sopan santun terhadap beliau.

Imam Syafie setiap tertimpa penyakit selalu mengirim utusan ke Sayyidah Nafisah agar berkenan mendoakannya dengan kesembuhannya. Dan benar, setelah itu Imam Syafie mendapatkan kesembuhan. Ketika Imam Syafie tertimpa penyakit yang menyebabkan beliau wafat, Sayyidah Nafisah berkata pada utusan Imam Syafie: “Semoga Allah memberikan kenikmatan pada Syafie dengan melihat wajahNya yang mulia.”
Sebelum menceritakan karamah-karamah Sayyidah yang mulia ini, perlu diketahui bahwa suami Sayyidah Nafisah (Ishaq bin al Mu’taman bin Ja’far ash Shadiq) pernah berkeinginan untuk memindah makam beliau ke pemakaman Baqi’ (Madinah). Kemudian penduduk Mesir meminta suami Sayyidah Nafisah untuk mengurungkan keinginannya, karana penduduk Mesir ingin mendapatkan berkah darinya. Akhirnya, pada suatu malam suami Sayyidah Nafisah bermimpi bertemu Rasulullah s.a.w.. Rasulullah bersabda, “Wahai Abu Ishaq, janganlah kamu menentang keinginan penduduk Mesir, karena Allah akan memberikan berkah-Nya kepada penduduk Mesir melalui Sayyidah Nafisah”.



Di antara karamahnya ialah ketika pembantu Sayyidah Nafisah yang bernama Jauharah keluar rumah untuk membawakan air wudhu untuk beliau, pada waktu itu hujan deras sekali. Akan tetapi, tapak kaki Jauharah tidak basah dengan air hujan.

Karamahnya juga ialah, ada sebuah keluarga Yahudi yang tinggal di dekat kediaman Sayyidah Nafisah di Mesir. Keluarga itu mempunyai seorang anak perempuan yang lumpuh. Suatu ketika ibu anak itu berkata: “Nak, kamu mahu apa ? Kamu mahu ke kamar mandi ?. Si anak tiba-tiba berkata: “Aku ingin ke tempat perempuan mulia tetangga kita itu.” Setelah si ibu minta izin pada Sayyidah Nafisah dan beliau memperkenankannya, keduanya datang ke kediaman Sayyidah Nafisah. Si anak didudukkan di pinggir rumah. Ketika datang waktu solat Zuhur, Sayyidah Nafisah beranjak untuk berwudhu’ di dekat gadis kecil itu. Air wudhu’ beliau mengalir ke tubuh anak tersebut. Seperti mendapatkan ilham anak itu mengusap anggota tubuhnya dengan air berkah tersebut. Dan seketika itu juga ia sembuh dan bisa berjalan seperti tidak pernah sakit sama sekali.

Kemudian si anak pulang dan mengetuk pintu. Pintu dibuka oleh ibunya. Dengan heran dia bertanya: “Kamu siapa Nak?” “Aku puterimu.” Sambil memeluk si ibu bertanya bagaimana ini bisa terjadi. Si anak kemudian bercerita dan akhirnya keluarga itu semuanya masuk Islam.
Selain itu, pernah suatu ketika sungai Nil berhenti mengalir dan mengering. Orang-orang mendatangi Sayyidah Nafisah dan memohon doanya. Beliau memberikan selendangnya agar dilempar ke sungai Nil. Mereka melakukannya. Dan seketika itu juga sungai Nil mengalir kembali dan melimpah.

Karamah-karamah beliau setelah wafat juga banyak. Di antaranya, pada tahun 638H, beberapa pencuri menyelinap ke masjidnya dan mencuri enam belas lampu dari perak. Salah seorang pencuri itu dapat diketahui, lalu dihukum dengan diikat pada pohon. Hukuman itu dilaksanakan di depan masjid agar menjadi pelajaran bagi yang lain. Pada tahun 1940, seseorang yang tinggal di daerah itu bersembunyi di masjid itu pada malam hari. Ia mencuri syal dari Kasymir yang ada di makam itu. Namun, ia tidak menemukan jalan keluar dari masjid itu dan tetap terkurung di sana sampai pelayan mesjid datang di waktu subuh dan menangkapnya.

Wafatnya
Al-Sakhawi bercerita, “Ketika Sayyidah Nafisah merasakan ajalnya sudah dekat, beliau menulis surat wasiat untuk suaminya, dan menggali kubur beliau sendiri di rumahnya. Kubur yang digalinya itu ialah untuk beliau sentiasa mengingatkan akan kematian. Kemudian beliau turun ke liang kubur itu, memperbanyak solat dan mengkhatamkan al-Quran sebanyak 109 kali. Kalau tidak mampu berdiri, beliau solat dengan duduk, memperbanyak tasbih dan menangis. Ketika sudah sampai ajalnya dan beliau sampai pada ayat: “Bagi mereka (disediakan) tempat kedamaian (syurga) di sisi Tuhannya dan Dialah Pelindung mereka disebabkan amal-amal soleh yang selalu mereka kerjakan.” (Surah Al-An’am: 127), beliau pengsan kemudian dan menghembuskan nafas terakhir menghadap Sang Maha Kasih Abadi pada hari Jumaat, bulan Ramadhan 208 H.


Sewaktu disembahyangkan sangat ramai orang yang menghadirinya. Sehingga kini maqamnya diziarahi oleh pengunjung dari seluruh pelosok dunia. Demikian kehebatan yang Allah anugerahkan kepada Sayyidah Nafisah yang terkenal dengan kewarakan kepada Allah dan ketaatannya kepada suami. Semoga ianya menjadi contoh buat generasi wanita akhir zaman ini.
[Sumber:http://tokohsufi.wordpress.com/2009/11/09/sayyidah-nafisah/ ]
cahaya sufi
Baca Selengkapnya >>

Abu Nawas Penyair Yang Sufi

Ilahi, lastu lilfirdausi ahla. Wala aqwa ‘ala naril jahimi, Fahab li tawbatan waghfir dzunubi. Fainaka ghafirud dzanbil adzimi

Tuhanku, Hamba tidaklah pantas menjadi penghuni surga (Firdaus).
Namun, hamba juga tidak kuat menahan panas api neraka.
Maka berilah hamba tobat dan ampunilah hamba atas dosa-dosa hamba.
Karena sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Mahaagung

Dua bait syair di atas tentu sudah sangat akrab di telinga masyarakat Indonesia terutama kaum tradisionalis Islam. Beberapa saat menjelang shalat Magrib atau Subuh, jemaah di masjid-masjid atau musala di pedesaan biasanya mendendangkan syair tersebut dengan syahdu sebagai puji-pujian. Konon, kedua bait tersebut adalah hasil karya tokoh kocak Abu Nawas. Ia adalah salah satu penyair terbesar sastra Arab klasik. Abu Nawas juga muncul beberapa kali dalam kisah 1001 Malam.
Bagi masyarakat Islam Indonesia, nama Abu Nawas atau Abu Nuwas juga bukan lagi sesuatu yang asing. Abu Nawas dikenal terutama karena kelihaian dan kecerdikannya melontarkan kritik-kritik tetapi dibungkus humor. Mirip dengan Nasrudin Hoja, sesungguhnya ia adalah tokoh sufi, filsuf, sekaligus penyair. Ia hidup di zaman Khalifah Harun Al-Rasyid di Baghdad (806-814 M).



Selain cerdik, Abu Nawas juga dikenal dengan kenyentrikkannya. Sebagai penyair, mula-mula ia suka mabuk. Belakangan, dalam perjalanan spiritualnya mencari hakikat Allah dan kehidupan sejati, ia menemukan kehidupan rohaniahnya yang sejati meski penuh liku dan sangat mengharukan. Setelah mencapai tingkat spiritual yang cukup tinggi, inspirasi puisinya bukan lagi khamar, melainkan nilai-nilai ketuhanan. Ia tampil sebagai penyair sufi yang tiada banding.

Nama asli Abu Nawas adalah Abu Ali al-Hasan bin Hani al-Hakami. Dia dilahirkan pada 145 H (747 M) di kota Ahvaz di negeri Persia (Iran sekarang), dengan darah dari ayah Arab dan ibu Persia mengalir di tubuhnya. Ayahnya, Hani al-Hakam, merupakan anggota legiun militer Marwan II. Sementara ibunya bernama Jalban, wanita Persia yang bekerja sebagai pencuci kain wol. Sejak kecil ia sudah yatim. Sang ibu kemudian membawanya ke Bashrah, Irak. Di kota inilah Abu Nawas belajar berbagai ilmu pengetahuan.

Masa mudanya penuh perilaku kontroversial yang membuat Abu Nawas tampil sebagai tokoh yang unik dalam khazanah sastra Arab Islam. Meski begitu, sajak-sajaknya juga sarat dengan nilai sprirtual, di samping cita rasa kemanusiaan dan keadilan. Abu Nawas belajar sastra Arab kepada Abu Zaid al-Anshari dan Abu Ubaidah. Ia juga belajar Al-Quran kepada Ya’qub al-Hadrami. Sementara dalam Ilmu Hadis, ia belajar kepada Abu Walid bin Ziyad, Muktamir bin Sulaiman, Yahya bin Said al-Qattan, dan Azhar bin Sa’ad as-Samman. Pertemuannya dengan penyair dari Kufah, Walibah bin Habab al-Asadi, telah memperhalus gaya bahasanya dan membawanya ke puncak kesusastraan Arab. Walibah sangat tertarik pada bakat Abu Nawas yang kemudian membawanya kembali ke Ahwaz, lalu ke Kufah. Di Kufah bakat Abu Nawas digembleng. Ahmar menyuruh Abu Nawas berdiam di pedalaman, hidup bersama orang-orang Arab Badui untuk memperdalam dan memperhalus bahasa Arab.

Kemudian ia pindah ke Baghdad. Di pusat peradaban Dinasti Abbasyiah inilah ia berkumpul dengan para penyair. Berkat kehebatannya menulis puisi, Abu Nawas dapat berkenalan dengan para bangsawan. Namun karena kedekatannya dengan para bangsawan inilah puisi-puisinya pada masa itu berubah, yakni cenderung memuja dan menjilat penguasa.

Dalam Al-Wasith fil Adabil ‘Arabi wa Tarikhihi, Abu Nawas digambarkan sebagai penyair multivisi, penuh canda, berlidah tajam, pengkhayal ulung, dan tokoh terkemuka sastrawan angkatan baru. Namun sayang, karya-karya ilmiahnya justru jarang dikenal di dunia intelektual. Ia hanya dipandang sebagai orang yang suka bertingkah lucu dan tidak lazim. Kepandaiannya menulis puisi menarik perhatian Khalifah Harun al-Rasyid. Melalui musikus istana, Ishaq al-Wawsuli, Abu Nawas dipanggil untuk menjadi penyair istana (sya’irul bilad).

Sikapnya yang jenaka menjadikan perjalanan hidupnya benar-benar penuh warna. Kegemarannya bermain kata-kata dengan selera humor yang tinggi seakan menjadi legenda tersendiri dalam khazanah peradaban dunia. Kedekatannya dengan kekuasaan juga pernah menjerumuskannya ke dalam penjara. Pasalnya, suatu ketika Abu Nawas membaca puisi Kafilah Bani Mudhar yang dianggap menyinggung Khalifah. Tentu saja Khalifah murka, lantas memenjarakannya. Setelah bebas, ia berpaling dari Khalifah dan mengabdi kepada Perdana Menteri Barmak. Ia meninggalkan Baghdad setelah keluarga Barmak jatuh pada tahun 803 M. Setelah itu ia pergi ke Mesir dan menggubah puisi untuk Gubernur Mesir, Khasib bin Abdul Hamid al-Ajami. Tetapi, ia kembali lagi ke Baghdad setelah Harun al-Rasyid meninggal dan digantikan oleh Al-Amin.
Sejak mendekam di penjara, syair-syair Abu Nawas berubah, menjadi religius. Jika sebelumnya ia sangat pongah dengan kehidupan duniawi yang penuh glamor dan hura-hura, kini ia lebih pasrah kepada kekuasaan Allah. Dua bait syair di atas merupakan salah satu syairnya yang dapat dipahami sebagai salah satu ungkapan rasa spiritual yang dalam.
Memang, pencapaiannya dalam menulis puisi diilhami kegemarannya melakukan maksiat. Tetapi, justru di jalan gelap itulah, Abu Nawas menemukan nilai-nilai ketuhanan. Sajak-sajak tobatnya bisa ditafisrkan sebagai jalan panjang menuju Tuhan. Meski dekat dengan Sultan Harun al-Rasyid, Abu Nawas tak selamanya hidup dalam kegemerlapan duniawi. Ia pernah hidup dalam kegelapan – tetapi yang justru membawa keberkahan tersendiri.

Seorang sahabatnya, Abu Hifan bin Yusuf bin Dayah, memberi kesaksian, akhir hayat Abu Nawas sangat diwarnai dengan kegiatan ibadah. Beberapa sajaknya menguatkan hal itu. Salah satu bait puisinya yang sangat indah merupakan ungkapan rasa sesal yang amat dalam akan masa lalunya.
Mengenai tahun meningalnya, banyak versi yang saling berbeda. Ada yang menyebutkan tahun 190 H/806 M, ada pula yang 195H/810 M, atau 196 H/811 M. Sementara yang lain tahun 198 H/813 M dan tahun 199 H/814 M. Konon Abu Nawas meninggal karena dianiaya oleh seseorang yang disuruh oleh keluarga Nawbakhti - yang menaruh dendam kepadanya. Ia dimakamkan di Syunizi di jantung Kota Baghdad.

Sejumlah puisi Abu Nawas dihimpun dalam Diwan Abu Nuwas yang telah dicetak dalam berbagai bahasa. Ada yang diterbitkan di Wina, Austria (1885), di Greifswald (1861), di Kairo, Mesir (1277 H/1860 M), Beirut, Lebanon (1301 H/1884 M), Bombay, India (1312 H/1894 M). Beberapa manuskrip puisinya tersimpan di perpustakaan Berlin, Wina, Leiden, Bodliana, dan Mosul.
Salah satu cerita menarik berkenaan dengan Abu Nawas adalah saat menejelang sakaratulmautnya. Konon, sebelum mati ia minta keluarganya mengkafaninya dengan kain bekas yang lusuh. Agar kelak jika Malaikat Munkar dan Nakir datang ke kuburnya, Abu Nawas dapat menolak dan mengatakan. “Tuhan, kedua malaikat itu tidak melihat kain kafan saya yang sudah compang-camping dan lapuk ini. Itu artinya saya penghuni kubur yang sudah lama.”
Tentu ini hanyalah sebuah lelucon, dan memang kita selama ini hanya menyelami misteri kehidupan dan perjalanan tohoh sufi yang penuh liku dan sarat hikmah ini dalam lelucon dan tawa.
cahaya sufi.com
Baca Selengkapnya >>

Adab Mencari Ilmu Menurut Kaum Sufi

Syeikh Abu Nashr as-Sarraj
Syeikh ABu Nashr as-Sarraj-Rahimahullah berkata : Saya mendengar Ahmad bin Ali al Wajihi berkata: Saya mendengar Abu Muhammad al Jariri - rahimahullah - berkata, “Duduk untuk bermudzakaroh (belajar ilmu) akan menutup pintu manfaat, sedangkan duduk untuk saling memberi nasihat akan membuka pintu manfaat.”

Abu Yazid - rahimahullah - berkata, “Barangsiapa tidak bisa mengambil manfaat dari diamnya orang yang berbicara maka ia tidak akan bisa mengambil manfaat dari pembicaraannya.”
Al Junaid - rahimahullah - berkata, “Mereka (kaum Sufi) sangat tidak suka bila lisan melampaui keyakinan hati.”

Disebutkan bahwa Abu Muhammad al Jariri berkata, “Keadilan dan adab ialah hendaknya orang yang mulia tidak membicarakan ilmu ini (tasawuf sehingga Ia ditanya.” Abu Ja’far al-Faraji, sahabat karib Abu Turab an-Nakhsyabi - rahimahullah - berkata, “Aku tinggal diam selama dua puluh tahun tidak bertanya suatu persoalan kecuali bila aku mantapkan terlebih dahulu sebelum aku menyatakan dengan lisanku.”

Abu Hafsh - rahimahullah - berkata, “Tidak dibenarkan berbicara kecuali bagi seseorang yang apabila ia diam malah mendapatkan siksa.”

la juga berkata, ‘Ada seseorang datang pada Abu Abdillah Ahmad bin Yahya al Jalla’ - rahimahullah - yang menanyakan tentang masalah tawakal. Saat itu ada sekelompok orang (jamaah), maka ia tidak menjawabnya dan masuk ke dalam kamarnya, kemudian la keluar lagi dengan membawa seikat kain yang berisi empat dananiq (mata uang) yang diberikan kepada mereka. Kemudian la berkata kepada mereka, `Dengan uang ini silakan kalian membeli sesuatu.’ Kemudian ia baru mau menjawab apa yang ditanyakan orang tersebut. Kemudian ia ditanya, `Mengapa ia melakukan hal itu?’ Maka la menjawab, Aku malu pada Allah untuk menjawab masalah tawakal sedangkan aku masih memiliki empat dananiq’.”

Dikisahkan dari Abu Abdillah al-Hushri yang berkata: Saya pernah berkata kepada Ibnu Yazdaniar ketika la sedang mencari ilmu, `Aku tidak melihat apa yang ada pada semua makhluk kecuali kabar tentang gaib dan sangat mungkin Anda adalah yang gaib.” Kemudian la berkata, “Coba ulangi apa yang Anda katakan.” Lalu saya menjawabnya, “Saya tidak akan mengulanginya.”

Ibrahim al-Khawwash - rahimahullah - berkata, “Ilmu ini tidak layak kecuali bagi mereka yang mampu mengungkapkan wajd (suka cita ruhani)nya dan berbicara tentang perbuatannya.”
Abu Ja’far ash-Shaidalani - rahimahullah - berkata: Ada seseorang bertanya suatu masalah kepada Abu Said al-Kharraz - rahimahullah. la hanya memberi isyarat tentang masalah yang ditanyakan. Abu Said kemudian berkata, “Kami telah mencapai kedudukan anda dan sepakat dengan apa yang Anda inginkan tanpa harus dengan isyarat dari Anda. Sebab orang yang banyak memberi isyarat pada Allah adalah orang yang paling jauh dari¬Nya.”

Al-Junaid - rahimahullah - berkata, “Andaikan aku tahu, bahwa di kolong langit ini ada ilmu yang lebih mulia daripada ilmu kami ini (tasawuf), niscaya aku akan berusaha mencarinya dan menemui orang yang memilikinya, sehingga aku mendengar dari mereka tentang ilmu tersebut. Dan andaikan aku tahu, bahwa ada waktu yang lebih mulia daripada waktu kami ini ketika berkumpul dengan para sahabat dan guru kami, dan ketika kami menanyakan berbagai masalah dan mencari ilmu ini, tentu aku akan bangkit mencarinya.”

Al Junaid - rahimahullah - berkata, “Bagiku tidak ada kelompok manusia dan kaum yang berkumpul untuk mencari ilmu yang lebih mulia dari kelompok ini.
Tidak pula ada ilmu yang lebih mulia dari ilmu mereka. Andaikan tidak demikian, maka aku tak mungkin duduk dan berteman dengan mereka. Namun karena mereka dalam pandanganku adalah seperti apa yang aku ucapkan maka aku lakukan semua itu.”
Abu Ali ar-Rudzabari - rahimahullah - berkata, “Ilmu kami ini adalah ilmu isyarat. Apabila menjadi suatu ungkapan maka akan ringan bobotnya.”

Abu Said al-Kharraz - rahimahullah - berkata, “Aku diberi tahu tentang Abu Hatim al-Aththar dan keutamaannya, dimana ia tinggal di Basrah. Kemudian dari Mesir, aku berangkat menuju Basrah. Sampai di sana kemudian aku masuk masjid Jami` Basrah. Ternyata la duduk di masjid ini, yang di sekelilingnya banyak orang dari sahabat-sahabatnya. la berbicara kepada mereka tentang ilmu. Pertama kali yang aku dengar dari pembicaraannya setelah la melihatku ialah, Aku duduk hanya untuk seseorang. Lalu di mana seseorang tersebut? Dan siapa untukku dengan seseorang tersebut? Kemudian la memberi isyarat padaku, `Orang tersebut adalah Anda.’ Kemudian la berkata, `Menampakkan apa yang menjadikan mereka ahli, membantu mereka apa yang diwajibkan kepada mereka, menjadikan gaib apa yang dihadirkan pada mereka. . Maka hanya untuk-Nya mereka berbuat, dari-Nya dan kepada-Nya mereka kembali’.”

Dikisahkan dari al Junaid - rahimahullah - yang mengatakan, “Andaikan ilmu kami ini dibuang ke tempat sampah, maka setiap orang hanya akan mengambil sesuai dengan ukurannya.”
Dikisahkan dari asy-Syibli, pada suatu hari la pernah berkata kepada anggota majelisnya, “Kalian adalah leontin dari kalung, dimana mimbar-mimbar dari cahaya dipasang untuk kalian dan para malaikat merasa bahagia dengan kalian.” Kemudian ada seseorang bertanya kepadanya, “Apa yang menjadikan para malaikat merasa bahagia?” la menjawab, “Karena mereka berbicara tentang ilmu ini (tasawuf).”

Saya mendengar Ja’far al-Khuldi berkata: Saya mendengar al-Junaid berkata:
Sari as-Saqathi - rahimahullah - pernah berkata, “Sebagaimana yang saya dengar, bahwa ada sekelompok orang di masjid Jami` yang duduk di sekeliling Anda.”

Saya jawab, “Ya, benar! Mereka adalah saudara-saudara kami, dimana kami saling
ber-mudzakarah (belajar) ilmu. Masing-masing di antara kami saling mengambil manfaat antara yang satu dengan yang lain.” Kemudian ia berkata, “Alangkah jauhnya wahai Abu al-Qasim (nama panggilan al Junaid), saya sekarang telah menjadi tempat bagi para penganggur.”[pagebreak]

Dikisahkan dari al Junaid - rahitnahullah - yang mengatakan, “Jika Sari as-Saqathi - rahimahullah - ingin mengajariku sesuatu maka la menanyakan suatu masalah. Suatu hari la pernah bertanya, `Wahai anak muda, apa syukur itu?’ Maka aku menjawabnya, `Syukur ialah Anda tidak bermaksiat kepada Allah atas segala nikmat yang diberikan kepada Anda.’ Akhirnya ia menganggap baik atas jawabanku. la memintaku untuk mengulang jawabanku tentang syukur sembari berkata, `Bagaimana jawabanmu tentang syukur? Coba ulangi jawabanmu!’ Aku kemudian mengulanginya.”

Syekh Abu Nashr as-Sarraj berkata: Aku dapatkan kisah ini lewat tulisan Abu Ali ar-Rudzabari dari al Junaid.
Diceritakan dari Sahl bin Abdullah - rahimahullah - bahwa ia pernah ditanya tentang masalah-masalah ilmu (tasawuf). Namun la tidak mau menjawabnya. Setelah beberapa waktu, ia berbicara tentang ilmu tersebut dan tampak sangat menguasai dengan balk. Kemudian ia ditanya tentang alasan, mengapa waktu itu la tidak mau berbicara tentang ilmu tersebut. Lalu la menjawab, “Pada saat itu Dzun-Nun masih hidup, sehingga aku sangat tidak suka bicara tentang ilmu ini (tasawuf) ketika la masih hidup. Karena aku sangat menghormatinya.”

Abu Sulaiman ad-Darani - rahimahullah - berkata, “Andaikan di Mekkah ini aku tahu ada seseorang yang bisa memberiku ilmu ma’rifat sekalipun hanya satu kata, niscaya aku akan mendatanginya dengan berjalan kaki, sekalipun jarakyang harus ditempuh seribu farsah, sehingga aku bisa medengar langsung darinya.”
Abu Bakar az-Zaqqaq berkata, ‘Aku mendengar satu kalimat dari al Junaid tentang fana’ sejak empat puluh tahun yang lalu, dimana kalimat tersebut selalu membangkitkanku, sedangkan aku setelah itu dalam ketidaktahuan.”

Saya mendengar ad-Duqqi berkata: Saya mendengar kisah ini dari az-Zaqqaq.
Saya mendengar ad-Duqqi berkata: Dikatakan kepada Abu Abdillah al Jalla’ - rahimahullah, “Mengapa ayah Anda disebut dengan al Jalla’?” la menjawab, “Bukan karena kata al Jalla’ ini mengandung arti pembersih karat besi, akan tetapi jika la berbicara kepada hati nurani akan memperlihatkan karat bekas dosa-dosa yang dilakukan.”
Al-Harits al-Muhasibi - rahimahullah - berkata, “Sesuatu yang paling mulia di dunia ini adalah orang alim yang mengamal¬kan ilmunya dan orang arif yang berbicara tentang hakikatnya.”

Saya mendengar Ibnu ‘Ulwan berkata, “Jika ada seorang ber¬tanya kepada al Junaid tentang suatu masalah, sedangkan la tidak termasuk dalam kondisi spiritual dari masalah yang ditanyakannya, maka la akan berkata:
‘Tidak ada daya upaya dan kekuatan apa pun kecuali dengan Allah.’
Dan jika orang itu mengulangi lagi pertanyaannya maka ia akan menjawabnya:
’Cukuplah Allah penolong kami dan Dialah sebaik-baik Dzat Yang menjadi Wakil’.” (Q.s. Ali Imran: 173).
Dikisahkan bahwa Abu Amr az-Zujajii - rahimahullah - berkata, “Jika Anda sedang duduk mendengar seorang syekh berbicara tentang suatu ilmu, sementara Anda mau kencing dan hampir tidak bisa ditahan, maka andaikan Anda kencing di tempat Anda duduk akan lebih balk daripada Anda bangkit dari tempat duduk Anda meninggalkan majelis. Sebab kencing masih bisa dicuci dengan air sedangkan apa yang terlewatkan dari ilmu yang ia ajarkan tak mungkin Anda memperoleh kembali untuk selamanya.”

Al-Junaid - rahimahullah - berkata: Saya pernah berkata kepada Ibnu al-Kurraini - rahimahullah, “Jika ada seseorang yang berbicara tentang suatu ilmu yang la sendiri tidak mampu mengamalkannya. Maka yang lebih Anda sukai, kalau kondisinya demi¬kian diam ataukah berbicara?” Kemudian la menundukkan kepala, dan kemudian mengangkatnya kembali sembari berkata, “Jika Anda ahlinya maka bicaralah!”
Asy-Syibli - rahimahullah - berkata, “Bagaimana pendapat Anda tentang suatu ilmu, yaitu ilmu para ulama yang menimbulkan dugaan?”

Sementara itu Sari as-Saqathi - rahimahullah - berkata, “Barangsiapa menghiasi dirinya dengan ilmu, maka kebaikannya adalah kejelekan.”
Syekh Abu Nashr as-Sarraj - rahimahullah - berkata: Dari masing-masing kisah ini memiliki keterangan dan kesimpulan yang cukup jelas bagi mereka yang sanggup memahaminya.
sumber cahaya sufi
Baca Selengkapnya >>

Menunggu Peran Ulama Perempuan

Memasuki bulan April, gaung emansipasi kembali terasa. Bulan yang telah menjadi saksi lahirnya seorang tokoh perubahan wanita pribumi bernama R.A. Kartini. Masyarakat Indonesia memperingati hari kelahirannya, 21 April, sebagai Hari Kartini.

Berbagai karnaval, diskusi, seminar, talkshow hingga sarasehan begitu semarak. Baik sekadar untuk memperingati dan mengenang perjuangan R.A. Kartini, maupun demi mencetak Kartini-Kartini masa kini.

Kartini adalah potret pejuang gerakan emansipasi sejati, demi peradaban bangsa yang ramah terhadap wanita. Namun demikian, Kartini sejatinya bukan pejuang emansipasi semata, tetapi pada saat yang sama ia juga pejuang gerakan reformasi pemikiran dan pendidikan. Dengan kegelisahannya yang memilukan ia bergulat dan mencoba keluar dari pikiran dan tradisi feodal serta kungkungan budaya patriarki di sekitarnya.

Potret ini tentu sebuah loncatan baru bagi Kartini, agar masyarakat mampu menjadi kelas-kelas terdidik.
Upaya reformasi peradaban itu dilakukan Kartini dengan cara yang cerdas. Ia, yang tidak bisa bersekolah formal, dengan cerdik melakukannya secara otodidak.

Sayangnya, menurut ulama perempuan terkemuka sekaligus guru besar Universitas Islam Negeri Jakarta (dahulu IAIN), Prof. Dr. Huzaimah Tahido Yanggo, M.A., Indonesia hanya mengenal satu sosok wanita berjasa, R.A. Kartini. Ia meyakini, banyak perempuan-perempuan perkasa lainnya yang tidak terekspos media. Ada Cut Nyak Dhien, misalnya, walaupun pola gerakannya berbeda, dan lain-lain.

Bahkan jauh sebelum mereka, sekitar 14 abad silam, di Tanah Arab, Nabi Muhammad SAW telah membicarakan emansipasi dan kesataraan bagi wanita.

Pengakuan Islam terhadap wanita begitu besar. Dengan tegas Prof. Huzaimah, yang juga mantan ketua Pusat Studi Wanita Universitas Islam Negeri Jakarta, menegaskan, Islam tidak membedakan perempuan dengan laki-laki berdasarkan jenis kelamin, melainkan berdasarkan kualitas ketaqwaan, sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Quran surah Al-Hujurat ayat 13, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Rasulullah Tokoh Pembebasan Wanita
Pengakuan Islam terhadap wanita juga tertulis begitu indah dalam surah Al-Ahzab ayat 35.

Ayat ini lahir dilatarbelakangi pertanyaan kritis Ummul Mu’minin, Ummu Salamah, kepada Baginda Nabi Muhammad SAW seputar posisi kaumnya dalam Islam.

Alkisah, suatu ketika Ummu Salamah, yang tak lain istri Rasulullah, menghampiri Baginda Nabi dan bertanya, “Kami telah menyatakan beriman kepada Islam, dan melakukan hal-hal sebagaimana engkau lakukan. Jadi mengapa hanya kalian, laki-laki, yang disebut dalam Al-Qur’an, sementara perempuan tidak?”

Tidak lama kemudian, ketika berkhutbah di atas mimbar, Rasulullah mengatakan bahwa Islam memandang laki-laki dan perempuan sebagai makhluk mulia, tidak ada superioritas antara satu dan yang lainnya. Allah SWT juga menyebutkan perempuan berdampingan dengan laki-laki dalam setiap wahyu-Nya. Keduanya akan mendapatkan pahala yang sama di sisi Allah SWT sesuai dengan yang diusahakannya. “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut nama Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.”

Maka sejak itu sebutan untuk kaum muslimin secara umum dalam Al-Qur’an berubah menjadi muslimin wal muslimah. Dan perlakuan yang ditunjukkan oleh Nabi Muhammad SAW terhadap kaum wanita pada masa itu sungguh berbeda dengan perlakuan masyarakat Arab pra-Islam.

Semula perempuan dianggap mahluk Tuhan yang hina, bahkan dalam strata sosial derajat perempuan menempati urutan paling bawah sekaligus tidak bisa mendapatkan pendidikan selayaknya kaum Adam. Sangat terbelakang. Begitu banyak kisah ratusan bayi perempuan masa Jahiliyyah yang dikubur hidup-hidup karena dianggap telah menjadi aib.

Kedatangan Islam mendobrak segalannya. Nabi memperlakukan wanita sebagai mitra pria yang sejajar, saling mendukung, bukan sebagai budak, yang hanya melayani. Rasulullah menggambarkan wanita sebagai sosok yang aktif, sopan, dan terpelihara akhlaqnya. Maka tidak berlebihan bila dikatakan bahwa Nabi Muhammad adalah tokoh pembebasan wanita pertama, pelopor emansipasi.

Aisyah RA
Di masa Rasulullah, banyak sahabat perempuan yang aktif berdiskusi di masjid, menguasai tafsir dan ta’wil Al-Qur’an, serta meriwayatkan ribuan hadits. Mereka mampu menjadi ahli agama sebagaimana sahabat laki-laki pada umumnya.

Pada zamannya, Aisyah RA, yang memiliki julukan “Humairah” (Yang Pipinya Kemerah-merahan), dikenal sebagai wanita yang sangat cerdas sejak muda. Begitu cerdasnya, hingga Rasulullah sendiri memberikan kepercayaan kepadanya untuk memberikan jawaban atas sebagian masalah umat. Tidak kurang dari 1.210 hadits Nabi yang telah diriwayatkan oleh Aisyah RA, dan sekitar 300 di antaranya telah diriwayatkan kembali secara bersama oleh ahli hadits Al-Bukhari dan Muslim.

Aisyah RA bisa dikatakan sebagai representasi ulama perempuan di masa itu. Ia dikenal sebagai wanita yang memiliki pengetahuan luas dalam bidang hadits, fiqih, sejarah, tafsir, dan astronomi. Aisyah RA, yang juga diberi gelar “Ummu Al-Mu’minin” (Ibu Orang-orang Beriman), telah banyak menyerap langsung ilmu dari Rasulullah. Tidak aneh jika kemudian ia menjadi tempat bertanya bagi banyak sahabat dan menjadi guru para tabi’in.

Pada masa Nabi Muhammad SAW posisi wanita justru mengalami mobilitas vertikal. Gerak mereka dan kesempatan mereka untuk berpartisipasi dalam berbagai bidang, khususnya bidang keulamaan atau keilmuan, terbuka luas. Sumbangan mereka bahkan sangat signifikan dalam upaya transformasi masyarakat ke arah yang lebih egaliter.

Wanita memiliki peran dan kewajiban yang sama dengan pria, termasuk yang berkaitan dengan urusan publik, namun tetap sejalan dengan Al-Qur’an dan sunnah. Istri Baginda Nabi, ada yang terlibat dalam peperangan dan urusan kenegaraan. Itu karena ajaran Islam dijalankan secara konsekuen berdasarkan pesan Al-Qur’an.

Mengenai pendidikan, Nabi Muhammad tidak pernah membuat garis perbedaan antara laki-laki dengan perempuan. Seperti yang pernah diucapkannya dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Ibn Majah, Al-Baihaqi, dan Ibn Abd Al-Barr, “Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim.”

Menurut Prof. Huzaimah, sebagian besar ulama menafsirkan, kata “muslim” mencakup lelaki dan perempuan. Sehingga menuntut ilmu itu wajib bagi keduanya. Dalam riwayat lain, “Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim dan muslimah”.

Pendidikan membuat wanita di masa Rasulullah menjadi bagian dari sebuah masyarakat yang kritis dan cerdas.

Rabi’ah Al-Adawiyyah
Sepeninggal Nabi Muhammad SAW, wanita juga tidak hanya menjadi mufasir atau muhadist, tetapi juga menjadi pakar dan pengawal tasawwuf. Prototipe sufi perempuan tentu saja Rabi’ah Al-Adawiyyah (100-180 H/ 718-796 M). Banyak sumber meriwayatkan, keilmuan dan kesufian Rabi’ah melampaui kolega laki-laki.

Cinta yang dalam kepada Allah SWT membuat Rabi’ah tidak menikah. “Bagaimana mungkin aku mampu menjadi seorang istri mendampingi suami di ranjang sedangkan waktu malam aku habiskan untuk melaksanakan shalat dan waktu siang untuk berpuasa? Bukankah sikapku akan berubah apabila aku menikah, dari bebas melakukan ibadah berubah menjadi tidak bebas untuk beribadah?”

Rabi’ah tegas menolak setiap lelaki yang datang, termasuk pinangan Raja kota Bashrah, Muhammad Bin Sulaiman Al-Hasyimi. Padahal, apabila menerimanya, mungkin ia akan hidup bergelimang harta dan berstatus sebagai permaisuri. Nyatanya, Rabi’ah bukanlah wanita materialistis yang mendamba materi. Ia seorang sufi perempuan yang begitu mencintai Ilahi.

Pendiriannya tidak main-main, ia juga menolak pinangan dari Abdul Wahid bin Zaid, murid Hasan Al-Basri, ulama yang sangat terkenal dengan kezuhudannya, melalui utusannya.

Abdul Wahid, ulama besar di Bashrah, sering datang ke majelis dzikir dan ta’lim yang diselenggarakan Rabi’ah, sekaligus menjadi teman diskusinya. Ia menyangka, Rabi’ah akan bersedia menikah dengannya.

Namun reaksi Rabi’ah ternyata di luar dugaan. Mengetahui hal itu denyut jantung Rabi’ah berdebar semakin kencang. Kedua matanya seakan-akan menyala menahan amarah. Tiba-tiba Rabi’ah memandang Abdul Wahid ibarat mayat hidup tak bernyawa.

“Sebagai seorang murid setia ulama besar Hasan Al-Basri tidak selayaknya engkau mempunyai pikiran tentang pernikahan itu. Apakah Abdul Wahid telah melupakan apa yang telah diajarkan oleh gurunya? Katakanlah kepada Abdul Wahid bahwa mulai hari ini aku tidak bersedia lagi bertemu dengannya.”

Hanya Hasan Al-Basri yang memahami pendirian Rabi’ah, yang juga terkenal sebagai pendidik hidupnya ini. Walaupun demikian, ia tetap mengajukan pertanyaan mengapa Rabi’ah urung menikah.

Jawabannya sederhana namun begitu indah, “Nikah itu sangat penting bagi orang yang mempunyai pilihan. Sedangkan aku tidak mempunyai pilihan. Aku sudah bernadzar dan mengambil keputusan untuk menghabiskan waktuku untuk beribadah kepada Allah SWT. Aku telah memutuskan hidup di bawah perintah-Nya.”

Demikianlah Rabiah menghabiskan 80 tahun masa hidupnya di dunia dengan menjauhi hal duniawi dan hanya merindukan saat-saat bertemu Rabb-nya.

Selain mereka, ada juga Sayyidah Nafisah binti Hasan Al-Anwar bin Zaid bin Hasan bin Ali dan Sayyidah Fathima Az-Zahra, putri Rasululullah SAW (145 H-208 H/ 762-823 M).

Sayyidah Nafisah terkenal sebagai seorang yang zuhud, rajin beribadah, baik yang wajib maupun yang sunnah. Wanita yang telah hafal Al-Qur’an sejak usia muda ini menguasai ilmu hadist dan tafsir. Bahkan cicit Rasulullah ini pernah menjadi guru ulama terkenal Imam Syafi’i ketika mengikuti halaqah di kota Fustat, Mesir. Imam Syafi’i dan banyak ulama lain hampir setiap hari datang ke rumahnya untuk mengaji kepadanya.

Dalam catatan riwayat hidup ulama laki-laki yang terkenal seperti Imam Syafi’i, tidak jarang terdapat keterangan tentang guru-guru perempuan mereka. “Tidak terdapat tanda-tanda bahwa mereka segan atau malu belajar kepada pakar-pakar perempuan tersebut.”

Kembali ke pra-Islam
Sayangnya, beberapa abad sepeninggal Rasulullah, posisi sosial wanita, yang semula membaik, kembali mengalami krisis. Tidak hanya kualitas, namun juga kuantitas. Bukannya stabil secara sosial, posisi perempuan malah berbalik kembali ke nilai-nilai pra-Islam.

Ada empat faktor yang, menurut Prof. Huzaimah, menyebabkan mundurnya peran wanita.

Pertama, faktor kultural atau budaya. “Budaya kita, baik di Arab maupun Indonesia, menganut sistem patriarki, sistem tata kekeluargaan yang mementingkan garis turunan bapak.”

Sistem ini membentuk peran antara perempuan dengan laki-laki berdasarkan jenis kelamin. Laki-laki sebagai kepala keluarga memiliki peran di publik, mencari nafkah. Sementara perempuan sebagai istri memiliki tugas di ranah domestik, mengurus rumah. Posisi ini menuntut perempuan betanggung jawab sepenuhnya sebagai ibu rumah tangga: menyapu, mengepel, memasak, mencuci, dan mengurus anak, sehingga mengungkung dirinya dari kegiatan publik.

Peran ini bukanlah kodrat atau bahkan kewajiban dari Allah SWT, melainkan konstruksi sosial-budaya patriarki. Secara fisik, laki-laki dan perempuan memang berbeda. Ini merupakan kodrat. Kodrat perempuan menstruasi, mengandung, melahirkan, dan menyusui. Sementara laki-laki memiliki jakun, jenggot, dan sebagainya. Dan perbedaan kodrat tersebut bukan alasan untuk mendiskriminasikan peran dan kesempatan perempuan.

Mengurus anak dan melakukan pekerjaan rumah lainnya merupakan tugas bersama, suami dan istri tidak bisa dibebani berdasarkan jenis kelamin semata, hanya porsinya yang berbeda. Terjadi bias dalam kehidupan sehari-hari. Suami memaksa istrinya untuk tinggal di rumah dengan berbagai tugasnya.

Dalam Al-Qur’an dijelaskan, “Rabbigfirli wa liwalidaya war hamhuma kama rabbayani shagira”. Bagian kalimat “kama rabayani” menjelaskan keduanya: ayah dan ibu, yang telah mendidik sejak kecil. Doa itu tidak membedakan khusus untuk ibu saja, yang telah mendidik sejak kecil, ”kama robakni”. “Apakah adil bila sang anak mendoakan kepada keduanya akan tetapi yang sepenuhnya bertanggung jawab mendidik hanya sang ibu?” kata Prof. Huzaimah.

Peran dalam kehidupan rumah tangga, laki-laki memiliki tugas sebagai kepala keluarga dengan beban mencari nafkah. Ini logis, dengan alasan kodrat perempuan tersebut, sehingga tidak masuk akal bila dalam keadaan mengandung tua ia juga dibebani menjadi kepala keluarga yang harus mencari nafkah. Terjadi kerja sama saling mengisi antara keduannya.

Ini bukan diskriminasi, seperti yang dituduhkan aktivis feminisme Barat, namun pembagian tugas dan peran. Perbedaan jenis kelamin untuk saling melengkapi, membantu, dan tolong menolong. Islam tidak pernah memberatkan umatnya. Ada perbedaan yang jelas antara kodrat dan konstruksi sosial-budaya. Kemudian budaya patriarki pada akhirnya berimbas pada minimnya kesempatan perempuan memperoleh pendidikan.

Sehingga lemahnya pendidikan menjadi faktor penting kedua dalam menghambat kemandirian wanita. Kesempatan bagi mereka untuk mendalami pengetahuan, baik keagamaan maupun pengetahuan umum, secara mendalam, sehingga kemudian dapat dikatakan sebagai seorang yang alim (orang yang berilmu), terhadang oleh berbagai persoalan.

Budaya patriarki sering kali menganggap wanita tidak layak mendapatkan pendidikan yang tinggi, dengan alasan bahwa mereka pada akhirnya mesti kembali ke urusan domestik. Hal inilah yang menyebabkan wanita hampir tidak mendapatkan prioritas dalam kesempatan pendidikan. “Lantas bagaimana seorang ibu bisa mendidik anak-anaknya bila ia tidak memiliki pendidikan yang memadai, hendak menjadi apa mereka ke depan yang nota bene generasi penerus?” kritik Prof. Huzaimah.

Islam sendiri dengan tegas mewajibkan menuntut ilmu bagi muslim dan muslimah. Sementara UU Indonesia juga mengatur wajib belajar sembilan tahun bagi warga negaranya, baik laki-laki maupun perempuan.

Kalaupun pada akhirnya wanita Indonesia saat ini memiliki kesempatan besar dalam mengakses pendidikan, budaya patriarki lagi-lagi menghambat kebebasan mereka. Kurikulum pendidikan Indonesia, menurut Prof. Huzaimah, bias gender. Contohnya, pada pelajaran Bahasa Indonesia pada Tingkat Dasar, berbagai literatur memberikan contoh: ibu memasak di dapur, ayah membaca koran. Nina bermain boneka, Andi bermain bola. “Apakah tidak ada contoh lain, yang adil gender, memasak bukan tugas perempuan semata, begitu pun membaca koran,” kata Huzaimah.

Rendahnya wanita berpendidikan juga menyebabkan rendahnya partisipasi mereka dalam kehidupan keagamaan. Di Indonesia, hanya ada beberapa nama ulama perempuan yang melengenda, sebut saja misalnya Nyai Ahmad Dahlan (1872-1946), istri pendiri Organisasi Muhammadiyah, K.H. Ahmad Dahlan.


Ia termasuk wanita yang mempelopori agar kaumnya membuang kepercayaan kolot, dengan memperjuangkan hak-hak kaum wanita yang setara dengan kaum pria.

Pengorbanannya sangat besar, terutama ketika kala itu harus menghadapi berbagai rintangan dan celaan dari kaum tua yang menganggap sepak terjangnya “terlalu bebas dan melanggar kesusilaan”.

Kemudian Rahmah El-Yunusiah (1900-1969), ulama asli Padang Panjang yang sangat alim keilmuannya. Rangkayo Rasuna Said (1910-1965), wanita asli Maninjau, Sumatera Barat, adalah pelopor gerakan kaum muda Minangkabau sekaligus pembaharu dan pemikir yang progresif.

Yang tidak kalah diperhitungkan adalah Sholihah Wahid Hasjim (1922-1994), istri K.H. A. Wahid Hasjim, putra Hadlratusy Syaikh K.H. Hasjim Asj’ari, salah seorang pendiri Nahdlatul Ulama. Keilmuannya pada masa itu sulit ditandingi, apalagi peran dan kiprahnya dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Saat ini kita mengenal Prof. Tuti Alawiyah. Putri ulama terkenal Betawi K.H. Abdullah Sya’fi’i ini dikenal sebagai muballighah sukses. Dakwahnya telah melanglang buana. Ia juga pendiri organisasi Badan Kontak Majelis Ta’lim (BKMT) Indonesia. Melalui majelis ta’im ia menyuarakan pentingnya pendidikan wanita seperti halnya pria. Salah satu prestasinya, ia pernah menjabat menteri negara pemberdayaan perempaun di era Pak Habibie.

Berikutnya yang masih sezaman dan bisa dikategorikan sebagai ulama perempuan kontemporer adalah Prof. Huzaimah T. Yanggo, M.A. Narasumber alKisah ini adalah ulama perempuan berpendidikan akademis yang sangat diperhitungkan keilmuannya. Berbagai karyanya juga telah mewarnai khazanah keislaman di Indonesia. Tidak hanya karya fiqih perbandingan, sesuai dengan bidangnya, namun juga karya tafsir, yang diselesaikan bersama kolegannya, Dr. Faizah Ali Sibromalisi, putri bungsu K.H. Ali Sibromalisi Kuningan, yang juga cucu ulama Betawi kenamaan Guru Mughni.

Deretan nama ulama perempuan tersebut belumlah berimbang dengan ulama laki-laki. “Tidak perlu melakukan penelitian untuk membuktikan hal ini. Berapa banyak perempuan yang menjadi pemuka agama, jumlahnya masih sangat di bawah ulama laki-laki. Terlebih ulama perempuan yang memiliki karya ilmiah,” kata Prof. Huzaimah.

Faktor ketiga, tantangan yang muncul dari diri sendiri. Tidak sedikit wanita merasa ragu dan kurang percaya diri dengan kemampuannya untuk tampil sebagai wanita mandiri. Ketika lingkungan telah mendukung dan mempercayai kapasitasnya sebagai pemimpin, misalnya, ia merasa tidak memiliki potensi untuk itu dan lebih memilih pasif. Ia juga tidak memiliki keberanian keluar dari jalur mainstream.

Keempat, dukungan keluarga, masyarakat, negara, dan tatanan global. Wanita telah memiliki kemampuan dan keahlian seperti pria, bahkan terkadang melebihi, sayangnya lingkungan sekitar tidak memberikan kesempatan, karena dilihat sebagai perempuan. Kesempatan itu diberikan kepada pria.

Tokoh sekaliber Prof. Huzaimah pun pernah merasakan kisah menyedihkan terkait posisinya sebagai perempuan sekitar 20 tahun silam.

Suatu ketika ia pernah diminta menggantikan koleganya untuk menghadiri undangan di sebuah lembaga ilmu pengetahuan.

“Ketika mencoba memasuki ruangan, saya dihadang oleh panitia dan diminta keluar. Alasanya, karena saya seorang perempuan.

Meski saya membawa undangan, mereka tidak menghiraukan saya. Meski telah berargumen sekian lama untuk meminta memasuki acara, tetap saja usaha saya sia-sia.

Untungnya, saya berjumpa dengan Salim Seggaf Al-Jufri, menteri sosial. Ia adalah murid saya ketika di Al-Khairat Palu, Sulawesi. Salim-lah yang mengizinkan saya masuk dan memberikan kursi, itu pun di posisi buncit,” tutur Prof. Khuzaimah mengenang.

Jelas, menurutnya, ini harus diberantas. “Tidak mudah memang. Butuh kerja sama dan bantuan semua pihak dan waktu lama. Namun kalau kita tidak memulainya saat ini, lantas tunggu kapan lagi?”

Kartini Masa Kini
Di abad ke-21 ini, secara umum dunia wanita masih terkungkung dan belum sepenuhnya merdeka. Hal tersebut juga terjadi di beberapa negeri Islam dan negeri mayoritas berpenduduk Islam, termasuk di Indonesia. Perkembangan ulama perempuan berjalan begitu lambat.

Situasi seperti ini tentunya tidak harus terjadi. Adannya ulama perempuan yang memiliki kepekaan pada hak wanita akan membuat suara dan peran perempuan, yang selama ini termarginalkan, dapat terangkat ke permukaan.

Penegakan nilai-nilai Islam di muka bumi ini sejak awal telah membawa semangat egaliter. Yakni bahwa semua manusia mempunyai hak yang sama untuk menjadi manusia yang bermartabat, termasuk mendapat pendidikan dan pengakuan akan keahliannya.

Pengakuan terhadap keulamaan perempuan dan sekaligus upaya melakukan penyemaian berangkat dari nilai kesetaraan dan keadilan, sebagai nilai fundamental Islam, agama pembawa rahmatan bagi alam semesta.

Prof. Huzaimah berharap, momentum Perayaan Hari Kartini menjadi tonggak kelahiran Kartini-Kartini masa kini, ulama perempuan yang mumpuni. Wanita pernah memiliki peran penting dalam sejarah perkembangan Islam, dan sekarang waktunya untuk kembali berperan lebih dari yang telah ada. Tentunya tetap dalam koridor Al-Qur’an dan sunnah. Semoga....
sumber alkisah.com
Baca Selengkapnya >>