Kamis, 17 Maret 2011

Berbakti Pada Orang Tua adalah Syarat Menuju Puncak Keberhasilan





Dikala mereka menginginkan sesuatu, mereka mendekatkan diri kepada-Nya dengan berdoa dan terus memohon agar dikabulkan segala cita-cita dan keinginannya. Begitu besar harapan dan keinginannya agar mereka menjadi orang yang mampu meraih kesuksesan dan keberhasilan dalam hidupnya. Dan mereka pun senantiasa berdo’a :

“Ya… Allah, ampunilah semua dosa dan kesalahanku, kabulkanlah segala do’a dan permintaanku. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

“Ya… Tuhanku, kabulkanlah segala cita-cita dan keinginan hamba-Mu ini, agar hamba menjadi orang yang mampu meraih kesuksesan dan keberhasilan, agar hamba mendapatkan kemudahan dalam setiap langkah hamba. Ya… Tuhanku, berikanlah hamba kebahagiaan dunia dan akhirat. Jauhkanlah hamba dari segala kesulitan dan kesusahan hidup.”

Begitulah kira-kira gambaran sederhana seorang manusia yang memohon pada Sang Khalik dalam setiap do’anya. Setiap saat mereka berdo’a, setiap waktu meraka memohon, terus dan terus berdo’a tiada henti dan tak pernah berputus asa. Semua perintah mereka jalankan, semua larangan mereka tinggalkan, demi mengharap cita-cita dan keinginannya terkabul. Mereka ingin sukses dalam kehidupan dunia, mereka ingin menjadi orang yang berhasil dalam karirnya, mereka ingin mendapatkan kemudahan dalam segala urusannya dan mereka menginginkan kebahagiaan dalam diri dan keluarganya.

Mereka telah berusaha secara lahir batin demi cita-cita dan keberhasilannya. Secara batiniah mereka termasuk orang yang gigih dan tak pernah berputus asa dalam berdo’a, mereka termasuk orang yang senantiasa menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Secara lahiriah mereka belajar dengan tekunnya, mereka bekerja dengan kerasnya, mereka terus dan terus berjuang demi keberhasilannya tanpa mengenal lelah.

Hingga satu waktu, mereka pun merasa lelah setelah sekian lama berjuang, mereka merasa kecewa karena permintaannya belum juga dikabulkan, mereka bahkan berputus asa karena menganggap usahanya telah sia-sia. Perjuangannya tidaklah menghasilkan apa-apa, bahkan terasa semakin sulit dan tiada jalan keluarnya. Mereka pun selalu bertanya pada dirinya mengapa bisa terjadi seperti ini, mereka pun selalu mengeluh akan kehampaan hidupnya, dan dalam keadaan hati yang hancur mereka pun mengadukan kembali kegelisahan hidupnya pada Sang Khalik. Dan mereka pun berdo’a :

“Ya… Allah, mengapa Engkau tidak mengabulkan permintaanku? Mengapa hidupku selalu menderita dan kesusahan? Apakah Engkau sudah tidak mengasihaniku lagi? Apakah yang salah dalam diriku? Bukankah hamba selalu taat menjalankan segala perintah-Mu dan menjauhi segala larangan-Mu?”

“Ya… Tuhanku, setiap saat hamba berdo’a, setiap waktu hamba memohon, kapanpun dan dimanapun hamba selalu meminta kepada-Mu, tapi mengapa Engkau tidak mengabulkan permintaanku? Mengapa Engkau tidak mendengar do’aku? Mengapa semua keinginanku tidak ada yang Engkau penuhi? Apakah salah dan dosaku?”

Mereka selalu bertanya pada dirinya sendiri apa yang membuat doa’nya belum juga terkabul. Mereka selalu berpikir gerangan apa di balik semuanya. Hingga pada akhirnya kebingungan menyelimuti hati dan pikiran mereka. Mereka pun tidak mampu untuk menjawab rahasia di balik keberhasilan yang tak kunjung datang menghampirinya.

Marilah kita renungkan hati kita sejenak untuk menghayati dan mengungkap rahasia di balik semuanya. Sesungguhnya semua permasalahan yang datang pasti ada jalan keluarnya, maka permasalahan di atas pun tentunya ada cara untuk mengatasinya.

Sesunguhnya kita selaku orang beriman percaya dan mengakui akan kekuasaan Tuhan. Apapun yang terjadi, sesungguhnya itu sudah menjadi kehendak-Nya dan apapun yang menimpa diri kita, sesungguhnya itu adalah yang terbaik bagi kita. Akan tetapi kita selaku manusia dengan segala kekurangan dan keterbatasannnya, terkadang sulit untuk menyikapi apakah sesuatu itu terbaik bagi kita atau buruk buat diri kita. Untuk permasalahan ini ada beberapa poin penting yang harus kita renungkan dan pikirkan, diantaranya :

1. Allah Maha Mengasihi dan Menyayangi Hamba-Nya

Dalam Al-Qur’an yang menjadi landasan berpijak dan melangkah bagi kaum muslimin, Allah berulang-ulang menyatakan bahwa Dia adalah Maha Pengasih dan Penyayang. Dia mengasihi dan menyayangi setiap hamba-hambanya yang beriman dan selalu mendekatkan diri pada-Nya. Lalu mengapa hamba-hambaNya yang berdo’a dan memohon kepada-Nya belum juga dikabulkan? Bagaimana dengan mereka yang beriman dan bertakwa yang setiap saat dan waktu berdo’a atas cita-cita dan keinginannya, namun belum juga terwujud? Bukankah Allah Maha Pengasih dan Penyayang?

Disinilah kekuasaan-Nya berlaku atas mahluk-Nya. Sesungguhnya Dia mengetahui apa-apa yang terbaik bagi hamba-hambaNya dan apa-apa yang akan menjadi keburukan bagi diri hamba-hambaNya. Bisa jadi hal itu sesungguhnya yang terbaik bagi mereka namun ada sesuatu hal yang mereka lupakan dan lalaikan. Sehingga cita-cita dan keinginan mereka untuk meraih keberhasilan tertahan atau tertunda. Lalu, gerangan apakah yang membuat cita-cita dan keinginan mereka tertahan bahkan tertolak? Mari kita hayati dan renungkan!

2. Allah mengabulkan setiap do’a hamba-Nya

Janji Allah dalam salah satu Ayat Al-Qur’an : “Berdo’alah kepadaku, niscaya Aku kabulkan permohonanmu.” Ayat tersebut merupakan janji Allah yang pasti, bahwa Allah akan mengabulkan setiap permohonan hamba-hambaNya yang meminta kepada-Nya. Dan tidak ada satu janji pun yang Allah ingkari. Allah akan menepati janji-Nya dan atas do’a-do’a mereka ada yang dikabulkan di dunia dan ada pula yang dikabulkan di akhirat, ada yang cepat dan ada pula yang lambat. Untuk permintaan di akhirat, sudah jelas di dunia ini tidak akan mendapatkannya, karena dunia dan akhirat adalah sesuatu yang berbeda.

Lalu bagaimanakah dengan do’a-do’a mereka pada saat meminta untuk menjadi orang yang berhasil dalam kehidupannya? Bagaimanakah dengan mereka yang memohon dikabulkannya cita-cita dan harapan hidupnya namun tak kunjung datang? Mengapa do’a mereka tertahan padahal mereka termasuk orang yang beriman dan bertakwa? Apakah yang membuat semua keinginannya tertahan atau tertunda? Marilah kita untuk terus menghayati dan merenungkan gerangan apakah di balik tertahannya segala cita-cita dan keinginan mereka?
3. Keridhaan Allah adalah keridhaan orangtua

Allah menganjurkan kita agar menghormati dan berbakti pada orangtua. Mereka yang tidak menghormati dan berbakti pada orangtua, cepat atau lambat akan mengalami kesulitan dan kesusahan hidup yang tak pernah mereka bayangkan. Lalu apakah hubungannya orangtua dan keberhasilan? Dan mengapa orangtua menjadi kunci keberhasilan kita? Bukankah keberhasilan seseorang ditentukan oleh diri kita sendiri?

Ketahuilah wahai saudaraku! Begitu tingginya derajat orangtua sehingga menjadikan orangtua sebagai sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan kita. Susah senangnya kehidupan manusia sangat dipengaruhi oleh faktor bakti kita pada orangtua. Sebagai seorang anak, maka kewajiban kita adalah berbakti pada orangtua dan memperlakukan mereka dengan sebaik-baiknya. Menjaga hati dan perasaan orangtua adalah menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan oleh seorang anak. Begitu besar perjuangan orangtua terhadap kehidupan anaknya. Mereka membesarkan kita dengan penuh kasih sayang dan kesabaran. Mereka mendidik kita agar kelak menjadi orang yang berguna bagi sesama, berguna buat bangsa dan negara terlebih agama.

Ridhanya Allah adalah ridhanya orangtua, murkanya Allah adalah murkanya orangtua, sakitnya Allah adalah sakitnya orangtua. Poin penting inilah yang akan kita renungkan dan hayati bersama dalam menyingkap rahasia di balik keberhasilan seseorang. Banyak orang yang menyepelekan akan hal ini, tapi banyak pula yang menjadikan orangtua sebagai suatu faktor penting dalam hidupnya, dan merekalah orang-orang yang selamat yang akan menemui kebahagiaan hakiki. Mereka adalah orang-orang yang akan mendapatkan nikmat dan karunia-Nya dikarenakan mereka telah berbakti dan memperlakukan orangtua dengan sebaik-baiknya.

Seseorang yang beriman dan bertakwa tetapi tidak menghormati dan berbakti pada orang tua, maka sesungguhnya mereka tidaklah sempurna keimanannya. Ketika seorang anak yang mulai tumbuh dewasa memiliki cita-cita dan keinginan terhadap sesuatu, maka hendaknya mereka mendatangi orangtua terlebih dahulu, jika orangtua ridha maka Allah pun ridha. Sungguh tiada berguna bila mereka taat beribadah tetapi durhaka pada orangtua. Begitu mulianya kedudukan orangtua pada pandangan Allah, sehingga Allah selalu mengingatkan kita agar senantiasa berbakti kepada orangtua.

Hubungan orangtua dan keberhasilan seseorang

Mereka telah berjuang keras demi cita-cita dan keinginannya, demi kesuksesan dan keberhasilannya, demi kebahagiaan dan ketenangan hidupnya, akan tetapi mereka belum juga mendapatkan apa yang mereka impikan dan harapkan. Sesungguhnya mereka telah lalai dan lupa terhadap orangtua mereka sendiri. Tidaklah cukup mereka berdo’a kepada Sang Khalik bila mereka tidak memohon keridhaan dan do’a kepada orangtuanya. Tidaklah cukup bagi mereka taat beribadah bila mereka masih mendurhakai orangtua. Tidaklah cukup bagi mereka bekerja dan berjuang keras apabila mereka tidak memperlakukan orangtua dengan sebaik-baiknya. Dan pada akhirnya Allah pun berkehendak lain terhadap apa yang mereka inginkan.

Pertama, seorang anak hendaknya mengasihi dan menyayangi orangtuanya dengan keikhlasan, maka Allah pun akan menyayangi dan mengasihi diri kita. Jika kita tetap memelihara diri kita untuk selalu berbakti dan berbuat baik pada orangtua, niscaya kita akan mendapatkan balasan yang setimpal dari Sang Khalik. Semua urusan kita akan dimudahkan-Nya, semua kesulitan kita akan diringankan-Nya, dan bila Dia berkehendak tidak ada satu pun yang bisa menghalangi-Nya. Tetapi jika mereka masih durhaka pada orangtua, niscaya mereka akan selalu ditimpa kesulitan sehingga semua cita-cita dan keinginannya akan tertunda.

Kedua, hendaknya seorang anak yang mengalami kesulitan dalam menggapai cita-cita dan harapannya, segeralah bertaubat kepada Allah dan mohon ridha serta ampunan dari orangtuanya. Sungguh celaka seorang anak yang masih suka menyakiti orangtua, masih suka membentak dan meremehkan orangtua bahkan menganggap tidak berguna orangtuanya. Maka disadari atau pun tidak disadari, sesungguhnya durhakanya mereka pada orangtua akan menghambat segala cita-cita dan keinginannya.

Ketiga, Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, tidak mungkin keputusan-Nya merugikan mahluk-Nya, tidak mungkin Tuhan membiarkan hamba-hambaNya menderita dan sengsara. Semuanya adalah yang terbaik di sisi Allah. Mereka yang merasa cita-cita dan keinginannya belum juga terwujud, hendaknya mereka introspeksi diri, sudah sejauh manakah mereka berbakti pada orangtuanya? Sudah sejauh manakah mereka memperlakukan orangtuanya dengan baik?

Keempat, kita harus senantiasa berbaik sangka terhadap apapun keputusan Tuhan terhadap diri kita. Bisa jadi tertundanya segala cita-cita dan keinginan kita adalah sebagai ujian terhadap diri kita, bahkan sebagai peringatan bagi kita untuk senantiasa introspeksi diri. Bagi mereka yang kurang peka terhadap pentingnya peranan orangtua dalam menuju kesuksesan kita, mereka akan selalu mengalami kesulitan dan kesusahan selama belum memperhatikan orangtuanya.

Kelima, kita meyakini bahwa segala do’a kita pada hakikatnya akan Tuhan kabulkan. Terkabulnya do’a pun memerlukan syarat-syarat yang perlu diperhatikan. Salah satu syarat utama adalah tidak melakukan dosa terhadap orangtua. Ketika sebagian orang berdoa dan memohon kepada Sang Khalik, dengan segala kerendahan hatinya, dengan segala kekhusu’annya, dengan tangisan dan linangan air matanya, namun apa yang mereka inginkan masih belum juga terkabul. Kita mengetahui bahwasannya Allah tidak akan pernah ingkar janji. Mereka berdoa dan seharusnyalah terkabul. Lalu apakah yang menghalangi semuanya?

Ketika seseorang berdoa untuk kesuksesan dan keberhasilannya, Tuhan mendengarnya, dan Tuhan pun berkehendak untuk memberikan karunia-Nya pada mereka. Namun dosa-dosa mereka terhadap orangtua, kedurhakaan mereka terhadap orangtua, menjadikannya sebagai hijab atau penghalang diturunkannya nikmat dan karunia tersebut. Mana mungkin ketika orangtua merasa sedih dan terluka akibat ulah diri kita, Tuhan akan menyayangi diri kita dan mengabulkan doa kita, kalaupun terkabul semuanya semata-mata karena kehendak-Nya dan kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi ke depannya.

Maka jika seseorang yang merasa tertunda bahkan sulit menggapai cita-cita dan harapannya. Cobalah untuk menghilangkan hijab atau penghalang itu dengan memohon ampunan dan keridhoan orangtua. Ketika orangtua merasa ridha, ketika orangtua mengampuni dengan tulus dosa-dosa seorang anaknya, ketika orangtua tidak merasa sakit hati dan terluka karena diri kita. Yakinlah bahwa ketika tidak ada lagi penghalang (dosa-dosa) antara anak dan kedua orangtuanya, apa yang mereka cita-citakan dan impikan akan segera terwujud.

Beberapa uraian diatas hanyalah gambaran betapa pentingnya faktor orangtua sebagai kunci keberhasilan dan kesuksesan seseorang. Semoga kita termasuk anak yang berbakti pada orangtua, semoga kita bisa memperlakukan mereka dengan sebaik-baiknya, semoga kita semua menjadi hamba-hamba pilihan-Nya dan semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung, Amin.

By : Makna Hidup
*** Indahnya menjadikan hidup lebih bermakna ***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar