Rabu, 20 Juni 2012

Wayang, Tontonan yang Jadi Tuntunan Oleh Rangga Dusy Kehidupan manusia sepertinya tak dapat dipisahkan dari ibarat atau simbol. Salah satu simbol penting yang bersentuhan langsung dengan gerbang kehidupan manusia adalah wayang. Segala macam yang berhubungan dengan wayang, mulai dari adegan dan lakon, wayang kulit, peralatan pentas (blencong, beber, dll), pembabakan waktu, dan deretan wayang di sisi kiri-kanan kelir (batang pisang untuk menancapkan wayang), semuanya memiliki makna penting yang sayang untuk tidak diketahui dan dilestarikan. Wayang adalah wujud dari upaya penggambaran nenek moyang suku Jawa tentang kehidupan manusia. Mereka meyakini bahwa setiap benda yang hidup pasti mempunyai roh, ada yang baik dan jahat, sehingga saat itu (sekitar tahun 1500 SM) dibuatlah wayang dalam bentuk gambar ilusi atau bayangan (jawa; Wewayangan/ wayang). Agar terhindar dari gangguan roh-roh jahat, kemudian wayangan tersebut disembah dan diberi sesajen (animisme). Namun setelah agama-agama masuk ke Jawa, wayang berubah wujud menjadi alat peragaan untuk menyampaikan ajaran-ajaran agama, dan muncullah nama-nama lakon yang disesuaikan oleh agama-agama yang mengusung dan bermetamorfosis dengan perkembangan zamannya. Menurut Prof. Dr. Soetarno, Ketua Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI), Surakarta, “Wayang merupakan kebudayaan asli dari orang Jawa.” Wayang juga merupakan satu-satunya kebudayaan yang memasyarakat, karena dalam wayang tidak mengenal istilah kultur ataupun kasta. Seperti dikatakan oleh Sigmund Frued, “Kebudayaan Indonesia menunjukkan dorongan yang lebih manusiawi. Historis kebudayaan Indonesia menampakkan pola ke arah dorongan spiritual, wayang sebagai salah satu hasil kebudayaan asli Indonesia menunjukkan pola spiritual itu.” Di era modern ini, dunia pewayangan merupakan sebuah kesenian yang sangat langka. Wayang merupakan warisan budaya klaksik yang sudah mengakar turun temurun. Wayang berasal dari kata wayangan, yaitu sumber pengilhaman untuk menggambarkan wujud tokoh dan cerita, sehingga bisa terbeber jelas dalam hati si penggambar karena sumber aslinya telah hilang, namun masih ada pakemnya. Secara leksikon (kosakata), wayang bisa diartikan sebagai bayangan atau cermin, karena dalam kesenian wayang terdapat beberapa pencerminan yang sangat dalam dari tokoh-tokoh yang diusung para dalang. Dalam dunia seni, apa pun wujudnya, setidaknya mempunyai delapan fungsi sosial yang amat penting. Kedelapan fungsi sosial tersebut adalah: sarana kesenian, sarana hiburan santai, sarana pernyataan jati diri, sarana integrative (pembauran), sarana terapi/ penyembuhan, sarana pendidikan, sarana pemulihan ketertiban, dan sarana simbolik yang mengandung kekuatan magis/ ritual. Makna di balik pementasan wayang Selain sebagai tontonan yang menghibur, dalam seni wayang juga menyimpan makna filosofi yang terkadang menarik pada dunia mistik. Hal ini bisa disarikan dari instrumen pementasan wayang. Peralatan yang diusung oleh dalang ini bukanlah sekedar pelengkap belaka. Berikut adalah uthak-athik-gathuknya; Dalang, peran dalang dalam pewayangan adalah mengatur jalannya sebuah cerita. Tanpa dalang, wayang tentu tidak akan pernah bisa jalan. Dalang adalah perumpamaan dari pemimpin adat, spiritual, pemerintahan, kepala keluarga dan seterusnya. Ini adalah pengibaratan bahwa sesungguhnya semua ciptaan Tuhan di bumi tidak akan pernah bisa berjalan tanpa adanya Khalifah (pemimpin), yang selalu menunjukkan jalannya kehidupan. Bisa juga dalang diibaratkan sebagai sutradara kehidupan (Tuhan) yang mengatur sifat, hidup, mati, dan kelakuan dari tokoh kehidupan (makhluk). Namun secara linguistik, kata dalang merupakan pengalihan dari bahasa Arab “Dalla”, yang berarti “Menunjukkan”. “Man dalla ‘ala al-Khairi Kafa’ilihi,” barang siapa menunjukkan dan mengajak pada kebaikan, maka (pahalanya) laksana pelaku kebaikan tersebut. Beber (layar putih tanpa noda), adalah penggambaran asal bumi yang suci sebelum dihuni oleh makhluk apa pun. Namun, ketika makhluk sudah memasuki beber, maka dengan sendirinya bumi akan terkontaminasi dengan perwatakan dari makhluk itu sendiri. Itulah yang akan menjadikan penilaian subyektif tentang bumi hitam atau lembah hitam dan putih. Akan tetapi di akhir cerita, beber pun akan putih kembali. Ini mengibaratkan bahwa kelak makhluk pun diluluh lantakkan dari atas bumi ini. Kelir (batang pohon pisang), ini adalah penggambaran sebuah raga yang dihuni oleh jiwa yang berbentuk wayang. Kelir tidak akan berguna tanpa ada wayang yang ditancapkan. Kelir hanya digunakan ketika wayang dipentaskan di atas beber, dan ketika wayang tidak dibeber, maka kelir akan dibuang ke tempat sampah. Nilai filosofinya adalah; raga hanya akan berguna ketika jiwa masih menancap. Wayang, dalam pembuatannya, wayang sangatlah beragam bentuknya. Ada yang bagus, ada yang menyeramkan, dan ada yang lucu. Namun, ketika wayang dipentaskan, wayang mempunyai dua sisi pandang. Pertama, wayang yang dipertontonkan merupakan sebuah wayangan (bayangan) belaka, dan yang kedua adalah wayang yang aslinya dan dipegang oleh dalang. Hal ini pengibaratan dari jiwa makhluk yang selalu mempunyai dua dimensi yang berbeda, ada yang dipertontonkan kepada makhluk dan ada yang tidak (sirri), namun selalu digenggam oleh sang ‘dalangnya’. Blencong (lampu penerang di depan layar), pengibaratan dari blencong adalah cahaya (wahyu) kehidupan. Tanpa ada blencong, wayang pun takkan bisa jalan, walaupun sudah menancap di atas kelir. Begitu pula tanpa cahaya kehidupan, jiwa dan raga dari makhluk pun takkan bisa hidup. Dan cahaya (wahyu) kehidupan hanyalah milih Sang Hyang Murbaning Dumadi (Allah). Pethi (kotak kayu), berfungsi untuk menyimpan wayang, baik yang belum digunakan atau pun yang sudah mati. Ini mengibaratkan sebuah kuburan bagi tokoh-tokoh yang sudah mati. Walau hidup seperti apa pun juga, kita akhirnya pun akan terkunci pada tempat gelap, sempit, dan pengap. Kemudian dalam pementasannya, lakon dan alur cerita tidak bisa begitu saja dilakukan oleh dalang, harus melalui beberapa pertimbangan. Misalnya, kepercayaan masyarakat di tempat pementasan dan juga tujuan dari pagelaran itu sendiri (ruwatan, larung, atau mungkin juga wangsit dari penanggap atau dalang). Pesan agama dalam budaya Goro-goro…… Goro-goro jaman kolo bendhu Wulangane agomo ora digugu Sing bener dianggep kliru, sing salah malah ditiru Bocah sekolah ora gelem sinau Yen dituturi malah nesu, bareng ora lulus ngantemi guru Pancen perawan saiki ayu-ayu Ono sing duwur tor kuru, ono sing cendek tor lemu Sayang sethitek senengane mung pamer pupu. (Dikutip dari wikipedia.id/ urip.wordpress.com) Arti bebasnya kurang lebih begini; kegegeran jaman edan (modern) , ajaran agama sudah tidak dihiraukan, yang benar dianggap keliru, yang salah malah diikuti, anak sekolah sudah enggan belajar, kalau dinasehati marah, sedangkan ketika tidak lulus sekolah malah memukuli guru, memang perawan sekarang cantik-cantik, ada yang tinggi langsing, ada yang pendek dan gemuk, sayang sekali sukanya mengumbar paha) Kutipan syair goro-goro di atas menjelaskan tentang goro-goro yang ada di pewayangan. Ada sisi menarik tentang munculnya goro-goro, selain selalu muncul di tengah malam, juga ditandai dengan gunungan. Di balik gunungan terlihat sunggingan yang menggambarkan api sedang menyala. Ini merupakan sengkalan yang berbunyi, “geni dadi sucining jagad”, yang mempunyai arti 3441 dan dibalik menjadi angka 1443. Ini sebagai tanda bahwa gunungan tersebut diciptakan oleh Sunan Kalijaga pada tahun 1443 Saka. Gunungan (wayang yang disimbolkan sebagai alam dan isinya dengan bentuk lonjong bergambar hutan, pohon sembilan cabang, hewan buas, rumah joglo, dua raksa penjaga gerbang, api, angin, air, dan tanah) yang digambarkan unik oleh Sunan Kalijaga bukan sekedar kreativitas dalam seni ukir belaka. Selain keunikan bentuknya, juga mempunyai nilai mistis maha tinggi, yaitu perwatakan dari isi seluruh alam dan sangkan paraning dumadi (asal mula kehidupan). Berawal dari kemunculannya selalu di tengah malam – hal ini menyiratkan pada keyakinan orang Islam atau pun Jawa bahwa pertengahan malam yang akhir adalah waktu yang paling tepat untuk mediasi berdoa, muhasabah, dan tafakkur – juga muncul setelah terjadi perselisihan dan peperangan seru antara tokoh dalam pewayangan atau ketika pergantian lakon. Hal itu menunjukkan bahwa semua hal dalam kehidupan tokoh, kembali pada alam dan sang pengendali gunungan. Setelah gunungan dan goro-goro lewat, muncullah tokoh empat punakawan (bukan empat sekawan). Arti dari Punakawan – terdiri dari Ki Lurah Semar Badranaya atau Sang Guru Sejati, Ki Nala Gareng, Ki Lurah Bagong, dan Ki Petruk Kanthong Bolong– adalah “Kawan yang menyaksikan” atau “Pengiring”. Dalam hukum agama Islam, saksi dalam sebuah masalah yang terbanyak adalah 4 orang saksi, dan minimal adalah dua orang saksi. Bentuk dari punakawan merupakan perwujudan dari macam-macam bentuk perwatakan manusia. Selain itu, dalam pewayangan Sunan Kalijaga, nama-nama dari punakwan terlahir dari intisari al Quran. Peranan Punakawan sangat menentukan keberhasilan suatu kehidupan. Semar merupakan gambaran penyelenggaraan Illahi yang ikut berproses dalam kehidupan manusia dan merupakan simbol dari cipta, rasa, karsa dan karya. Dalam uthak-athik-gathuk ala kejawen, penggambaran punakawan sebagai berikut; Semar; tubuhnya bulat, selalu tersenyum, tapi bermata sembab. Wajahnya tua tapi potongan rambutnya bergaya kuncung seperti anak kecil. Ia berkelamin laki-laki, tapi memiliki payudara seperti perempuan, seolah-olah ia merupakan simbol penggambaran jagad raya, simbol dari bumi, tempat tinggal umat manusia dan makhluk lainnya, sebagai simbol suka dan duka. Kuncung di kepala adalah perlambangan bahwa manusia haruslah menggunakan akal budinya dalam menimbang-nimbang semua permasalahan, sebagai simbol pria dan wanita. Namun, dalam istilah pewayangan yang dibawakan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga, Semar adalah gubahan dari lafadz “Simaar”, yang berarti “Paku”. Hal ini menunjukkan bahwa seorang muslim haruslah menjadi paku. Siap untuk dipukul guna merekatkan kayu dan dipukul ketika menyembul keluar dari kayu. Ini menyiratkan bahwa seorang muslim haruslah bisa menjadi mediator (penyambung) dari semua golongan tanpa pandang bulu. Ciri yang menonjol dari Semar adalah kuncung putih di kepala sebagai simbol dari pikiran, gagasan yang jernih atau cipta. Gareng; ciri yang menonjol dari punakawan ini adalah berkaki pincang. Hal ini merupakan sebuah sanepa (simbol) dari sifat Gareng sebagai kawula yang selalu hati-hati dalam bertindak. Kemudian bermata kero yang merupakan kewaspadaan. Selain itu, cacat fisik Gareng yang lain adalah tangan yang patah. Ini adalah sanepa bahwa Gareng memiliki sifat tidak suka mengambil hak milik orang lain dan teliti. Ketiga cacat tubuh tersebut menyimbolkan rasa. Gareng juga diambilkan dari bahasa Arab “Qariin”, yang berarti teman. Pesan yang tersarikan dari ciri fisik Gareng menunjukkan, bahwa kita haruslah mencari teman yang selalu berhat-hati dalam bertindak, waspada, dan tidak suka mengambil hak orang lain. Petruk; ia adalah nama lain dari Dawala. Dawa berarti panjang, La dari kata Ala yang berarti jelek. Semua bentuk tubuhnya panjang, berkulit hitam, pokoknya jelek semua. Namun, perlambangan dari petruk adalah memandang dan berpikir panjang dalam segala hal, tidak grusa-grusu (ceroboh) dan mempunyai kesabaran yang luas. Dalam khazanah Arab, Petruk berasal dari kata “Fatruk Kullu Man Siwallah”, yang berarti “tinggalkan semua makhluk selain Allah.” Petruk merupakan simbol dari karsa, kehendak, dan keinginan yang digambarkan dalam kedua tangannya yang panjang. Jika digerakkan, tangan depan menunjuk, memilih apa yang dikehendaki, tangan belakang menggenggam erat-erat apa yang telah dipilih (agama/ ideologi). Bagong; tokoh Bagong pun dilukiskan dengan ciri-ciri fisik yang mengundang kelucuan. Tubuhnya bulat, matanya lebar, bibirnya tebal. Gaya bicaranya terkesan ceplas-ceplos dan semaunya sendiri. Bagong adalah sosok yang paling lugu dan kurang mengerti tata krama, namun tangguh. Dalam literatur bahasa Arab, Bagong berasal dari kata “Baghaa”, yang berarti “berontak”. Bagong merupakan bentuk dari karya. Hal itu disimbolkan dari kedua telapak tangan yang kelima jarinya terbeber lebar, yang berarti selalu siap sedia untuk bekerja keras. Dari keempat simbol dari punakawan ini (cipta, rasa, karsa dan karya), tidak bisa dipisah antara satu dengan yang lainnya. Karena, keempat simbol itu merupakan intisari dari kepribadian dan jati diri manusia, yaitu berfikir jernih, berhati tulus, bertekad bulat, dan bekerja keras. Sehingga bisa menjadikannya sebagai manusia yang ideal, baik di hadapan makhluk yang lainnya, dan di hadapan Tuhan. Sungguh menarik bukan? sumber majalah misikat

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar