Rabu, 20 Juni 2012

Syaikh Muhammad Fadhil al-Jaelani al Hasani 141. Dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang yang kafir. 142. Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar. Dan agar Allah membersihkandan mensucikan qalbu orang-orang yang beriman yang telah sampai tahap yaqin dan meraih hakikat, melalui kejernihan tauhid, dan Dia membinasakan kegelapan jauh dari Allah Swt, dan alam relativitas bagi orang-orang kafir yang tertutup oleh nafsu kebatilannya yang gelap yang serba kasar jauh dari Cahaya Wujud. Apakah kalian mengira wahai para penempuh Jalan Allah Azza wa-Jalla, yang menuju jalan tauhid, bahwa mereka sama derajatnya di sisi Allah di dalam penempuhannya? Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga Wadhah Dzatiyaah (syurga Keesaan Dzat), padahal belum nyata bagi Allah, dipisahkan oleh Allah melalui IlmuNya yang langsung, antara orang-orang yang berjihad diantaramu, dalam menempuh JalanNya lahir maupun batin, dan belum nyata orang-orang yang sabar. Mereka berusaha keras di dalamnya sampai mencurahkan segalanya pada puncaknya lalu mereka fana di dalam Dzat Allah sehingga mereka menjadi para penyaksiNya, yang hadir di hadapanNya dan memegang amanahNya di sisi Allah, yang tidak takut dan tidak bersedih, disbanding orang-orang yang hanya duduk-duduk saja dan orang-orang yang malas. Dan ia juga mengetahui dan dapat membedakan dari mereka orang-orang yang menetap di tempat ketetapan dan ridha Allah yang belaku pada mereka berupa takdir dengan tanpa melampaui atau kontra. Syaikh Abdul Qadir Jaelani berkata tentang firman Allah Swt: “Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (Al-Isra’ 109) Dan mereka menyungkur pula, orang-orang yang mengamalkan dan memiliki pengetahuan tentang hakekat al-Quran setelah mereka melakukan analisis di dalam hikmah, hukum-hukum, realitas-realitas dan pengetahuan-pengetahuannya. Mereka menyungkur mukanya, saat kondisi mereka menangis karena takut kepada Allah Swt. Intinya mereka bertambah dalam kekhusyu’an melalui analisis dan renungan mendalam dan menambah kepatuhan mereka karena mereka tersingkapkan rahasia-rahasia yang disaksikan oleh rasa mereka dan berhasil mencicipi kenikmatan, ekstase mereka, dan rahasia-rahasia batin mereka. Ini adalah metode Syaikh Abdul Qadir Jaelani dan Thariqah Qadiriah yang luhur dan penuh dengan keberkahan berdasarkan pada al Quran dan al Hadits. Prinsip-prinsip tasawuf dalam pandangan Syaikh Abdul Qadir Jaelani Syaikh Abdul Qadir al Jaelani telah menggariskan prinsip-prinsip yang kuat yang diletakkan pada tasawuf yang Islami dan yang benar yang memadukan antara ilmu syariat yang didasarkan pada al Quran dan sunnah Rasul dan tasawuf, komitmen untuk mempraktekkannya beradasarkan prinsip-prinsip syariat Islam dan memadukan jalan pertemuan antara para ulama yang mengkaji hukum-hukum syariat Islam dan antara para tokoh tasawuf, yang meletakkan fondasi ruhani dan amaliyah hati dengan menjelaskan bahwa agama yang lurus di dasarkan pada pekerjaan-pekerjaan Iahiriah (shalat dan puasa) serta amaliyah bathin (ikhlas dan sifat wara’ dsb…) sesuai hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari-Muslim dari Abu Hurairah r.a ia berkata: “Adalah Nabi Muhammad Saw pada suatu hari muncul menemui orang-orang lalu malaikat Jibril datang kepadanya dan Ia bertanya: Apakah iman itu? Iman ialah engkau beriman kepada Allah, malaikat bertemu denganNya dan beriman pada para Rasul serta beriman kepada hari kebangkitan. Jibril bertanya lagi apakah Islam itu? Nabi Saw, menjawab Islam adalah hendaknya engkau beriman kepada Allah dan tidak menyekutukannya, mendirikan shalat, menunaikan zakat serta berpuasa di bulan ramadhan. Jibril bertanya apa yang dimaksud dengan Ihsan: Nabi Saw, menjawab engkau beriman kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya dan apabila engkau tidak melihatNya, maka niscaya Dia melihatMu...” Jika demikian maka agama terbagi menjadi tiga macam. Bagian pertama terkait dengan akidah dan tauhid Ayat-ayat dan hadits-hadits di dalam bagian pertama ini banyak sekali berkisar pada masalah keimanan dan rukun-rukunnya, sifat Uluhiyah, Rububiyah, kematian dan masalah beriman kepada Allah Swt, malaikat, para rasul dan kitab suci-kitab suci samawiNya serta beriman kepada hari akhir setelah masalah takdir, baik dan buruknya dan hal-hal yang ghaib. Ilmu ini dinamakan dengan ilmu akidah, tauhid atau ilmu kalam. Bagian kedua berhubungan dengan perbuatan mukallaf Ia mencakup hubungan manusia dengan dirinya sendiri serta makhluk lainnya serta hubungan manusia dengan Tuhannya. Ayat-ayat dan hadis-hadits di dalam bagian ini banyak sekali berkisar pada masalah halal dan haram, sunnah, makruh, mandub dan mubah. Ia juga mencakup seluruh jenis ibadah, muamalah, hudud, jinayat, ahwal syakhshiah, jual-beli, pertanian, rukun Islam, hukum, peradilan dan hal-hal lainnya. Ilmu ini dinamakan dengan ilmu fiqh, ushul fiqh dan tarikh tasyri’. Bagian ketiga berhubungan dengan diri seorang mukallaf Sisi penyuciannya dari seluruh sifat-sifat yang tercela dan buruk serta menghiasinya dengan sifat-sifat terpuji. Ayat-ayat al Quran serta hadits-hadits di dalam bagian ketiga ini banyak juga berkisar pada masalah akhlak dan moral Islam. Ilmu ini dinamakan dengan ilmu zuhud, tasawuf serta wara’. Syaikh Abdul Qadir al Jaelani telah menjelaskan perpaduan bagian-bagian yang tiga ini. Beliau mendidik para penempuh menuju pengenalan terhadap eksistensi agama ini melalui kitab-kitabnya serta majlis-majlisnya. Dengarkanlah saat beliau berkata: “Lihatlah kepada dirimu dengan penglihatan rahmat dan kasih sayang dan jadikanlah al Quran serta sunnah di hadapanmu serta lakukan analisis di dalamnya dan amalkanlah serta janganlah engkau tertipu oleh ungkapan-ungkapan yang tidak jelas (sumbernya) serta isu-isu. Allah Swt berfirman: “Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota, maka adalah untuk Allah, untuk rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang Kaya saja di antara kamu, apa yang diberikan Rasul kepadamu. Maka terimalah dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya.” Janganlah kalian melanggar lalu kalian tidak mengamalkan apa yang terdapat di dalam al Quran lalu kalian menciptakan amaliah serta ibadah untuk diri kalian sendiri sebagaimana Allah Swt berfirman mengenai orang-orang yang telah sesat dari jalan yang lurus: “Kemudian Kami iringi di belakang mereka dengan Rasul-rasul Kami dan Kami iringi (pula) dengan Isa putra Maryam; dan Kami berikan kepadanya Injil dan Kami jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang. dan mereka mengada-adakan rabbaniyyah Padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya. Maka Kami berikan kepada orang-orang yang beriman di antara mereka pahalanya dan banyak di antara mereka orang-orang fasik.” Ia juga berkata: Wahai kaum mintalah nasehat kepada al Quran, yaitu dengan mengamalkannya dan janganlah kalian berdebat di dalamnya. Akidah adalah kalimat yang pendek sedangkan amaliyah begitu banyak. Kalian harus beriman kepadaNya. Benarkanlah dengan hati kalian dan beramalah dengan anggota tubuh kalian. Sibukkanlah diri kalian dengan sesuatu yang bermanfaat bagi kalian dan janganlah kaIian menoleh kepada akal yang memiliki kekurangan dan hina. Wahai kaum Sufi… Dalil naqli tidak dapat dianalisa mengunakan akal, dan nash al Quran tidak dapat ditinggalkankan lalu digantikan dengan qiyas. Seorang saksi tidak dapat ditinggalkan begitu saja dan anda hanya bersandar pada sekedar dakwaan harta manusia. Suatu dakwaan tidak dapat diambil dengan tanpa bukti. Nabi Muhammad Saw bersabda: “Apabila orang-orang mengambil dakwaan mereka, maka niscaya suatu kaum dapat mengklaim darah suatu kaum dan harta mereka tetapi saksi bagi yang melakukan dakwaan dan sumpah bagi orang yang mengingkarinya.” Syaikh Abdul Qadir al Jaelani berkata saat ia memberikan wasiat kepada anaknya Syaikh Abdur Razaq (kakekku) untuk berkomitmen pada Thariqah: “Hendaklah engkau bertaqwa kepada Allah Swt dan berbuat taat kepadaNya. Janganlah engkau takut kepada siapapun selain Allah Swt. Janganlah engkau berharap pada seseorang selain Allah Swt. Seluruh kebutuhan hendaklah disandarkan kepada Allah Swt dan mintalah semuanya kepadaNya. Janganlah engkau percaya kepada seseorang selain kepada. Allah Swt dan janganlah engkau bergantung kecuali kepadaNya. Hendaklah engkau berpegangan kepada tauhid, tauhid dan tauhid. Sesungguhnya terpadunya segala sesuatu pada tauhid.” Lalu beliau berkata: “Lewatlah kalian melalul berita tentang sifat Allah yang ada. Hukum dapat berubah sementara ilmu pengetahuanNya tidak dapat berubah. Hukum dapat dihapus dan ilmu tidak dapat dihapus. Aku berwasiat kepadamu wahai anakku untuk bertakwa kepada Allah dan berbuat taat kepadaNya, menetapkan syariat dan menjaga batas-batasnya. Ketahuilah wahai anakku sesungguhnya thariqah kita ini didasarkan pada al Quran dan Sunnah, lapang dada, kedermawanan, mencegah keburukan, mengemban derita, dan mewngulurkan tangan menolong sesame kawan. Di sana terdapat banyak nash-nash al Quran juga yang menunjukkan keselamatan Thariqah Syaikh Abdul Qadir Jaelani dan generasi setelahnya dari penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh sebagian orang yang mengklaim tasawuf. Adapun pemahaman arti tasawuf menurut Syaikh Abdul Qadir al Jaelani, beliau telah memberikan definisi dengan ungkapannya: Tasawuf adalah berbuat benar pada Allah Swt, beretika dengan baik kepada makhluk Allah Swt. Ia juga mendefinisikan tasawuf dengan ucapannya: Tasawuf adalah takwa kepada Allah Swt, berbuat taat kepadaNya, melaksanakan syariat yang bersifat lahiriah, kelapangan dada, kemurnian jiwa, keceriaan wajah, berusaha murah hati, mencegah bahaya dan mengembannya, miskin, menjaga kehormatan para syaikh, bergaul dengan baik kepada sesama saudara, nasehat bagi yang muda dan tua, meninggalkan pertikaian, berlemah lembut, konsisten, mendahulukan kepentingan orang lain, menjauhkan diri dari menyimpan persediaan makanan, tidak bergaul pada orang yang bukan peringkat mereka dan saling membantu di dalam masalah agama dan dunia. Dari sini menjadi jelas bagi kita bahwa Syaikh Abdul Qadir al Jaelani ra mengartikan tasawuf dengan pengaturan hubungan antara seorang hamba dengan Tuhannnya dengan benar dalam beribadah kepadaNya di satu sisi, dan pengaturan hubungan manusia dengan manusia lainnya dengan muamalah yang baik dan berprilaku yang lurus dari sisi Iainnya. Dan akhimya aku ingin memberikan wasiat pada kalian semua para peserta, kongres Sufi yang diorganisir oleh Nahdhlatul Ulama, melalui wasiat kakek yaitu Sayyid Abdul Qadir al Jaelani dan (hendaklah kIta) mengajarkan kepada anak-anak (kita) kemajuan di bidang teknologi dan dinamikanya di bawah panji tasawuf yang hakiki dan mendidik tasawuf yang sejati. sumber cahaya sufi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar