Rabu, 30 Maret 2011

SUARA HATI UNTUK PARA PENUNTUT ILMU

Oleh :

Al-Ustadz Abu Muslim Majdi bin Abdul Wahhab al-Ahmad

(Murid Fadhilatus Syaikh Ali Hasan al-Halabi)(*)

Inilah nasehat dari hati ke hati, dari hati yang penuh dengan kesedihan dikarenakan fenomena permusuhan, perdebatam, celaan dan saling menghajr di antara para penuntut ilmu

Dari hati yang penuh dengan kepedihan dikarenakan perpecahan, perselisihan dan pertikaian

Dari hati yang sakit dikarenakan banyaknya orang yang ragu dan bimbang di dalam mencari kebenaran beserta para penegaknya

Kepada hati yang memahami kata-kata ini

Kepada hati yang senantiasa berbaik sangka

Kepada hati yang merasa sakit terhadap fenomena yang menimpa para penuntut ilmu

Ini semuanya… Bertujuan agar kita mempersatukan barisan dan kalimat sesuai dengan bimbingan kitab Rabb kita Azza wa Jalla dan Sunnah Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa Salam serta manhaj para salaf kita yang shalih Ridlwanhullahu ‘alaihi ajma’in…

Tentang Niat

Ali bin Fudhail berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku, betapa manisnya perkataan para Sahabat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Salam.”

Ayahnya berkata, “Wahai anakku, apakah kamu mengetahui apakah yang menyebabkan perkataan mereka menjadi manis?”

Ali menjawab, “Tidak wahai ayahku.”

Ayahnya berkata, “Karena dengan perkataan tersebut mereka menginginkan Alloh.”1

Abdullah bin Muhammad bin Munazzil bercerita, bahwa Hamdun bin Ahmad pernah ditanya : “Kenapa perkataan salaf lebih bermanfaat daripada perkataan kita?”

Hamdun menjawab, “Karena mereka berbicara demi kemuliaan Islam, kesematan jiwa-jiwa dan keridhaan ar-Rahman. Sedangkan kita berbicara demi kemuliaan diri sendiri, mencari dunia dan ketenaran di hadapan manusia.”

Tentang Nasehat Menasehati

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda : “Agama itu nasehat”, kami bertanya, “untuk siapa?”, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam menjawab : “Untuk Alloh, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan kaum muslimin secara umum.” (HR Bukhari, no. 55).

Di antara hal yang paling berharga yang saya peroleh dari guru saya yang mulia, Ali bin Hasan bin Abdul Hamid al-Halabi al-Atsari –semoga Alloh menjaga dan meluruskan langkah beliau-, beliau berkata kepadaku : “Wahai saudaraku, jika kamu melihat kesalahan padaku, maka wajib bagimu untuk menegur kesalahanku tersebut. Jika hal itu salah, maka saya pasti akan bertaubat. Jika saya nilai teguranmu salah, niscaya saya akan menjelaskan yang benar…2

Kemudian wahai saudaraku, janganlah kamu sembunyikan apa yang kamu lihat di dalam hatimu, padahal hal itu kamu nilai sebagai suatu kesalahan. Saya adalah seorang manusia yang bisa salah dan akan salah serta bersalah. Jika kamu tinggalkan teguran, niscaya akan bertumpuk kesalahan-kesalahanku sampai menjadi suatu kebencian antara diriku dan dirimu, dan ini adalah perkara yang saya tidak menyukainya dan tidak menginginkannya.”

Tentang Menetapi Kejujuran

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda : “Wajib atas kalian untuk berpegang teguh dengan kejujuran, karena sesungguhnya kejujuran itu akan membawa kepada kebaikan dan kebaikan itu akan membawa kepada surga, dan seorang yang senantiasa jujur dan menetapi kejujuran, niscaya akan dicatat di sisi Alloh sebagai seorang yang amat jujur. Dan berhati-hatilah kalian dari berdusta, karena sesungguhnya kedustaan itu akan membawa kepada kejahatan dan kejahatan akan membawa kepada neraka, dan seorang yang senantiasa berdusta dan berpegang teguh dengan kedustaan niscaya akan dicatat di sisi Alloh sebagai seorang pendusta.” (HR Muslim, no. 2607, 105 dan ini lafazhnya dan juga oleh al-Bukhari no. 6094).

Alloh berfirman : “Sesungguhnya Alloh tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta.” (QS Al-Mukmin : 28)

Alloh berfirman : “Dan sesungguhnnya telah merugi orang-orang yang mengada-adakan kedustaan.” (QS Thoha : 61).

Alloh berfirman : “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, pengelihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungan jawabnya.” (QS al-Isra’ : 36).

Tentang Hasad dan Pelakunya

Sangat disayangkan, ada di antara para penuntut ilmu syar’i yang memiliki sifat hasad. Dan sangat disayangkan lagi, orang tersebut ketika dia berusaha menghilangkan nikmat dari orang yang dia hasadi, dia menjadikan sifat hasadnya itu berkedok agama seolah-olah untuk mendekatkan diri kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala, dengan tujuan agar nampak di hadapan masyarakat, bahwa tujuannya adalah demi menjaga dan melindungi Islam dan kaum muslimin.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda : “Berhati-hatilah kalian dari berprasangka, karena sesungguhnya prasangka itu adalah perkataan yang paling dusta. Janganlah kalian saling berbuat najasy3. Janganlah kalian saling berlaku hasad dan saling membenci serta mengunggulkan diri. Akan tetapi jadilah kalian hamba-hamba yang bersaudara.” (HR al-Bukhari).

Tentang Fitnah

Betapa banyak orang yang tenggelam di dalam fitnah, bahkan betapa banyak para pemicu fitnah!!! Alloh Ta’ala berfirman : “Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan Ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS al-Anfaal : 25)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda : “Ya Alloh, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari kembali kepada kekufuran (murtad) atau terfitnah dalam urusan agama kami.” (HR al-Bukhari no. 6593 dan Muslim, no. 2293).

Tentang Perpecahan dan Perselisihan

Alloh Ta’ala berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu Karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu Telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung. Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. mereka Itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat, Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): “Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu”.” (QS Ali Imran : 102-106)

Dan Alloh berfirman : “Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, Kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang Telah mereka perbuat.” (QS al-An’am : 159)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu berkata : “Perselisihan itu tercela dari dua sisi, terkadang sebabnya adalah niat yang jelek dikarenakan di dalam jiwanya ada kezhaliman, hasad dan keinginan menjadi terkemuka di muka bumi dengan cara yang buruk atau yang semisal dengannya, maka hal ini akan menjadikannya senantiasa mencela perkataan dan perbuatan orang lain, atau berusaha mengalahkannya dengan tujuan tampil beda, atau senang terhadap perkataan yang sesuai dengannya, baik karena senasab, semadzhab atau nepotisme dan yang semisalnya. Dikarenakan hal itu akan menjadikannya dihormati dan mendapatkan kepemimpinan. Dan betapa banyaknya hal ini terjadi di antara bani Adam. Ini merupakan suatu kezhaliman yang terkadang juga sebabnya adalah kebodohan kedua belah fihak yang berselisih tentang hakekat permasalahan yang mereka perselisihkan. Atau kebodohan tentang dalil yang bisa memuaskan fihak yang lain atau kebodohan salah satu fihak akan kebenaran yang ada di fihak lain, baik dari segi hukum ataupun dalilnya, atau tidak tahu siapa orangnya yang bisa menunjukkan kebenaran baik dari segi hokum maupun dalilnya.”

Berusaha Keras Untuk Memasukkan Manusia ke Dalam Manhaj Yang Benar, Bukan Malah Mengeluarkan Mereka Darinya

Wajib bagi para penuntut ilmu untuk berusaha keras memasukkan dan membimbing manusia agar masuk ke dalam manhaj yang benar, bukannya malah menjadikan mereka menjauh atau bahkan mengusir mereka dengan alasan demi menjaga manhaj dari orang-orang yang memiliki syubhat-syubhat.

Subhanalloh!!! Seakan-akan mereka telah bersih dari berbagai syubuhat dan mencapai derajat para Malaikat dan Nabi.

Wahai pemilik propaganda ini, wajib bagi kalian mengoreksi diri kalian terlebih dahulu4, dan jika kalian bisa memperbaiki kesalahan dan syubhat yang menimpa saudara-saudara kalian, maka lakukanlah tanpa menjadikan mereka keluar atau terusir –seperti yang dilakukan kaum hizbiyun-5. Jika kalian tidak bisa melakukan itu, maka tinggalkanlah mereka untuk dinasehati oleh orang-orang yang berpengaruh terhadap mereka dan mampu mengobati mereka dengan cara yang lebih baik dan lurus.

Menggelari Manusia Dengan Gelar-Gelar Khusus Bagi Ahli Bid’ah

Sangat disayangkan, sebagian pemuda kita memilih metode menggelari manusia dengan gelar-gelar yang tidak pantas, sehingga mereka akan lari menjauh.

Tindakan ini sangat mirip dengan orang-orang yang berpemikiran takfir6, Anda akan mendapati di antara mereka ada seseorang yang tidak duduk di dalam suatu majlis melainkan membicarakan masalah takfir, si A kafir, pro ini kafir, umat ini kafir dan seterusnya… sampai-sampai ia menilai semua orang kafir kecuali dirinya dan orang-orang yang mendukungnya.7

Begitulah para pemuda –semoga Alloh Azza wa Jalla memberikan petunjuk kepada mereka-, mereka tidaklah duduk di suatu majlis melainkan mengatakan Qutbi, Sururi8 dan ini termasuk ahlul bid’ah dan ini ahlul ahwa’, yang ini sesat menyesatkan dan yang ini dianggap seperti mencela, dan ini… sampai dia berpendapat tiada seorangpun yang berada di atas manhaj yang benar kecuali dirinya dan yang mendukungnya, sedangkan yang lainnya menyimpang dan sesat…9.

Alloh Ta’ala berfirman : “(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. padahal dia pada sisi Allah adalah besar.” (QS an-Nuur : 15).

CATATAN KAKI :

(*) Dialihbahasakan oleh Abu Khadijah Imam Wahyudi, Lc. dari Majalah al-Asholah, th. VIII, edisi ke-42 dan dimuat di Majalah Ilmiah Adz-Dzahiirah Al-Islamiyyah, edisi 20, th. IV, Jumadil Awal 1427/Juni-Juli 2006.

1. Dengan perantaraan tulisan saudaraku Muhammad bin Isa hafizhahullahu yang berjudul Saba’ik adz-Dzahab fi Bayani Ushuli ath-Tholab.

2. Hendaklah sang pemberi nasehat memperhatikan perkataan ini, karena betapa banyak pemberi nasehat yang menyangka telah melakukan hal yang benar dalam nasehatnya. Sehingga apabila yang dinasehati belum menerima nasehatnya, segera dia marah dan mengambil berbagai sikap dan reaksi. Akan tetapi seyogyanya bagi orang yang dinasehati, menjelaskan kepada sang pemberi nasehat sisi kebenaran yang ia yakini, dan tidak boleh meninggalkan sang pemberi nasehat dengan tetap menyalahkannya. Karena hal ini dapat menimbulkan perasaan tidak enak, benci dan permusuhan. Wajib bagi manusia untuk memahami tabiat dan kepribadian masing-masing, karena mereka bukanlah malaikat, bukan nabi, maka daripada itu hendaklah mereka tidak menuntut agar tidak mendapati kesalahan dan kekhilafan saudara-saudara mereka, yang mana pada kenyataannya mereka akan mendapat begitu banyak kesalahan dan kekhilafan.

3. Menaikkan harga karena bukan ingin membeli, namun untuk menipu orang lain.

4. Hisablah dulu diri kalian sebelum kalian dihisab.

5. meskipun sebagian mereka mengaku sebagai salafiyun.

6. meskipun ada perbedaan tingkatan peberian gelar-gelar buruk, karena gelar-gelar yang digunakan para pemuda tersebut tidak sampai kepada pengkafiran. Adapun yang lainnya sampai kepada kafir.

7. Sungguh saya telah bertemu dengan salah seorang diantara mereka dan terjadi diskusi di antara kami. Di dalam diskusi tersebut ia berkata, “kaum muslimin di Mauritania jumlahnya 5 % saja sedankan yang lainnya kafir.” Kami berlindung –kepada Alloh- dari pemikiran ini.

8. Meskipun saya berkeyakinan bahwa pemikiran Sayyid Quthb dan Muhammad Surur adalah pemikiran yang batil dan wajib ditahdzir, akan tetapi jika gelar-gelar tersebut dituduhkan kepada ahli haq dikarenakan beberapa kesalahan yang mereka terjatuh ke dalamnya, maka demi Alloh, inilah seburuk-buruk kejelekan, dan kami berlindung dari perbuatan tersebut.

9. Mereka biasa menuduh seseorang dengan tuduhan sururi atau quthbi dengan didasari oleh tuduhan belaka, artinya bukti yang mereka kemukakan pada hakekatnya adalah dalih bukanlah dalil

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar