Kamis, 10 Maret 2011

Panggilan Cinta Menuju Serambi Surga

Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah SWT, yaitu bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa mengingkari kewajiban haji, sesungguhnya Allah Mahakaya, tidak memerlukan sesuatu dari semesta alam (QS Ali Imran: 97).

Kaum muslimin dari seluruh penjuru dunia setiap tahun diajak untuk berpartisipasi dalam hajatan kolosal dan akbar di Tanah Suci. Semua orang dianggap sama, tidak ada diskriminasi berdasarkan ras, jenis kelamin, ataupun status sosial, sesuai dengan ajaran Islam, yang egaliter. Kaum muslimin menyambut panggilan Allah yang penuh cinta untuk menapaktilasi jejak langkah perjuangan Nabi Adam AS, Nabi Ibrahim AS, dan Siti Hajar. Semata-mata karena Allah, untuk meraih ketaqwaan di sisi-Nya.

Dalam bukunya Makna Haji, Dr. Ali Syariati menjelaskan, berhaji adalah perjalanan menuju serambi surga. Siapa yang memaknai hajinya dengan benar, surga adalah ganjarannya. Ibadah haji berlangsung selama bulan Dzulhijjah, yang sangat mulia. Keadaan tanah Makkah hening dan damai, di sana tidak ada rasa takut, kebencian, ataupun perang. Yang terasa di gurun pasir itu hanyalah rasa aman dan damai. Suasana ibadah terasa lazim.

Tidakkah engkau dengar seruan Allah kepada Nabi Ibrahim AS, “Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji. Mereka akan datang padamu dengan bertelanjang kaki atau mengendarai unta yang lemah yang datang dari segenap penjuru gurun pasir yang jauh.” (QS Al-Hajj: 27).

Wahai engkau yang tercipta dari lumpur! Cari dan ikutilah ruh Allah. Terimalah undangannya, tinggalkan kampung halamanmu untuk menjumpai Dia yang sedang menunggumu. Eksistensi manusia tidak akan bermakna jika mendekati ruh Allah bukan tujuannya. Singkirkan dirimu dari segala tuntutan dan ketamakan yang memalingkanmu dari Allah SWT. Maka bergabunglah dengan kafilah haji.

Sebelum berangkat melaksanakan ibadah haji, hendaklah kita melunasi dulu utang-utang, dan membersihkan diri dari rasa benci serta marah terhadap sanak saudara, teman, atau siapa pun. Jangan lupa, tulis pula surat wasiat untuk mereka yang hendak kita tinggalkan. Semua ini merupakan langkah-langkah persiapan menghadapi kematian, dan menjamin kesucian pribadi dan finansial, serta melambangkan detik-detik perpisahan dan masa depan manusia.

Pada hari kebangkitan kelak, tidak ada yang dapat kita perbuat di hadapan mahkamah Allah. Di sana, mata, telinga, dan hati menjadi saksi yang sebenar-benarnya tentang apa yang telah kita perbuat. “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS Al-Isra’: 36).

Ibadah haji menggambarkan kepulangan kita kepada Allah, Yang mutlak, Yang tidak terbatas, dan Yang tidak ada yang menyerupai-Nya. Pulang kepada Allah menunjukkan suatu gerakan yang pasti menuju kesempurnaan.

Wahai manusia, melalui perjalanan waktu dan pengaruh kehidupan, engkau pun telah banyak sekali berubah. Engkau telah mengingkari janjimu untuk hanya menyembah kepada Allah, Yang Mahakuasa, dan malah menjadi pemuja berhala-berhala, yang sebagian di antaranya ciptaan manusia.

Wahai manusia, kembalilah ke asalmu. Tunaikan ibadah haji, dan temuilah Kekasihmu, Yang menciptakanmu sebagai sebaik-baiknya makhluk, dan Dia sedang menantikan kedatanganmu. Tinggalkan istana-istana kekuasaan, gudang-gudang kekayaan, dan kuil-kuil yang menyesatkan.

Memasuki Miqat

Hajatan massal itu berawal dari Miqat, tempat mengenakan pakaian ihram. Di sini manusia harus berganti pakaian. Mengapa? Karena pakaian menutupi diri dan wataknya. Pakaian melambangkan pola, status, dan perbedaan. Semua itu menciptakan batas-batas palsu yang menyebabkan pemisahan di antara manusia. Sebagian besar pemisahan yang terjadi di tengah manusia melahirkan diskriminasi. Maka selanjutnya muncullah konsep “aku”, bukan “kita”. Aku digunakan dalam konteks rasku, kelasku, klanku, golonganku, jabatanku, keluargaku, nilai-nilaiku, dan bukan aku sebagai manusia. Begitu banyak batas tercipta dalam kehidupan kita.

Sekarang tanggalkan pakaianmu, dan tinggalkanlah di Miqat. Kenakan kain kafan yang terdiri dari kain putih polos. Pakaian yang engkau kenakan itu sama seperti pakaian yang dikenakan orang lain. Lihatlah betapa keseragaman terjadi. Jadilah sebuah partikel, lalu ikutilah massa, dan jadilah laksana setetes air yang larut ke dalam samudera.

Jangan bersikap angkuh, karena engkau di sini bukan untuk mengunjungi seorang manusia. Tapi bersikaplah rendah hati, karena engkau akan menjumpai Allah. Di Miqat, tidak peduli dari ras atau suku apa pun, engkau harus mengangkat semua penutup yang engkau kenakan dalam kehidupanmu sehari-hari.

Sebelum memasuki Miqat, yang merupakan awal perubahan dan revolusi besar, engkau harus menyatakan niat. Niat apa? Niat perpindahan dari rumahmu ke rumah umat manusia, dari sang diri kepada Allah, dari penghambaan kepada kemerdekaan. Dari diskriminasi rasial kepada persamaan, ketulusan hati, dan kebenaran. Dari berpakaian menjadi telanjang, dari kehidupan sehari-hari kepada kehidupan abadi, dan dari egoisme dan ketidakbertujuan kepada ketaatan dan tanggung jawab.

Oleh karena itu niatmu harus dinyatakan dengan tegas, engkau akan mencuat dari tempurungmu laksana biji kurma keluar dari dagingnya.

Setelah sadar sepenuhnya, engkau harus memiliki keyakinan dalam hati. Terangi hatimu dengan api cinta, bersinarlah, bersinarlah. Lupakan segala sesuatu tentang dirimu.

Dulu engkau hidup dalam kelalaian dan kebodohan dan tak berdaya dalam segala aspek kehidupan. Bahkan dalam dunia kerja pun engkau menjadi seorang budak yang bekerja karena kebiasaan atau karena terpaksa. Ketika di Miqat dan bersiap-siap untuk memulai prosesi haji, engkau sadar akan apa yang harus dikerjakan dan mengapa dikerjakan.

Dengan berpakaian ihram engkau melaksanakan shalat sunnah Ihram, dan menghadapkan dirimu kepada Allah, Yang Mahakuasa, seraya berkata, “Ya Allah, kini aku tidak lagi menyembah berhala-berhala, dan aku tidak lagi menjadi budak Namrud.

Ya Allah, sekarang aku berdiri di hadapan-Mu sebagaimana Nabi Ibrahim, bukan sebagai penindas, bukan sebagai penipu ataupun penimbun. Tidak! Aku menghadap-Mu sebagai seorang manusia yang mengenakan pakaian yang sama dengan yang akan aku kenakan saat aku menjumpai-Mu di akhirat.

Wahai Yang Maha Pengasih lagi Penyayang, yang keagungan dan belas kasih-Nya meliputi kawan maupun lawan, orang shalih maupun pendosa, orang beriman maupun kafir. Ya Allah, aku menyembah-Mu karena Engkau satu-satunya yang patut disembah. Aku tidak menyembah siapa pun selain Engkau, Pemilik hari pengadilan.”

Sungai Berwarna Putih

Kota Makkah menyerupai sebuah mangkuk raksasa yang dikelilingi gunung-gunung. Setiap lembah, jalan, dan lorong menghadap ke lantai rumah besar ini. Ka’bah berada di pusatnya. Kita akan menyaksikan rombongan manusia yang berpakaian serba putih turun membanjiri Masjidil Haram laksana sungai berwarna putih.

Semakin kita mendekati Ka’bah, semakin kita merasakan keagungannya. Ka’bah adalah kiblat kaum muslimin ketika shalat. Ka’bah adalah pusat eksistensi, keyakinan, cinta, dan kehidupan.

Ka’bah terbuat dari batu-batu kasar berwarna hitam yang disusun dengan pola yang sangat sederhana dan celah-celahnya diisi dengan kapur berwarna putih. Ka’bah “hanyalah” sebuah bangunan berbentuk kubus yang kosong, namun kita bisa terhenyak dengan apa yang kita saksikan. Tidak ada apa-apa, tidak ada apa pun yang bisa dilihat.

Alangkah baiknya menyaksikan Ka’bah, yang kosong. Melihat Ka’bah yang seperti itu akan mengingatkan kita bahwa kehadiran kita adalah untuk menunaikan ibadah haji. Ka’bah bukanlah tujuan, tapi sekadar pedoman arah. Ka’bah hanyalah sebuah rambu penunjuk jalan.

Ketika shalat di luar Ka’bah, kita harus menghadap bangunannya. Bangunan apa pun selain Ka’bah pasti menghadap ke utara, selatan, timur, barat, atas atau bawah. Ka’bah sebagai kekecualian menghadap ke segala arah tapi tidak menghadap apa pun. Sebagai simbol sejati yang datang dari Allah, Ka’bah mempunyai banyak arah namun ia tidak mempunyai arah tertentu.

Di sebelah barat Ka’bah terdapat sebuah dinding pendek setengah lingkaran yang menghadapnya yang disebut “Hajar Ismail”. Hajar berarti “pangkuan”, dan dinding berbentuk bulan sabit ini memang menyerupai sebuah pangkuan.

Siti Sarah, istri Nabi Ibrahim AS, mempunyai seorang hamba perempuan berkulit hitam yang bernama Siti Hajar. Ia sangat miskin dan sedemikian sederhana. Siti Sarah tidak keberatan Siti Hajar menjadi istri Nabi Ibrahim agar memberikan seorang anak.
Dalam pangkuan Hajar-lah, Nabi Ismail dibesarkan. Allah SWT menghubungkan simbol pangkuan Hajar dengan simbol sejati yang datang dari-Nya, yaitu Ka’bah. Di sanalah rumah Siti Hajar, dan kuburannya terletak di dekat pilar Ka’bah yang ketiga.

Sungguh mengejutkan, karena tidak seorang pun, sekalipun para nabi, di kubur di dalam masjid. Namun dalam kejadian ini rumah seorang budak perempuan diletakkan di sebelah rumah Allah. Siti Hajar, ibunda Nabi Ismail, di kubur di sana, Ka’bah melekat hingga ke kuburnya.

Ada lorong sempit di antara Hajar Ismail dan Ka’bah. Ketika kita tawaf mengelilingi Ka’bah, Allah mewajibkan kita mengitari Hajar Ismail. Jangan melewati lorongnya. Sebab, kalau tidak, ibadah haji kita akan batal.

Tawaf


Bagaikan sungai yang bergemuruh mengitari sebuah batu, lautan manusia yang sangat bergairah mengelilingi Ka’bah.

Tawaf menunjukkan makna ketauhidan. Allah adalah pusat eksistensi. Dia adalah fokus dari dunia, yang sementara. Kita adalah partikel bergerak yang mengubah posisi dari yang sekarang ke yang seharusnya. Namun dari segala posisi dan di setiap saat kita berada pada jarak yang konstan dengan Allah. Jarak tersebut tergantung pada jalan yang telah kita pilih.

Jalan Allah adalah jalan umat manusia. Untuk mendekati Allah, kita harus lebih dulu mendekati manusia. Untuk mencapai keshalihan, kita harus benar-benar terlibat dalam problematik manusia. Aktiflah terjun ke lapangan, melakukan kedermawanan, ketaatan, dan mengorbankan kepentingan diri sendiri.

Pada saat tawaf, kita tidak boleh masuk ke Ka’bah ataupun berhenti di sekitarnya. Kita harus masuk dan lenyap dalam gelombang manusia. Kita harus terjun ke dalam arus manusia yang bergemuruh sedang bertawaf. Beginilah caranya menjadi seorang haji. Ini adalah undangan kolektif kepada siapa saja yang ingin datang ke rumah ini. Setiap orang mengenakan pakaian dengan warna dan pola yang sama, tidak ada perbedaan ataupun penonjolan pribadi, dan yang ditunjukkan adalah totalitas serta universalitas sejati.

Dengan bersikap dermawan, baik hati, kepada orang lain, dan mengabdi kepada umat, kita akan akan menemukan jati diri.
Setelah menyelesaikan tujuh putaran, prosesi tawaf berakhir. Mengapa tujuh putaran? Sebab angka tujuh mengingatkan kita pada tujuh lapis langit.

Di Maqam Ibrahim, kita harus shalat dua rakaat. Yang dimaksud dengan Maqam Ibrahim adalah sebongkah batu yang di atasnya terdapat bekas tapak kaki Nabi Ibrahim AS. Di atas batu itulah Nabi Ibrahim berdiri dan meletakkan batu pertama Ka’bah (Hajar Aswad). Ia berdiri di atas batu tersebut untuk membangun Ka’bah.

Berada di Maqam Ibrahim berarti berdiri di tempat beliau. Marilah kita tunaikan ibadah haji. Terjunlah ke dalam sungai manusia yang bertawaf dengan cara ikut bertawaf juga. Setelah satu jam berenang dalam aliran cinta ini kita akan meninggalkan eksistensi makhluk hidup yang egois dan memetik suatu kehidupan baru di tengah eksistensi abadi umat manusia dalam orbit abadi Allah SWT. Sekarang kita seperti Ibrahim.

Semua orang dalam keadaan memalukan dan rapuh, bumi telah berubah menjadi sebuah rumah besar bagi para pelacur, yang tak seorang pun memiliki kehormatan. Ia merupakan sebuah rumah penjagalan besar, dan yang berlaku hanyalah penganiayaan dan diskriminasi. Pada akhirnya, itulah Ka’bah, rumah yang bersih, aman dan kokoh, bagi seluruh manusia. Selamatkan umat manusia, keluarkan mereka dari kehidupan yang stagnan dan sia-sia. Bangunkanlah mereka dari tidur yang lelap. Bantulah mereka bergerak, pegang tangannya dan tuntunlah mereka. Ajak mereka beribadah haji dan bertawaf.

Antara Tawaf dan Sa’i

Usai menunaikan shalat sunnah Tawaf di Maqam Ibrahim, kita harus pergi ke Mas’a, yakni jalan antara Bukit Shafa dan Marwah. Berlari-lari di antara dua bukit itu tujuh kali, yang dimulai dari puncak Bukit Shafa. Pada saat berada di bagian tempat yang tingginya sama dengan Ka’bah, kita harus bergegas, selanjutnya berjalan seperti biasa ke kaki Bukit Marwah.

Sa’i adalah sebuah pencarian. Ia merupakan sebuah gerakan yang mempunyai tujuan dan digambarkan dengan berlari-lari dan bergegas-gegas. Pada saat tawaf kita berperan sebagai Siti Hajar. Di Maqam Ibrahim kita berperan sebagai Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Begitu kita memulai sa’i, kita pun berperan lagi sebagai Siti Hajar.

Sa’i adalah kerja fisik, artinya mengerahkan segala upaya mencari air dan roti untuk memuaskan dahaga dan memberi makan anak-anak yang kelaparan. Sa’i adalah jalan untuk mencapai kehidupan yang lebih baik.

Selama proses sa’i, kita berjalan bolak-balik sebanyak tujuh kali. Angka 7 adalah angka ganjil, sehingga sa’i berakhir di Shafa, bukan di Marwah. Tujuh melambangkan bahwa seluruh kehidupan senantiasa menuju Marwah. Mulailah dari Shafa, yang berarti cinta sejati kepada orang lain. Tujuannya adalah Marwah, yang berarti rasa hormat, kedermawanan, dan sikap memaafkan orang lain.

Usai prosesi sa’i di Marwah, potonglah rambut dan kuku. Lepaskan pakaian ihram, lalu kenakan pakaian yang biasa. Dengan tangan hampa dan dalam keadaan dahaga, tinggalkanlah Marwah, pergilah temui Nabi Ismail.

Dengarkan dengan seksama. Ada gemuruh suara air di sana. Burung-burung yang haus melayang-layang di atas gurun pasir kering ini. Air Zamzam telah memuaskan dahaga Nabi Ismail. Suku kaum terasing yang berasal dari negeri yang sangat jauh telah menempati lembah tak berpenghuni ini. Penduduk bumi yang kehausan telah berkeliling di sekitar Zamzam. Sebuah kota yang rumah-rumahnya terbuat dari batu tumbuh dan berkembang di tengah gurun pasir yang gersang dan memayahkan. Di sana pernah diturunkan wahyu.

Setelah kembali dari melakukan sa’i dalam keadaan dahaga dan kesepian, kesendirian akan berakhir di sini. Zamzam memancar di bawah kaki Nabi Ismail. Umat manusia berkerumun di sekeliling Zamzam.

“Wahai manusia, setelah penat melakukan sa’i, bersandarlah pada cinta. Wahai manusia yang bertanggung jawab, berusahalah semampumu karena anakmu dalam dahaga. Wahai engkau yang mencinta, berharaplah selalu. Berharap semoga cinta dan harapan akan mendatangkan mukjizat,” demikian kata-kata Siti Hajar.

Pada tanggal 9 Dzulhijjah, haji besar telah mulai. Tinggalkanlah Makkah dan kenakan pakaian ihram. Untuk memulai haji besar, kita harus meninggalkan Makkah.

Memutuskan untuk pergi ke Makkah bukanlah totalitas aktualisasi haji. Dan Ka’bah atau kiblat pun bukan tujuan haji. Nabi Ibrahim telah mengajarkan bahwa haji tidak berakhir di Ka’bah, tetapi memulai dengan meninggalkan Ka’bah. Ka’bah bukan tujuan, melainkan tempat kita memulai. Ka’bah hanyalah arah, dan bukan tujuan. Kita memulai dengan datang ke Ka’bah tetapi tidak menetap di Ka’bah.

Dengan mengenakan pakaian ihram dan meninggalkan Makkah, kita akan memulai perjalanan ke arah timur, yaitu Arafah, dan di sana kita harus wukuf hingga matahari terbit pada 9 Dzulhijjah. Dalam perjalanan pulang dari Arafah, kita akan berhenti sejenak di Masy’ar dan kemudian di Mina.

Apabila dalam prosesi-prosesi sebelumnya kita diperintahkan untuk berjalan perlahan-lahan dan selangkah demi selangkah, kali itu kita harus berjalan tanpa henti dan dengan penuh semangat, bagaikan seorang pecinta sejati, sepanjang jalan menuju Arafah, tanpa istirahat. Dari pagi hari kesepuluh sampai hari ke-12 harus berdiam di Mina.

Tidak ada rambu-rambu yang membedakan tiga daerah ini satu sama lain. Sebuah jalan sempit sekitar 15 mil panjangnya menghubungkan ketiga daerah ini dengan lembah kota Makkah. Sepanjang jalan tidak ada monumen-monumen yang bersifat alamiah, historis, atau religius, dan juga tidak ada indikator yang memisahkan satu daerah dari daerah lainnya.

Pada saat menunaikan ibadah haji, gerakan pertama dimulai dari Arafah, wukuf di Arafah, yang dimulai pada tengah hari tanggal 9 Dzulhijjah, ketika matahari memancarkan sinarnya yang paling terik. Pada saat matahari terbenam, wukuf di Arafah pun berakhir. Tak ada yang bisa dilihat dalam kegelapan, dalam kegelapan tidak ada perkenalan maupun pengetahuan.

Berlatarkan mentari yang terbenam di padang Arafah, manusia berhijrah ke arah barat. Mereka terus berjalan hingga tiba di Masy’ar atau negeri kesadaran, dan mereka pun berhenti di sana.

Kita telah tiba di padang Arafah, yakni tempat terjauh dari kota Makkah dan merupakan daratan tandus yang seluruhnya ditutupi pasir halus, di tengahnya terdapat bukit batu kecil yang bernama “Jabbal Rahmah”, tempat Rasulullah SAW menyampaikan khutbah terakhirnya kepada para pengikutnya.

Matahari terbenam di padang Arafah dan kita pun harus pergi. Arafah lenyap ditelan kegelapan. Kita tidak bermalam di sini, tapi bergerak ketika matahari tenggelam. Kita akan pergi ke Masy’ar. Kita tidak bisa istirahat, karena setiap fase hanya berhenti sejenak lalu cepat-cepat pergi lagi. Dengan peristiwa itu kita diingatkan: Wahai manusia, engkau hidup dalam waktu singkat, engkau hanya sesaat.... Wahai manusia, engkau bukan apa-apa.

Kita harus sudah berada di Masy’ar menjelang senja. Manusia berjalan menuruni lembah dari Arafah menuju Mina dan kemudian ke Makkah. Di Arafah kita berwukuf selama satu hari, hilang terbawa banjir manusia yang bergemuruh. Dalam warna pakaian dan arah yang sama, umat manusia mengelilingi Jabal Rahmah, melambangkan takut akan kegelapan.

Istirahat yang terakhir dan paling lama berlangsung di Mina. Peristiwa ini menandakan harapan, cita-cita, idealisme, dan cinta. Cinta adalah fase terakhir setelah pengetahuan dan kesadaran.

Momen ibadah haji yang paling agung telah tiba, yakni hari ke-10, saat jatuhnya hari ‘Idul Qurban. Secara bertahap, kelompok-kelompok dari berbagai penjuru bergabung bersama dan membentuk sebuah aliran sungai yang besar.

Setelah membangun pasukan yang kuat, mereka bersiap-siap untuk meninggalkan Masy’ar lalu pergi ke tempat perhentian berikutnya di Mina.

Melontar jumrah adalah perlambang medan pertempuran dengan setan. Tiga setan yang terletak di sepanjang jalan itu jaraknya satu sama lain kurang lebih seratus meter, masing-masing melambangkan monumen patung atau berhala. Jama’ah memegang senjata berupa batu kerikil dan siap menyerang.

Ketika kita sampai pada berhala pertama, jangan melempar, tapi lewati saja. Ketika kita sampai pada berhala kedua, juga jangan melempar, tapi lewati saja. Ketika sampai pada berhala ketiga, jangan lewati, tapi lemparlah. Lemparlah yang terakhir dalam serangan pertamamu. Tujuh butir peluru berupa kerikil akan menembak wajah dan kepala.

Ketika berhala yang terakhir tumbang, berhala yang pertama dan kedua tidak bisa melawan, karena yang menopang mereka adalah berhala yang ketiga. Setelah itu mari kita rayakan kemenangan dengan mengadakan qurban. Lepaskan pakaian ihram, potong rambut, dan bersyukurlah kepada Allah SWT.

Pakaian Ihram dan Kafan

Hujjatul Islam Al-Ghazali berpendapat, di antara adab yang paling penting dalam perjalanan ini adalah bahwa seseorang mengkhususkan dirinya untuk melakukan haji dan memutuskan segala hubungannya dengan dunia. Itu dilakukan dengan melakukan taubat yang murni semata-mata karena Allah dari semua perbuatan maksiat dan kezhaliman.

Apabila seorang yang menunaikan haji membeli dua pakaian ihram, hendaklah ketika itu ia mengingat kafan dan bahwa dengan kain itu ia nanti akan dibungkus. Sesungguhnya ia akan mengenakan pakaian ihram ketika dekat dengan Baitullah dan barangkali ia belum sempat menyempurnakan perjalanan kepada-Nya lalu ia akan menjumpai-Nya dalam keadaan dibungkus dengan kain kafan.

Sebagaimana ia tidak menjumpai rumah Allah kecuali dalam keadaan berbeda dengan kebiasaannya dalam berpakaian, ia juga tidak menjumpai Allah setelah mati melainkan dengan pakaian yang berbeda dengan pakaian dunia. Pakaian ihram ini mirip dengan pakaian untuk kafan, tidak ada jahitannya.

Al-Ghazali menjelaskan falsafah dari masuknya orang yang menunaikan haji ke Makkah, di sini kecenderungan harapan dalam jiwa seseorang lebih menonjol dibandingkan kecenderungan rasa takutnya. Ketika seseorang memasuki Makkah untuk menunaikan ibadah haji, hendaknya ia ingat bahwa ia telah sampai ke Tanah Haram dengan aman. Di saat itu hendaknya ia berharap bahwa dengan memasuki Tanah Haram ia aman dari siksa Allah. Hendaknya ia merasa takut apabila ia tidak mendapatkan kedekatan dengan Allah.

Apabila pandangan seseorang tertuju pada Ka’bah, itu akan menghadirkan keagungan Baitullah di dalam hatinya. Al-Ghazali berkata kepada orang yang memandang itu, “Berharaplah agar Allah memberi rizqi kepadamu dan engkau melihat wajah-Nya yang mulia sebagaimana dia telah memberi rizqi kepadamu sehingga dapat memandang rumah-Nya yang agung.

Bersyukurlah kepada-Nya, karena atas izin-Nya engkau sampai pada kedudukan ini dan bergabung dalam kelompok orang yang mendatangi-Nya. Di saat itu ingatlah bagaimana manusia digiring pada hari Kiamat menuju surga, yang mereka terbagi ke dalam orang-orang yang diberikan izin untuk memasukinya dan orang yang dipalingkan, sebagaimana terbaginya para jama’ah haji menjadi orang-orang yang diterima dan ditolak hajinya. Dan teruslah mengingat perkara akhirat dalam segala yang dilihat, karena segala hal-ihwal haji menunjukkan hal-ihwal akhirat.”

Al-Ghazali memberikan penjelasan yang mendalam dalam menggambarkan amalan-amalan lahir haji. Melontar jumrah menunjukkan penghambaan dan perjalanan kita semata-mata karena menjalankan perintah-Nya, mengikuti Nabi Ibrahim ketika dibujuk oleh iblis di tempat itu untuk melakukan maksiat lalu Allah menyuruhnya agar melempar iblis laknatullah dengan batu untuk mengusirnya dan memutuskan harapannya.

“Seandainya terlintas dalam benakmu bahwa setan membujuknya (Ibrahim) dan ia menyaksikannya sehingga ia pantas melemparnya sedangkan engkau tidak dibujuk oleh setan, ketahuilah bahwa pikiran ini berasal dari setan dan dia yang memasukkan dalam hatimu untuk melemahkan niatmu dalam melontar dan membisikkan kepadamu bahwa itu suatu perbuatan yang tidak ada manfaatnya dan bahwa itu suatu permainan sehingga tidak perlu menyibukkan diri dengannya. Maka usirlah dia dari dirimu dengan sungguh-sungguh dan dengan sigap dalam melontarnya,” Al-Ghazali menjelaskan.

Ketahuilah, pada lahirnya kita melontar batu-batuan ke Aqabah, padahal hakikatnya kita melontar batuan itu ke wajah setan dan menghancurkannya. Setan tidak dapat dikalahkan kecuali kita melaksanakan perintah Allah sebagai pengagungan kepada-Nya dengan semata-mata mematuhi perintah-Nya.

“Kepergian kita menuju Baitullah semata-mata karena kecintaan dan kerinduan kepada Allah, maka tentulah Allah juga memandang kita dengan pandangan kasih sayang,” kata Imam Al-Ghazali.
(sumber majalah alkisah)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar