Kamis, 19 Mei 2011

Biografi Pangeran DIPONEGORO

Lahir 11 Nopember 1785 dari ayah Sultan Hamengkubuwono III. Sejak kecil diasuh oleh neneknya Ratu Ageng, Permaisuri Hamengkubuwono I, pendiri kerajaan Yogyakarta yang menetap. Berkat wanita bijaksana tersebut, ia tumbuh menjadi orang alim, sederhana dan dekat dengan rakyat.

Sementara Diponegoro tumbuh dewasa, di keraton Yogyakarta terjadi kericuhan yang disebabkan campur tangan pemerintah Belanda. Pengangkatan dan pemberhentian raja atau patih ditentukan oleh Belanda. Di samping itu penindasan terhadap rakyat meningkat pula. Hasil tersebut menimbulkan sikap antipati Diponegoro terhadap Belanda.

Tanggal 20 Juni 1825, seorang utusan Belanda mengantar surat ke Tegalrejo untuk menanyakan maksud Diponegoro. Saat itu paman dari Diponegoro (Mangkubumi) dan Dewan Perwalian Kerajaan Yogyakarta sedang di Tegalrejo. Baru beberapa kalimat disusun, sudah terdengar tembakan meriam. Penduduk memberi perlawanan, namun kekuatan tidak seimbang. Mereka terpaksa mengundurkan diri. Tegalrejo diduduki Belanda. Tempat tinggal Diponegoro, mesjid dan bangunan lain dibakar oleh Belanda.

Ia memerintahkan rakyat menyingkir ke Selarong dan bersama Pangeran Mangkubumi, ia menuju Kali Saka sambil menghunus pedang. Ia berkata pada Mangkubumi "lihatlah paman, rumah dan mesjid sudah terbakar, saya tidak mempunyai apa-apa lagi di dunia ini".

Dari kali Saka, ia bersama Mangkubumi, menuju ke Selarong. Ia diangkat menjadi pimpinan tertinggi. Mangkubumi sebagai penasehat dan Pangeran Angabei penasehat khusus saat perang. Kemudian muncul Sentot Prawirodirjo yang berusia 16 tahun dan Kyai Mojo yang memberikan corak Islam kepada perjuangan.

Maklumat perang dilakukan di berbagai tempat, Jawa Barat, Jawa Timur, Rembang, Tuban, Bojonegoro, Madiun dan Pacitan. Seruan ini disambut rakyat karena merasa sudah lama tertindas penjajahan Belanda.

Pasukan Belanda yang dipimpin Kumesius berangkat dari Semarang dengan membawa empat pucuk meriam, uang dan pakaian serta perbekalan. Di sebelah Barat Laut Yogyakarta ia dekat Pisang desa Tempet, pasukan ini disergap pasukan Diponegoro. Sebanyak 27 orang Belanda dibunuh, senjata, pakaian dan uang 50.000 gulden jatuh di tangan pasukan Diponegoro. Pasukan Diponegoro mengepung Yogyakarta dari berbagai penjuru, bahkan makanan di blokir, tidak boleh masuk kota.

Kolonel Van Jett, mengirim pasukan untuk menyerang Selarong namun gagal. Tiga bulan kemudian Diponegoro memindahkan markasnya ke Dekso. Di tempat ini ia dinobatkan sebagai Sultan dengan gelar Sultan Ngabdulkamid Herucokro Mukmini Panoto Gomo Jowo.

Selama tahun 1825 dan 1826 pasukan Diponegoro banyak memperoleh kemenangan. Bulan Agustus 1826 Sentot berhasil menyergap pasukan Belanda, semua tewas kecuali Komandan Van Green. Dalam pertempuran di Lenkong pasukan Diponegoro dapat membunuh seorang letnan dan Pangeran Murdaningrat serta Pangeran Ponular. Kedua pangeran ini pengganti Diponegoro dan Mangkubumi di Dewan Perwalian. Di Sadegan pasukan Diponegoro dapat membunuuh beberapa perwira Belanda dan seorang Bupati.

Tahun 1827 Belanda mulai melipat gandakan kekuatan dengan cara membuat "Benteng Stelsel" dan usaha perundingan seperti perundingan di Sombiroto, di Miangi, yang diwakili Kyai Mojo, namun gagal.

Saat Kyai Mojo bersama 600 prajurit "Bukilyo, Kyai Mojo diikuti Belanda dan ditangkap serta diasingkan ke Menado hingga wafat.

Perundingan dengan Sentot gagal, kemudian Belanda menggunakan Bupati Madiun yang masih kerabat Sentot, untuk membujuk. Tanggal 24 Oktober 1829, Sentot menyerah dengan syarat, boleh memeluk agama Islam dan memimpin pasukannya. Belanda mengirim ke Sumatra Barat agar memerangi pasukan Padri, tapi Sentot berbalik menyerang Belanda. Ia ditangkap dan dibuang ke Cianjur, kemudian ke Bengkulu dan wafat tahun 1855 dan dimakamkan di sana.

Meskipun ditinggalkan pembantu-pembantu dekatnya, Diponegoro tidak mau menyerah. Dalam perjalanan dari Manoreh ia dikepung Belanda, Diponegoro terjun ke jurang berhasil meloloskan diri. Setelah kejadian ini, ia diiringi oleh Roso dan Banteng Wareng meneruskan pembaharuan perangnya.

Karena Belanda sulit menangkap Diponegoro, maka Belanda mengumumkan bagi siapa yang dapat menangkap akan diberi hadiah 50.000 gulden, tanah dan kedudukan.

Tanggal 16 Februari 1830 ia bersedia menerima utusan Belanda, Kolonel Cleerens. Waktu itu menjelang bulan puasa, ia tidak bersedia bernding di bulan suci.

Tanggal 28 Maret 1830 Diponegoro menemui Jenderal De Kock di Magelang, didampingi Basah Martonegoro, Kyai Badarudin dan puteranya Diponegoro Anom. Di sini ia ditangkap, dibawa ke Semarang, kemudian ke Jakarta dan di buang ke Menado. Tahun 1834, ia dipindahkan ke Benteng Rotterdam di Ujung Pandang. Selama 25 tahun ia dikurung. Kisah perjuangannya, ditulis dalam "Babad Diponegoro" dalam Bahasa Jawa setebal 700 halaman.

Tanggal 8 Juni 1855 ia meninggal dan dimakamkan di Ujung Pandang. Pemerintah memberinya gelar Diponegoro sebagai Pahlawan Nasional.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar