Minggu, 20 Juli 2014

KISAH SINGKAT IMAM IBNU MALIK MENGARANG KITAB ALFIYYAH

Imam ibnu malik sewaktu mengarang nadlom alfiyyah, setelah mendapatkan seribu bait, beliau ingin menulis kembali karyanya, namun ketika sampai pada bait; “FAIQOTAN MINHA BI ALFI BAITIN” (Alfiyyah ibnu malik mengungguli alfiyyah ibnu Mu’thi dengan menggunakan seribu bait) beliau tidak mampu meneruskan karangannya dalam beberapa hari, kemudian beliau bermimpi dalam tidurnya bertemu seseorang, dan orang itu bertanya; “katanya kamu mengarang seribu bait yang menerangkan ilmu nahwu” imam ibnu malik menjawab; “iya” orang itu lalu bertanya; “ sampai dimana karanganmu?” lalu dijawab; ”sampai pada bait…FAIQOTAN MINHA BIALFI BAITIN” “Apa yang menyebabkan kamu tercegah menyempurnakan bait itu?” lalu dijawab; “saya tidak mampu meneruskan sejak beberapa hari” lalu ditanya;”apakah kamu ingin menyempurnakannya?” dijawab “iya” lalu orang itu berkata; “orang yang masih hidup mampu mengalahkan seribu orang yang mati” Ibnu malik berkata;” apakah kau ini guruku?, imam ibnu mu’thi?” lalu dijawab “iya” kemudian imam ibnu malik merasa malu,dan paginya mengganti separuh bait tersebut dengan bait; وَهْوَ بِسَبْقِ حَائِزٌ تفضِيْلَا # مُسْتَوْجِبٌ ثَنَائِيَ اْلجَمِيْلَا (ibnu mu’thi memperoleh kedudukan utama, karena beliaulah yang memprakarsainya,dan sepantasnyalah pujian baikku untuknya) Setelah itu imam ibnu malik mampu menyelesaikan kembali karangannya hingga sempurna. BAIT-BAIT MAGIC AL-FIYYAH () وهْوَ بِسَبْق حَائِزٌ تَفْضِيْلَا # مُسْتَوْجِبٌ ثَنَائِيَ اٌلجَمِيْلَا () وَاللهُ يَقْضِي بِهِبَاتِ وَافِرَة # لِي وَلَهُ فِي دَرَجَاتِ الٌاَخِرَة (6) ibnu mu’thi memperoleh kedudukan utama, karena beliaulah yang memprakarsainya, dan sudah sepantasnyalah pujian baikku untuknya. (7) Semoga Allah memastikan pahala yang berlimpah bagiku dan baginya, yaitu kedudukan yang tinggi di akhirat nanti. Ma’na tafsiri: Kelompok yang besar itu hendaklah mempunyai keutamaan / keistimewaan (تَفْضِيْلَا) dan pengabulan (مُسْتَوْجِبٌ) yaitu memberikan haq terhadap orang-orang yang memujinya dengan baik (ثَنَائِي اٌلجَمِيٌلَا) (وَاللهُ يَقٌضِي) Allah memberikan aku dan mereka derajat (بِهِبَاتِ وَافِرَة) yaitu berupa ni’mat yang sempurna di akhirat. () كَلَامُنَا لَفْظٌ مُفِيْدٌ كَاسْتَقِمْ # وَاسْمٌ وَفِعْلٌ ثُمَّ حَرْفُ اْلكَلِمْ (8) kalam menurut istilah para ahli nahwu (nahwiyyin) ialah lafadl yang bermakna lengkap seperti lafadl “اسْتَقِمْ” (luruslah kamu). Sedangkan isim,fi’il dan huruf ,itu kalim namanya. Ma’na tafsiri: Bait ini memberikan penjelasan tentang perintah kepada kita agar selalu untuk beristiqomah (اسْتَقِمْ). () وَكُلُّ حَرْفِ مُسْتَحِقٌّ لِلْبِنَا # وَاْلأَصْلُ فِي اْلمَبْنِيِّ أَن يُسَكَّنَا (21) semua huruf berhak untuk di mabnikan, dan bentuk asal mabni adalah sukun Ma’na tafsiri: Setiap sesuatu (كُلُّ حَرْفِ) itu butuh kepada suatu pembinaan (اَلْبِنَا) dan sifat yang paling baik dalam membina adalah ketenangan (اَنْ يُسَكَّنَا). () فَارْفَعْ بِضَمِّ وَانْصِبَنْ فَتْحَا وَجُرْ # كَسْرٌ كَذِ كْرُاللهِ عَبْدَهُ يَسُرْ () وَجْزِمْ بِتَسْكِيْنِ وَغَيْرُ مَاذُكِرْ # يَنُوْبُ نَحْوُ جَا أَخُو نَمِرْ (25) rofa’kanlah dengan harokat dlommah, dan nasobkanlah dengan harokat fathah, serta jerkanlah dengan harokat kasroh seperti dalam lafadz ذِكْرُاللهِ عَبْدَهُ يَسُرْ) ) (26) jazmkanlah dengan sukun, dan selain yang telah disebutkan ada penggantinya seperti lafadl جَا أَخُو نَمِر Ma’na tafsiri : 1. Ustadz Luqman berpendapat bahwa di dalam bait ini menjelaskan tentang hubungan hidup berumah tangga. Didalam hubungan sebuah pernikahan/berumah tangga haruslah memperhatikan poin-poin di bawah ini: 1. (فَارْفَعْ) junjunglah sebuah kekompakan (بِضَمِّ) diantara suami istri 2. (وَانْصِبَنْ فَتْحَا) dan tegakkan keterbukaan diantara suami istri 3. (وَجُرْ) tarik dan buanglah sebuah permasalahan yang menjadikan perpecahan (كَسْرٌ) didalam berumah tangga 4. (كَذِ كْرُاللهِ) dan hendaklah selalu berdoa kepada Allah SWT 5. (وَجْزِمْ) dan mantapkan, yaitu dengan berpendirian teguh (بِتَسْكِيْنِ) serta istiqomah 2. ma’na tafsiran yang lain 1. ( فَارْفَعْ) angkatlah agama islam dengan sebuah persatuan (بِضَمِّ) 2. (وَانْصِبَنْ فَتْحَا) bersungguh-sungguhlah dalam menjaga hafalan 3. (وَجُرْ كَسْرٌ) dan perkara yang ditakuti adalah sebuah perpecahan Rahasia pembagian I’rob: Seperti yang sudah kita ketahui bahwa i’rob terbagi menjadi empat macam, yaitu rafa’, nashab,khafad, dan jazm. Tapi tahukah kamu bahwa Perubahan yang terjadi pada i’rob itu juga sama seperti perubahan yang terjadi pada seseorang. yaitu ada empat macam; 1. Rafa’, yaitu tingginya derajat, kemuliaan dan kedudukan disisi Allah Ta’ala. Yang mendorong rafa’ adalah mengenal Allah; melaksanakan ketaatan kepadaNYA serta bergaul dengan orang-orang mulia yaitu para waliyulloh rodhiyallohu ‘anhum 2. Kebalikan dari rafa’ adalah khafadh, yaitu kerendahan dan kehinaan. Yang mendorong khafadh adalah kebodohan; terus menerus mengikuti gejolak hawa nafsu. 3. Nashab, yaitu ketegaran diri dalam mengikuti arus perjalanan takdir . inilah maqam ridlo dan pasrah. Ini merupakan maqam para ‘arif yang mencapai wushul. 4. Jazm, yaitu kemantapan dan keteguhan hati untuk meniti perjalanan, memerangi hawa nafsu, dan menanggung penderitaan dalam perjuangan menuju wushul, hingga mencapai kesempurn-aan musyahadah () لِلرَّفْعِ وَالنَّصْبِ وَجَرِّنَا صَلَحْ # كَاعْرِفْ بِنَا فَإِنَّنَا نِلْنَا اْلمِنَحْ (57) dlomir naa tetap akan terus dibaca naa meskipun berada dalam keadaan rofa’,nashob,dan jar, seperti lafadl كاعْرِفْ بِنَا فَإِنَّنَا نِلْنَا اْلمِنَاح “ketahuilah, sesungguhnya kita telah memperoleh anugerah yang banyak” Ma’na tafsiri: 1. Ustadz luqman berpendapat bahwa ma’na yang terkandung didalam bait ini adalah menunjukkan sebuah perbuatan yang bersifat tetap dan continue seperti dlomir (نَا) jika kita sedang dalam keadaan yang tinggi/agung (رفع) atau tengah-tengah (النَّصْبِ) atau dibawah (جَرِّ) janganlah berubah dari aktifitas kita sehari-hari seperti aktifitas sebelum kita berada dibawah atau diatas. 2. Di dalam bait ini mengajarkan kita agar kita bisa menjadi seperti dlomir na (نَا) yaitu teguh dalam berpendirian meskipun banyak dimasuki oleh pemikiran-pemikiran atau aliran-aliran baru () وَفِي اخْتِيَارِ لَايَجِئُ اٌلمُتَّصِلْ # إِذَا تَأَتَّى اَنْ يَجِئُ اْلمُتَّصِلْ (63) dalam keadaan ikhtiyar (tidak kepepet) tidak boleh mendatangkan dlomir munfasil, selagi masih diperbolehkan mendatangkan dlomir muttashil Ma’na tafsiri:Bait ini menjelaskan kita dianjurkan agar tidak minta bantuan kepada selain Allah selama kita tidak kepepet dan masih bisa mengerjakannya sendiri tanpa bantuan benda atau orang lain. () وَقَدِّمِ اْلأَخَصَّ فِي اتِّصَالِ # وَقَدِّ مَنْ مَا شِئْتَ فِي انْفِصَالِ (66) dahulukanlah yang khusus dalam muttashil, dan dahulukanlah yang anda sukai dalam keadaan munfashil Ma’na tafsiri:Dahulukanlah orang yang lebih khusus/ istimewa bagimu, daripada orang-orang yang istimewa tapi tidak kamu ketahui. Dalam kata lain, dahulukan kekasihmu daripada orang lain yang tidak kamu kenali. () وَلَا يَجُوْزُ اْلإِبْتِدَا بِالنَّكِرَةِ # مَالَمْ تُفِدْ كَعِنْدَ زَيْدِ نَمِرَةِ (125) tidak di perbolehkan membuat mubtada’ dengan memakai isim yang nakiroh,selagi tidak memberi faedah, seperti pada lafad عِنْدَ زَيْدِ نَمِرَة Ma’na tafsiri:Al mubtada’ diumpamakan sebagai seorang pimpinan yang ma’rifat (mengetahui), dan wajib bagi dia menjelaskan perkara yang menyenangkan,berilmu,dan punya kekuasaan, dan bisa dimintai pertolongan. Dan tidak boleh mubtada’ (pemimpin) itu terbentuk dari isim yang nakiroh (ghoiru ma’ruf/ bodoh) () وَأَخْبَرٌوا بِاثْنَيْنِ اَوْ بِأَكْثَرَ # عَنْ وَاحِدِ كَهُمْ سَرَاةٌ شُعَرَا (142) para ahli nahwu memperbolehkan satu mubtada’ mempunyai dua khobar atau lebih Ma’na tafsiri; Seperti halnya yang sudah kita ketahui bahwa setiap mubtada’ hanya mempunyai satu khobar, tapi juga di perbolehkan mubtada’ itu mempunyai lebih dari satu khobar seperti contoh زَيْدٌ قَائِمٌ ضَاحِاكٌ Nah…المبتداء pada bait ini di seumpamakan dengan seorang laki-laki /suami.sedangkan خبر di seumpamakan seoranng istri. Jadi di dalam bait ini juga menjelaskan, bahwa pada umumnya laki-laki hanya punya satu orang istri,tapi juga boleh mubtada’(suami) mempunyai khobar (istri) lebih dari satu () لَا أَقْعُدُ اْلجُبْنَ عَنِ اْلهَيْجَاءِ # وَلَوْ تَوَالَتْ زُمَرُ اٌلأَعْدَاءِ (302) aku tidak akan bertopang dagu meninggalkan perang karena pengecut, sekalipun golongan musuh datang berbondong-bondong Ma’na tafsiri: Bait ini juga bisa dibuat sebagai dalil larangan pergi meninggalkan perang karena takut kepada musuh,meskipun barisan musuh lebih banyak. () وَمَا يَلِي اْلمُضَافَ يَأْتِيِ خَلَفَا # عَنْهُ فِي اْلإِعْرَابِ إِذَا مَا حُذِفَ (413) lafadz yang mengiringi mudhof dapat menggantikan kedudukan mudhof dalam I’rob apabila mudhof di buang Ma’na tafsiri: Jika mudlof terbuang maka tempatkanlah mudlof ilaih pada tempatnya mudlof. Bait ini menggambarkan hubungan antara kyai dan santri. Jika kamu seorang santri, maka jadilah kamu seperti seorang santri. Jangan sok-sokan berlagak layaknya kyai. Tapi jika kamu telah menjadi seorang kyai pada waktunya, maka wajib bagimu melakukan trtadisi atau perbuatan yang dilakukan oleh kyaimu dulu. () فَأَلِّفُ التَّأْنِيْسِ مُطْلَقَا مَنَعْ # صَرْفَ اَّلذِيْ حَوَاهُ كَيْفَمَا وَقَعْ (650) alif ta’nits secara muthlaq dapat mencegah tanwin dari isim yang mengandunginya, manakala memasukinya Ma’na tafsiri:(أَلِّفُ) cinta seorang laki-laki kepada perempuan (التَّأْنِيْسِ) itu tercegah dengan mutlaq (مُطْلَقَا مَنَعْ) karena cinta tersebut bisa Mencegah dari kesuksesan angan-angan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar