Sabtu, 02 April 2011

NH. Dini





Bernama pena Nh. Dini atau N.H Dini, penulis novel dan biografi yang lahir di Sekayu, Semarang, Jawa Tengah 29 Februari 1936 ini diakui sebagai salah seorang penulis pertama yang mengetengahkan pengalaman wanita Indonesia blak-blakan ke dalam tulisan. Walaupun banyak kenangannya berpusat pada kehidupannya di Semarang dan kemudian di Paris, Ia kini tinggal di Yogyakarta. Tahun 1951, ia mulai menulis sajak dan prosa berirama dan dibacanya sendiri di RRI Semarang, Jawa Tengah.



Di tahun 1952, ia mengirimkan sajak-sajaknya ke siaran nasional RRI Kakarta, dan karyanya tersebut mulai diterbitkan di majalah Gajah mada dan Budaya di Jakarta. Cerita-cerita pendeknya mulai diterbitkan majalah-majalah Kisah, Mimbar Indonesia dan Siasat (1953). Menulis naskah sandiwara radio yang dimainkan oleh kelompoknya sendiri yang diberi nama Kuncup Berseri di RRI Semarang, Jawa Tengah (1953). Sempat membentuk sandiwara di sekolahnya, SMA Sastra Bojong dan diberi nama Pura Bhakti (1954).



Lima puluh tahun tanpa henti menekuni profesi pekerja seni di bidang penulisan. “Saya menyatakan betapa kemunafikan yang saya gambarkan di atas itu masih tetap saya alami. Saya ingat waktu novel saya Pada Sebuah Kapal diterbitkan tahun 1973, saya terima banyak protes dari kaum lelaki yang mengatakan bahwa bukunya tidak pantas diterbitkan karena berisi cerita seks saja. Padahal saya juga terima banyak surat dari kaum wanita yang berterima kasih karena buku itu betul-betul mengungkapkan pengalaman dan perasaan mereka. Sekarang perkembangan dunia penerbitan yang erat berhubungan dengan tulis-menulis bisa dikatakan sangat memadai. Semakin banyak orang menjadi pelopor berita atau penulis ulasan/artikel.”



Tahun 1970-an merupakan ledakan tampilnya sejumlah penulis perempuan, barangkali salah satu sebabnya ialah terbitnya berbagai majalah atau tabloid yang dikhususkan bagi wanita ataupun untuk masyarakat umum sehingga dibutuhkan lebih banyak bahan guna pengisiannya. Sejak awal masa menekuni bidang penulisan, saya tidak pernah merasa dibatasi “harus menulis ini atau itu”. Orang tua mendidik kami menjadi manusia yang sebaiknya memperhatikan kehidupan manusia lain dan alam seisinya di lingkungan kami. Ketika buku Pada Sebuah Kapal terbit pada awal tahun 1970-an banyak kaum lelaki yang menghujat pemaparan saya mengenai adegan percintaan. Itu disampaikan dalam bentuk artikel atau lewat orasi pada pertemuan-pertemuan di Taman Ismail Marzuki atau pada kesempatan serta tempat lain. Pada hal dasar penulisan saya selalu terkendali, menurut nurani dan kesopanan.



Beberapa dekade telah berlalu sejak awal karir saya. Perkembangan kata dalam penulisan semakin tidak terbatas. Ucapan dan ungkapan pengarang di dalam karya mereka semakin blak-blakan. Dari satu segi, kemerdekaan ini merupakan kemajuan – segala pengalaman manusia boleh dibicarakan secara jujur. Tetapi kadang bagi pembaca yang menyukai keindahan dan biasa menikmati novel atau puisi berbahasa asing klasik maupun modern, karya tulis para pengarang baru di tanah air ini terasa mentah. Satu kali dibaca, tidak ada keinginan untuk mengulangi lagi. Sebabnya ialah susunan kata dan kalimat yang disuguhkan hanya mengandung sesuatu yang mungkin bisa dimengerti, tapi tidak bisa dirasakan. Padahal sesuatu yang indah, yang menyentuh nurani hanya bisa dirasakan. Dan rasa itulah yang melandasi nurani hakiki manusia.



Keterusterangan memang diperlukan dalam penulisan karena itu adalah satu bentuk kejujuran. Sedangkan dalam menulis susastra, pengarang sebaiknya menuruti arahan yang dibisikan nurani keindahannya. Bila tidak, pembaca akan meninggalkannya.



Menikah dengan Yves Coffin, seorang diplomat yang bekerja di Konsulat Perancis di Kobe, Jepang (1960), namun akhirnya bercerai (1984). Dari pernikahannya tersebut di karuniai 2 orang anak, Marie Claire Lintang dan Pierre Louis Padang.



(Dari Berbaai Sumber)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar