Selasa, 05 Juli 2011

Pelajaran dari Hatim Al-Asham

Renungkanlah riwayat berikut ini.

Suatu hari, Hatim Al-Asham ditanya oleh sahabatnya, Syaqiq al-Balkhi, semoga Allah merahmati keduanya.

“Kau telah bersahabat denganku selama 30 tahun, apa yang kau dapatkan selama ini ?” tanya Syaqiq.

“Aku telah mendapatkan 8 pelajaran yang kuharapkan dapat menyelamatkanku,” jawab Hatim.

“Apa saja pelajaran itu?” tanya Syaqiq

“Pertama : Kuamati kehidupan manusia, kudapati setiap manusia memiliki kecintaan dan kesayangan. Dari beberapa kecintaannya itu, ada yang menemaninya sampai pada sakit yang menyebabkan kematiannya, dan ada yang mengantarkannya sampai ke pekuburan, setelah itu mereka semua pergi meninggalkannya seorang diri, tidak ada satupun yang bersedia masuk ke dalam kubur menemaninya. Kurenungkan hal ini lalu kukatakan : sebaik-baik kecintaan adalah yang mau menemani seseorang didalam kubur dan menghiburnya. Aku tidak mendapatkan yang demikian itu kecuali amal saleh. Oleh karena itu, kujadikan amal saleh sebagai kecintaanku agar dapat menjadi pelita kuburku, menghiburku di dalamnya, dan tidak akan meninggalkanku seorang diri.

Kedua : Kuperhatikan bahwa manusia selalu memperturutkan hawa nafsunya, dan bersegera dalam memenuhi keinginan nafsunya. Lalu kurenungkan wahyu Allah Ta’ala yang artinya :

“Dan adapun orang yang takut pada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya). [Qs an-Nazi’at (79) : 40-41]

Aku yakin bahwa Qur’an adalah Haq dan benar, maka aku segera menentang nafsuku dan menyiapkan diri untuk memeranginya. Tidak sekalipun aku ikuti kehendaknya sampai akhirnya ia tunduk dan taat kepada Allah.

Ketiga : Aku lihat setiap orang berusaha mencari harta dan kesenangan duniawi, kemudian menggenggamnya erat-erat. Lalu kurenungkan wahyu Allah Ta’ala :

“Apa yang ada di sisinu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah kekal… [Qs. An-Nahl (16) : 96]

Karena itu, kubagi-bagikan dengan ikhlas penghasilanku kepada kaum fakir miskin agar menjadi simpananku kelak di sisi-Nya.

Keempat : Kuperhatikan sebagian manusia berangapan bahwa kemuliaan dan kehormatan terletak pada banyaknya pengikut dan famili, lalu mereka berbangga-bangga dengannya. Yang lain mengatakan terletak pada harta yang melimpah dan anak yang banyak, lalu mereka bermegah-megah dengannya. Sebagian yang lain mengira terletak pada merampok harta orang lain, menzalimi dan menumpahkan darah mereka. Dan sebagian lagi meyakini bahwa kemuliaan dan kehormatan terletak dalam menghambur-hamburkan dan memboroskan harta. Aku lalu merenungkan wahyu Allah Ta’ala:

“…sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa diantara kalian…[Qs Al-Hujurat (49) : 13]

Lalu kupilih takwa karena aku yakin bahwa Quran itu haq dan benar, sedang pemikiran dan pendapat mereka keliru dan tidak langgeng.

Kelima : Kuperhatikan manusia sering saling menghina dan bergunjing (ghibah). Perbuatan buruk itu ditimbulkan oleh perasaan hasad (dengki) sehubungan dengan harta, kedudukan dan ilmu. Kemudian kurenungkan wahyu Allah Ta’ala :

“…Kami telah menentukan pembagian nafkah hidup di antara mereka dalam kehidupannya…[Qs Az-Zukhruf (43) : 32]

Maka tahulah aku, bahwa pembagian itu telah ditentukan oleh Allah sejak dialam azali. Oleh karena itu, aku tidak boleh mendengki siapa pun dan harus rela dengan pembagian yang telah diatur oleh Allah Ta’ala.

Keenam : Kuperhatikan manusia saling bermusuhan satu dengan lainnya karena berbagai sebab dan tujuan. Lalu kurenungkan wahyu Allah Ta’ala :

“Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagi kalian, maka anggaplah ia musuh (kalian)…”[Qs Fathir (35) : 6]

Maka sadarlah aku, bahwa aku tidak boleh memusuhi siapapun kecuali setan.

Ketujuh : Kuperhatikan setiap orang berusaha keras dan berlebihan dalam mencari makan dan nafkah hidup dengan cara yang menyebabkan mereka terjerumus dalam perkara syubhat dan haram, juga dengan cara yang dapat menghinakan diri dan mengurangi kehormatannya. Lalu kurenungkan wahyu Allah Ta’ala :

“Dan tidak ada satu binatang melata pun di bumi ini melainkan Allah-lah yang menanggung rezekinya.” [Qs Hud (11) : 6]

Maka sadrlah aku, bahwa sesungguhnya rezeki ada di tangan Allah Ta’ala, dan Allah telah memberikan jaminan. Oleh karena itu, aku lalu menyibukkan diri dengan ibadah dan tidak meletakkan harapan pada selain-Nya.

Kedelapan : Kuperhatikan sebagian orang menyandarkan diri pada benda-benda buatan manusia, sebagian orang bergantung pada dinar dan dirham, sebagian pada harta dan kekuasaan, sebagian pada kerajinan dan industri, dan sebagian lagi pada sesama makhluk. Lalu kurenungkan wahyu Allah Ta’ala :

“…dan barang siapa bertawakkal kepada Allah niscaya Ia akan mencukupi (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi segala sesuatu.” [Qs at-Thalaq (65) : 3]

Maka aku pun lalu bertawakkal kepada Allah Ta’ala dan mencukupkan diri dengan-Nya, karena Allah adalah sebaik-baik Dzat yang bisa kupercaya untuk mengurusi dan melindungi semua keinginanku.”

(Setelah mendengar uraian Hatim) Syaqiq berkata, “Semoga Allah memberimu taufiq. Aku telah membaca Taurat, Injil, zabur dan Quran ternyata semua kitab itu membahas kedelapan persoalan ini. Oleh karena itu, barang siapa mengamalkannya maka ia telah mengamalkan keempat kitab tersebut.
Informasi ini dapat dicari dengan kata kunci berikut:

aku yakin rezeki sudah diatur oleh allah taala,hatim al-asham,Kisah hatim al asham,al asham,delapan,hatim al asham,hatim al ashom,kuperhatikan manusia saling bermusuhan satu dengan lainnya karena berbagai sebab dan tujuan Lalu kurenungkan wahyu Allah Ta’ala : Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagi kalian maka anggaplah ia musuh (kalian) Maka sadarlah aku bahwa aku tidak boleh memu,riwayat hidup hatim al asham
qolbunsalim.com/pelajaran-dari-hatim-al-asham/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar