Sabtu, 26 Maret 2011

SERAT WEDHATAMA

SERAT WEDHATAMA; Pintu Pembuka Rahasia Spiritual Raja-Raja Mataram
Serat Wedhatama (asal kata dalam bahasa Jawa; Wredhatama) merupakan salah satu karya agung pujangga sekaligus seniman besar pencipta berbagai macam seni tari (beksa) dan tembang. Wayang orang, wayang madya, pencipta jas Langendriyan (sering digunakan sebagai pakaian pengantin adat Jawa/Solo). Beliau adalah enterpreneur sejati yang sangat sukses memakmurkan rakyat pada masanya dengan membangun pabrik bungkil, pabrik gula Tasikmadu dan Colomadu di Jateng (1861-1863) dengan melibatkan masyarakat, serta perkebunan kopi, kina, pala, dan kayu jati di Jatim dan Jateng. Masih banyak lagi, termasuk merintis pembangunan Stasiun Balapan di kota Solo. Beliau juga terkenal gigih dalam melawan penjajahan Belanda. Hebatnya, perlawanan dilakukan cukup melalui tulisan pena, sudah cukup membuat penjajah mundur teratur. Cara inilah menjadi contoh sikap perilaku utama, dalam menjunjung tinggi etika berperang (jihad a la Kejawen); “nglurug tanpa bala” dan “menang tanpa ngasorake”. Kemenangan diraih secara kesatria, tanpa melibatkan banyak orang, tanpa makan korban pertumpahan darah dan nyawa, dan tidak pernah mempermalukan lawan. Begitulah kesatria sejati.

Selain terkenal kepandaiannya akan ilmu pengetahuan, juga terkenal karena beliau tokoh yang amat sakti mandraguna. Beliau terkenal adil, arif dan bijaksana selama dalam kepemimpinannya. Beliau adalah Ngarsa Dalem Ingkang Wicaksana Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Sri Mangkunegoro IV. Raja di keraton Mangkunegaran Solo. Berkat “laku” spiritual yang tinggi beliau diketahui wafat dengan meraih kesempurnaan hidup sejati dalam menghadap Tuhan Yang Mahawisesa; yakni “warangka manjing curiga” atau meraih kamuksan; menghadap Gusti (Tuhan) bersama raganya lenyap tanpa bekas.

Wedhatama merupakan ajaran luhur untuk membangun budi pekerti dan olah spiritual bagi kalangan raja-raja Mataram, tetapi diajarkan pula bagi siapapun yang berkehendak menghayatinya. Wedhatama menjadi salah satu dasar penghayatan bagi siapa saja yang ingin “laku” spiritual dan bersifat universal lintas kepercayaan atau agama apapun. Karena ajaran dalam Wedhatama bukan lah dogma agama yang erat dengan iming-iming surga dan ancaman neraka, melainkan suara hati nurani, yang menjadi “jalan setapak” bagi siapapun yang ingin menggapai kehidupan dengan tingkat spiritual yang tinggi. Mudah diikuti dan dipelajari oleh siapapun, diajarkan dan dituntun step by step secara rinci.

SÊRAT WEDATAMA

Yasan Dalêm (Karya Paduka): Kangjêng Gusti Pangeran Arya Adipati Mangkunegara IV


PUPUH I

P A N G K U R



1. "Mingkar-mingkuring ukara, akarana karênan mardi siwi, sinawung rêsmining kidung, sinuba sinukarta, mrih krêtarta pakartining ilmu luhung, kang tumrap ing tanah Jawa, agama agêming aji."

Bertumpang tindihnya susunan kata-kata, hanya demi untuk mendidik para putra, disusun dalam bentuk syair Jawa, dibuat sedemikian indahnya, agar supaya tertata kembali ajaran-ajaran luhur, sesungguhnya bagi manusia ditanah Jawa, agama hanya sekedar busana berharga belaka.


2. "Jinejer ing Wedatama, mrih tan kêmba kêmbênganing pambudi, mangka nadyan tuwa pikun, yen tan mikani rasa, yêkti sêpi sêpa lir sêpah asamun, samasane pakumpulan, gonyak-ganyuk nglêlingsêmi."

Berjajar (susunan kalimat tadi didalam) Wedatama, (berguna supaya) mengencangkan dan menajamkan kesadaran, walaupun sudah tua usia seseorang, manakala tidak pernah meniti kedalam diri (olah rasa), pastilah sunyi sepi kosong penuh sampah (kesadarannya), ketika tengah dalam sarasehan (ilmu rasa), senantiasa salah tingkah memalukan.


3. "Nggugu karsane priyangga, nora nganggo pêparah lamun angling, lumuh ingaran balilu, ugêr guru alêman, nanging janma ingkang wus waspadeng sêmu, sinamun ing samudana, sasandon ing adu manis."

Sangat besar ke-aku-annya, tiada kira-kira kalau bicara, tidak mau disebut bodoh, suka sekali dipuji, berbeda dengan manusia yang sudah awas dengan kesadarannya, waspada pada segala perlambang kehidupan, akan terus berusaha agar senantiasa bersikap patut dan manis.


4. "Si pêngung nora nglêgewa, sangsayarda denira cacariwis, ngandhar-andhar angêndukur, kandhane nora kaprah, saya elok alangka longkangipun, si wasis waskitha ngalah, ngalingi marang sipingging."

Akan tetapi bagi si bodoh hal tersebut tak akan dipahami, semakin parah kecerewetannya, tinggi dan muluk kata-katanya, ucapannya tidak masuk akal, menggelikan dan sangat tidak pantas didengar, yang sadar akan mengalah, menghindar dari si bodoh.


5. "Mangkono ilmu kang nyata, sanyatane mung we rêsêping ati,bungah ingaran cubluk, sukeng tyas yen den ina, nora kaya si punggung anggung gumunggung, ugungan sadina dina, aja mangkono wong urip."

Begitulah ilmu yang sesungguhnya, bagi yang memiliki akan mampu menyenangkan hati sesama, tidak sedih dibilang bodoh, bergembira dihina orang, tidak seperti si bodoh yang semakin sombong, angkuh setiap hari, janganlah begitu menjalani kehidupan ini.


6. "Uripa sapisan rusak, nora mulur nalare ting saluwir, kadi ta guwa kang sirung, sinêrang ing maruta, gumarênggêng anggêrêng anggung gumrunggung, pindha padhane si mudha, prandene paksa kumaki."

Rusak sudah kehidupannya, tidak meningkat kesadarannya tercabik-cabik, bagaikan gua yang gelap, terhempas oleh angin, mengeluarkan suara menggeram ribut dan memekakkan telinga, seperti halnya si bodoh (mudha : bodoh), akan tetapi tetap saja angkuhnya menjadi-jadi.


7. "Kikisane mung sapala, palayune ngêndêlkên yayah wibi, bangkit tur bangsaning luhur, lah iya ingkang rama, balik sira sarawungan bae durung, mring atining tata krama, nggon-anggon agama suci."

Wawasanya tak seberapa, keberaniannya hanya mengandalkan kedua orang tua, orang tua yang sudah mengenyam kesadaran dan luhur namanya, boleh jadi ramamu ini memang sudah sadar, akan tetapi sebaliknya dirimu belum banyak pengalaman, belum banyak mengenal tata krama, belum paham inti sari agama suci.


8. "Socaning jiwangganira, jêr katara lamun pocapan pasthi, lumuh asor kudu unggul, sumêngah sêsongaran,yen mangkono kêna ingaran katungkul, karêm ing reh kaprawiran, nora enak iku kaki."

Dari mata jiwa ragamu, bisa dibaca dengan pasti, bahwa dirimu tidak mau terkalahkan dan harus unggul dalam segala hal, angkuh sombong tinggi hati, sungguh dirimu sudah bisa dikatakan telah kalah, tenggelam pada hal gagah-gagahan semata, sungguh tidak ada damai disana oh anakku.


9. "Kêkêrane ngelmu karang, kakarangan saking bangsaning gaib, iku boreh paminipun, tan rumasuk ing jasad, amung aneng sajabaning daging kulup, Yen kapengkok pancabaya, ubayane mbalenjani."

Ketahuilah sesunguhnya ilmu Karang (Ilmu Kesaktian) itu, segala ilmu yang berasal dari gaib, hanya sebatas boreh (bahan untuk luluran tubuh) semata, tidak meresap dalam jasad, hanya melindungi diluar kulit tubuh oh anakku, jikalau suatu ketika terhadang marabahaya, kebanyakan tidak ada daya khasiatnya.


10. "Marma ing sabisa-bisa, babasane muriha tyas basuki, puruitaa kang patut, lan traping angganira, Ana uga anggêr ugêring kaprabun, abon aboning panêmbah, kang kambah ing siang ratri."

Oleh karenanya sebisa mungkin, raihlah hati bersih untuk mendatangkan keselamatan, bergurulah kepada orang yang benar, belajarlah etika, pahamilah tata cara menjadi seorang pengabdi, pelajarilah tata cara menyembah yang sesungguhnya, yang sangat berguna baik siang dan malam.


11. "Iku kaki takokêna, marang para sarjana kang martapi, mring tapaking têpa tulus, kawawa nahen hawa, Wruhanira mungguh sanyataning ngêlmu, tan mêsthi neng janma wreda, tuwin muda sudra kaki."

Tanyakanlah itu semua, kepada para sarjana yang bertapa (bukan sarjana duniawi), yang bertapa meniti telapak ketulusan, yang mampu mengontrol diri, sungguh ilmu sejati itu, tidak bisa dipastikan ada pada orang tua, atau ada pada orang muda atau orang sudra, oh anakku.


12. "Sapantuk wahyuning Allah, gya dumilah mangulah ngelmu bangkit, bangkit mikat reh mangukut, kukutaning Jiwangga, Yen mangkono kena sinêbut wong sêpuh, liring sêpuh sêpi hawa, awas roroning ngatunggil."

Siapapun yang telah mendapat wahyu Allah, bagaikan mutiara yang bangkit dengan kesadarannya, bangkit mengikat segala kekotoran bathin, mampu mengendalikan jiwa raga, merekalah yang sesungguhnya bisa disebut orang sepuh (tua), yang dimaksud dengan sepuh (tua) sepi hawa (sunyi dari hawa nafsu), dan sadar bahwa seluruhnya ini adalah Tunggal!


13. "Tan samar pamoring Sukma, sinukmaya winahya ing ngasêpi, sinimpên têlênging kalbu, Pambukaning warana, tarlen saking liyêp layaping ngaluyup, pindha pêsating supena, sumusuping rasa jati."

Tiada tersamarkan oleh ulah Suksma (Badan halus), mampu merasakan kegaiban illahi dan kelembutan illahi dalam keheningan diri, yang tersimpan dalam inti kalbu (hati), itulah jalan terbukanya Warana (dinding penghalang/Maya/Hijab), dalam kondisi seperti tidur dan jaga, bagaikan kelebatan mimpi, disanalah terbukanya Rasa Jati (Kesadaran Atma).


14. "Sajatine kang mangkono, wus kakênan nugrahaning Hyang Widdhi, bali alaming ngasuwung, tan karêm karamean, ingkang sipat wisesa winisesa wus, mulih mula mulanira, mulane wong anom sami."

Sungguh yang telah mengalami kondisi seperti itu, sudah mendapatkan anugerah Hyang Widdhi, kesadarannya kembali pada keheningan, sudah tak lagi terpikat keduniawian, menyatu antara Yang Maha Kuasa dengan dia yang selama ini dikuasai, telah pulang kembali ke asal semula, oleh karenanya bagi orang muda.


PUPUH II

S I N O M



1. "Nulada laku utama, tumrape wong Tanah Jawi, Wong Agung ing Ngeksiganda, Panêmbahan Senopati, kêpati amarsudi, sudane hawa lan nêpsu, pinêsu tapa brata, tanapi ing siyang ratri, amamangun karyenak tyasing sêsama."

Contohlah perbuatan utama, bagi seluruh orang Jawa, yaitu perbuatan Manusia Agung dari Ngeksiganda (Ngeksi : Mata , Ganda : Arum~Rum~Ram. Ngeksiganda : Mataram), (beliau) Panembahan Senapati, senantiasa terpikat untuk berusaha, mengurangi hawa nafsu, dengan cara bertapa brata, baik dikala siang maupun malam hari, senantiasa pula berusaha menyenangkan hati sesama.


2. "Samangsane pasamuan, mamangun marta martani, sinambi ing sabên mangsa, kala kalaning asêpi, lêlana teki-teki, nggayuh gêyonganing kayun, kayungyun êninging tyas, sanityasa pinrihatin, puguh panggah cêgah dhahar lawan nendra."

Setiap dalam perkumpulan, selalu merendahkan diri, bahkan dikala waktu-waktu tertentu, disaat alam tengah sunyi sepi, beliau bahkan berkelana untuk menjalankan laku batin, (hal itu dilakukan) demi untuk tercapainya keinginan hati, terpikat heningnya jiwa, selalu berprihatin, dengan mengurangi makan dan minum.


3. "Sabên mendra saking wisma, lêlana laladan sepi, ngisêp sêpuhing supana, mrih pana pranaweng kapti, titising tyas marsudi, mardawaning budya tulus, mêsu reh kasudarman, neng têpining jala nidhi, sruning brata kataman wahyu dyatmika."

Manakala keluar dari rumah, yang dituju adalah tempat-tempat yang sepi, (ditempat-tempat tersebut beliau) menghisap intisari kesadaran, supaya bertambah sadar dan terang dalam diri, kehendak hati benar-benar mencari, jalan meresapkan tulusnya kesadaran, sungguh-sungguh berusaha membangun keindahan jiwa, ditepi samudera (beliau bertapa), kerasnya tapa brata mengundang turunnya wahyu kebaikan.


4. "Wikan wêngkoning samodra, kidêran wus den idêri, kinêmat kamot ing driya, rinêgan sagêgêm dadi, dumadya angratoni, nênggih Kangjêng Ratu Kidul, ndêdêl nggayuh nggêgana, umara marak maripih, sor prabawa lan Wong Agung Ngeksiganda."

Kekuatan kesadarannya memancar ke segenap penjuru samudera, tak ada tempat yang tersisa, termuat seluruhnya dalam jiwa, seluruh samudera bagai dalam genggaman, mendadak (dengan kesadarannya mampu) menguasai seluruhnya, sehingga Kangjeng Ratu Kidul, seketika muncul dan terbang ke angkasa, lantas datang menghadap dengan segan, kalah perbawa dengan Manusia Agung Ngeksiganda (Mataram).


5. "Dahat denira aminta, sinupêkêt pangkat kanci, jroning alam palimunan, ing pasaban sabên sêpi, sumanggêm anjanggêmi, ing karsa kang wus tinamtu, pamrihe mung aminta, supangate teki-teki, nora ketang têkên janggut suku jaja."

(Kangjeng Ratu Kidul) Sangat-sangat memohon, agar bisa berdekatan dan mendapat tempat (disisi Panembahan Senopati), dari alam gaib, dari kesunyian, (Kangjeng Ratu Kidul) sanggup untuk memberikan bantuan, kepada kehendak yang kelak diinginkan, semua itu hanya demi untuk mendapatkan, restu keberkahan dari dia yang tengah bertapa, walau kala memohon (Kangjeng Ratu Kidul) bagaikan bertongkat dagu dan berkaki dada.


6. "Prajanjine abipraya, saturun-turune wuri, mangkono trahing ngawirya, yen amasah mêsu budi, dumadya glis dumugi, iya ing sakarsanipun, wong agung Ngeksiganda, nugrahane prapteng mangkin, trah tumeêah dharahe padha wibawa."

Perjanjianpun telah disepakati, hingga kelak sampai keturunan (Panembahan Senapati), begitulah manusia trah mulia, manakala mengasah kesadaran, cepat terkabulkan segala keinginannya, terwujud segala kehendaknya, dan bagi Manusia Agung Ngeksiganda, anugerah yang diterimanya lestari hingga hari ini, seluruh keturunannya memiliki kewibawaan tinggi.


7. "Ambawani tanah Jawa, kang padha jumênêng aji, satriya dibya sumbaga, tan lyan trahing Senapati, pan iku pantês ugi, tinêlad labêtanipun, ing sakuwasanira, enake lan jaman mangkin, sayêktine tan bisa ngêplêki kuna."

Menguasai tanah Jawa, banyak yang menjadi raja, banyak pula yang menjadi ksatria unggul, semua itu adalah keturunan (Panembahan) Senapati, oleh karenanya sangat pantas, perbuatan beliau untuk ditauladani, semampu kita, sesuai dengan jaman sekarang, sebab bagaimanapun juga kita tak akan bisa meniru jaman lampau (karena perubahan jaman ikut juga berpengaruh).


8. "Luwung kalamun tinimbang, ngaurip tanpa prihatin, nanging ta ing jaman mangkya, pra mudha kang den karêmi, manulad nêlad Nabi, nayakeng rat Gusti Rasul, anggung ginawe umbag, sabên saba mampir masjid, ngajap-ajap mukjijat tibaning drajat."

Tapi walaupun menauladani sedikit saja hal itu masihlah lebih baik, daripada hidup tanpa laku batin, namun pada kenyataannya dijaman sekarang, orang muda yang sangat disukai, meniru dan mencontoh Nabi, sang penguasa dunia Gusti Rasul (Muhammad), akan tetapi hanya terhenti dibualan semata, setiap kali masuk masjid, hanya mengharap-harap mukjijat dan jatuhnya derajat.


9. "Anggung anggubêl sarengat, saringane tan den wruhi, dalil dalaning ijêmak, kiyase nora mikani, katungkul mungkul sami, bengkrakan neng masjid agung, kalamun maca kutbah, lêlagone dhandhanggêndhis, swara arum ngumandhang cengkok palaran."

Hanya terbelit oleh syari’at (kulit agama semata), tidak mengetahui cara penyaringannya, hanya menelan mentah-mentah segala dalil (ayat-ayat suci) sedangkan ijma’ (sebuah kesepakatan adanya hukum baru karena pada masa lalu hal itu tidak ada) serta Qiyas (memperbandingkan hukum masa lalu dengan kondisi nyata sekarang) sama sekali mereka tidak mengerti, hanya sekedar menurut apa bunyi ayat semata, hanya suka kumpul berramai-ramai didalam masjid agung, manakala membaca khutbah, diselingi lagu dhandhanggendhis (dhandhanggula), suaranya indah berkumandang dengan nada palaran (maksudnya mereka hanya menonjolkan keindahan luar).


10. "Lamun sira paksa nulad, tuladhaning Kangjêng Nabi, O ngger kadohan panjangkah, watêke tan bêtah kaki, rehne ta sira Jawi, sathithik bae wus cukup, aja guru alêman, nêlad kas ngêplêki pêkih, lamun pengkuh pangangkah yêkti karamat."

Jikalau dirimu memaksa untuk meniru, perbuatan Kangjeng Nabi (Muhammad), oh anakku terlalu tinggi yang kamu jadikan contoh, tak akan mampu dirimu anakku, karena dirimu adalah manusia Jawa, cukup sedikit saja meniru, jangan mengejar pujian, mati-matian menuruti isi kitab Fiqih (kitab yang mengatur tata cara lahiriyah), ketahuilah jalan apapun juga jika kamu ikhlas serta memahami intisarinya (bukan hanya kulit luar semata) dapat dipastikan akan mendapatkan kemuliaan.


11. "Nanging enak ngupa boga, rehne ta tinitah langip, apa ta suwiteng Nata, tani tanapi agrami, mangkono mungguh mami, padune wong dhahat cubluk, durung wruh cara Arab, Jawa-ku bae tan ngênting, parandene pari pêksa mulang putra."

Lebih baik hidup apa adanya sembari bekerja, karena kita sekarang tengah menderita (jaman penjajahan Belanda waktu itu), bekerja dengan mengabdi kepada Raja, bertani atau berdagang, seperti itu jika menurut aku, menurut orang yang bodoh ini, yang tidak tahu tata cara Arab, tata cara Jawa saja masih belum paham sepenuhnya, akan tetapi terpaksa mengajar para putra.


12. "Saking duk maksih taruna, sadhela wus anglakoni, aberag marang agama, maguru anggêring kaji, sawadine tyas mami, bangêt wedine ing besuk, pranatan ngakir jaman, tan tutug kasêlak ngabdi, nora kober sembahyang gya tininggalan."

Saat masih muda dulu, sebentar pernah menjalani, menjalani tata cara agama secara syari’at, berguru kepada setiap manusia yang sudah haji, dalam hatiku kala itu, sangat-sangat ketakutan jikalau kelak, telah tiba jaman akhir, belum selesai belajar harus memenuhi tuntutan pekerjaan, tidak sempat bersembahyang (belajar agama) lantas aku tinggal.


13. "Marang ingkang asung pangan, yen kasuwen den dukani, abubrah bawur tyas ingwang, lir kiyamat sabên hari, bot Allah apa gusti, tambuh-tambuh solah ingsun, lawas-lawas graita, rehne ta suta priyayi, yen mamriha dadi kaum têmah nista."

Menemui sang majikan yang memberi makan, jika terlalu lama menjalankan perintah pasti mendapat marah, sangat kebingungan dan cemas hatiku, bagaikan merasakan kiyamat setiap hari, berat kepada Allah atau kepada majikan, selalu salah tingkah diriku, lama-lama aku menyadari, karena diriku putra priyayi (bangsawan), jikalau memilih menjadi kaum (penghulu agama) pastilah tidak pantas.
14. "Tuwin kêtib suragama, pan ingsun nora winaris, angur baya angantêpana, pranatan wajibing urip, lampahan angluluri, aluraning pra luluhur, kuna kumunanira, kongsi tumêkeng samangkin, kikisane tan lyan among ngupa boga."

Atau jika menjadi Khatib (penceramah di masjid), sungguh diriku tak memiliki leluhur sebagai Khatib, lebih baik menjalankan, kewajiban yang sudah ditakdirkan bagi diri kita (dalam ungkapan Bhagawadgita disebut SWADHARMA : Damar Shashangka), meneruskan untuk menjalankan, alur hidup dari para leluhurku, semenjak jaman kuno dulu, hingga jaman sekarang, tiada lain intinya adalah memberikan kesejahteraan (pada masyarakat ~ maksudnya kewajiban priyayi/ksatria adalah memberikan kesejahteraan pada masyarakat, bukan menjadi ulama’ : Damar Shashangka)


15. "Bonggan kang tan mrêlokena, mungguh ugêring ngaurip, uripe tan tri prakara, wirya arta tri winasis, kalamun kongsi sêpi, saka wilangan têtêlu, têlas tilasing janma, aji godhong jati aking, têmah papa papariman ngulandara."

Salah sendiri bagi mereka yang tidak memperdulikan, hukum nyata kehidupan, bahwa manusia hidup jikalau tidak memiliki tiga macam, yaitu Wirya (nama baik) Arta (Uang) dan yang ketiga Winasis (Kepintaran), jika sampai tidak memiliki, salah satu dari ketiganya, habislah harga dirinya, akan lebih berharga secabik daun jati kering (daun jati kering masih dicari untuk bungkus makan pada waktu itu : Damar Shashangka), sehingga sengsara penuh kenistaan dimanapun dia berada.


16. "Kang wus waspada ing patrap, mangayut ayat winasis, wasana wosing jiwangga, melok tanpa aling-aling, kang ngalingi kaliling, wênganing rasa tumlawung, keksi saliring jaman, angêlangut tanpa têpi, yeku aran tapa tapaking Hyang Sukma."

Mereka yang sudah sadar pada tata cara yang benar, akan menemukan inti sari ayat, sehingga inti jiwa raganya, terlihat jelas tanpa terhalangi apapun, yang menghalangi telah tersingkirkan, terbukalah kesadaran purna, terlihatlah segenap alam, yang luas tanpa batas dan tanpa tepi, demikianlah manusia yang bertapa dengan mencari jejak telapak Hyang Suksma (Tuhan).


17. "Mangkono janma utama, tuman tumanêm ing sêpi, ing sabên rikala mangsa, masah amêmasuh budi, lahire den têtêpi, ing reh kasatriyanipun, susila anor raga, wignya met tyasing sesama, yeku aran wong barek bêrag agama."

Begitulah manusia utama (tidak meninggalkan kehidupan lahiriyah), namun juga terpikat pada keheningan diri, seringkali disetiap waktu, mengasah dan membasuh tajamnya kesadaran, sedangkan keduniawiannya juga tetap dipenuhi, kewajiban sebagai seorang ksatriya (bagi K.G.P.A.A Mangkunegara IV dan keturunannya karena beliau adalah bangsawan/ksatriya : Damar Shashangka), adalah memahami etika dan sopan santun, serta mahir menyenangkan hati sesama, itulah yang dinamakan manusia yang memahami agama.


18. "Ing jaman mêngko pan ora, arahe para taruni, yen antuk tuduh kang nyata, nora pisan den lakoni, banjur njujurkên kapti, kakekne arsa winuruk, ngandêlkên gurunira, pandhitane praja sidik, tur wus manggon pamucunge mring makripat."

Akan tetapi dijaman sekarang tidaklah demikian, kelakuan dari para muda, jikalau mendapat nasehat yang benar, tidak sekalipun mau menjalankan, bahkan lantas membantah, kakeknya sendiri hendak diajari, mereka lebih mempercayai gurunya, seorang pandhita kerajaan yang katanya sudah waskita, serta yang konon katanya sudah ada pada taraf ma’rifat (kesadaran purna).

PUPUH III

P U C U N G



1. "Ngelmu iku, kalakone kanthi laku, lêkase lawan kas, têgêse kas nyantosani, sêtya budya pangêkêse dur angkara."

Ilmu (spiritual) itu, tercapainya dengan laku (praktek), pun agar lebih cepat tercapai harus dengan cara KAS (KHOS : Khusus), maksud lain dari KAS adalah kontinyu, meneguhkan kesadaran demi untuk menyingkirkan angkara didalam diri.


2. "Angkara gung, neng angga anggung gumulung, gogolonganira, triloka lêkêre kongsi, yen den umbar ambabar dadi rubeda."

Angkara yang menggelora, didalam diri selalu bergulung, bergulung menyatu dan membesar, tiga dunia (dunia atas : Swahloka/Baital Makmur/Otak, dunia tengah : Bwahloka/Baital Mukharrom/Hati dan dunia bawah : Bhurloka/Baital Mukadas/Kemaluan) akan tergulung semua, jika diumbar akan melahirkan masalah serius.


3. "Beda lamun, kang wus sêngsêm reh ngasamun, sêmune ngaksama, sasamane bangsa sisip, sarwa sareh saking mardi martotama."

Sangat berbeda bagi mereka, yang telah terpikat akan keheningan diri, senantiasa memaafkan, segala kesalahan sesama, selalu tenang dikarenakan hasil mengolah jiwa dengan kesabaran utama.


4. "Taman limut, durgameng tyas kang weh limput, kêrêming karamat, karana karobaning sih, sihing Sukma ngrêbda sahardi gêngira."

Bisa menjernihkan, kekotoran hati yang meliputi, tenggelam dalam kemuliaan, disebabkan telah mendapat limpahan kasih, kasih Tuhan semakin bersemi hingga sebesar gunung.


5. "Yeku patut, tinulad-tulad tinurut, sapituduhira, aja kaya jaman mangkin, keh pramudha mundhi dhiri lapal makna."

Itulah yang patut, dijadikan suri tauladan, segala petunjuknya, jangan seperti jaman sekarang, banyak manusia bodoh mengunggulkan kata-kata ayat suci belaka.


6. "Durung pêcus, kesusu kaselak bêsus, amaknani lapal, kaya Sayid wêton Mêsir, pêndhak-pêndhak mangêndhak gunaning janma."

Belum mampu, sudah menginginkan menjadi pintar, memaknai ayat-ayat, bagaikan seorang Sayyid dari Mesir, sedikit-sedikit merendahkan kemampuan orang lain


7. "Kang kadyeku, kalêbu wong ngaku-aku, akale alangka, elok Jawane den mohi, paksa ngangkah langkah met kawruh ing Mêkah."

Yang semacam itu, termasuk manusia pembual, sangat aneh pola pikirnya, yang mengherankan lagi ke-Jawa-annya (kearifan bangsa sendiri) dibuang, memaksakan diri mengambil segala sesuatu yang berasal dari Mekkah.


8. "Nora wêruh, rosing rasa kang rinuruh, lumêkêting angga, anggere padha marsudi, kana-kene kaanane nora beda."

Tidak menyadari, inti sari rasa (kesadaran murni) yang tengah dicari, ada didalam diri, asal benar-benar tekun mencari, baik memakai kearifan Jawa yang ada disini maupun memakai kearifan Arab yang ada disana sebenarnya tiada beda sama sekali.


9. "Ugêr lugu, den ta mrih pralêbdeng kalbu, yen kabul kabuka, ing drajat kajating urip, kaya kang wus winahyeng sêkar srinata."

Asal bersungguh-sungguh, mengasah keterampilan jiwa, jika terkabul maka akan terbuka kesadaran murni, bahkan beroleh pula derajat dan keinginan duniawi, seperti halnya yang telah diceritakan didalam pupuh srinata diatas (Pupuh II Sinom).


10. "Basa ngelmu, mupakate lan panêmu, pasahe lan tapa, yen satriya tanah Jawi, kuna-kuna kang ginilut triprakara."

Yang disebut ilmu (spiritual) itu, bisa dianggap berhasil jika terlihat nyata dalam perilaku, tapa brata adalah batu asahnya, bagi satria tanah Jawa dulu, yang dipegang teguh adalah tiga hal berikut.


11. "Lila lamun, kelangan nora gêgêtun, trima yen kataman, saksêrik sameng dumadi, tri lêgawa nalangsa srah ing Bathara."

(Pertama) bersikap Rela manakala, kehilangan sesuatu tiada kecewa, (Kedua) bersikap Menerima manakala terkena, fitnahan dan cacian sesama, yang ketiga bersikap Ikhlas berserah diri kepada Bathara (Tuhan).


12. "Bathara Gung, ingugêr graning jajantung, jênak Hyang Wisesa, sana pasênêdan Suci, nora kaya si mudha mudhar angkara."

Kesadaran Illahi, diikat kencang didalam hati, memurnikan Kesadaran Tuhan dalam diri, menciptakan tahta suci dalam diri, tidak seperti orang bodoh yang mengumbar angkara murkanya.


13. "Nora urus, karême anguwus-uwus, uwose tan ana, mung janjine muring-muring, kaya buta-buteng bêtah nganiaya."

Seenaknya, kesukaannya mencaci maki, inti dari kata-katanya nihil dari kesadaran, hanya bisa marah-marah belaka, bagai raksasa buta yang suka mencelakai.


14. "Sakeh luput, ing angga tansah linimput, linimpêting sabda, narka tan ana udani, lumuh ala ardane ginawe gada."

Segala kesalahan, selalu ditutup-tutupi, diputar balikkan dengan kata-kata pembenaran, menganggap tiada yang bakal tahu, tidak mau terlihat jelek dan keinginannya sendiri yang senantiasa diunggul-unggulkan


15. "Durung punjul, ing kawruh kasêlak jujul, kasêsêlan hawa, cupêt kapêpêtan pamrih, tangeh nêdya anggambuh mring Hyang Wisesa."

Belum mencapai, kesadaran murni sudah terburu-buru meninggikan diri, terjerat hawa nafsu, sempit pikirannya dan selalu mempunyai pamrih, sungguh sangat tidak mungkin bisa menyatu dengan Hyang Wisesa (Tuhan).

- sumber -
ccck is offline QUOTE
ccck
View Public Profile
Find More Posts by ccck
View Blog
Unread 10-12-2010, 10:40 AM #26
ccck
kaskus addict

ccck's Avatar

UserID: 1181816
Join Date: Nov 2009
Posts: 1,157
Blog Entries: 1
ccck sedang di jalan yg benar

PUPUH IV

G A M B U H


1. "Samêngko ingsun tutur, Sêmbah Catur: supaya lumuntur, dhingin: Raga Cipta Jiwa Rasa kaki, ing kono lamun tinêmu, tandha nugrahaning Manon."

Sekarang aku hendak menuturkan, empat macam bentuk sembah agar bisa kamu pahami, pertama (sembah) Raga (Sembah) Cipta (Sembah) Jiwa (Sembah) Rasa, oh anakku. Disana manakala mampu menjalankan akan bisa kamu temukan, tanda anugerah Hyang Manon (Tuhan).


2. "Sêmbah Raga puniku, pakartine wong amagang laku, susucine asarana saking warih, kang wus lumrah limang wêktu, wantu wataking wawaton."

Yang dimaksud dengan Sembah Raga (Syari’at : Damar Shashangka), adalah bentuk sembah dari mereka yang tengah magang dalam olah spiritual, sarana untuk bersuci masih menggunakan air, bentuk sembahnya sudah lumrah kamu ketahui yaitu shalat lima waktu, masih tergantung dengan menunggu-nunggu saat tertentu untuk menjalankannya (maksudnya masih terikat saat-saat tertentu, yaitu Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib dan Isya’ : Damar Shashangka)


3. "Inguni-uni durung, sinarawung wulang kang sinêrung, lagi iki bangsa kas ngêtokên anggit, mintokên kawignyanipun, sarengate elok-elok."

Semenjak dahulu belum pernah ada, diajarkan ajaran spiritual yang terbungkus kulit sedemikian rupa, baru kali ini ada bangsa khusus yang mengajarkan ajaran seperti itu (bangsa Arab maksudnya : Damar Shashangka), menunjukkan kemampuannya, dengan syari’at (aturan hukum, tata cara jasmaniah) yang aneh-aneh.


4. "Thithik kaya santri Dul, gajeg kaya santri brahi kidul, saurute Pacitan pinggir pasisir, ewon wong kang padha nggugu, anggêre guru nyalêmong."

Hasilnya (jika terjerat syari’at/kulit spiritual semata : Damar Shashangka) seperti halnya Santri Dul (maksudnya santri yang hanya memahami syari’at namun sudah berani menganggap dirinya paling benar, disini diistilahkan dengan santri Dul, sebuah nama yang mewakili banyak santri keblinger semacam itu : Damar Shashangka), tergesa-gesa seperti halnya para santri didaerah selatan Jawa, mulai sepanjang pesisir Pacitan, akan tetapi banyak orang yang menurutinya (bagai kerbau dicocok hidung), setiap kali sang Guru (santri sedemikian) memerintahkan apapun juga.


5. "Kasusu arsa wêruh, Cahyaning Hyang kinira yen karuh, ngarêp-arêp Urub arsa den kurêbi, tan wruh kang mangkoko iku, akale kaliru ênggon."

Terburu-buru hendak mengetahui, Cahaya Tuhan dan menganggap sudah dekat, mengharap-harapkan nyala kesucian dan hendak dikuasai, tak menyadari jika apa yang mereka kerjakan, salah jalur keliru tempat!


6. "Yen ta jaman rumuhun, tata titi tumrah tumaruntun, bangsa srengat tan winor lan laku batin, dadi ora gawe bingung, kang padha nêmbah Hyang Manon."

Jika dibandingkan dengan jaman dulu (jaman sebelum masuknya Islam di Jawa), segalanya tertata dan jelas, aturan syari’at tidak dicampur adukkan dengan laku batin (spiritual), sehingga tidak membuat bingung, bagi mereka yang hendak menyembah Hyang Manon (Syari’at/ Tata cara lahiriyah tidak diagung-agungkan dan dianggap segalanya sehingga tidak membuat terjebak bagi peningkatan kesadaran para pelaku spiritual : Damar Shashangka)


7. "Lire sarengat iku, kêna uga ingaranan laku, dhihin Ajêg kapindhone Atabêri, pakolehe putraningsun, nyênyêgêr badan mrih kaot."

Yang dimaksud Syari’at (yang berkaitan dengan ibadah), bisa juga disebut laku bathin awal, untuk menjalankannya harus AJÊG (Kontinyu) dan TABÊRI (Rajin), hasilnya oh anakku, membuat segar sekujur badan fisik.


8. "Wong sêgêr badanipun, otot daging kulit balung sungsum, tumrah ing rah mamarah antênging ati, antênging ati nunungku, angruwat ruwêting batos."

Manusia yang segar badan fisiknya, segar otot daging kulit tulang dan sungsumnya, membuat bersihnya darah sehingga menyebabkan ketenangan hati, ketenangan hati membakar, dan meruwat segala kekotoran batin.


9. "Mangkono mungguh ingsun, ananging ta sarehne asnafun, beda-beda panduk pandoming dumadi, sayêktine nora jumbuh, tekad kang padha linakon."

Begitu menurutku hasil dari syari’at, akan tetapi karena banyak macam (asnafun : klasifikasi), maka berbeda-beda pula pemahaman dari setiap orang, pastilah tak ada yang sama (antara satu dengan yang lain), dari tekad yang tengah dijalankan.


10. "Nanging ta paksa tutur, rehning tuwa tuwase mung catur, bok lumuntur lantaraning reh utami, sing sapa têmên tinêmu, nugraha gêming Kaprabon."

Akan tetapi terpaksa aku menuturkan (pemahamanku), karena orang tua wajibnya memberikan nasehat, siapa tahu bakal membuat keutamaan, asal siapa yang bersungguh-sungguh pastilah menemukan, anugerah kemuliaan.


11. "Samêngko Sêmbah Kalbu, yen lumintu uga dadi laku, laku agung kang kagungan Narapati, patitis têtêsing kawruh, mêruhi marang kang momong."

Sekarang Sembah Kalbu (Sembah Cipta/ Thariqat : Damar Shashangka), jika terus dilakukan akan menjadi laku bathin juga, laku agung milik para Narapati (Nara : Manusia, Pati : Penguasa : Penguasa manusia/orang suci : Damar Shashangka), sebuah laku yang akan membuat tajam kesadaran, mengetahui kepada yang memelihara manusia (Sadulur Papat Lima Pancer, maksudnya : Badan halus manusia sendiri yaitu Kesadaran (Kakang Kawah), Pikiran (Adhi Ari-Ari), Perasaan (Getih) dan Ingatan (Puser) : Damar Shashangka)


12. "Sucine tanpa banyu, mung nyênyuda mring hardaning kalbu, pambukane tata titi ngati-ati, atêtêp talaten atul, tuladhan marang waspaos."

Sarana bersucinya tanpa menggunakan air, hanya mengurangi segala keinginan hati, dengan cara Menata diri Memperhatikan diri Berhati-hati pada diri, senantiasa demikian setiap saat dan harus telaten serta harus dibiasakan, intinya berusaha selalu waspada pada gejolak diri.


13. "Mring jatining pandulu, panduk ing ndon dadalan satuhu, lamun lugu lêgutaning reh maligi, lageyane tumalawung, wênganing alam kinaot."

Dan kepada Penglihatan Sejati, mudah pula menemukan jalan untuk meraihnya, dengan tekad bersungguh-sungguh biasanya kesadaran jernih tersebut tercapai, jika sudah demikian akan mulai tampak tanda-tanda, tanda terbukanya alam utama.


14. "Yen wus kambah kadyeku, sarat sareh saniskareng laku, kalakone saka Ênêng Êning Eling, ilanging rasa tumlawung, kono adile Hyang Manon."

Jika sudah dalam kondisi batin yang demikian, semuanya harus pelan-pelan dan sabar, karena akan meningkat pesat kesadaran jika batin benar-benar bisa ÊNÊNG (Tenang) ÊNING (Jernih) ELING (Sadar), dan ketika hilang sudah segala rasa manusiawi/badani, disanalah akan memasuki kondisi KEADILAN/KEBENARAN HYANG MANON (Tuhan).


15. "Gagare ngunggar kayun, tan kayungyun mring ayuning kayun, bangsa anggit yen ginigit nora dadi, Marma den awas den emut, mring pamurunging lalakon."

Kegagalan biasanya terjadi jika terburu-buru ingin mencapai kondisi tersebut, lepaskan jangan terpikat pada keinginan itu sendiri, dalam spiritualitas jika keinginan tanpa sadar kita pegang maka kegagalan yang pasti akan terjadi, oleh karenanya harus benar-benar awas dan ingat, kepada rintangan halus spiritualitas ini (maksudnya, keinginan menggebu-gebu untuk meraih Kesadaran Purna-pun bisa jadi obyek penghalang untuk meraih Kesadaran Purna itu sendiri tanpa kita sadari, yang terpenting, lakukan, jalani dan jangan terlalu berharap. : Damar Shashangka)
16. "Samêngko kang tinutur, sêmbah katri kang sayêkti katur, mring Hyang Sukma sukmanên sahari-hari, arahên dipun kacakup, sêmbahing Jiwa sutengong."

Sekarang yang hendak dituturkan, sembah ketiga (Sembah Jiwa : Haqiqat : Damar Shashangka) yang harus sungguh-sungguh dihaturkan, kepada Hyang Suksma (Tuhan) wujudkanlah (sembah ini) dalam keseharianmu, arahkan agar seluruhnya tercakup, tercakup seluruh isi Jiwamu untuk menghaturkan sebuah sembah, anakku.


17. "Sayêkti luwih prêlu, ingaranan pêpuntoning laku, kalakuan kang tumrap bangsaning batin, sucine lan Awas Emut, mring alame alam amot."

Sungguh sembah ini sangat penting, bisa dianggap sebagai puncak dari laku, laku dari segala laku bathin, sarana untuk bersucinya dengan Kesadaran yang senantiasa Awas dan Ingat (maksudnya Awas kepada munculnya kembali kekotoran bathin dan Ingat selalu pada kemurnian Kesadaran itu sendiri : Damar Shashangka), pada tingkat ini kondisi batin sudah menapaki sebuah alam dimana seluruh alam termuat sudah disana.


18. "Ruktine ngangkah ngukut, ngikêt ngrukut triloka kakukut, Jagad Agung ginulung lan Jagad Cilik, den kandêl kumandêl kulup, mring kêlaping alam kono."

Usahakan mengarahkan Kesadaran untuk menarik, mengikat dan mengambil seluruh triloka (maksudnya seluruh kesadaran rendah badani : Damar Shashangka), selanjutnya satukan Kesadaran diri dengan Kesadaran Semesta Raya, perkuat Kesadaranmu anakku, akan godaan gemerlapnya ego yang bisa muncul kembali.


19. "Kêlême mawa limut, kalamatan jroning alam kanyut, sanyatane iku kanyataan kaki, sajatine yen tan emut, sayêkti tan bisa awor."

(Sebab) Bisa terbenam/jatuh lagi tingkat Kesadaran yang telah diperoleh tersebut disebabkan oleh sebuah penghalang, penghalang nan lembut yang terbersit dari alam yang menghanyutkan (alam yang menghanyutkan adalah alam ego, inilah sebuah penghalang lembut yang akan menjatuhkan kembali Kesadaran seorang pelaku spiritual jika tidak senantiasa waspada : Damar Shashangka), sungguh hal ini adalah suatu kenyataan yang banyak terjadi, manakala dirimu tidak senantiasa Ingat, maka akan gagal untuk bisa menyatu.


20. "Pamête saka luyut, sarwa sareh saliring panganyut, lamun yitna kayitnan kang mitayani, tarlen mung pribadinipun, kang katon tinonton kono."

Kegagalan sering terjadi disebabkan keterhanyutan, oleh karenanya harus tenang menghadapi segala hal yang menghanyutkan, jikalau dirimu mampu tetap waspada maka meningkat pula kewaspadaan Kesadaran, dan TAK LAIN HANYA DIRI KITA SENDIRI, YANG TERLIHAT DAN KITA SAKSIKAN DISANA.


21. "Nging aywa salah surup, kono ana sajatining Urub, yeku Urup Pangarêp Uriping Budi, sumirat sirat narawung, kadya kartika katongton."

Akan tetapi jangan sampai salah mengerti, yang kita lihat itu adalah Pancaran Nyala Perwujudan Kesadaran manusiawi kita (bukan Kesadaran Atma/Ruh kita : Damar Shashangka), nyala yang bersinar menyemburat dan menerawang, jika diamati bagaikan sorot cahaya bintang gemintang.


22. "Yeku wênganing kalbu, kabukane kang wêngku winêngku, wêwêngkone wis kawêngku neng sireki, nging sira uga kawêngku, mring kang pindha kartika byor."

Disanalah letak pintu Hati, jika mampu membukanya maka akan menemukan rahasia dari Yang memangku dan yang dipangku (Gusti dan Kawula), seluruhnya sudah ada didalam dirimu, akan tetapi dirimu juga ada, didalam cahaya yang bagaikan bintang gemintang tersebut. (maksudnya cahaya bagaikan bintang itu tak lain adalah wujud Kesadaran kita sendiri : Damar Shashangka)


23. "Samêngko ingsun tutur, gantya sêmbah ingkang kaping catur, Sêmbah Rasa karasa rosing dumadi, dadine wis tanpa tuduh, mung kalawan kasing Batos."

Sekarang aku hendak menuturkan, ganti sembah yang keempat, (yaitu) Sembah Rasa (Ma’rifat : Damar Shashangka) yang menyentuh inti rasa seluruh makhluk hidup, sudah tidak bias didefinisikan lagi, akan berjalan sendiri dengan ke-khas-an batin yang jernih.


24. "Kalamun durung lugu, aja pisan wani ngaku-aku, antuk siku kang mangkono iku kaki, kêna uga wênang muluk, kalamun wus padha mêlok."

Manakala belum benar-benar mencapai tingkatan tersebut, jangan sekali-kali berani mengaku-aku, akan mendapatkan balak pengakuan palsu yang sedemikian oh anakku, boleh mengakui tingkatan Kesadaran spiritualnya telah mencapai taraf sedemikian itu, jikalau memang telah benar-benar mencapainya.


25. "Mêloke ujar iku, yen wus ilang sumêlanging kalbu, amung kandêl kumandêl ngandêl mring takdir, iku den awas den emut, den mêmêt yen arsa momot."

Bukti dari pengakuan tersebut, bisa dilihat manakala yang mengaku telah hilang segala keresahan dan kecemasan batinnya, nyata hanya terlihat kuat keyakinannya kepada jalannya takdir (pasrah total), ingat-ingat dan awaslah, harus benar-benar jeli dalam melakukan penilaian.


26. "Pamoring ujar iku, kudu santosa ing Budi têguh, sarta sabar tawêkal lêgaweng ati, trima lila ambêk sadu, wêruh wêkasing dumados."

Pamor (bukti nyata) dari pengakuan tersebut (selain ciri diatas), tak lain adalah kuat dan teguh Kesadarannya (berkesadaran stabil), sabar tawakal dan ikhlas, batin yang menerima dan rela serta senantiasa berkelakuan suci (sadhu : suci), bahkan ada yang mampu mengetahui jalannya takdir manusia (melihat masa yang belum terjadi : Damar Shashangka).


27. "Sabarang tindak-tanduk, tumindake lan sakadaripun, den ngaksama kasisipaning sasami, sumimpanga ing laku dur, hardaning Budi kang ngrodon."

Segala tingkah lakunya, tidak berlebih-lebihan, senantiasa memaafkan segala kesalahan sesama, selalu menyimpang dari perbuatan angkara, yaitu segala perbuatan yang dihasilkan oleh Kesadaran yang tercemar.


28. "Dadya wruh iya dudu, yeku minangka pandoming kalbu, ingkang buka ing kijabullah agaib, sêsêngkêran kang sinêrung, dumunung têlênging batos."

Sadar mana yang palsu dan mana yang sejati, kesadaran ini diperoleh dari Pandoming Kalbu (Sang Penuntun Hati tak lain adalah suara Roh/Atma atau Hati Nurani : Damar Shashangka), yang telah terbuka dari balutan Hijab (Dinding Penghalang) milik Allah Yang Gaib, yang senantiasa terahasiakan dalam gelap, yang berada dipusat batin.


29. "Rasaning urip iku, krana momor pamoring sawujud, Wujuddullah sumrambah ngalam sakalir, lir manis kalawan madu, êndi arane ing kono."

Sesungguhnya hidup kita ini, adalah pamor dari kesatuan tunggal, Wujud Allah menyelimuti semesta raya, bagaikan rasa manis dan madunya, bagaimanakah kita bisa memisahkan keduanya?


30. "Êndi manis êndi madu, yen wis bisa nuksmeng pasang sêmu, pasamoning hêbing Kang Maha Suci, kasikêp ing tyas kacakup, kasat mata lair batos."

Mana ‘manis’ dan mana ‘madu’, jika sudah menyadari rahasia ini, rahasia keteduhan (kasih) Yang Maha Suci, dan merasuk tercakup dalam kesadaran, maka Tuhan akan terlihat secara lahir maupun batin.


31. "Ing batin tan kaliru, kêdhap kilap liniling ing kalbu, kang minangka colok cêlaking Hyang Widdhi, widadaning budi sadu, pandak panduking liru nggon."

Tidak tersamarkan lagi Kesadarannya, segala lintasan pikiran teramati, tak terkecoh lagi dengan hiasan-hiasan yang menutupi Kesejatian Hyang Widdhi, begitu kokoh Kesadaran sucinya. Namun pada kenyataannya masih banyak yang belum bisa menyadari.


32. "Nggonira mamrih tulus, kalaksitaning reh kang rinuruh, gyanira mrih wikan warananing gaib, paranta lamun tan wêruh, sasmita jatining êndhog."

Agar supaya murni Kesadarannya, agar berhasil dalam laku tapa untuk meluruhkan kekotoran batin, dan agar bisa menyadari penghalang gaib kesejatian, manakala tidak memahami, tentang perlambang sebuah telor.


33. "Putih lan kuningpun, lamun arsa titah têka mangsul, dene nora mantra-mantra yen ing lair, bisa alêliru wujud, kadadeyane ing kono."

Dimana putih dan kuningnya, jika kelak sudah hendak menetas, tak disangka-sangka wujudnya, bisa berganti, padahal disana."


- lanjutan di bawah -
ccck is offline QUOTE
ccck
View Public Profile
Find More Posts by ccck
View Blog
Unread 20-12-2010, 11:06 AM #32
ccck
kaskus addict

ccck's Avatar

UserID: 1181816
Join Date: Nov 2009
Posts: 1,157
Blog Entries: 1
ccck sedang di jalan yg benar
- lanjutan -


34. "Istingarah tan mêtu, lawan istingarah tan lumêbu, dene ing njro wêkasane dadi njawi, rasakna ingkang tuwajuh, aja kongsi kabasturon."

Tak teramati bagaimana bisa menjadi bagian luar (yang semula didalam), dan tak teramati bagaimana bisa menjadi bagian dalam (yang semula diluar), pada akhirnya bagian dalam menjadi bagian luar, renungkanlah apa yang aku maksudkan ini, jangan sampai tak memahami. (Telur adalah simbol Syariat/Kulit luar agama (Cangkang telur) sekaligus Hakikat/Inti sari agama (Putih dan Kuning telur). Jika Kesadaran pelaku spiritual sudah meningkat pesat, maka diibaratkan sebutir telur yang telah menetas dan berubah menjadi makhluk yang baru. Cangkang kulit luarnya telah musnah dan tak diperlukannya lagi. Dan banyak manusia yang belum bisa memahami Kebenaran ini. Banyak yang masih terus menganggap Syariat/Cangkang adalah segala-galanya. : Damar Shashangka)


35. "Karana yen kabanjur, kajantaka tumêkeng saumur, tanpa tuwas yen tiwasa ing dumadi, dadi wong ina tan wêruh, dheweke den anggêp dhayoh."

Sebab jika terlanjur, akan menyesal seumur-umur, tiada arti dititahkan menjadi manusia, menjadi hina karena tak memahami, dirinya sendiri dianggap tamu.


Pupuh V

Kinanthi


1. "Mangka kantining tumuwuh, salami mung awas eling, eling lukitaning alam, wêdi wiryaning dumadi, supadi nir ing sangsaya, yeku pangrêksaning urip."

Oleh karenanya sebagai pegangan hidup, selamanya haruslah Awas dan Ingat, Ingat pada sabda alam (hukum alam – Hukum Sebab Akibat), takut kepada kemuliaan makhluk hidup (maksudnya menghargai Ke-Illahi-an yang ada didalam badan seluruh makhluk hidup), agar jauh dari segala penderitaan, itulah cara untuk menjalani hidup.


2. "Marma den tabêri kulup, angulah lantiping ati, rina wêngi den anêdya, pandak-panduking pambudi, bêngkas kahardaning driya, supadya dadya utami."

Oleh karenanya rajin-rajinlah anakku, mengolah tajamnya hati (kesadaran), siang dan malam berusaha, mampu menambah/meningkatkan kesadaran, menyingkirkan kekotoran batin, agar menjadi utama.


3. "Pangasahe sêpi samun, aywa êsah ing salami, samangsa wis kawistara, lalandhêpe mingis-mingis, pasah wukir Rêksamuka, kêkês srabedaning budi."

Pengasahnya adalah kondisi hening, jangan sampai tergoyahan selamanya, jika sudah berhasil akan terlihat, tajamnya tiada tara, mampu menghancurkan Gunung Reksamuka (Sebuah Gunung yang didaki oleh Bhima Suci dalam mencari Kesejatian, bisa juga diartikan ; Gunung – Sebuah penghalang/perintang, Reksa – Memfokuskan diri pada, Muka – Wajah. Sebuah penghalang untuk memfokuskan kesadaran dalam mengamati diri sendiri/wajah sendiri/ego sendiri : Damar Shashangka), akan menyerah kalah segala penghalang kesadaran murni.


4. "Dene awas têgêsipun, wêruh warananing Urip, miwah wisesaning tunggal, kang atunggil rina wêngi, kang mukitan ing sakarsa, gumêlar ngalam sakalir."

Dan yang dimaksud Awas, tahu akan penghalang/hijab/illusi yang menghalangi kesejatian Hidup, serta tahu akan penghalang/hijab/illusi dari yang Mempunyai Kewenangan Tunggal, yang sesunguhnya Tunggal siang dan malam (dengan diri kita), yang berkehendak tiada batas, yang melingkupi diseluruh penjuru alam semesta.


5. "Aywa sêmbrana ing kalbu, wawasên wuwus sireki, ing kono yêkti karasa, dudu ucape pribadi, marma den sêmbadeng sêdya, wêwêsên praptaning uwis."

Jangan ceroboh dalam bersikap, hati-hatilah dalam berbicara, nyata disana akan terasa, bukan ucapan pribadi, oleh karenanya harus benar-benar memegang niat yang kuat, peganglah hingga sampai pada tujuan (Kesejatian Purna)


6. "Sirnakna sêmanging kalbu, den waspada ing pangeksi, yeku dalaning kasidan, sinuda saka sathithik, pamothahing napsu hawa, linalantih mamrih titih."

Hilanghkan segala keragu-raguan, waspadakan penglihatan kesadaranmu, itulah jalan kesempurnaan, kurangilah segalanya sedikit demi sedikit, segala keinginan nafsu angkara, latihlah kesadaranmu pelan-pelah hingga mahir.


7. "Aywa mamatuh nalutuh, tanpa tuwas tanpa kasil, kasalibuk ing srabeda, marma dipun ngati-ati, urip keh rêncananira, sambekala den kaliling."

Jangan terus dirundung ketidak puasan diri, tiada akhir dan tak ada hasil sikap demikian itu, jelas telah terkena penghalang batin, oleh karenanya harus hati-hati, dalam hidup penuh godaan, segala penghalang waspadakanlah benar-benar.


8. "Upamane wong lumaku, marga gawat den liwati, lamun kurang ing pangarah, sayêkti karêndhêt ing ri, apêse kasandhung padhas, babak bundhas anêmahi."

Diumpamakan manusia yang tengah berjalan, melewati jalan yang sangat berbahaya, jika kurang kehati-hatiannya, pastilah tersayat duri, lebih parah terantuk batu padas yang tajam, babak belur pada akhirnya.


9. "Lumrah bae yen kadyeku, atêtamba yen wis bucik, duwea kawruh sabodhag, yen ta nartani ing kapti, dadi kawruhe kinarya, ngupaya kasil lan melik."

Lumrahnya jika sudah seperti itu, baru mencari obat jika sudah terluka parah, ingatlah walau memiliki pengetahuan sebanyak apapun, jika tidak bisa memahami, maka segala pengetahuannya hanya dibuat, untuk mencari keuntungan dan pamrih semata.


10. "Mêloke yen arsa muluk, muluk ujare lir wali, wola-wali nora nyata, anggêpe pandhita luwih, kaluwihane tan ana, kabeh tandha-tandha sêpi."

Keajaibannya hanya jika berbicara semata, berbicara bagai seorang wali, berkali-kali tak terbukti ucapannya, menganggap dirinya seorang pandhita yang sudah sempurna, padahal tak ada kelebihan apapun dalam dirinya, sepi dari segala tanda-tanda keutamaan.


11. "Kawruhe mung ana wuwus, wuwuse gumaib gaib, kasliring thithik tan kêna, mancêrêng alise gathik, apa pandhita antiga, kang mangkono iku kaki."

Pengetahuannya hanya ada didalam ucapan belaka, ucapannya sok gaib, diprotes sedikit tidak mau, raut mukanya akan keruh dan alisnya akan menyatu (marah/tersinggung), apakah pantas disebut pandhita yang mempunyai benih keutamaan, manusia yang sedemikian itu oh anakku?


12. "Mangka ta kang aran laku, lakune Ngelmu Sajati, tan dahwen pati openan, tan panasten nora jail, tan njurungi ing kaardan, amung ênêng mamrih êning."

Padahal yang dinamakan laku, laku dari Ilmu Sejati, tak suka mencela dan tak suka mencampuri urusan orang lain, tidak gampang marah dan jahil, tidak mendorong orang untuk melakukan keburukan, hanya tenang agar hening.


13. "Kunanging budi luhung, bangkit ajur ajer kaki, yen mangkono bakal cikal, thukul wijining utami, nadyan bênêr kawruhira, yen ana kang nyulayani."

Dengan sikap seperti itu (Tenang agar Hening), akan bangkit kesadaran untuk menghargai sesama, dan disana adalah tempat, bertumbuhnya benih keutamaan, walaupun benar pemahamannya, jika ada yang membantah.


14. "Tur kang nyulayani iku, wus wruh yen kawruhe nêmpil, nanging laire angalah, katingala angêmori, mung ngenaki tyasing liyan, aywa êsak aywa sêrik."

Dan yang membantah tersebut, hanya sekedar tahu dari kata orang (belum membuktikan sendiri dalam sebuah pendakian spiritual), maka orang yang sadar harus mengalah, tetap bergaullah, hanya untuk sekedar menyenangkan hati orang lain, jangan mendendam jangan membenci.


15. "Yeku ilapating wahyu, yen yuwana ing salami, marga wimbuh ing nugraha, saking Hêb Kang Maha Suci, cinancang pucuking cipta, nora ucul-ucul kaki."

Begitulah cara memelihara wahyu (kesadaran diri), jika bisa teguh selamanya, adalah jalan untuk mendapatkan tambahan anugerah, dari Kasih Yang Maha Suci, ikatlah diatas puncak kesadaranmu, jangan sampai terlepas lagi.


16. "Mangkono ingkang tinamtu, tampa nugrahaning Widdhi, marma ta kulup den bisa, mbusuki ujaring janmi, pakoleh lair batinnya, iyeku budi prêmati."

Begitulah manusia yang ditentukan, mendapat anugerah Hyang Widdhi, oleh karenanya anakku seyogyanya, bersikap mengalahlah kepada sesama, hasilnya untuk lahir dan batinmu, adalah kesadaran yang stabil.


17. "Pantês tinulad tinurut, laladane mrih utami, utama kêmbanging mulya, kamulyaning jiwa dhiri, ora yen ta ngêplêkana, lir leluhur nguni-uni."

Pantas untuk dicontoh dan ditauladani, tingkah laku semacam itu agar bisa menjadi utama, keutamaan bunga dari kemuliaan, kemuliaan jiwa dan diri, bukan berarti harus bisa menyamai persis, sebagaimana keutamaan leluhur masa lalu.


18. "Ananging ta kudu-kudu, sakadarira pribadi, aywa tinggal tutuladan, lamun tan mangkono kaki, yekti tuna ing tumitah, poma kaestokna kaki."

Akan tetapi berusahalah, semampu diri sendiri, jangan meninggalkan suri tauladan yang baik, jikalau tidak oh anakku, akan rugi menjadi seorang manusia, oleh karenanya perhatikan sunguh-sungguh semua nasehatku ini.

kaktus

(Tamat)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar