Sabtu, 09 April 2011

Sinopsis Harimau! Harimau!

Sudah seminggu para pencari damar berada dalam hutan. Mereka itu adalah Pak Haji Rakhmad, Wak Katok, Talib, Sutan, Buyung, Pak Balam serta Sanip. Orang yang paling tua dan yang paling berpengalaman mencari damar diantara mereka ini adalah Haji Rakhmad, namun yang menjadi pemimpin rombongan ini secara tanpa disepakati adalah Wak Katok. Masalahnya Wak Katok dianggap seorang dukun, pandai silat, dan pemimpin sebuah perguruan silat. Buyung, Sanip, Talib, Pak Balam,Serta Sutan adalah murid-murid Wak Katok.
Di dalam hutan itu, ketujuh orang ini menginap di sebuah rumah milik seorang yang bernama Wak Hitam. Wak Hitam ini mempunyai empat orang istri. Dan rumah dalam hutan tersebut adalah rumah peristirahatannya, di mana keempat istrinya itu dia datangkan secara bergiliran ke dalam rumah dalam hutan tersebut. Sewaktu ketujuh pencari damar itu berada di tempat itu, istri Wak Hitam yang dibawa adalah yang paling muda dan paling cantik yang bernama Siti Rubayah. Karena cantik dan muda, beberapa orang diantara rombongan pencari damar itu suka menggoda Siti Rubayah ketika suaminya sedang tidak berada di rumah.
Suatu hari salah seorang anggota rombongan, yaitu Buyung berhasil menembak seekor rusa yang sangat besar dan gemuk. Rupannya rusa ini sedang diincar juga oleh seekor harimau. Akibatnya, karena buruannya sudah tidak ada, harimau tua itu mengincar mangsa lain, yaitu mengincar rombongan pencari damar tersebut. Dalam suatu kesempatan, harimau itu berhasil menyerang salah seorang anggota rombongan, yaitu Pak Balam. Namun Pak Balam tidak sampai meninggal dunia karena sempat ditolong oleh rekan-rekannya. Dia hanya terluka parah.
Kejadian itu menurut pikiran Pak Balam adalah suatu kecelakaan yang telah ditetapkan Tuhan terhadap orang-orang yang mempunyai dosa dan kesalahan. Oleh karena itu, agar yang lainnya terhindar dari terkaman harimau, dia menyarankan agar teman-teamannya segera mengakui dosa-dosanya waktu itu. Dia sendiri waktu itu pun langsung mengakui perbuatan jeleknya, bahwa dia menyesal telah membiarkan Wak Katok membunuh teman seperjuangannya semasa perang melawan Belanda dulu. Dia juga merasa berdosa karena membiarkan Wak Katok membunuh dan memperkosa istri seorang demang dan juga sekaligus membawa kabur harta bendanya.
Sejak pengkuan Pak Balam tersebut, diantara mereka mulai saling mencurigai. Dan para anggota rombongan yang lebih muda mulai terserang rasa takut. Tapi oleh Wak Katok dan Haji Rakhmad mereka ditenangkan dengan mengatakan bahwa harimau tua itu bukanlah harimau siluman atau bukan juga utusan Tuhan. Harimau tiu hanyalah harimau biasa.
Korban berikutnya adalah Talib. Dia diterkam harimau tua tersebut ketika dia terpisah beberapa jarak dari rombongan. Namun dia juga berhasil diselamatkan waktu itu, karena dia cepat berteriak., sehingga teman-temannya cepat datang menolong. Walaupun tak sampai meninggal dunia, namun luka-luka yang diderita Talib cukup serius dan kritis. Pak Balam memperingatkan lagi pada teman-temannya, karena sudah dua korban, dia tidak mau ada korban berikutnya. Makanya dia lagi-lagi menyarankan agar anggota yang yang lain segera mengakui dosa-dosanya waktu itu agar mereka selamat diterkan harimau jadi-jadian itu. Dan waktu itu Talib mengakui dosa-dosanya dihadapan teman-temannya. Dia mengakui bahwa dia pernah mencuri. Habis pengakuan dosanya itu, Talib beberapa saat kemudian meninggal dunia. Sanip, walaupun sebelumnya ditentang oleh Sutan, juga mengakui perbuatan dosanya bersama Talib dan Sutan. Bahwa mereka pernah mencuri empat ekor kerbau Haji Serdang, melakukan dusta, pernah juga berzinah. Sutan sendiri bersikeras tidak mau mengakui dosa-dosanya karena dia tidak mau melanggar janji yang pernah mereka ucapkan secara bersama-sama waktu dulu itu.
Buyung menyarankan agar mereka segera memburu harimau itu sebelum memburu mereka. Habis menguburkan Talib itu, akhirnya Wak Katok, Buyung, Sanip, memutuskan untuk memburu harimau tersebut. Sedangkan Pak Haji Rakhmad dan Sutan bertugas menjaga Pak Balam yang luka parah. Karena merasa tak tahan, Pak Haji Rakhmad dan Sutan pergi menyusul rombongan Wak Katok untuk ikut serta memburu harimau itu. Di tangah perjalanan, giliran Sutan diserang harimau dan tubuhnya diseret harimau tersebut ke dalam hutan dan entah ke mana perginya.
Tak lama kemudian, Pak Balam yang memang terluka parah itu, meninggal dunia. Habis mengubur Pak Balam, anggota yang tersisa mencoba mencari mayat Sutan yang dibawa lari harimau itu. Waktu yang sudah mulai terbongkar rahasia kepengecutan Wak Katok yang terkenal sebagai dukun dan ahli pencak silat, di mana dia memutuskan mau pulang saja dan tidak mau ikut mencari Sutan bersama dengan yang lain. Tapi untungnya dia ditahan oleh Pak Haji Rakhmad, sehingga dengan terpaksa dia ikut juga bersama rombongan tersebut dalm usaha mereka mencari Sutan.
Dalam perjalanan mencari Sutan dan sekaligus memburu harimau yang telah menelan tiga orang korban tersebut, Wak Katok memaksa para anggotanya untuk mengakui dosa mereka masing-masing. Penolakan Buyung yang demikian keras, rupanya membuat hati Wak Katok tersinggung.dan pada saat itu, tiba-tiba muncul hariamau itu.
Wak Katok dengan gemetar membidik harimau tersebut dengan senapannya. Namun sialnya beberapa kali senapannya dikokang, pelurunya tak kunjung meletus juga karena mesiunya basah. Pada saat kritis tersebut, mencoba menghalau harimau tersebut dengan menggunakan api. Rupanya harimau itu takut dan lari sehingga selamatlah Wak Katok itu yang sebenarnya seorang laki-laki yang pengecut. Dia bukanlah seorang dukun yang ilmunya tinggi, tapi dukun palsu. Jimat-jimatnya itu hanyalah sebagai tameng belaka.
Karena merasa terbongkar rahasianya, Wak Katok marah dan mengancam akan menembak teman-temannya itu tidak segera pergi dari tempat tersebut. Pak Haji Rakhmad dan kawan–kawan langsung pergi meninglakan Wak Katok. Namun rupanya, beberapa saat kemudian mereka kembali untuk merebut senjata yang dipegang Wak Katok karena kalau senjata api itu tetap ditangan Wak Katok hal ini akan membahayakan mereka. Wak Katok bisa saja meembak mereka secara diam-diam dari belakang. Karena Wak Katok tak mau menyerahkan senjatanya pada Pak Haji Rakhmad dan kawan-kawan, akhirnya tejadilah perkelahian. Wak Katok memang dapat dilumpuhkan oleh Sanip dan Buyung waktu itu, namun Pak Haji Rakhmad meninggal dunia, karena tertembak senapan yang dipegang Wak Katok yang meletus ketika perebutan senjata.
Oleh Buyung dan Sanip, Wak Katok kemudian dijadikan sebagai umpan harimau. Rencana Buyung dan Sanip itu berjalan sukses, harimau itu datang dan langsung menerkam Wak Katok. Pada saat itu, Buyung langsung membidikan senapannya ke kepala harimau tua itu. Dan harimau tua itu pun mati terjerembab di tanah.
Wak Katok dibawa oleh Buyung dan Sanip ke kampung dan diserahkan pada polisi karena perbuatan- perbuatan jahat yang telah dilakukannya, termasuk membunuh Pak Haji Rakhmad yang baik itu.


Tema
Masalah tahayul dan hal-hal yang berhubungan dengan ilmu magis yang berkembang dalam masyarakat Indonesia. namun di atas segala-galanya itu, bahwa kekuatan Tuhan jauh melebihi segalanya.

Tokoh dan penokohan
1. Pak haji Rakhmad
Seorang tua yang baik, yang ketaatannya pada Tuhan sangat kuat. Dia tidak begitu percaya pada tahayul-tahayul serta jimat-jimat. Dia bekerja sebagai pencari damar.
2. Wak Katok
Seorang tua yang dianggap sebagai dukun dan pandai silat. Dia mempunyai perguruan silat sehingga murid silatnya banya. Dia juga salah seorang pencari damar.
3. Buyung
Seorang pemuda pencari damar. Dia murid Wak Katok yang pandai silat itu.
4. Sanip
Murid Wak Katok, pencari damar
5. Pak Balam
Salah seorang pencari damar
6. Sutan
Pencari damar, murid Wak Katok
7. Talib
Seorang pemuda pencari damar, murid Wak Katok
8. Wak Hitam
Seorang tua yang tinggal menyepi dalam hutan belantara dengan keempat istrinya.
9. Siti Rubayah
Istri muda Wak Hitam.

Gaya Bahasa
Gaya bahasa yang digunakan bahasa Indonesia..

Sudut Pandang
Sudut pandang yang digunakan dalam novel adalah sudut pandang orang ketiga

Latar
Latar dalam novel ini sebagian besar di daerah Sumatera, baik Sumatera Utara maupun Sumatera Barat.

Alur
Alur yang digunakan adalah alur maju.

Amanat
1. Dalam menjalani persahabatan dan kesetiakawan, kita harus jujur dan tulus satu sama lain agar tidak timbul kecurigaan.
2. Janganlah sombong terhadap apa yang kita punya.
3. Janganlah mengganggu habitat hewan, kalau tidak mau hewan tersebut menerkam kita.
4. Janganlah terlalu percaya tahayul, karena kekuatan Tuhan jauh melebihi segalanya.
5. Jika menghadapi suatu permasalahan, kita harus bersama-sama menyelesaikannya.
6. Dalam menjalani kehidupan, kita harus jujur.
7. Janganlah berbuat curang dengan menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan kedudukan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar