Sabtu, 19 Maret 2011

Hidayah saat Mengajar di Sekolah Islam


“Saya tidak pernah begitu dekat dengan Tuhan sampai saya menjadi seorang muslimah. Alhamdulillah....”

Hidayah bisa datang dari mana saja. Bila Allah SWT telah berkehendak, tak ada yang bisa menghadangnya. Dan itulah yang dialami Lynette Wehner.

Wanita kelahiran Amerika ini merasa gelisah, dan terjadi pergulatan bathin ketika mendapatkan tugas mengajar di sebuah sekolah Islam. Ia, yang notabene penganut agama Kristen Katholik, saat berinteraksi dengan komunitas muslim, mesti mengenakan atribut muslimah saat mengajar, jilbab. Namun, atas nama profesionalitas, ia menjalaninya dengan senang. Meski jilbab adalah sesuatu yang sangat asing baginya.

Beruntung seorang staf di sekolah Islam itu membantunya mengenakan jilbab. “Saya sangat tertarik bahkan sambil tertawa saat mencoba berbagai trend gaya berjilbab,” kata Wehner.

Bahkan pergulatan bathin yang sesungguhnya mulai terasa. Ia merasa nyaman mengenakan busana muslimah itu. Guru, staf, dan murid-muridnya begitu baik memperlakukannya meskipun keyakinannya berbeda. Pandangan negatifnya tentang Isalm selama ini berangsur berubah. Umat Islam tidak seperti yang dibayangkannya, “jahat dan teroris”. Sebaliknya, pagi itu ia merasa sangat rileks berada di lingkungan muslim. “Mengapa seseorang bisa sedemikian mudah membuat stereotipe terhadap orang lain tanpa mengenal lebih jauh orang yang bersangkutan. Ia telah belajar banyak hal di hari pertama mengajarnya.

Di luar jam pelajaran, Wehner kerap berinteraksi dan berdiskusi dengan siswanya. Tak hanya dia yang kerap bertanya tentang Islam, muridnya pun kerap menanyakan kebenaran ajaran Kristen Katholik. Dari sinilah ia mulai meragukan keyakinannya.

Ternyata muridnya jauh lebih memahami sejarah agama Kristen. Sebenarnya, mereka tidak secara khusus belajar sejarah agama Kristen. Yang mereka pelajari adalah sejarah agama Islam. Namun, dalam pelajaran itu, dipelajari juga sejarah agama-agama terdahulu, termasuk Kristen. Itulah sebabnya, pemahaman mereka tentang sejarah agama Kristen pun sangat baik.

“Saya terkesan dengan sikap para siswa, pengetahuan mereka tentang agama saya (Kristen) lebih baik dibandingkan pengetahuan yang saya miliki. Dan saya bertanya dalam hati, dari mana mereka tahu semua itu,” kata Wehner.

Sejak itu, diam-diam ia sering membaca buku-buku yang berisi ajaran Islam, yang ditinggalkan murid-muridnya di sekolah. Saat itu Wehner mulai merasakan, apa yang ia baca mengandung banyak kebenaran. Lebih dari itu, Wehner juga sering bertanya soal Islam dengan guru-guru di sekolah itu. Ia terus membaca dan bertanya kepada banyak orang dan melakukan pencarian. Ia bahkan bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk berdiskusi dan memuaskan rasa ingin tahunya tentang Islam. “Perbicangan kami sangat menarik dan logis, otomatis semakin mendorong rasa ingin tahu saya. Saya merasa telah menemukan apa yang selama ini saya cari. Tiba-tiba saja, ada rasa damai yang menyebar di dalam hati saya. Inikah cahaya Islam?”

Di rumah, Wehner mulai membaca terjemahan Al-Quran. Sayangnya, ia harus main kucing-kucingan dengan suaminya, lantaran ketidaksukaannya pada Islam. Kala itu ia belum bercerai.

Awalnya, Wehner merasa takut telah melakukan pengkhiatan terhadap agamanya dan ragu untuk percaya bahwa ada kitab suci lain, selain Alkitab, yang diturunkan Tuhan. “Namun saya berusaha mendengarkan apa kata hati saya, yang menyuruh saya membaca Al-Quran. Saat membacanya, saya merasa, beberapa bagian dalam Al-Quran itu dituliskan khusus untuk saya. Sering kali saya membacanya sambil menangis. Tapi setelah itu, saya merasa tenang.”

Ia juga kerap melakukan shalat. “Saya shalat di kamar anak lelaki saya, dengan diam-diam tentunya. Tangan saya memegang sebuah buku tentang tata cara shalat. Saya melakukan shalat dengan konflik bathin dalam diri saya. Sebelum itu saya tidak biasa berdoa secara langsung kepada Tuhan. Sepanjang hidup saya, kepada saya diajarkan untuk berdoa kepada Yesus. Biarlah saya berdoa kepada Yesus dan Dialah yang akan menyampaikan doa saya kepada Tuhan,” kata Wehner.

Sementara itu, ia juga sering belajar tauhid dalam Islam. Dalam Islam, konsep keesaan Tuhan sangat jelas. Yakni, Tuhan itu satu. Tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan ternyata, ajaran itu sangat berpengaruh dalam diri Wehner. Maka, semakin lama ia semakin yakin akan kebenaran Islam. Alhasil, beberapa bulan kemudian, Wehner memutuskan untuk memeluk Islam, “Inilah momennya untuk menjadi seorang muslimah.” Hari itu ia yakin, Tuhan sedang bicara kepadanya. Tidak ada yang perlu ditakutkan jika memang ingin berpindah ke agama Islam. “Ketika itu saya mulai menangis bahagia.”

Wehner mengucapkan dua kalimah syahadat di hadapan seluruh siswa sekolah Islam tempat ia mengajar, disaksikan para guru yang lain, termasuk staf. “Saya menjadi orang yang baru. Semua keraguan sirna. Saya yakin telah membuat keputusan yang benar. Saya tidak pernah begitu dekat dengan Tuhan sampai saya menjadi seorang muslimah. Alhamdulillah, saya sangat beruntung.”

(sumber majalah alkisah)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar