Sabtu, 02 April 2011

A.A Navis







Nama :
Haji Ali Akbar Navis


Lahir :
Kampung Jawa, Padangpanjang,

Sumatera Barat,

17 November 1924


Wafat :
Padang, Sumetera Barat,

22 Maret 2003



Pendidikan :
INS Kayutanam

(1932-1943)


Profesi :

Sastrawan,
Kepala Bagian Kesenian Jawatan Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat, di Bukittinggi (1952-1955),
Pemimpin Redaksi Harian Semangat di Padang (1971-1972),
Dosen part time Fakultas Sastra Universitas Andalas Padang, jurusan Sosiologi Minangkabau (1983-1985),
Ketua Yayasan Badan Wakaf Ruang Pendidik INS, Kayutanam sejak tahun 1968,
Ketua Umum Dewan Kesenian Sumatera Barat


Karya :
Robohnya Surau Kami (1955)
Bianglala (1963)
Hujan Panas (1964)
Kemarau (1967)
Saraswati, Si Gadis dalam Sunyi (1970)
Dermaga dengan Empat Sekoci (1975)
Di Lintasan Mendung (1983)
Alam Terkembang Jadi Guru (1984)
Hujan Panas dan Kabut Musim (1990)
Jodoh (1998).


Penghargaan :
Hadiah seni dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI (1988),
Lencana Kebudayaan dari Universitas Andalas Padang (1989),
Lencana Jasawan di bidang seni dan budaya dari Gubernur Sumbar (1990),
Hadiah sastra dari Mendikbud (1992),
Hadiah Sastra ASEAN/SEA Write Award (1994),
Anugerah Buku Utama dari Unesco/IKAPI (1999),
Satya Lencana Kebudayaan dari Pemerintah RI.





Dia adalah salah seorang sastrawan dan budayawan terkemuka di Indonesia. Haji Ali Akbar Navis, atau yang lebih dikenal dengan nama A.A Navis, di kalangan sastrawan dia digelari sebagai kepala pencemooh. Gelar yang lebih menggambarkan kekuatan satiris tidak mau dikalahkan sistem dari luar dirinya.



Sosoknya menjadi simbol energi sastrawan yang menjadikan menulis sebagai alat dalam kehidupannya. Kritik-kritik sosialnya mengalir apa adanya untuk membangunkan kesadaran setiap pribadi agar hidup lebih bermakna. Dia seorang seniman yang perspektif pemikirannya jauh ke depan. Karyanya Robohnya Surau Kami, juga mencerminkan perspektif pemikiran ini. Yang roboh itu bukan dalam pengertian fisik, tapi tata nilai. Hal yang terjadi saat ini di negeri ini. Dia memang sosok budayawan besar, kreatif, produktif, konsisten dan jujur pada dirinya sendiri. Sepanjang hidupnya, dia telah melahirkan sejumlah karya monumental dalam lingkup kebudayaan dan kesenian. Dia bahkan telah menjadi guru bagi banyak sastrawan.



Dia seorang sastrawan intelektual yang telah banyak menyampaikan pemikiran-pemikiran di pentas nasional dan internasional. Dia banyak menulis berbagai hal. Walaupun karya sastralah yang paling banyak digelutinya. Karyanya sudah ratusan, mulai dari cerpen, novel, puisi, cerita anak-anak, sandiwara radio, esai mengenai masalah sosial budaya, hingga penulisan otobiografi dan biografi.


Navis memulai menulis sejak tahun 1950. Hasil karyanya mendapat perhatian dari pimpinan media cetak sekitar tahun 1955 dan telah menghasilkan sebanyak 65 karya sastra dalam berbagai bentuk. Menulis 22 buku, ditambah lima antologi bersama sastrawan lainnya dan delapan antologi luar negeri serta 106 makalah yang ditulisnya untuk berbagai kegiatan akademis di dalam maupun di luar negeri, dihimpun dalam buku ‘Yang Berjalan Sepanjang Jalan.



Novelnya, Saraswati, diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada tahun 2002. Ia seorang penulis yang tak pernah merasa tua. Pada usia gaek ia masih saja menulis. Buku terakhirnya, berjudul Jodoh, diterbitkan oleh Grasindo, Jakarta atas kerjasama Yayasan Adikarya Ikapi dan The Ford Foundation, sebagai kado ulang tahun pada saat usianya genap 75 tahun. Padahal menulis bukanlah pekerjaan mudah, tapi memerlukan energi pemikiran serius dan santai. Tidak semua gagasan dan ide dapat diimplementasikan dalam sebuah tulisan, dan bahkan terkadang memerlukan waktu 20 tahun untuk melahirkan sebuah tulisan. Kendati demikian, ada juga tulisan yang dapat diselesaikan dalam waktu sehari saja. Namun, semua itu harus dilaksanakan dengan tekun tanpa harus putus asa.




Dia juga melihat Perkembangan sastra di Indonesia lagi macet. “Dulu si pengarang itu, ketika duduk di SMP dan SMA sudah menjadi pengarang. Sekarang memang banyak pengarang lahir. Dulu juga banyak, cuma penduduk waktu itu 80 juta dan sekarang 200 juta. Saya kira tak ada karya pengarang sekarang yang monumental, yang aneh memang banyak,” katanya. Perihal orang Minang, dirinya sendiri, dia mengatakan keterlaluan kalau ada yang mengatakan orang Minang itu pelit. “Yang benar, penuh perhitungan,” katanya, dia mengatakan sangat tak tepat mengatakan orang Minang itu licik. “Yang benar galia atau galir, ibarat pepatah tahimpik nak di ateh, takuruang nak di lua (terhimpit maunya di atas, terkurung maunya di luar)”, selorohnya.


Kini, dia telah pergi. Dunia sastra Indonesia kehilangan salah seorang sastrawan besar. Penulis Robohnya Surau Kami dan menguasai berbagai kesenian seperti seni rupa dan musik, ini meninggal dunia dalam usia hampir 79 tahun, sekitar pukul 05.00, Sabtu 22 Maret 2003, di Rumah Sakit Yos Sudarso, Padang.



(Dari Berbagai Sumber)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar