Senin, 05 September 2011

Jalan Istiqomah

Syeikh Ahmad ar-Rifa’y
Diriwayatkan oleh Ummu Habibah ra, ia berkata, bahwa Rasulullah saw, bersabda:
“Tak seorang pun hamba yang muslim, sholat Lillahi Ta’ala setiap hari dua belas rekaat, sholat sunnah, bukan sholat fardlu, kecuali Allah

membangunkan rumah di dalam syurga.” (Hr. Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasa’y).

Hadits ini memotifasi untuk menegakkan ibadah-ibadah sunnah, karena ibadah sunnah salah satu bentuk taqarrub kepada Allah Ta’ala, sekalgus menjadi bekal kaum ‘arifun dalam menempuh jalan mneuju kepada Allah swt. Sekaligus menjadi perilaku kaum yang mengkhususkan (menyendiri) jiwanya di sisi Allah swt.
Anak-anak sekalian! Ketahuilah siapa yang hakikat batinnya menyendiri bersama Allah secara total, dan rahasia sirrnya benar-benar manunggal, akan terbuka seluruh tirai, segala bukti menjadi nyata, ketika musyahadah pada Cahaya Al-Haq Allah swt.
Di sanalah ia Allah menuangkan minuman dengan gelas CintaNya, hingga ia mabuk dari lainNya, segalanya menjadi riang nan ringan. Segala diamnya adalah dzikir, nafasnya adalah tasbih, kalamnya adalah penyucian, dan tidurnya adalah sholat (do’a). Sang hamba senantiasa menaiki kendaraan ma’rifat, hingga bertemu Yang Dima’rifati. Bila sudah bertemu, ia abadi selamanya bersamaNya, tidak berpaling ke lainNya.
Qalbu itu ibarat istana, dan ma’rifat adalah rajanya, akal adalah menterinya yang punya department dan instrument. Lisan sebagai penerjemah, sedangkan rahasia batinnya dari khazanah Ar-Rahman. Masing-masing konsisten dengan posisinya, sedangkan arah seluruhnya adalah istiqomahnya sirr bersama Allah swt.

Bila Sirr istiqomah, maka ma’rifat menjadi istiqomah, lalu akal menjadi lurus. Bila akal konsisten, qalbu akan konsisten. Bila qalbu konsisten, jiwa akan konsisten. Bila nafsu konsisten (dalam pengendalian), perilaku batin akan konsisten.
Sirr dicahayai oleh Sifat Jamal dan JalalNya. Akal dicahayai oleh cahaya kesadaran dan renungan pelajaran. Qalbu dicahayai oleh cahaya rasa takut dan cinta disertai kontemplasi fikiran.

Nafsu dicahayai dengan cahaya olah jiwa dan pengekangan.
Sirr adalah lautan dari samudera anugerah pemberianNya, dan gelombangnya tak terhingga, tiada henti pula. Jika Sirr konsisten bersama Allah swt, maka senantiasa akan abadi dalam musyahadah, dan sirna dari penglihatan pada Istiqomahnya.
Perlu diketahui bahwa Jalan Istiqomah (konsistensi) itu laksana tenda agung dari jalan akhirat, dan berjalan di tepinya lebih sulit disbanding jalan di tepian akhirat. Alam rahasia bias menjadi tipudaya, karena Allah swt tidak suka pada hati hamba yang masih ada cinta pada yang lain selain Dia.
Mereka tidak ingin sesuatu dari Allah kecuali Allah. Dalam sebagaian kitabNya Allah Ta’ala berfirman : “Bila yang kesibukan jiwa hambaKu lebih kepadaKu disbanding yang lain, maka Kujadikan nikmat dan hasrat ada dalam mencintaiKu, dan Aku singkapkan hijab antara diriKu dengan dirinya.” Ada seseorang sedang masuk dalam tempat Syeikh Sary as-Saqathy, lantas lelaki itu bertanya, “Manakah yang bias mendekatkan pada Allah Ta’ala, hingga sang hamba bias mendekat kepadaNya?”
Maka As-Sary menangis, lalu berkata, “Orang seperti anda ini masih bertanya seperti itu? Yang paling utama cara mendekatkan hamba kepada Allah Subhanahu wa-Ta’ala, hendaknya Allah swt, muncul di hatimu, dan anda tidak mau sama sekali pada dunia dan akhirat, kecuali hanya padaNya.”

Ibrahim bin Adham ra mengatakan, “Puncak dari hasrat dan citaku dalam hubunganku dengan Allah Ta’ala adalah, hendaknya Dia menjadikan diriku condong terus kepadaNya, hingga aku tak memandang apa pun selain Dia, dan aku tidak sibuk dengan siapa pun selain sibuk denganNya, aku tak peduli Dia jadikan diriku jadi debu, atau hilang sama sekali.”

Nabi Ibrahim as, pernah ditanya, “Dengan cara apa anda dapatkan keakraban dengan Allah Ta’ala?” “Dengan memutuskan diriku hanya kepada Tuhanku, dan pilihanku kepadaNya dibanding lainNya, serta aku tidak pernah makan kecuali bersama tamuku.”
Rabi’ah al-Bashriyah ra mengatakan :
“Oh Tuhanku, hasratku di dunia dan di akhirat nanti hanya mengingatmu, dan hasratku di akhirat dari akhirat hanya memandangMu, maka lakukanlah antara keduanya sekehendakMu.”
Abu Yazid al-Bisthamy ra menegaskan, “Rahasia batinku naik menuju Allah swt, lalu terbang dengan sayap ma’rifat dengan cahaya kecerdasan di cakrawala Wahdaniyah (KemahatunggalanNya). Tiba-tiba nafsu menghadapku dan berkata, “Kemana kau pergi? Akulah nafsumu dan engkau harus bersamaku.” Namun rahasia batinku (sirr) sama sekali tidak menoleh padanya.

Kemudian makhluk-makhluk lain menghadap sirrku, mereka bertanya, “Kemana kau pergi? Kami adalah teman dan tempat curhatmu, engkau harus bersama kami, demi solidaritas padamu!” Sirrku sama sekali tidak menoleh.
Lantas syurga dengan segenap isinya menghadap sirrku, mereka bertanya, “Kemana engkau pergi? Engkau itu bagiku dan engkau harus di sini denganku.” Maka sirrku sama sekali tidak berpaling.

Lalu anugerah dan pemberian menghadapku, begitu juga karomah-karomah, hingga melewati kerajaanNya, sampai pada kemah Fardaniyah (KetunggalanNya), lantas melampaui universalitas dan keakuan, hingga sirrku sampai di hadapan Allah swt. Dialah yang kucari!”
Allah swt berfirman kepada Nabi Musa as, “Wahai Musa! Sesungguhnya orang yang menjumpaiKu pasti tidak akan kembali dariKu, dan tidak akan kembali kecuali dari Jalan (lurusKu).” Abul Abbas nin Atha’ ra, mengatakan, “Manakala akhirat muncul dalam diri hamba, dunia menjadi sirna di sisinya, sehingga sang hamba hanya menetap di negeri keabadian. Namun manakala sang hamba berada dalam penyaksian Allah Ta’ala, segala hal selain Allah Ta’ala sirna, dan hamba abadi bersama Allah swt.” Ada lelaki di hadapan Abu Yazid ra, berkata, “Ada informasi sampai kepadaku bahwa engkau punya Ismul A’dzom, sangat senang jika engkau mengajariku.”
Abu Yazid menjawab, “Nama Allah itu tidak terbatas. Namun kosongkan hatimu hanya bagi KemahaesaanNya, meninggalkan berpaling pada selain Allah Ta’ala. Jika anda bisa demikian, raihlah Ism (Nama) mana pun yang kau kehendaki, maka dengan Isim itu anda bisa pergi dari timur hingga barat, dalam sekejap dan anda telah kembali.”

Dzun Nun al-Mishry ra, mengatakan, “Ketika aku naik haji, tiba-tiba ada anak muda mengatakan : “Oh Tuhanku, aku telah mengumpulkan tebusanMu, dan engkau Maha Tahu, lalu apa yang Engkau berlakukan pada mereka?”
Lalu kudengar suara : “TebusanKu banyak, dan yang mencariKu sedikit.” Sebagian Sufi ditanya, “Seberapakah antara Allah swt dan hambaNya?” “Empat langkah saja: Satu langkah meninggalkan dunia; satu langkah meninggalkan makhluk; satu langkah meninggalkan nafsu; dan satu langhkah meninggalkan akhirat, maka sang hamba sudah dihadapan Allah swt.” Jawabnya.
Sarry ra berkata, “Siapa yang bangkit untuk taat kepada Allah Ta’ala tanpa ada yang lain, Allah akan memberi minuman dari mata air cinta dariNya, dan dihantar menuju tempat yang benar.”

Sayyidina Ali Karromallahu Wajhah mengatakan, “Orang arif manakala keluar dari dunia tak ada pemandu maupun penyakdi di hari kiamat, tidak ada Malaikat Ridlwan di syurga, juga tidak ada Malaikat Malik di neraka.”
Beliau ditanya, “Lalu dimana sang arif di jumpai?”
“Di hadapan Allah Yang Maha Diraja, di tempat yang benar. Ketika mereka bangkit dari kuburnya mereka tidak bertanya-tanya, “Mana keluarga dan anakku? Mana Jibril dan Mikail? Mana syurga dan pahala?” Namun justru berkata, “Manakah Kekasihku dan kemesraan hatiku?”
Qalbu kaum airfin punya mata Yang memandang apa yang tak biasa dipandang manusia Sedangkan lisannya berkata dengan rahasia batinnya
munajat dari malaikat-malaikat mulia di sisiNya yang mencatat :
Sayap-sayap yang terbang tanpa bulu
Hinggap di sisi Rabbul ‘alamin.
Lalu bagai gembalaan di taman suci menari
Dan meminum dari lautan para RasulNya
Para hamba yang menuju kepadaNya
Hingga mendekat, sampai bertemu denganNya.
//www.sufinews.com/
Baca Selengkapnya >>

Suci Badan Suci Qalbu

Syeikh Ahmad ar-Rifa’y
Rasulullah saw, bersabda:
“Apabila diantara kalian berangkat menuju sholat Jum’at hendaknya lebih dahulu mandi.” (H.r. Muslim) Hadits mulia ini mengandung rahasia munajat agung di baliknya. Karena seorang hamba ketika sholat bermunajat dan ber-musyahadah kepada Tuhannya apalagi di hari Jum’at, sungguh merupakan musyahadah paling agung.

Hakikat Mandi
Bermandi di sini merupakan metaphor untuk mandi qalbu dan badan dan seluruh anggota fisik yang merupakan anjuran syariat. Tentu saja di dalamnya ada rahasia dibalik rahasia bermandi. Setiap anjuran syariat senantiasa ada makna batin hakikat di dalamnya, sekaligus makna lahir, yang tak bisa dijangkau oleh akal. Menyerahkan sepenuhnya segala perkara kepada Allah Swt.

Anak-anak sekalian….Siapa yang memandang kebajikan aturan Allah Ta’ala, kelembutan dan keparipurnaan Kuasanya atas segalanya, berarti ia akan mengetahui bahwa Allah Ta’ala itu berdiri dengan sendiriNya atas apa yang dilakukanNya, menggerakkan hambaNya dengan TanganNya, membolak-balik hati mereka menurut kehendakNya, kebahagiaan
dan kebinasaan mereka, karena aturan kehendakNya sudah mendahului, tak ada yang menolak rencanaNya dan tidak ada yangmengadili hukumNya.

Apabila hal itu benar-benar maujud, sang hamba akan bergantung penuh kepada Allah Ta’ala, menyerahkan sepenuh jiwanya dan teguh dengan pijakan rasa tak berdaya, hingga yang tersisa hanyalah “tiada daya dan kekuatan, tiada ikhtiar dan dan keterkaitan, tak ada upaya mengatur maupun bertanya.

Karena sesungguhnya riangnya di dunia dan di akhirat hanyalah bergantung kepada Allah Ta’ala. Dan susahnya dunia terletak pada ketergantungannya pada selain Allah Ta’ala, dan melihat daya dan kekuatannya pada diri sendiri. Ingatlah firman Allah Ta’ala kepada NabiNya ‘alaihishsolaatu was-salam:
“Katakan, “”Aku tidak punya kemampuan terhadap diriku, baik yang berguna maupun yang membahayakan, kecuali apa yang dikehendaki Allah.”

Begitu pula bagaimana Allah Ta’ala memberlakukan pada Nabi Musa as ketika sedang bingung, “Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku dan saudaraku…” (Al-Maidah 25)

Dikatakan, mengenai firman Allah Ta’ala, kepada Nabi Musa as, ”Maka lepaskanlah kedua sandalmu…” maksudnya adalah lepaskanlah keluarga dan anakmu dan segala hal selain Allah Ta’ala, dari hatimu. Allah bertanya kepada Nabi Musa as, “Apa yang ada di tangan kananmu wahai Musa?” Maka Musa menjawab, “itulah tongkatku…” dimana Nabi Musa as, menyandarkan tongkat pada dirinya. Allah Ta’ala bertanya,
“Apa yang akan kau perbuat dengan tongkat itu?” Musa menjawab,
“Aku pakai sebagai pegangan.”

Maka Allah Swt, memerintahkan kepadanya, “Lemparkanlah wahai Musa!” Maka beliau melemparkan tongkat itu, tiba-tiba berubah menjadi ular yang melata.
Allah Ta’ala berfirman kepada Musa as, “Hai Musa! Apa yang kau katakan “ini sebagai pegangan” telah menjadi musuhmu, karena engkau telah berpegang pada selain DiriKu.

Lalu Nabi Musa as, kembali kepada Allah Ta’ala, dan ketika Allah mengetahui kembalinya Musa, “Allah Swt berfirman, ambillah tongkat itu dan jangan takut!”.
Sedangkan Allah Swt, berfirman kepada Nabi kita saw, “Katakan Muhammad, tiada yang menimpa kami kecuali yang sudah ditulis Allah
pada kami.”

Bergantung pada Allah Ta’ala
Allah Ta’ala berfirman dalam hadits qudsi: “Tak seorang hamba pun yang turun padanya cobaan, lalu bergantung pada makhluk bukan padaKu, melainkan Aku memtuskan anugerah-anugerah langit dari tangannya dan Aku bebankan masalahnya pada dirinya.”

Siapa yang mendapatkan cobaan lalu bergantung pasdaKu bukan pada makhlukKu, melainkan Aku berikan padaNya sebelum ia meminta kepadaKu, dan Aku mengijabahi sebelum ia mendoa kepadaKu.”
Sebuah riwayat sampai pada kami, bahwa Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi Dawud as, “Demi kemuliaan dan kebesaranKu, dan demi keagunganKu dan ketinggianKu di atas segala makhlukKu, bahwa tak seorang pun hamba yang bergantung padaKu bukan pada makhlukKu, dan aku tahu ketergantungan itu dari hatinya, maka ketika langit sampai ketujuh hingga para penghuninya, dan bumi sampai lapis tujuh dan seluruh penghuninya sedang merekadaya padanya, melain Aku memberi jalan keluar padanya.”
“Demi kemuliaan dan kebesaranKu, dan demi keagunganKu dan ketinggianKu di atas segala makhlukKu, bahwa tak seorang pun hamba yang bergantung pada makhlukKu bukan padaKu, dan aku tahu ketergantungan itu dari hatinya, kecuali Aku putus dirinya dari sebab-sebab yang menyelesaikannya, kemudian Aku tak peduli di lembah mana Aku binasakan Dia, dan Aku penuhi hatinya kesibukan, ambisi, angan-angan yang tak pernah sampai selama-salamanya.”

Dalam hadits dijelaskan, “Siapa yang bergantung kepada Allah dan memohon kepada Allah, maka manusia akan butuh kepadanya, dan dari lisannya terucapkan hikmah, serta ia dijadikan sebagai raja dunia akhirat. Sedangkan siapa yang bergantung kepada makhluk, bukan pada Allah Ta’ala, serta membebankan ketergantungan itu di hatinya, maka Allah Swt, menyiksanya, dan ia diputus dari sebab-sebab instrument dunia akhirat!”.

Dalam riwayat dikatakan, “Kosongkanlah dirimu dari kesusahan dunia semaksimalmu. Dan menghadaplah kepada Allah Ta’ala dengan hatimu, dan bergantunglah kepadaNya dalam segala urusanmu. Karena seorang hamba ketika menghadap kepada Allah Ta’ala dengan qalbunya,
Allah menghadapkan hati para hambaNya kepadaNya. Dan siapa yang bergantung kepada Allah, maka Allah Swt mencyukupi seluruh biayanya.”

Yahya bin Mu’adz ra ditanya, “Kapankah seseorang itu disebut bergantung kepada Allah Swt?”
“Ketika seseorang itu putus hatinya dari ketergantungan dengan segalanya, apakah ia punya maupun tidak, serta ia pun ridlo kepada Allah Ta’ala sebagai waki (tempat berserahnya),” jawabnya.
Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi Dawud as, “Tak ada satu pun hamba yang beribadah kepadaNya, dan tak seorang pun yang taqarrub, yang lebih utama bagiKu ketimbang bergantung dan pasrah padaKu.”
Amir bin Qais ra berkata kepada salah satu ‘arifin, “Doakan kepada Allah untukku.”

Sang arif berkata, “Anda benar-benar minta tolong kepada orang yang lebih lemah dibanding anda sendiri? Taatlah pada Allagh Ta’ala, bergant7unglah padaNya, maka Allah Ta’ala akan memberikan yang lebih besar ketimbang yang diminta oleh para pemohon.”

Dalam wahyu yang diturunkan kepada Nabi Musa as, disebutkan, “Bila engkau ingin menjadi pemimpin dunia, dan menjadi pangeran dalam pandangan yang luhur, maka pasrah totallah dirimu pada perintahKu dan ridlo atas hukumKu.”
Al-Fudhail bin Iyadh ra, mengatakan, “Aku sungguh malu untuk mengatakan kepada Allah, bahwa aku ini bergantung kepada Allah. Karena orang yang bergantung kepada Allah Ta’ala, ia tidak pernah takut kepada selainNya, tidak pernah berharap selain Dia, dan hatinya putus dari gantungan dunia akhirat”.
Ditafsirkan mengenai arti firman Allah Ta’ala, “Inna Lillah” artinya adalah kami sebagai hamba Allah dan perangkatNya, berada dalam bolak balik kehendakNya dan ketentuanNya, setrta gerak gerik hamba ada di TanganNya.

“Inna Ilaihi Rooji’un” kami ridlo kepadaNya, pasrah padaNya, bergantung denganNya dan pasrah total hanya kepadaNya.
Diriwayatkan, bahwa Allah Ta’ala, berfirman kepada Nabi Musa as, “Pergilah ke Fir’aun sesungguhnya ia telah ingkar!”

Lantas Nabi Musa as, menyela, “Oh Tuhanku, bagaimana dengan kambing-kambingku dan anak isteriku?”
Allah Ta’ala berfirman, “Kalau engkau menemukanKu, maka manalagi yang akan engkau perbuat selain kepadaKu? Hai Musa! Berangkatlah, dan bergantunglah padaKu dan pasrah totallah hanya padaKu, serahkan urusanmu kepadaKu. Karena Aku jadikan harimau sebagai penggembala atas kambing-kambingmu dan para malaikat menjaga keluargamu.

Hai Musa ! Siapakah yang menyelamatkan dirimu dari Nil itu, hingga ditemukan oleh ibumu di sana? Siapakah yang mengembalikan dirimu pada bundamu setelah itu? Siapakah yang menyelamatkanmu dari musuhmu Fir’aun ketika engkau membunuh seseorang? Siapakah yang menyelamatkanmu dari Fir’aun ketika engkau melintasi sahara?”

Nabi Musa as, menjawab semuanya, “Engkau…Engkau….”
Ketahuilah siapa yang bergantung kepada selain Allah Swt, atau apa pun selain Allah maka orang itu terhinakan, keluar dari garis kehambaan. Karena batas kehambaan itu adalah: Menyerahkan upaya pilihannya kepada Sang Maha Perkasa.

Allah Ta’ala berfirman:
“Dan Tuhanmulah Yang Mencipta Yang DikehendakiNya dan Memilihkan,
tak ada bagi mereka pilihan.”
“Apa yang dibuka oleh Allah kepada manusia dari rahmat, maka tak satu pun bias menghadangnya.”
“Dan jika Allah menghalanginya atas suatu bahaya, tak seorang pun bisa mencegahnya kecuali Dia.”
“Katakan, tak satu pun musibah yang menimpa kami melainkan Allah sudah menentukan bagi kami.”
“Dan siapa yang pasrah total kepada Allah, maka Dia mencukupinya.”

Ketahuilah bahwa ubudiyah itu terbangun atas sepuluh dasar:
Bergantung kepada Allah Ta’ala dalam segala hal,
Ridlo kepada Allah Ta’ala dalam segalanya.
Kembali kepada Allah Ta’ala dalam segalanya.
Butuh kepada Allah Ta’ala di dalam segalanya.
Mengembalikan hati kepada Allah Ta’ala dalam segalanya.
Sabar bersama Allah dalam segalanya.
Memutuskan diri hanya kepada Allah dalam segala hal.
Istiqomah bersama Allah dalam segala hal.
Menyerahkan total kepada Allah Ta’ala dalam segala hal.
Pasrah segalanya dalam semua hal.
www.sufinews.com/
Baca Selengkapnya >>

Kamis, 25 Agustus 2011

Hawa Nafsu Dan Kesamaran jalan


TIDAK DIKHUATIRKAN ATAS KAMU SAMARNYA JALAN YANG KAMU TEMPUHI, TETAPI YANG DIKHUATIRKAN ADALAH KEMENANGAN HAWA NAFSU ATAS KAMU.

Orang yang mendapat keinsafan untuk kembali kepada Allah s.w.t selalunya menghadapi kebingungan dalam memilih jalan menuju Allah s.w.t. Kebingungan dan kekeliruan akan bertambah jika seseorang itu cenderung untuk memasuki aliran tarekat Percanggahan pendapat ulama dalam masyarakat membuatnya tidak dapat memutuskan siapakah yang benar. Satu pihak mendabik dada mengatakan bahawa mereka yang benar, dan pihak lain adalah salah. Mereka adalah ahli sunah sementara pihak lain adalah ahli bidaah. Menurut mereka, ilmu mereka yang Islamik, sementara ilmu pihak lain adalah sesat. Tarekat merekalah yang sampai kepada Rasulullah s.a.w sementara tarekat orang lain putus di tengah jalan. Jadi, siapakah yang berada di atas jalan yang benar lagi lurus? Jalan manakah yang mahu diikuti? Keadaan yang demikian membuat orang yang baharu untuk memilih jalan mengalami kebingungan dan kekeliruan.

Bagi mengelakkan kebingungan dan kekeliruan tersebut dan mencari penyelesaiannya, Kalam Hikmat 117 di atas menarik perhatian kepada persoalan pokok. Jangan terlalu khuatir tentang jalan mana yang mahu dipilih dan guru mana mahu diikuti. Apa yang penting adalah berwaspada agar diri kita tidak ditawan oleh nafsu. Sekiranya hawa nafsu menawan kita nescaya kita akan sesat walau jalan mana yang kita lalui dan guru mana kita ikuti. Hawa nafsu menyekat cahaya petunjuk dari masuk ke dalam hati. Bila hati dilengkungi oleh tembuk hawa nafsu tidak ada guru yang boleh memasukkan ilmu ke dalam dada kita dan tidak ada jalan yang dapat menetapkan langkah kita. Dengan ini, seelok-eloknya perhatian mesti diberi kepada latihan mengawal hawa nafsu. Bila hawa nafsu sudah terkawal, insya-Allah jalan kebenaran akan terbuka kepada kita. Sekiranya kita sedang mengikuti jalan yang salah, diheret oleh guru yang sesat, tetapi hawa nafsu tidak menawan kita, kita akan mudah menerima kebenaran bila ia datang. Dan, kita tidak keberatan untuk meninggalkan jalan yang salah dan guru yang sesat itu untuk mengikuti jalan yang lurus dan guru yang benar. Apa yang penting adalah maksud dan tujuan hendaklah betul. Tetapkan yang Allah s.w.t sahaja yang menjadi maksud dan tujuan. Jika belajar ilmu agama janganlah kerana bertujuan mahu menjadi guru yang dikagumi. Jika beramal ibadat jangan pula kekeramatan yang dituntut. Tetapkan haluan menuju Allah s.w.t. Jika kita berpegang dengan prinsip demikian mudahlah kita mencari guru yang benar dan jalan yang lurus. Guru mana pun boleh diikuti asalkan dia mengajar ilmu yang dari al-Quran dan as-Sunah, berpandu kepada perjalanan khalifah ar-rasyidin dan guru itu sendiri beramal mengikut ilmu tersebut. Tarekat yang mana pun boleh diikuti asalkan ia berada dalam sempadan al-Quran dan as-Sunah, jangan mengadakan bidaah. Pada sepanjang masa bukakan hati untuk menerima taufik dan hidayat dari Allah s.w.t.

Seharusnya tidak terjadi kekeliruan dalam memilih jalan kerana Islam sudah cukup lengkap, nyata dan tidak ada samar-samar. Tarekat Islam adalah zahir sibuk dengan syariat dan batin memperteguhkan iman. Hati bersandar kepada Allah s.w.t dan mata hati memerhatikan Rububiyah dalam segala perkara dan pada setiap ketika. Jangan bersandar kepada amal dan ilmu. Perhatikan firman-firman-Nya:


Dan orang-orang Yahudi berkata: “Uzair ialah anak Allah”. Dan orang-orang Nasrani berkata: “ Al-Masih ialah anak Allah”. ( Ayat 30 : Surah at-Taubah


Mereka menjadikan pendeta-pendeta dan ahli-ahli agama mereka sebagai pendidik-pendidik selain dari Allah. ( Ayat 31 : Surah at-Taubah )


Bahkan mereka adalah menyembah jin syaitan. ( Ayat 41 : Surah Saba’ )


Nampakkah (wahai Muhammad) keburukan keadaan orang yang menjadikan hawa nafsunya: tuhan yang dipuja lagi ditaati? ( Ayat 43 : Surah al-Furqaan )


Katakanlah (wahai Muhammad): “Jika bapa-bapa kamu, dan anak-anak kamu, dan saudara-saudara kamu, dan isteri-isteri (atau suami-suami) kamu, dan kaum keluarga kamu, harta benda yang kamu usahakan, dan perniagaan yang kamu bimbang akan merosot, dan tempat tinggal yang kamu sukai, - (jika semuanya itu) menjadi perkara-perkara yang kamu cintai lebih daripada Allah dan Rasul-Nya dan (daripada) berjihad untuk agama-Nya, maka tunggulah sehingga Allah mendatangkan keputusan-Nya (azab seksa-Nya); kerana Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasiq (derhaka)”. ( Ayat 24 : Surah at-Taubah )

Allah s.w.t telah menunjukkan jalan yang jelas. Syirik juga telah diperjelaskan. Seharusnya tidak terjadi kebingungan dalam mengatur langkah menuju Allah s.w.t. Jalan yang terang benderang itu akan menjadi samar sekiranya hawa nafsu menguasai hati. Oleh itu peliharalah hati kita agar kita tidak menjadi hamba kepada hawa nafsu yang akan membinasakan kita.
http://alhikam0.tripod.com/hikam117.html



Baca Selengkapnya >>

ZAHID DAN RAGHIB





BUKAN SEDIKIT (NILAINYA) AMAL YANG KELUAR DARI HATI SI ZAHID, DAN TIDAK BANYAK (NILAINYA) AMAL YANG KELUAR DARI HATI SI RAGHIB.

Kita telah diajak keluar dari alam kepada Pencipta alam, berhijrah kepada Allah s.w.t dan Rasul-Nya. Kita diajar supaya memilih sahabat yang dapat membangkitkan semangat untuk berjuang pada jalan Allah s.w.t dan berbuat taat kepada-Nya. Hikmat 55 ini memberi gambaran apakah hijrah rohani itu akan berjaya atau gagal. Alat untuk menilainya ialah dunia. Bagaimana kedudukan dunia di dalam hati akan mempengaruhi perjalanan kerohanian.

Manusia terdiri dari dua unsur iaitu tubuh kasar dan hati seni. Gabungan dua unsur tersebut membuat manusia boleh berfungsi sebagai cermin yang boleh membalikkan wajah yang memandang kepadanya. Tubuh kasar adalah umpama muka cermin yang gelap dan hati seni pula umpama muka cermin yang terang. Gabungan badan yang gelap dan hati yang terang menyebabkan manusia berkebolehan untuk menerima pancaran Nur Ilahi atau disebut juga menerima tajalli, iaitu melihat sesuatu tentang Allah s.w.t dengan mata hati. Malaikat hanya mempunyai tubuh yang terang dan binatang pula hanya mempunyai badan yang gelap. Makhluk yang mempunyai hanya satu jenis badan tidak sesuai untuk menjadi cermin yang menerima sinaran Nur Ilahi.

Manusia dalam keadaan keasliannya berkebolehan menerima sinaran Nur Ilahi, iaitu menerima tajalli Allah s.w.t. Tetapi, keadaan yang asli itu tertutup, terpendam atau tertimbus kerana manusia hidup dalam dunia. Dunia menjadi anasir yang merosakkan keharmonian gabungan badan yang gelap dengan hati yang terang.

Di dunia wujud satu makhluk bangsa jin yang dijadikan daripada cahaya api dan dinamakan syaitan. Cahaya api ini berkebolehan untuk menyelinap masuk ke dalam badan manusia yang gelap dan mengubah suasananya sehingga hilang fungsinya sebagai cermin yang menahan cahaya. Oleh sebab gangguan cahaya api itulah hati manusia tidak dapat menerima sinaran Nur Ilahi. Nur Ilahi yang memancarkan tanda-tanda, peringatan dan sebagainya tidak melekat pada cermin hati, sebaliknya cahaya tersebut menyeberang keluar. Walaupun nabi-nabi membacakan ayat-ayat Allah s.w.t dan memperlihatkan mukjizat, tetapi hati yang demikian tidak dapat menerimanya. Apa yang datang itu berlalu begitu sahaja tidak terlekat pada hati. Manusia yang demikian, yang kebolehannya yang asli terganggu itu dinamakan si raghib.

Hati si raghib yang sudah menjadi cermin yang tembus cahaya, akan menerima kedatangan kebenaran secara samar-samar kerana yang sejati tidak melekat pada cerminnya. Kesamaran itu akan menimbulkan keraguan dan sangkaan. Dalam keadaan demikian si raghib tidak lagi melihat kebenaran yang asli. Sangkaan telah menggubah ‘kebenaran’ yang dilihat oleh si raghib itu. Bila cahaya yang asli tidak melekat pada hati, syaitan memainkan peranannya dengan memancarkan cahayanya kepada hati untuk menambahkan kesamaran dan kekeliruan . Hasilnya muncullah jelmaan yang mengambil alih tempat kebenaran. Jelmaan itulah yang dianggap sebagai kebenaran oleh si raghib. Dalam suasana demikian, sekiranya dia beramal, maka amalannya berpandukan kepada jelmaan yang dipancar oleh syaitan bukan bersumberkan kebenaran yang asli. Walaupun banyak amal yang dilakukannya namun, tidak ada yang menepati dengan yang benar, dan tidak ada nilainya.

Orang yang mendapat petunjuk dari Allah s.w.t menyedari kesilapan yang berlaku kepada si raghib, dan dia akan berusaha untuk mengembalikan keaslian dirinya dengan memisahkan hatinya dari dunia dan cahaya api yang menerangi dunia. Dia berusaha untuk keluar dari dunia. Keluar dari dunia bukan bermakna mati. Maksudnya ialah mengwujudkan suasana hati yang tidak ada dunia di dalamnya. Ketika membincangkan Kalam Hikmat 51 telah disentuh tentang cara-cara melepaskan diri dari penjara dunia. Apabila dunia tidak mampu lagi mengenakan tipu daya, seseorang manusia itu akan kembali kepada keasliannya yang berkebolehan menangkap kebenaran. Tidak ada lagi kesamaran dan jelmaaan yang mengganggu hatinya. Apa yang datang kepada hatinya adalah kebenaran yang sejati, tidak dibayangi oleh kepalsuan. Orang yang telah bebas dari penjara dunia itu dinamakan zahid yang bersifat zuhud Si zahid melihat sesuatu sebagaimana semestinya dilihat. Apabila dia beramal maka amalnya bertepatan dengan sebagaimana yang mesti diamalkan. Apa juga amal yang keluar daripadanya adalah amal yang benar dan tidak sia-sia. Sebab itu tidak boleh dianggap sedikit amal yang keluar dari si zahid.

Hati hendaklah bebas daripada kasihkan dunia, kemegahan dan kemuliaannya. Kepentingan duniawi akan menghilangkan sifat ikhlas daripada hati. Orang yang ikhlas, walaupun hidup dalam dunia, melakukan kebaikan kepada makhluk Allah s.w.t tanpa memandang kepada apa juga tawaran yang dibuat oleh dunia. Hubungan amalan yang ikhlas dengan Tuhan adalah ketaatan bukan kepentingan. Hamba melakukan kebaikan dan kebajikan atas dasar melakukan pengabdian kepada Allah s.w.t.

Dan (ingatlah) Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk mereka menyembah dan beribadat kepada-Ku. ( Ayat 56 : Surah adz-Dzaariyaat )


Padahal mereka tidak diperintahkan melainkan supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan ibadat kepada-Nya, lagi tetap teguh di atas tauhid; dan supaya mendirikan sembahyang serta memberi zakat. Dan yang demikian itulah Agama yang benar. ( Ayat 5 : Surah al-Bayyinah )

Hamba yang mengabdikan diri kepada Allah s.w.t melakukan segala pekerjaan dengan ikhlas kerana Allah s.w.t. Mereka tidak mempersekutukan amal mereka dengan sesuatu, baik anasir alam mahupun kepentingan diri sendiri. Merekalah hamba Allah s.w.t yang hanif, yang sentiasa berpegang kepada kebenaran. Kehanifan itu menjadi kemudi pada hati mereka. Hati akan segera memberontak jika kebenaran diperkosakan. Bila hati sudah dikemudikan oleh sifat hanif, haluan akan lari daripada kesesatan. Diri yang demikian akan dipenuhi oleh ketaatan kepada Allah s.w.t. Jadi, ikhlas, tidak berbuat kemusyrikan dan kesesatan, hanif dan mentaati Allah s.w.t adalah agama yang sebenarnya.

Ahli-ahli sufi bersepakat bahawa jika diisikan dunia ke dalam hati pasti tidak akan ditemui Allah s.w.t, dan sekiranya Allah s.w.t bertempat di hati pasti tidak ada dunia di dalamnya. Orang yang memiliki hati yang diisikan dengan Allah s.w.t semata-mata adalah orang yang benar-benar berjiwa besar. Orang yang meletakkan dunia di atas takhta kerajaan hatinya adalah orang yang cuba menipu Allah s.w.t dan kaum muslimin seluruhnya.
http://alhikam0.tripod.com/hikam055.html
Baca Selengkapnya >>

Puasa Sufi Imam Al-Ghazaly

Sesungguhnya ada tiga tingkatan puasa: biasa, khusus dan sangat khusus.
Puasa biasa, maksudnya adalah menahan diri terhadap makan, minum dan hubungan biologis antara suami istri dalam jangka waktu tertentu.
Puasa khusus, maksudnya adalah menjaga telinga, mata, lidah, tangan serta kaki dan juga anggota badan lainnya dari berbuat dosa.



Sedang puasa yang sangat khusus, maksudnya adalah puasa hati dengan mencegahnya dari memikirkan perkara perkara yang hina dan duniawi, yang ada hanyalah mengingat Allah swt. dan akhirat. Jenis puasa demikian dianggap batal bila sampai mengingat perkara perkara duniawi selain Allah dan tidak untuk akhirat. Puasa yang dilakukan dengan mengingat perkara perkara duniawi adalah batal, kecuali mendorong ke arah pemahaman agama, karena ini merupakan tanda ingat pada akhirat, dan tidak termasuk pada yang bersifat duniawi.

Mereka yang masuk ke dalam tingkatan puasa sangat khusus akan merasa berdosa bila hari-harinya hanya terisi dengan hal hal yang dapat membatalkan puasa. Rasa berdosa ini bermula dari rasa takyakin terhadap karunia sertajanji Allah swt. untuk mencukupkan (dengan) rezeki Nya.
Untuk tingkatan ketiga ini adalah milik atau hanya dapat dicapai oleh para Rasul, para wali Allah dan mereka yang selalu berupaya mendekatkan diri kepada Nya. Tidaklah cukup dilukiskan dengan kata-kata, karena hal tersebut telah menjadi nyata dalam tindakan (aksi). Tujuan mereka hanyalah semata mata mengabdi (berdedikasi) kepada Allah swt, mengabaikan segala sesuatu selain Dia. Terkait dengan makna firman Allah swt, "Katakanlah, Allah! Kemudian biarkanlah mereka bermain main dalam kesesatannya.” (Q s. 6: 91).

Syarat-syarat Batin
Puasa khusus adalah jenis ibadah yang diamalkan sebagaimana oleh orang orang saleh. Puasa ini bermakna menjaga seluruh organ tubuh manusia agar tidak melakukan dosa dan harus pula memenuhi keenam syaratnya:

1. Tidak Melihat Apa yang Dibenci Allah Swt.
Suatu hal yang suci, menahan diri dari melihat sesuatu yang dicela (makruh), atau yang dapat membimbangkan dan melalaikan hati dari mengingat Allah swt. Nabi Muhammad saw. bersabda, "pandangan adalah salah satu dari panah-panah beracun milik setan, yang telah dikutuk Allah. Barangsiapa menjaga pandangannya, semata mata karena takut kepada Nya, niscaya Allah swt. akan memberinya keimanan, sebagaimana rasa manis yang diperolehnya dari dalam hati. " (H.r. al Hakim, hadis shahih). Jabir meriwayatkan dari Anas, bahwa Rasulullah saw. telah bersabda, “Ada lima hal yang dapat membatalkan puasa seseorang: berdusta, mengurnpat, menyebar isu (fitnah), bersumpah palsu dan memandang dengan penuh nafsu."

2. Menjaga Ucapan
Menjaga lidah (lisan) dari perkataan sia-sia, berdusta, mengumpat, menyebarkan fitnah, berkata keji dan kasar, melontarkan kata kata permusuhan (pertentangan dan kontroversi); dengan lebih banyak berdiam diri, memperbanyak dzikir dan membaca [mengkaji] al-Qur'an. Inilah puasa lisan. Said Sufyan berkata, "Sesungguhnya mengumpat akan merusak puasa! Laits mengutip Mujahid yang berkata, 'Ada dua hal yang merusak puasa, yaitu mengumpat dan berbohong."
Rasulullah saw. bersabda, "Puasa adalah perisai. Maka barangsiapa di antaramu sedang berpuasa janganlah berkata keji dan jahil, jika ada orang yang menyerang atau memakimu, katakanlah, Aku sedang berpuasa! Aku sedang berpuasa'!" (H.r. Bukhari Muslim).

3. Menjaga Pendengaran
Menjaga pendengaran dari segala sesuatu yang tercela; karena setiap sesuatu yang dilarang untuk diucapkan juga dilarang untuk didengarkan. Itulah mengapa Allah swt. tidak membedakan antara orang yang suka mendengar (yang haram) dengan mereka yang suka memakan (yang haram). Dalam al Qur'an Allah swt. berfirman, "Mereka gemar mendengar kebohongan dan memakan yang tiada halal." (Q.s. 5: 42).
Demikian juga dalam ayat lain, Allah swt. berfirman, "Mengapa para rabbi dan pendeta di kalangan mereka tidak melarang mereka dari berucap dosa dan memakan barang terlarang?" (Q.s. 5: 63).

Oleh karena itu, sebaiknya berdiam diri dan menjauhi pengumpat. Allah swt. berfirman dalam wahyu Nya, 'Jika engkau (tetap duduk bersama mereka), sungguh, engkaupun seperti mereka ..." (Q.s. 4: 140). Itulah mengapa Rasulullah saw. mengatakan, "Yang mengumpat dan pendengarnya, berserikat dalam dosa." (H.r. at Tirmidzi).

4. Menjaga Sikap Perilaku
Menjaga semua anggota badan lainnya dari dosa: kaki dan tangan dijauhkan dari perbuatan yang makruh, dan menjaga perut dari makanan yang diragukan kehalalannya (syubhat) ketika berbuka puasa. Puasa tidak punya arti apa apa bila dilakukan dengan menahan diri dari memakan yang halal dan hanya berbuka dengan makanan haram. Barangsiapa berpuasa seperti demikian, bagaikan orang membangun istana, tetapi merobohkan kota. Makanan yang halal juga akan menimbulkan kemudharatan, bukan karena mutunya tetapi karena jumlahnya. Maka puasa dimaksudkan untuk mengatasi hal tersebut. Karena didera kekhawatiran, atau karena sakit yang berkepanjangan, seseorang dapat memakan obat secara berlebihan.
Tetapi jelas tidak masuk akal jika kemudian ada yang menukar obat dengan racun. Makanan haram adalah racun berbahaya bagi kehidupan beragama; sedang makanan halal ibarat obat, yang akan memberikan kemanfaatan apabila dimakan dalam jumlah cukup, tidak demikian halnya dalam jumlah berlebihan. Memang, tujuan puasa adalah mendorong lahirnya sikap pertengahan.

Bersabda Rasulullah saw, "Betapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan sesuatu, kecuali lapar dan dahaga saja!" (H.r. an Nasa'i, Ibnu Majah). Ini ada yang mengartikan pada orang yang berpuasa namun berbuka dengan makanan haram. Tetapi ada pula yang menafsirkan dengan orang yang berpuasa, yang menahan diri dari makanan halal tetapi berbuka dengan daging dan darah manusia, dikarenakan mereka telah merusak puasanya dengan mengumpat orang lain. Lainnya lagi menafsirkan bahwa mereka ini berpuasa tetapi tidak menjaga anggota tubuhnya dari berbuat dosa.
5. Menghindari Makan Berlebihan
Berbuka puasa dengan makan yang tidak berlebihan, sehingga rongga dadanya menjadi sesak. Tidak ada kantung yang lebih tidak disukai Allah swt. selain perut yang penuh (berlebihan) dengan makanan halal. Dapatkah puasa bermanfaat sebagai cara mengalahkan musuh Allah swt. dan mengendalikan hawa nafsu, bila kita berbuka menyesaki perut dengan apa yang biasa kita makan siang hari? Terlebih lagi, biasanya di bulan puasa masih disediakan makanan tambahan, yang justru di hari-hari biasa tidak tersedia.

Sesungguhnya hakikat puasa adalah melemahkan tenaga yang biasa dipergunakan setan untuk mengajak kita ke arah kejahatan. Oleh sebab itu, lebih penting (esensial) bila mampu mengurangi porsi makan malam dalam bulan Ramadhan dibanding malam malam di luar bulan Ramadhan, saat tidak berpuasa. Karenanya, tidak akan mendapatkan manfaat di saat berpuasa bila tetap makan dengan porsi makanan yang biasa dimakan pada hari hari biasa. Bahkan dianjurkan mengurangi tidur di siang hari, dengan harapan dapat merasakan semakin melemahnya kekuatan jasmani, yang akan mengantarkannya pada penyucian jiwa.

Oleh karena itu, barangsiapa telah "meletakkan" kantung makanan di antara hati dan dadanya, tentu akan buta terhadap karunia tersebut. Meskipun perutnya kosong, belum tentu terangkat hijab (tabir) yang terbentang antara dirinya dengan Allah, kecuali telah mampu mengosongkan pikiran dan mengisinya dengan mengingat kepada Allah swt. semata. Demikian adalah puncak segalanya, dan titik mula dari semuanya itu adalah mengosongkan perut dari makanan.

6. Menuju kepada Allah Swt. dengan Rasa Takut dan Pengharapan
Setelah berbuka puasa, selayaknya hati terayun ayun antara takut (khauf) dan harap [raja']. Karena siapa pun tidak mengetahui, apakah puasanya diterima sehingga dirinya termasuk orang yang mendapat karunia Nya sekaligus orang yang dekat dengan Nya, ataukah puasanya tidak diterima, sehingga dirinya menjadi orang yang dicela oleh Nya. Pemikiran seperti inilah yang seharusnya ada pada setiap orang yang telah selesai melaksanakan suatu ibadah.

Dari al Hasan bin Abil Hasan al Bashri, bahwa suatu ketika melintaslah sekelompok orang sambil tertawa terbahak bahak. Hasan al Bashri lalu berkata, 'Allah swt. telah menjadikan Ramadhan sebagai bulan perlombaan. Di saat mana Para hamba Nya saling berlomba dalam beribadah. Beberapa di antara mereka sampai ke titik final lebih dahulu dan menang, sementara yang lain tertinggal dan kalah. Sungguh menakjubkan mendapati orang yang masih dapat tertawa terbahak bahak dan bermain di antara (keadaan) ketika mereka yang beruntung memperoleh kemenangan, dan mereka yang merugi memperoleh kesia-siaan. Demi Allah, apabila hijab tertutup, mereka yang berbuat baik akan dipenuhi (pahala) perbuatan baiknya, dan mereka yang berbuat cela juga dipenuhi oleh kejahatan yang diperbuatnya." Dengan kata lain, manusia yang puasanya diterima akan bersuka ria, sementara orang yang ditolak akan tertutup baginya gelak tawa.
Dari al Ahnaf bin Qais, bahwa suatu ketika seseorang berkata kepadanya, "Engkau telah tua; berpuasa akan dapat melemahkanmu." Tetapi al Ahnaf bahkan menjawab, "Dengan berpuasa, sebenarnya aku sedang mempersiapkan diri untuk perjalanan panjang. Bersabar dalam menaati Allah swt. tentu akan lebih mudah daripada menanggung siksa Nya."
Demikianlah, semua itu adalah makna signifikan puasa.

Pentingnya Memenuhi Aspek aspek (Syarat) Batin
Sekarang Anda mungkin mengatakan, "Dengan menahan makan, minum dan nafsu seksual, tanpa harus memperhatikan syarat batin itu sudah sah. Menurut pendapat para ahli fiqih juga demikian, bahwa puasa yang bersangkutan sudah dapat dikatakan memenuhi syarat, sudah sah. Lalu mengapa kita harus repot repot?"

Anda harus menyadari bahwa para ulama fiqih telah menetapkan syarat-syarat lahiriah puasa dengan dalil-dalil yang lebih lemah dibanding dalil dalil yang menopang perlunya ditepati syarat syarat batiniah. Misalnya saja tentang mengumpat dan yang sejenis. Bagaimanapun perlu diingat, bahwa para ulama fiqih memandang batas kewajiban puasa dengan hanya mempertimbangkan pada kapasitas orang awam yang sering lalai, mudah terperangkap dalam urusan duniawi.

Sedangkan bagi mereka yang memiliki pengetahuan tentang hari Akhir, akan memperhatikan sungguh-sungguh dan memenuhi dengan syarat batin, sehingga ibadahnya sah dan diterima.
Hal demikian itu mereka capai dengan melaksanakan syarat-syarat yang akan mengantarkannya pada tujuan. Menurut pemahaman mereka, berpuasa adalah salah satu cara untuk menghayati salah satu akhlak Allah Swt, yaitu tempat meminta (shamadiyyah), sebagaimana juga contoh dari para malaikat, dengan sedapat mungkin menghindari godaan nafsu, karena malaikat adalah makhluk yang terbebas dari dorongan serupa.

Sedang manusia mempunyai derajat di atas hewan, karena dengan tuntunan akal yang dimilikinya akan selalu sanggup mengendalikan nafsunya; namun ia inferior (sedikit lebih rendah) dari malaikat, karena masih dikuasai oleh hawa nafsu, maka ia pun harus mencoba untuk mengatasi godaan hawa nafsunya.

Kapan pun manusia dikuasai oleh hawa nafsunya, maka ia akan terjatuh dalam tingkatan yang terendah, sehingga tidak ada tempat lagi selain bersama hewan. Kapan pun ia mampu mengatasinya, maka ia akan terangkat ke tingkatan para malaikat. Malaikat adalah makhluk yang paling dekat dengan Allah swt, karenanya malaikat pun menjadi contoh bagi makhluk yang ingin dekat dengan Allah. Tentu dengan segala ibadah akan menjadikan diri semakin dekat dengan Nya. Hanya saja bukan dalam pengertian dekat dalam dimensi ruang, tetapi lebih pada kedekatan sifat.
Jika demikian itu adalah rahasia puasa bagi mereka yang memiliki kedalaman pemahaman spiritual, apakah manfaat menggabungkan dua (porsi) makan pada waktu berbuka, seraya memuaskan nafsu lain yang tertahan ketika siang hari. Dan kalaulah demikian, lalu apa makna Hadis Nabi saw. yang berbunyi, "Betapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapat sesuatu selain lapar dan dahaga?"

/www.sufinews.com
Baca Selengkapnya >>

Senin, 15 Agustus 2011

Puasa dalam Tinjauan Sufistis: Keutamaan Lapar dan Tercelanya Banyak Makan

Menahan lapar adalah salah satu perbuatan yang paling mulia. Jika diiringi dengan niat yang benar-benar karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, seorang hamba akan mencapai derajat yang sangat tinggi.

Setidaknya ada tujuh niat untuk mendapatkan kebaikan ketika seseorang menahan lapar. Abu Thalib Al-Makki (386 H/988 M) dalam bagian kedua kitabnya yang berjudul Ilmu al-Qulub (Ilmu Psikologi) menjelaskan tujuh niat tersebut. Sebelumnya ia menulis kitab berjudul Qut al-Qulub (Santapan Ruhani). Semua kitab Al-Makki sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Pertama, meredam dan mengendalikan hawa nafsu. Hawa nafsu perlu dikendalikan agar bisa melaksanakan berbagai ketaatan dan memenuhi perintah Tuhan, demi memperoleh ridha-Nya serta derajat yang tinggi. Allah SWT berfirman, “Adapun orang-orang yang takut pada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya.” – QS Al-Nazi’at (79): 40-41.

Al-Makki mengutip perkataan beberapa sufi terkenal, di antaranya Yahya ibn Mu’adz, yang mengungkapkan, “Seandainya kamu meminta syafa’at (pertolongan) melalui para malaikat yang tinggal di tujuh lapis langit, 124 ribu nabi, semua kitab suci, hikmah, dan para wali, supaya kamu bisa meninggalkan dunia dan menjalankan ketaatan, mereka tidak akan memenuhi permintaanmu. Tetapi, jika kamu memintanya melalui rasa lapar, ia akan memenuhi permintaanmu dan mendorongmu kepada ketaatan.”

Penjelasannya, rasa lapar mempunyai daya yang sangat besar dalam mendorong diri seseorang untuk melakukan ketaatan. Karena ia sanggup melemahkan nafsu syahwat yang selalu mendorong kepada kejelekan, betapapun kuatnya tekanan hawa nafsu itu pada diri seseorang.

Sahal ibn ‘Abdullah berujar, “Demi Allah, Yang tidak ada Tuhan selain Dia, orang-orang yang terbiasa melakukan apa yang dibenci Allah tidak akan berubah menjadi orang-orang yang melakukan apa yang dicintai Allah, kecuali dengan lapar. Manusia tidak akan menjadi manusia yang benar kecuali dengan lapar.”

Al-Hajjaj ibn Al-Gharafidhah menuturkan: Aku menemui sekelompok orang yang sedang beribadah sambil menahan lapar di Makkah. Aku bertanya kepada mereka, “Beri tahulah aku, mengapa Allah SWT memerintahkan para wali-Nya untuk berlapar-lapar.”

Mereka menjawab, “Tidaklah kamu lihat bahwa ketika hewan ternak atau unta tidak mau menuruti keinginan pemiliknya, yang dilakukan sang pemilik (supaya hewan-hewan piaraannya mau menuruti keinginannya) adalah tidak memberi makan kepada mereka. Sesungguhnya bila seorang hamba melaparkan dan mendahagakan diri, Allah SWT membanggakan hamba itu di hadapan para malaikat. Tidak ada seorang hamba yang Allah banggakan kecuali kelak di akhirat kepalanya akan dimahkotai dengan mahkota cahaya. Allah SWT mengutus para malaikat untuk membawa cahaya dan perhiasan dari yaqut merah dan kuning serta permata yang sangat indah. Mereka juga membawa kendaraan dari zamrud nan hijau. Semua itu oleh para malaikat dibawa ke makam orang-orang yang sewaktu didunia suka menahan lapar dan dahaga. Orang-orang itu kemudian dibangkitkan dari kubur lalu dinaikkan ke atas kendaraan yang telah disediakan, dan mereka pun pergi menuju Allah SWT.”

Ibrahim ibn Adham mengabarkan: Aku telah menerima suatu riwayat bahwa Iblis melihat Nabi Isa AS berlapar-lapar di malam dan siang hari. Iblis bertanya, “Mengapa kau berlapar-lapar seperti itu? Maukah kamu aku bawakan makanan?’

Nabi Isa AS menjawab, “Kamu tahu bahwa sesungguhnya jika aku berkata kepada gunung-gunung dan lembah-lembah ‘Jadilah kalian makanan atas izin Allah’, mereka pasti menjelma menjadi makanan. Kamu adalah musuhku dan hawa nafsu adalah mata-matamu yang ada padaku.”

Hawa nafsu adalah mata-mata Iblis. Hawa nafsu selalu menanggapi keinginan Iblis, dan setan selalu memuaskan keinginan hawa nafsu. Hawa nafsu juga selalu meminta bantuan Iblis untuk memudahkan apa yang diinginkannya dan Iblis selalu mengembuskan bisikannya ketika menggoda seseorang lewat hawa nafsu. Rasa lapar menutup gejolak hawa nafsu sehingga ia tidak bisa menyampaikan keinginannya kepada Iblis.

Setelah hawa nafsu tidak berdaya karena ditaklukkan oleh lapar, mucullah kemudian watak spritualitas yang siap menerima limpahan cahaya Ilahi dan beragam ilmu pengetahuan.

“Aku sedang melaparkan dan melemahkan mata-matamu, sehingga dia tidak lagi mempunyai kekuatan untuk menyampaikan berita tentang aku kepadamu. Laparku sungguh membuatmu marah sekaligus lemah dan tidak ada yang aku inginkan dari dunia selain itu (kemarahan dan kelemahanmu).”

Ibrahim ibn Ad-ham bersyair tentang lapar:

Kulihat lapar mengalahkan godaan roti nan lezat
Dan rayuan air Sungai Efrat yang mengalir bening
Kulihat lapar mendorong orang untuk shalat
Kulihat kenyang mendorong orang untuk tidur berbaring

Kedua, meneladani perilaku Rasulullah SAW dan para sahabat agar dimasukkan ke dalam kelompok mereka. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa meniru suatu kaum, ia adalah bagian dari mereka.” Ali bin Abi Thalib RA bercerita, “Suatu hari aku masuk ke rumah Rasulullah SAW. Aku lihat, beliau bertelungkup di atas tikar sambil menyembunyikan wajah. Tubuhnya terlihat lemas karena menahan lapar. Ketika itu Rasulullah SAW berdoa, ‘Dengan lapar dan dahagaku, ampunilah umatku atas dosa-dosa mereka’.”

Aisyah RA meriwayatkan, “Rasulullah SAW dan para sahabatnya biasa menahan lapar.”

Abu Hurairah RA berkata, “Kamu lihat, aku merintih di antara kuburan Nabi SAW dan mimbar karena lapar, sampai-sampai orang bilang bahwa aku ini gila. Aku bukan gila, melainkan lapar.”

Pernah suatu kali, ketika Rasulullah SAW mengimami shalat, beberapa sahabat tidak sanggup berdiri karena lapar.

Seusai shalat, Rasulullah SAW menoleh ke arah mereka dan bersabda, “Seandainya kalian tahu apa yang akan kalian dapatkan di sisi Allah SWT (karena lapar kalian), niscaya kalian akan menambah (lapar kalian).”

Ibn Abbas RA meriwayatkan: Rasulullah SAW suatu hari menjenguk seorang laki-laki Anshar yang sedang sakit. Beliau bertanya, “Apakah kamu menginginkan sesuatu?”

Laki-laki itu menjawab, “Ya, roti gandum.”

Beliau berkata, “Siapa yang memilikinya, bawalah kemari.”

Seorang laki-laki pulang dan kembali lagi sambil membawa sepotong roti, lalu diberikannya kepada laki-laki yang sedang sakit itu.

Rasulallah SAW bersabda kepada Abu Dzarr, “Sedikitlah makan dan sedikitlah bicara, kamu akan bersamaku di surga seperti dua jari ini (Beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengah).”

Beliau juga bersabda, “Sesungguhnya orang yang paling dekat tempatnya denganku di antara kalian pada hari Kiamat adalah orang yang lapar, dahaga, dan kesedihannya panjang di dunia.”
Abu Hurairah RA dan Ibn Mas’ud bersama tiga sahabat lain pada suatu hari menemui Rasulullah SAW. Mereka semua dalam keadaan lapar. Mereka berkata, “Ya Rasulullah, adakah sedikit roti? Kami lapar.”

Rasulullah SAW tidak memiliki makanan untuk mereka selain bubur gandum.

Mereka pun memakannya, tetapi tidak merasa kenyang. Mereka bertanya, “Ya Rasulullah, sampai kapankah kami dalam kelaparan?”

Beliau bersabda, “Kalian tidak akan menjadi suci dalam kelaparan, tetapi bertaqwalah kepada Allah SWT dan teruslah bersyukur. Sesungguhnya aku tidak menemukan suatu kaum yang masuk surga tanpa dihisab kecuali orang-orang yang sabar.”

Bukanlah lapar itu sendiri yang membuat seseorang suci, melainkan faktor yang mengikutinya, berupa sabar dan taqwa. Itulah yang membersihkan dan menyucikan jiwa.

Ketiga, mengurangi kenikmatan duniawi dalam diri. Rasulullah SAW bersabda, “Akan datang kepada manusia suatu zaman yang saat itu tameng mereka yang paling kuat adalah lapar, ilmu mereka yang paling baik adalah diam, dan ibadah mereka yang paling utama adalah tidur.”

Dalam sebuah riwayat disebutkan, “Barang siapa rela dengan rizqi yang sedikit dari Allah SWT, Allah rela terhadapnya dengan amal yang sedikit.”

Al-Makki mengutip wejangan Hatim Al-Ashamm: Tinggalkan nafsu syahwat, kamu tidak akan menjadi pelayan para pemburu dunia! Tinggalkanlah kesenangan dunia, kamu akan selamat dari dosa! Tinggalkan ketamakan, kamu akan terhindar dari kesedihan! Semakin gencar seseorang memanjakan perutnya dengan melahap apa saja yang dia sukai, semakin giat dia mengejar dunia. Semakin sering seseorang melaparkan perutnya, semakin jarang ia mencari dunia.

Keempat, mendapatkan ketenangan dan rasa kenyang di akhirat. Satu hari pada hari Kiamat lamanya sama dengan 50 ribu tahun di dunia, dan di sana tidak ada makanan, minuman, istirahat, dan kententeraman. Rasulullah SAW bersabda, “Manusia akan dikumpulkan pada hari Kiamat dalam keadaan lapar dan dahaga, dan sesungguhnya orang-orang yang lapar di dunia akan menjadi orang-orang yang kenyang di akhirat.”

“Jika kau mampu, ketika maut menjemputmu, perutmu dalam keadaan lapar dan kerongkonganmu merasa dahaga, lakukanlah. Dengan begitu, kamu akan memperoleh kedudukan yang paling mulia, digabungkan bersama para nabi, dan para malaikat akan gembira dengan kedatangan ruhmu kepada mereka.”

“Yang paling aku khawatirkan atas diri kalian adalah nafsu syahwat yang ada pada perut dan kemaluan kalian.”

Kelima, mempersedikit bolak-balik ke WC. Dengan begitu, diharapkan ia memperoleh derajat orang yang benar dan malu.

Rasulullah bersabda kepada para sahabat, “Malulah kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya.”

Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimana cara kami malu kepada Allah SWT?”

Beliau bersabda, “Orang yang benar-benar malu kepada Allah SWT hendaknya menjaga perut dan apa yang dimakannya, menjaga kepala dan apa yang dikandungnya, serta mengingat mati dan akhirat.”

Menjaga perut adalah membuatnya lapar karena Allah SWT dan mempersedikit makanan yang dimasukkan ke dalamnya supaya sedikit pula yang keluar darinya.

Malik bin Dinar berujar, “Aku merasa malu kepada Tuhanku karena seringnya aku keluar-masuk WC. Aku begitu malu sampai-sampai aku berangan-angan, sekiranya Allah menjadikan rizqiku berupa butiran-butiran pasir, sehingga aku dapat menahannya hingga maut menjemputku.”

Ketika menggambarkan para sahabat Nabi SAW, Hasan Al-Bashri bertutur, “Di antara mereka ada yang setelah makan berangang-angan, andai saja apa yang telah dimakannya tetap berada dalam perutnya seperti diamnya batu di dalam air, sehingga ia tidak perlu lagi mencari makanan.”

Keenam, menghindarkan diri dari kemurkaan Allah SWT dan menjauhi yang dibenci-Nya. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada sesuatu yang lebih dibenci Allah SWT daripada perut yang terisi penuh walaupun dengan yang halal....”

Dalam sebuah riwayat dikabarkan, bumi menjerit kepada Allah SWT atas tiga orang: orangtua yang berzina, orang miskin yang sombong, dan orang yang menjejali perutnya dengan makanan dan minuman.

Orang yang kenyangnya ada di antara dua lapar, ia telah mengikuti jejak para sahabat Nabi SAW. Jika seseorang berpuasa seumur hidupnya dengan berbuka pada malam hari dan berpuasa lagi keesokan harinya, ia berada di antara dua lapar. Lapar orang seperti ini lebih banyak dari kenyangnya.

Ketujuh, melatih dan memelihara kepekaan kepada orang yang akrab dengan lapar, penderitaan, dan kesulitan hidup lainnya. Nabi Yusuf AS, sewaktu menjadi bendahara kerajaan di Mesir, ditanya mengapa ia tidak pernah mengenyangkan diri dengan makanan. Beliau menjawab, “Aku takut jika aku kenyang aku lupa kepada orang yang lapar.”

Dikabarkan, Hatim Al-Tha’i mempunyai seorang ayah yang banyak harta. Ia menyuruh Hatim supaya tidak banyak memberi, tetapi Hatim malah tidak berhenti memberi.

Ada yang memberi saran kepada ayah Hatim, “Jika Tuan ingin Hatim berhenti, Tuan harus mengurungnya di dalam rumah selama beberapa hari. Selepas itu, ia tidak akan memberi lagi.”
Ayah Hatim pun melaksanakan nasihat itu. Ia mengurung Hatim di dalam rumah.

Setelah sebulan dikurung, barulah Hatim dilepaskan.

Si ayah yakin bahwa, setelah dikurung, Hatim tidak akan mengulangi kebiasannya lagi. Karena itu, ia memberi Hatim dua ratus unta.

Apakah yang selanjutnya terjadi?

Hatim memanggil penduduk kampung seraya berkata, “Barang siapa mengambil unta di antara unta-unta ini dengan tali, unta itu menjadi miliknya.”

Mereka pun berbondong-bondong mengambil unta, dan habislah semua unta di tangan Hatim.
Sepulangnya ke rumah, Hatim menceritakan hal itu kepada ayahnya.

Si ayah bertanya, mengapa ia masih berbuat seperti itu.

Hatim menjawab, “Rasa lapar telah mendorongku untuk tidak kikir dengan apa yang aku miliki.”


/majalah-alkisah.com/
Baca Selengkapnya >>

Minggu, 07 Agustus 2011

Istiqomah

Istiqomah, kata pendek yang mudah diucapkan, sulit dilaksanakan. Karena Istiqomah adalah musuhnya hawa nafsu, musuhnya syetan, musuhnya alasan-alasan manusiawi yang konyol. Karena itu, siapa yang meraih Istiqomah, sesungguhnya telah meraih berjuta Karomah.



Sebab dalam Istiqomah ada Cinta, ada Anugerah, ada Kelembutan Ilahiyah. Tetapi kenapa begitu berat melaksanakan Istiqomah? Yang berat adalah beban-beban yang menumpuk di pundak anda. Beban nafsu dan duniawi.

Menjadi sangat terpuruk jiwa kita kalau ketidak-istiqomahan itu harus ditukar oleh sekadar alasan hina, alibi hawa nafsu kita, bahkan dengan recehan dunia yang bersampah. Apalagi ditukar dengan gugatan-gugatan kepada Allah swt, dengan sejumlah deretan bukti yang belum muncul dalam karomah. Apakah ini semua bukan bentuk su’udzon kepada Allah Ta’ala?

Lawanlah segala penghadang yang menghambat Istiqomah. Karena anda telah melakukan peperangan besar melawan diri sendiri. Kemenangannya adalah sorak sorai jiwa yang bahagia dalam syukur dan limpahan cintaNya.
Kegagalan, bahkan kesuksesan sering menghadang Istiqomah anda. Apakah anda lebih rela kehilangan CintaNya?
//www.sufinews.com
Baca Selengkapnya >>