Sabtu, 30 April 2011

Perang Badar Besar

Di bulan Ramadhan tahun ke dua Hijriyah, terjadi perang Badar yang besar. Dan penyebabnya adalah Nabi r keluar bersama 313 orang untuk menghalangi rombongan unta yang besar milik kaum Quraisy, saat kembali dari Syam. Abu Sufyan t adalah pemimpin kafilah ini dalam kondisi sangat hati-hati dan waspada. Dia selalu bertanya kepada setiap orang yang ditemuinya tentang gerakan kaum muslimin, hingga ia mengetahui keluarnya mereka dari kota Madinah, dan ia dekat dari Badar. Maka ia memindah arah rombongan kafilah ke arah Barat agar melewati jalan pesisir dan meninggalkan jalan Badar yang dipenuhi bahaya. Kemudian mengutus seorang laki-laki mengabarkan kepada penduduk Makkah bahwa harta mereka berada dalam bahaya dan sesungguhnya kaum muslimin telah siap menyerang kafilah mereka.

Tatkala berita itu sampai kepada penduduk Makkah, mereka bersiap-siap untuk menolong Abu Sufyan. Tidak ada yang tertinggal dari pemuka mereka selain Abu Lahab. Mereka berkumpul dari semua kabilah, dan tidak ada yang tertinggal dari kabilah Quraisy selain bani Adi.

Dan saat pasukan ini sampai di Juhfah, mereka mengetahui selamatnya Abu Sufyan dan ia meminta mereka kembali ke kota Makkah. Dan sebagian mereka ingin pulang, namun Abu Jahal mendorong mereka agar terus maju berperang. Maka Bani Zuhrah pulang dan mereka berjumlah 300 orang. Sedangkan yang lainnya meneruskan perjalanan dan mereka berjumlah 1.000 orang pasukan, hingga mereka singgah di luar Badar, di tempat yang luas di belakang gunung yang mengelilingi Badar.

Adapun Rasulullah r, ia musyawarah dengan para sahabatnya, maka ia r mendapatkan dari mereka semangat dan keteguhan untuk berjuang dan berkorban fi sabilillah. Maka Rasulullah r merasa senang dan bersabda:

سِيْرُوا وَأَبْشِرُوا، فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى قَدْ وَعَدَنِي إِحْدَى الطَّائِفَتَيْنِ، وَاللهِ لَكَأَنِّي أَنْظُرُ الآنَ إِلَى مَصَارِعِ الْقَوْمِ”.

“Berjalan dan bergembiralah, sesungguhnya Allah I telah menjanjikan kepadaku salah satu dari dua golongan. Demi Allah, sekarang seolah-olah aku melihat terjungkalnya kaum (Quraisy).

Nabi r maju dan singgah di dekat lembah yang rendah di Badar. Al-Habbab bin Mundzir t menyarankan agar maju lalu singgah di tempat paling dekat air dari pada musuh. Di mana kaum muslimin mengumpulkan air di telaga untuk diri mereka sendiri. Lalu membiarkan musuh tanpa mempunyai air. Maka Nabi r menerima saran Habbab t dan melakukannya.

Di Malam Jum’at, yaitu di malam perang Badar, di malam tujuh belas Ramadhan, Nabi r berdiri shalat, menangis dan berdoa kepada Allah I serta memohon pertolongan kepada-Nya atas musuh-musuh-Nya.

Dalam Musnad, dari Ali bin Abu Thalib t, ia berkata, ‘Sungguh aku melihat kami, dan tidak ada di antara kami kecuali tertidur kecuali Rasulullah r di bahwa pohon, shalat dan menangis hingga subuh.

Dan padanya juga, ia berkata, ‘Kami ditimpa hujan –maksudnya di malam Badar-, maka kami berlindung di bawah pohon dan perisai, untuk berteduh dengannya dari hujan. dan semalam suntuk Rasulullah r berdoa kepada Rabb-nya dan berkata:



‘Jika golongan ini binasa niscaya Engkau tidak disembah.’

Maka tatkala terbit fajar, ia r berseru:

‘Shalat, wahai hamba-hamba Allah.’ Maka datanglah manusia dari bawah pohon dan perisai, lalu Rasulullah r shalat bersama kami dan mendorong manusia untuk berjuang.

Allah I memberikan bantuan kepada Nabi-Nya dan kaum mukminin dengan pertolongan dari sisi-Nya dan dengan pasukan dari pasukan-Nya, sebagaimana dalam firman-Nya:

(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabbmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu :”Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang bertutut-turut”. * Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimua menjadi tentram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. al-Anfaal:9-10)

Dan firman Allah I:

Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. (QS. Ali Imran :123)

Dan firman-Nya:

Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (QS. al-Anfaal :17)

Maka peperangan dimulai dengan pertarungan satu lawan satu, maka Hamzah t membunuh Syaibah bin Rabi’ah, Ali bin Abu Thalib t membunuh Walid bin ‘Utbah, dan Utbah bin Rabi’ah dari kaum musyrikin dan Ubaidah bin Haris t dari kaum muslimin terluka.

Kemudian peperangan dimulai dan bertambah sengit. Allah I memberikan bantuan kepada kaum muslimin dengan para malaikat yang berperang di belakang mereka dan meneguhkan hati mereka. Hanya dalam beberapa saat hingga kaum musyrikin kalah dan berlarian mundur, diikuti oleh kaum muslimin yang membunuh dan menawan. Dari kaum musyrikin terbunuh 70 orang, di antaranya Utbah, Syaibah, Walid bin Uqbah, Umayyah bin Khalaf, dan putranya Ali, Hanzhalah bin Abu Sufyan, Abu Jahal dan selain mereka. Dan yang tertawan dari mereka sejumlah 70 orang.

Di antara hasil dari perang Badar bahwa hegemoni kaum muslim bertambah kuat dan mereka menjadi ditakuti di Madinah dan sekitarnya dan bertambah kepercayaan mereka kepada Allah I. Mereka yakin bahwa Allah I menolong hamba-hamba-Nya yang beriman, sekalipun mereka berjumlah sedikit terhadap orang-orang kafir, sekalipun jumlah mereka banyak. di antara hasilnya juga, sesungguhnya menguasai keahlian dalam berperang dan mempelajari metode-metode baru dalam berperang, mengejar, berlari, mengepung musuh dan menghalanginya dari sebab-sebab kekuatan dan keteguhan dalam berhadapan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar